
Waktu menunjukan pukul satu siang ketika Gibran mengantarkan Yashinta pulang. Cuaca masih panas, semula Gibran merasakan hal yang sama pada perasaannya. Namun perlahan hatinya terasa lebih damai. Gibran tentu tidak akan membiarkan emosi menguasai dirinya. Harus Gibran yang mengendalikan dirinya sendiri.
Sepanjang perjalanan, dua orang itu hanya saling terdiam. Yashinta lebih banyak melihat keluar melalui kaca jendela mobil. Sementara Gibran hanya fokus pada kemudinya. Suasana di antara keduanya berlangsung sangat canggung, itulah alasan kenapa awalnya Yashinta menolak untuk diantarkan pulang. Karena suasana semacam ini pasti akan terjadi.
Tetapi Gibran memaksa bahkan menyuruh sopir Yashinta untuk pulang, membuat Yashinta tidak memiliki pilihan lain kecuali ikut dengan pria itu.
"Kamu mau makan siang dulu?" tanya Gibran. Pria itu bertanya setelah memarkirkan mobilnya di parkiran sebuah restoran. Lagi-lagi membuat Yashinta tidak memiliki pilihan lain kecuali melepas seatbeltnya saat Gibran sudah turun dari mobil. Gadis itu juga turun ketika Gibran membukakan pintu mobil.
Yashinta tidak tahu apa yang tengah Gibran pikirkan. Padahal suasana di antara keduanya sudah begitu canggung, tetapi pria itu justru nekad mengajaknya untuk makan.
Dan Yashinta harus makan bersama pria itu dengan keadaan hening? Seperti di kuburan? Yashinta diam-diam menembuskan napas pelan saat makanan sudah tersaji di atas meja.
Dua orang yang biasanya tidak pernah kehabisan topik obrolan itu tampak hanya saling terdiam selama makan berlangsung bahkan hingga selesai, sesekali Gibran hanya memerhatikan Yashinta yang tampak berbeda di hadapannya.
Sejujurnya Yashinta tidak ingin keadaan canggung itu terus berlanjut di antara mereka. Namun ia juga tidak memiliki cara untuk memperbaikinya, terlebih Gibran juga tampak tak berusaha menormalkan keadaan.
Mobil yang Gibran kemudian berhenti di depan gerbang rumah Yashinta. Yashinta baru tersadar, ia menoleh pada Gibran yang bahkan tidak mematikan mesin mobil. Jadi sudah berapa lama keduanya saling terdiam seperti orang bermusuhan?
Yashinta perlahan melepas seatblet yang ia kenakan. Ragu-ragu ia menoleh pada Gibran.
"Mas Gibran nggak mampir."
"Hmm." pria itu menyahut dengan gumaman lengkap dengan pandangan yang lurus ke depan. Mengabaikan Yashinta.
Yashinta mengernyitkan dahi. "Ya–udah, Yas duluan. Makasih, Mas Gibran."
"Hmm."
Yashinta mencebikan bibir kali ini, perlahan membuka pintu mobil untuk keluar. Namun entah mengapa hati kecilnya merasa hampa akan berpisah dengan pria itu dalam keadaan perang. Yah, perang dingin.
Yashinta menutup pintu mobil dengan lesu. Tak lama setelahnya, mobil Gibran berlalu, pria itu pergi tanpa mengatakan apapun, atau sekedar membunyikan klakson mobil untuknya. Yah, wajar saja, Yashinta sudah menolak cintanya. Gibran pasti terluka dan kecewa padanya.
Yashinta memahaminya.
Gadis itu berbalik, melangkah menuju gerbang. Namun baru ia akan membuka pintu gerbang, suara klakson mobil lebih dulu menjeda gerakannya. Ia mengernyitkan dahi, kemudian berbalik dan mendapati mobil Gibran kembali.
Gadis itu hanya berdiri di tempatnya saat melihat Gibran turun dari mobil, setengah berlari menghampiri Yashinta dengan senyuman dan napas yang sedikit berantakan begitu berdiri di hadapan Yashinta.
Yashinta mengernyit heran. "M–Mas Gibran, kenapa?"
"Yashinta, saya mau minta maaf."
"Hah?"
Gibran meraih tangan gadis itu, membuat Yashinta tampak terkejut. "Saya nggak bisa jauh dari kamu. Saya nggak perduli perasaan kamu dan saya juga nggak akan maksa kamu."
