
Yashinta segera merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur begitu ia tiba di kamar. Matanya menatap plafon kamar sedangkan kepalanya memikirkan apa yang hari ini terjadi padanya.
Sepenuhnya Yashinta mempertimbangkan perasaan Saras. Bagaimanapun ia tidak ingin egois dan memikirkan diri sendiri sekalipun ia adalah korban. Terlebih, apa yang Gibran katakan cukup menggerakam hatinya untuk meyakini diri jika ia harus benar-benar lapang dada, berdamai dengan keadaan dan memaafkan semua hal yang menyakitinya.
Yashinta tahu, akan sangat egois bagi dirinya jika ia terus menerus membuat Saras merasa bersalah padanya. Yashinta tidak ingin menjadi jahat. Sekalipun saat mencoba menenangkan perasaannya, justru ia kian terluka mengingat apa yang Saras dan Kafka lakukan padanya.
****
Seperti biasa Yashinta menikmati waktu istirahatnya untuk makan di kantin. Namun tak ia sangka jika siang itu kantin begitu penuh sehingga tidak ada meja kosong untuknya.
Kecuali meja yang ditempati Kafka dan juga kawan-kawannya–Aris dan Sean. Awalnya Yashinta akan kembali ke kelas, namun Ranti justru sudah duduk bergabung dengan mereka di sana dan Yashinta tidak bisa berkutik, terlebih saat Aris memaksanya.
Yashinta merasa canggung, namun ia tetap berusaha tenang dan mengabaikan kehadiran Kafka. Sama dengan pria itu yang acuh tak acuh dengan kehadirannya. Sementara Ranti tidak perduli, baginya hubungan Kafka dan Yashinta sudah berakhir sehingga tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Toh dua orang itu ada dalam pengawasannya.
"Makan apa, Yas?" tanya Sean yang saat itu hendak bangkit untuk memesan makan.
"Mie Bakso aja, Sean." sahutnya.
Sean menganggukam kepala, Ranti yang tidak mendapat pertanyaan lantas bangkit dari duduk untuk memesan makan sendiri. Namun Sean sudah lebih dulu bertanya.
"Loe mau makan apa? Biar sekalian gue pesenin." ujar pria itu, Aris hanya memerhatikan, kemudian acuh tak acuh dengan mengangkat bahu.
Ranti yang sudah dalam posisi setengah berdiri kemudian kembali duduk. "Sama aja kaya Yashinta." jawabnya yang mendapat anggukan kepala dari Sean.
"Gue juga sekalian pesenin, yah, Se. Nambah bakso semangkok." Aris bersuara, Sean tak memerdulikan, tetap beranjak pergi menuju ibu kantin. Meninggalkan suasana aneh di mejanya.
Kafka sibuk dengan dunianya, bermain game dengan sesekali menikmati camilan miliknya yang tersedia di atas meja, pria itu tampak tidak terganggu sedikitpun dengan kehadiran Yashinta yang saat ini hanya duduk diam di sana.
Aris yang merasa tidak nyaman saat suasana canggung tercipta ketika dua orang itu berada di tempat yang sama lantas memilih buka suara.
"Gimana Yas, rasanya bebas dari toxic relationship?" pertanyaan yang seharusnya tidak perlu pria itu tanyakan. Kafka sesaat terdiam mendengar pertanyaan tersebut, hatinya setengah memaki Aris, sekilas ia menatap Yashinta lantas melanjutkan permainannya.
Aris menaikan alisnya saat Yashinta hanya diam dengan senyum canggung, Ranti yang semula menatap Yashinta untuk menunggu jawaban gadis itu juga memilih mengalihkan perhatian ke arah lain saat yakin Yashinta tidak akan mengatakan apapun.
Tak lama, Sean kembali dengan membawa dua mangkuk mie bakso disusul oleh ibu kantin yang membawakan sisa pesanan. Rupanya Sean juga memesankan bakso untuk Aris. "So sweet." Aris berdecak kagum pada Sean.
"Makasih, Sean." ucap Yashinta ketika Sean meletakan mie bakso miliknya. Sean mengangguk dengan senyuman kemudian mereka mulai makan.
Kafka di tempatnya masih asik dengan dunianya, ia akan segera pergi namun masih menunggu waktu yang tepat untuk bangkit.
Yashinta yang sudah mencicipi kuah mie baksonya mengeluarkan ponsel dari saku seragam saat benda tipis itu berdenting, menandakan jika ada pesan masuk.
Mama Baru
Sayang, pulang sekolah nanti kita ketemu, yah.
"Loe pulang di jemput sopir?" tanya Sean, matanya mengarah pada Yashinta. Yashinta mendongak, tahu jika Sean bertanya padanya ia lantas menggelengkan kepala. Kemudian kembali menyimpan ponselnya.
__ADS_1
"Yas bawa mobil." jawab gadis itu.
"Mama ngajakin kita ikut fitting baju." sahut Sean, Yashinta mengangguk-anggukan kepala penuh pengertian. "Tadi Mama juga kirim chat ke Yas."
