
Pada keesokan paginya, dua ratu drama itu kalang kabut ketika mereka bangun kesiangan. Saat Ranti menginap, biasanya mereka memang begadang dengan banyak bercerita seperti semalam dan menonton drama ataupun film, kemudian menyalakan alarm. Tapi baik Ranti maupun Yashinta melupakan hal penting itu sehingga mereka bangun ketika waktu sudah menunjukam pukul setengah tujuh pagi. Dimana seharusnya mereka sudah berangkat dijam itu.
"Yas apa Ranti dulu yang mandi?" tanya Yashinta, Ranti yang sudah mengalungkan handuk di lehernya dan sudah memegang handle pintu kamar mandi menghentikan gerakan tangannya yang akan membuka pintu.
"Kita barengan aja." ujar Ranti, membuka pintu dan membiarkan Yashinta masuk kemudian menutup pintu dan bersandar di sana hingga ia tersadar dan menegakan tubuhnya.
"Yashinta?"
"Ada apa Ranti?" Yashinta berteriak dari dalam.
"Katannya tadi kita mandinya barengan aja."
"Oh, iya. Lupa."
Ranti segera membuka pintu dan masuk. Pagi itu mereka sibuk sekali, belum lagi seragam keduanya yang tertukar dan membuat mereka harus mengulang.
"Bi Rasti." Yashinta setengah berlari menuruni tangga dan memanggil pengasuhnya. Ranti mengikuti di belakamg seraya merapikan dasi yang dikenakannya.
"Non Yas, jangan lari. Pelan-pelan aja." Selain Andri, Bi Rasti juga sering berteriak saat Yashinta berlari ketika menaiki atau menuruni anak tangga.
"Non Yas siang amat mau sekolahnya." tegur Bi Rasti. Yashinta sibuk mengatur napasnya. Sementara Ranti bergegas duduk pada salah satu kursi di meja makan, melegut segelas susu dan mengambil dua potong sandwich.
"Bibi, kita kesiangan. Bibi kenapa nggak bangunin," protesnya, merengek.
"Papa udah berangkat ke kantor?"
"Iya, sudah Non."
Yashinta bergegas keluar rumah, Bi Rasti mengikuti. Ranti melahap sandwichnya. Menyodorkan sandwich lain pada Yashinta agar gadis itu juga sarapan untuk mengganjal perutnya.
"Aduh, Non." Bi Rasti berdecak ketika Yashinta hanya mematung begitu tiba di teras rumah.
"Mobil masih di garasi, Bi?"
Bi Rasti tampak kebingungan melihat Yashinta yang panik tak karuan. Ia hanya menggaruk kepalanya tanpa tahu harus mengatakan apa pada Yashinta.
"Bibi," Yashinta menyadarkan Bi Rasti. Ia membuka mulut saat Ranti menyuapkan sandwich ke mulutnya.
"Pak Sopirnya nganter Mbak Lala pulang kampumg, Non. Ibunya sakit. Tuan nyuruh Pak sopir buat nganter." jelas Bi Rasti hanya dengan satu kali tarikan napas.
Yashinta dan Ranti melongo seketika setelah mendengar apa yang Bi Rasti katakan. Bahkan Sandwich yang Ranti sodorkan belum ia gigit. Dua gadis itu hanya saling berpandangan, tak lama setelahnya mereka menangis bombay.
Drama dari dua ratu drama kembali dimulai. Bagaimana tidak, pelajaran pertama adalah matematika dan Yashinta juga Ranti hapal bagaimana guru matematika mereka yang tidak akan membiarkan murid yang terlambat masuk mengikuti pelajaran. Belum lagi tugas tambahan yang akan diberikan sebagai hukuman untuk mendisplinkan murid-murid yang tidak masuk tepat waktu di kelasnya.
Beberapa saat kemudian, dua gadis itu hanya duduk dengan termenung di kursi panjang teras rumah dengan kepala yang saling bersandar plus wajah memelas. Yashinta berkali-kali menelpon Kafka untuk meminta pria itu menjemputnya namun Kafka tidak bisa dihubungi, telponnya tidak diangkat dan pesan yang dikirimkannya tidak mendapat balasan.
Sehingga pada akhirnya, alih-alih memanggil taksi online. Yashinta lebih memilih meminta tolong pada calon saudara tirinya untuk datang menjemput. Karena yang ia tahu, hari ini kelas 12 IPA 2 memiliki pelajaran olahraga di jam pertama.
Dua gadis itu berjalan lesu saat sebuah mobil berwarna putih membunyikan klason di depan gerbang. Yashinta melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukan hampir pukul delapan. Yashinta dan Ranti hanya pasrah, mungkin akan lebih baik jika mereka tidak hadir dalam absen hari ini daripada datang terlambat dan mendapat hukuman.
Sean membuka kaca jendela mobil dan melihat dua gadus itu keluar dari gerbang dengan wajah lemas. "Hay, Sean. Maaf ya ngerepotin." ujar Yashinta seraya mengenakan seatbletnya ketika sudah duduk di samping Sean. Ranti duduk di bangku belakang.