"Kita kenal secara baik-baik. Saya nggak mau hubungan kita berantakan."
Hubungan?
__ADS_1
"Kita masih bisa berteman, 'kan?"
Yashinta hanya diam dengan kalimat panjang lebar yang Gibran utarakan. Ia hanya menatap pria itu dan membuat napas Gibran berantakan, wajahnya tampak cemas menunggu jawaban gadis itu.
"Yashinta."
Yashinta menganggukan kepalanya perlahan. Secepat kilat, Gibran memeluk gadis itu. Ia sudah memikirkannya sejak mereka keluar dari apartement.
Salah Gibran karena tidak mencari tahu dari awal jika Yashinta sudah memiliki pacar. Salahnya karena terlalu memaksakan keadaan bahkan menyatakan cintanya diwaktu yang tidak seharusnya.
Gibran tahu Yashinta hanyalah anak remaja yang masih dimabuk asmara khas anak SMA. Mereka tidak akan melangkah sejauh itu bukan? Tidak mungkin Yashinta dan pacarnya akan langsung menikah begitu gadis itu lulus SMA. Gibran masih punya banyak kesempatan selama ia terus berada di sisi Yashinta.
Berteman dengan Yashinta akan menjadi peluang. Ia akan memiliki ruang di hidup Yashinta, bahkan di hati gadis itu. Gibran akan mengusahakannya.
Yashinta mengerjapkan mata dalam pelukan Gibran, tangannya tak membalas pelukan pria itu. Tetapi perlahan, tangannya terangkat. Mengusap lembut punggung Gibran.
Berteman? Rasanya sangat mustahil untuk menjalin pertemanan dengan Gibran setelah ia mengetahui bagaimana peradaan pria itu padanya.
Tetapi, Yashinta menghargai tawaran itu. Gibran benar, mereka bertemu secara baik-baik. Yashinta percaya jika Gibran cukup dewasa untuk mengendalikan perasaannya.
Sementara itu, di balkon kamar Yashinta. Saras mengernyit melihat dua orang itu. Berusaha mengenali orang yang tengah berpelukan dengan Yashinta. "Mas Gibran?." ia menyadari jika dirinya mengenali orang tersebut.
"Selain ke Bundanya, Kafka udah kenalin Yashinta sama Mas Gibran?" ia bertanya pada dirinya sendiri.
"Kafka serius sama Yashinta?" raut wajah Saras tampak tak terbaca. Ia melihat lagi Yashinta dan Gibran yang sudah mengurai pelukan. Ia melipat tangan di dadanya. "Mereka akrab banget."
Gibran tampak tersenyum tenang menatap Yashinta, ia tampak salah tingkah setelahmya, ia sempat mendehem sebelum kemudian berbicara. "Seharusnya saya nggak ngungkapin perasaan saya sama kamu." kali ini pria itu bahkan menggaruk belakamg kepalanya yang tidak gatal. Salah tingkah yang terlihat lucu di mata Yashinta.
"Ingatan Yas tajam tahu." sindirnya. Gibran terkekeh, dalam beberapa waktu dua orang itu tampak saling terdiam. Hingga perlahan tangan Gibran terulur mengusap puncak kepala gadis itu.
"Mm, jadi jadwal ketemu Bunda Mas Gibran masih berlaku?" tanya Yashinta tanp ragu. Gibran mengangguk. Membuat gadis itu tersenyum.
"Saya duluan Yashinta. Sampai jumpa besok malam." Gibran melambaikan tangannya, Yashinta menganggukkan kepala dengan senyuman diikuti lambaian tangan pula.
Yashinta menatap mobil Gibran hingga hilang dari pandangannya. Perasaan yang ia rasakan setelah kepergian pria itu jelas saja berbeda dengan beberapa waktu lalu. Kali ini perasaannya jauh lebih baik. Entahlah, begitu yang Yashinta rasakan.
"Yaa pulaaaang." gadis itu berseru begitu masuk ke dalam rumah. Bi Rasti yang kebetulan muncul dari arah dapur dengan membawa nampan berisi sepiring nasi dan juga lauk serta air minum itu tersenyum menatap anak majikannya.
"Non Yas sudah pulang."
"Iya, Bi. Saras gimana? Dia ada minta tolong Bibi atau apa, gitu?" tanya Yashinta beruntun.
"Enggak Non, sejak Non berangkat sekolah dia di kamar terus. Ini baru mau Bibi anterin makan siang."
"Oh, gitu, yah, Bi?"
"Iya, Non."
"Yaudah kalau gitu biar Yas aja yang bawa ke atas."
__ADS_1
"Enggak papa, Non?"
"Enggak papa." Yashinta tersenyum menenangkan. Mengambil alih nampan dari tangan Bi Rasti dan berjalan menapaki anak tangga setelah mengucapkan terimakasih pada asisten rumah tangga sekaligus pengasuhnya itu.
"Saras, bukain pintunya dong." teriak Yashinta karena dua tangannya kerepotan. Tak lama, pintu kamar terbuka, menampilkan Saras yang langsung mengambil alih nampan dari tangan Yashinta saat melihat gadis itu tampak kelelahan dan repot.
"Makan siang buat Saras." ujarnya seraya menjatuhkan diri ke atas tempat tidur.
Saras menatap makan siangnya kemudian menutup pintu dan duduk di tepi tempat tidur.
"Thanks, Yashinta." ucap gadis yang kemudian menikmati makan siangnya itu.
"Saras kenapa nggak turun ke bawah buat ngambil makan?" tanya Yashinta.
"Enggak laper. Beberapa jam yang lalu Bibi nganterin camilan." dagu gadus itu mengarah ke balkon kamar. Sejak pagi dia memang lebih banyak nongkrong di sana dan menikmati camilan yang Bi Rasti suguhkan.
Yashinta hanya mengangguk. Memerhatikan gadis yang tengah menikmati makan siangnya itu. Sekilas kejadian di apartement Gibran dan beberapa saat lalu di depan gerbang rumah melintasi kepalanya.
Gadis itu menyentuh dadanya yang tiba-tiba berdebar. Aneh memang. Selain Kafka, Gibran juga mampu menciptakan letupan aneh di hatinya.
***
Gibran pulang ke rumah saat Bunda mengabarinya jika sang adik sedang sakit. Begitu tiba, ia hanya berdiri di ambang pintu kamar Kafka dengan tangan yang terlipat di dada dan menatap sang adik yang tengah makan disuapi oleh Bunda.
"Gue nggak berantem, Mas. Gue dikeroyok, gue nggak ada nyari masalah. Gue korban di sini." ujarnya pada sang kakak, takut pria itu marah. Gibran mengibaskan tangannya ke udara.
"Mas tahu." menyahut singkat dan berjalan menghampiri ranjang Kafka.
"Kemarin habis berantem sama temennya, sekarang dikeroyok. Punya dosa apa, sih, kamu Ka?" Bunda setengah menggerutu. Sebagai seorang Ibu tentu saja ia merasa sangat khawatir dengan keadaan Kafka. Ia sangat terkejut saat putra bungsunya itu pulang di antarkan oleh Aris dalam keadaan wajah yang babak belur.
"Kebanyakan mainin hati perempuan, tuh, Bunda. Kena karmanya sekarang." Gibran menyambar. Membuat Kafka berdecak keberatan.
"Bunda, masih untung Kafka bisa selamat."
"Iya, Sayang. Bunda juga bersyukur, tapi kalau kamu kaya gini terus lama-lama jantung Bunda. bisa copot nanti."
Mendengar apa yang Bunda katakan, Kafka segera meraih tangan Bundanya itu dan mengelusnya. Sementara Gibran mengusap bahu sang Bunda.
"Maafin Kafka, Bunda. Kafka janji nggak akan kaya gini lagi." ujarnya, membuat Bunda mengulurkan tangannya dan mengusap satu sisi wajah Kafka.
Keadaan menjadi tenang setelahnya, membuat Gibran leluasa untuk bicara. "Bunda."
Bunda menoleh. "Besok malam Gibran mau kenalin Bunda sama seseorang." ujarnya. Bunda tersenyum. "Iya. Bunda ingat Mas." Gibran pernah menelponnya untuk hal ini.
"Jadi juga? Mau sekalian lamaran aja." Kafka menyambar.
"Kafka," Bunda mengedipkan mata agar anak itu tidak mengisengi kakaknya.
"Kamu mau ikut nggak?" tanya Gibran, Kafka segera menjawab. "Sebenernya gue males. Tapi gue penasaran pengen ngeliat siapa cewek yang udah berhasil ngambil hati abang gue."
__ADS_1
"Gue mau liat calon kakak ipar gue." sambungnya dengan mantap. Gibran mengangguk samar. Sementara Bunda hanya tersenyum melihat kerukunan dua putranya itu.
TBC