Sean hanya menoleh, pria dengan seragam olahraga yang semua kancingnya terbuka dan menampilkan kaos putih yang ia kenakan itu hanya mengangguk, rambutnya tampak sedikit lepek karena keringat. Pria itu memang baru saja istirahat setelah pemanasan dan mendapat pesan dari Yashinta jika gadis itu meminta dijemput lantaran tidak ada sopir di rumahnya.
"Enggak ngerepotin, loe tenang aja." Sean menyahut ketika mulai melajukan mobil.
Yashinta hanya mengangguk samar tanpa tenaga, membuat Sean jelas saja heran menatapnya. Ia melihat rear vision mirror dan mendapatkan hal yang sama dari bangku belakangnya. Dimana Ranti juga memiliki ekspresi serupa dengan Yashinta.
__ADS_1
"Kalian pada belum sarapan?" tanya Sean kemudian.
"Udah, Sean. Tapi dikit karna kesiangan." Yashinta bahkan belum minum setelah melahap sepotong sandwich. Sean hanya menggelengkan kepala mendengarnya.
"Sean tahu nggak, sih, kalau Yas sama Ranti ini sekarang lagi dalam bahaya?" Sean mengernyitkan dahi mendengarnya.
"Kenapa?"
"Yas nggak sanggup ngomong." Sean menoleh pada Ranti.
"Enggak, gue juga nggak bisa." tolak Ranti.
"Ada apa, sih, aneh banget kalian."
"Sean tahu Pak Herlambang, 'kan?" tanya Yashinta.
"Pak Herlambang?"
"Guru pelajaran matematika?"
"Iya."
"Pelajaran pertama di kelas Yas hari ini Pak Herlambang. Sean tahu sendiri, 'kan gimana prinsip dia yang keras dan nggak bisa dibantah banget."
"Anak-anak yang terlambat nggak diijinin masuk kelas. Terus dapat tugas tambahan yang nggak pernah sedikit." gadis itu menyahut lemah.
"Yas nggak tahu, nih, bakalan gimana nasib Yas nanti."
"Hmm, santai aja." ujar Sean dengan mudahnya, membuat Yashinta menoleh dan Ranti juga tampak mencondongkan tubuhnya ke depan. Tidak terima dengan apa yang Sean katakan.
Semudah itu? Kalau begitu biar Sean juga ikut dihukum saja. Ranti membatin.
Sean mengangguk yakin. "Iya, Pak Herlambang nggak masuk hari ini. Istrinya sakit dan nggak ada yang nungguin di Rumah Sakit." beritahu pria itu yang membuat Yashinta juga Ranti saling bertukar pandang, kemudian dua gadus itu berubah lebih lemas dari sebelumnya.
Seharusnya, Sean mengatakannya sejak awal. Mungkin Yashinta dan Ranti tidak akan sepanik seperti beberapa saat lalu. Dua gadis itu juga tidak mengecek ponsel dan mengetahui info yang diberikan ketua kelas mereka jika Pak Herlambang tidak masuk dan tidak memberi tugas juga.
Yashinta senang, terutama Ranti. Tapi, andai mereka tahu sejak awal, mungkin dua orang itu tidak akan kalang kabut dan.bahkan meninggalkan kamar Yashinta dalam keadaan sangat berantakan.
Ranti pamit ke kantin duluan untuk meneruskan sarapannya, sedangkan Yashinta memilih untuk langsung ke kelas bersama dengan Sean yang juga akan ke kelasnya.
"Sean nggak bilang dari awal, sih." gadis itu masih menggerutu.
"Mana gue tahu kalau itu yang bikin kalian panik. Kalian juga nggak langsung ngejelasin apa-apa ke gue."
Yashinta mengerucurkan bibir, kemudian tak lagi membahas hal itu dan justru bertanya hal lain pada Sean. "Tante Arumi gimana, udah sehat?"
"Udah. Soalnya udah langsung ke kantor."
"Loh?" maksud Yashinta, ia kira calon mama tirinya itu akan istirahat untuk beberapa hari setelah pulang dari Rumah Sakit.
"Perusahaan udah kelamaan ditinggalin."
"Nanti kalau tubuhnya diforsir karena kerjaannya banyak, gimana? Tante Arumi baru pulang dari Rumah Sakit, loh, Sean." Yashinta merasa khawatir. Sean menoleh dan tersenyum, tangannya terlalu gemas untuk tidak terulur mengacak puncak kepala gadis itu.
"Loe tenang, Mama bakalan baik-baik aja." Sean meyakinkan. Membuat Yashinta hanya menganggukan kepala. Sementara dari arah berlawanan, Kafka berjalan dengan langkah cepat. Raut wajahnya tampak diliputi amarah.
Wajah pria dengan kaos basketnya itu tampak memerah, selain karena dia sudah bertempur di bawah terik matahari pagi, rupanya pemandangan yang ia perhatikan sejak tadi juga sangat menyulut emosi.
__ADS_1
Yashinta yang melihat hal itu menghentikan langkah, membuat Sean ikut menghentikan langkahnya. Tatapan dua orang itu tertuju pada Kafka yang mengepalkan tangan dengan sempurna dan berjalan ke arah mereka dengan tatapan tak terbaca. Sementara di belakangnya. Aris tampak mengejar.
Pria itu menggerutu, mencoba untuk menghentikan Kafka namun tampaknya tidak bisa. Beberapa saat lalu, salah seorang anak basket memberitahu Kafka jika Yashinta keluar dari mobil Sean.
Kafka sudah menyadari kepergian Sean beberapa saat lalu. Namun ia tidak tahu jika pria itu menjemput Yashinta–tanpa berbicara lebih dulu padanya. Bahkan mereka tampak mengobrol akrab menuju kelas ketika Kafka akan memastikan informasi yang didapatnya jika dua orang itu memang tengah bersama.
"Kafka," Yashinta memanggil Kafka saat pria itu sudah berdiri di hadapannya, namun tatapan matanya mengarah tajam pada Sean, baru Yashinta akan menyentuh lengan pria itu, secepat kilat Kafka justru melayangkan bogem mentah ke wajah Sean, membuat pria itu terjatuh ke lantai dengan luka robek di ujung bibirnya.
Suara keributan terdengar menggema saat para siswi yang kebetulan berada di sana berteriak saat melihat kejadian itu.
"Diem-diem loe nusuk gue dari belakang!" decak Kafka, tampak marah. Sean perlahan bangkit dari posisinya, menyeka darah dengan ibu jarinya dan meringis ketika ia merasakan perih.
"Loe harusnya nanya dulu sama gue atau Yas–"
"Enggak usah banyak bacot!" Kafka kembali mendaratkan pukulan dan kembali menciptakan teriakan, membuat para siswa lain yang sedang belajar di kelas mengintip melalui jendela bahkan beberapa berhamburan keluar dari kelas–terutama kelas yang hanya ditinggalkan buku paket oleh gurunya.
Kali ini, Sean tidak tinggal diam. Ia melawan dengan membalas Kafka, satu pukulan darinya mendarat di wajah Kafka, menciptakan luka yang sama yang Sean dapatkan dari pria itu.
"Kafka, udah!" Yashinta berseru. Tapi Kafka tidak mendengarkan. Ia kembali menghajar Sean, kali ini bertubi-tubi dan tampak lebih brutal seperti orang kerasukan. Beberapa siswa yang mencoba memisahkan dua orang itu tampak kewalahan, hingga Pak Barnas yang turun tangan setelah salah satu siswa melapor.
"Kalian ini! Apa tidak malu ribut di sekolah, huh?" Pak Barnas emosi. Membuat sebagian siswa yang sedang dalam proses belajar kembali ke kelasnya begitu guru mengkomando.
"Kalian pikir ini di hutan?"
"Kalian pikir sekolah ini ring tinju!" Pak Barnas tampak tidak habis pikir.
Ibu Dania, selaku wali kelas 12 IPA 2 yang tak lain adalah kelas Sean dan Kafka menajamkan mata melihat dua anak didiknya itu.
"Kafka, Sean. Kalian Ke ruang BK!" intruksinya.
"Sebelum itu, obati dulu luka kalian." sambungnya yang kemudian berlalu pergi mengikuti langkah kepala sekolah. Sedangkan dua orang itu tampak meringis dengan beberapa luka di wajahnya. Yashinta mendesah menatap Kafka yang dipapah Aris. Ia memilih untuk membantu Sean.
"Ada apa, ini?" Ranti yang ketinggalan berita l, ia baru saja tiba. "Nanti aja nanya-nya, bantuin Sean dulu." sahut Yashinta, memapah pria itu berjalan menuju UKS.
Kafka yang melihat hal itu jelas saja kian dongkol. Bagaimana mungkin Yashinta tidak mengkkawatirkannya? Bagaimana mungkin Yashinta lebih memilih membantu Sean daripada dirinya? Bahkan gadis itu malah terlihat kesal padanya.
"Loe gila apa gimana, sih, Ka?"
"Sean temen kita, loh."
"Loe kenapa juga maen hajar aja si Sean?"
"Loe punya mulut, harusnya ngomong dulu." Aris juga tampak kesal pada Kafka dan menyalahkannya. Kafka hanya menoleh pada Aris dengan mata malas.
Aris mendesah. "Gue tau loe kaya gini karena belum tahu sesuatu hal, 'kan?"
"Sesuatu hal apa?" Kafka bertanya tanpa minat, menyeka darah dari ujung bibirnya dengan ibu jari.
"Sean sama Yashinta."
Kafka kali ini menoleh dan mengerutkan kening, tidak mengerti.
"Sean sama Yashinta bakal jadi adek kakak."
"Bokap Yashinta bakalan nikah sama nyokapnya Sean." beritahu Aris. Jujur ia pun masih belum percaya dengan hal tersebut. Sementara wajah Kafka tampak terkejut.
Bagaimana bisa?
__ADS_1
TBC