"Yas ikut sama Sean terus tinggalin aja mobil Yas di sekolah?" tanya gadis itu kemudian.
"Loe bawa aja sampe rumah, ganti baju dulu. Nanti gue jemput, gue juga harus balik dulu." Sean juga harus berganti baju. Ia merasa cukup yakin jika pergi dengan sang mama akan memakan waktu lama, sehingga tidak mungkin baginya jika tetap mengenakan seragam sekolah.
"Yaudah kalau gitu." Sean mengangguk, lantas melanjutkan makan.
"Udah langsung manggil 'Mama' aja, nih. Yas?" Aris menggoda, gadis itu tersenyum malu-malu dan menganggukan kepala. Sementara Sean dan Ranti hanya tersenyum.
Ketika Yashinta asik melanjutkan makannya, Kafka diam-diam menatap gadis itu. Ia akui, aura Yashinta jauh lebih bersinar setelah putus darinya.
Kafka memasukan ponsel ke saku seragamnya usai puas bermain game, ia lantas bangkit dari duduk karena rasanya waktu sudah tepat untuknya pergi. Membuat yang lain menatapnya. "Ke mana Ka?" Aris yang bertanya.
"Balik ke kelas duluan." Kafka menyahut seraya berlalu. Meninggalkan kawan-kawannya di sana. Aris menoleh pada gadis di sampingnya. Jujur ia penasaran bagaimana perasaan Yashinta pada Kafka setelah apa yang Kafka perbuat pada gadis itu.
Sehingga ia memberanikan diri untuk bertanya.
"Loe udah nggak ada perasaan apa-apa lagi sama Kafka, 'kan Yas?" Aris hanya ingin memastikan jika Yashinta tidak terlalu polos untuk tetap mencintai Kafka setelah perbuatan menyakitkan yang Kafka lakukan.
Pria itu memang sahabatnya, tapi Aris sama sekali tidak mendukung perbuatan semena-mena Kafka pada Yashinta.
"Jangan bilang loe masih suka sama Kafka!" ancam Aris dengan nada tinggi dan cukup membuat Yashinta terkejut. Bahkan Ranti yang asik makan harus batuk karena tersedak, beruntung, Sean dengan cepat menyodorkan sebotol air mineral padanya.
"Aris apaan, sih." Yashinta mengelak dari pertanyaan tersebut.
"Yas, loe cantik. Masih banyak yang mau sama loe dan masih banyak manusia yang jauh lebih baik dari Kafka." oceh Aris, berapi-api.
"Iya. Yas tahu,"
"Jadi udah aja perasaan loe sama Kafka."
"Emang udah."
"Loe udah nggak suka sama Kafka?" Aris tampak semringah, sepertinya jika Kafka ada di sana, minimal Aris akan merasakan kuah mie bakso mendarat di wajahnya.
Yashinta memilih menganggukan kepala. Aris tersenyum girang, sedangkan Sean dan Ranti hanya menggeleng tidak mengerti dengan tingkah Aris.
****
"Yas, loe piket hari ini, 'kan?" tanya Ketua Kelas saat Yashinta baru saja akan duduk di tempatnya begitu tiba dari kantin. Gadis itu menganggukan kepala.
"Tolong ambilin buku paket Biologi di Perpustakaan, yah. Gue mau ke Ruang Guru dulu soalnya." pintanya, tampak buru-buru. Yashinta mengangguk dan bersiap untuk ke Perpustakaan bersamaan dengan bel masuk yang terdengar.
"Mau ditemenin nggak?" Ranti yang sudah duduk bersandar bertanya.
__ADS_1
"Nggak papa, Ranti. Yas aja,"
"Yakin?"
"Iya, yakin. Ranti duduk aja." Ranti mengangguk mengiyakan, membiarkan Yashinta berlalu sendiri keluar dari kelas.
"Yashinta mau kemana?" Yashinta berpapasan dengan Bu Diania, guru mata pelajaran biologi di pintu kelas.
"Ngambil buku paket dulu Bu,"
"Oh, iya. Ketua Kelas kamu masih di Ruang Guru, jangan lama-lama, yah."
"Iya, Bu."
"Kamu bisa bawa bukunya sendiri?"
"Bisa, Bu."
"Oh, yasudah."
Yashinta mengangguk, pamit pada gurunya itu kemudian setengah berlari menuju Perpustakaan.
Keadaan Perpustakaan sepi saat itu karena semua anak-anak sudah kembali belajar di kelas. Pak Firdaus, selaku pengelola perpustakaan juga tidak ada di mejanya. Kalau saja perpustakaan dalam keadaan gelap, maka Yashinta tidak akan berani masuk karena aura horor yang pastinya akan tercipta.
Tapi Yashinta mengingat lagi jika suasana di luar siang bolong dan ia harus cepat mengambil buku dan kembali ke kelas. Sehingga gadis itu dengan cepat mencari buku paket biologi, ia mengelilingi satu rak buku dan berdecak pelan ketika buku yang dicarinya berada di rak paling atas.
"Kenapa tinggi bangeet." keluhnya.
Namun yang membuat Yashinta lebih terkejut lagi saat ia mendapati seorang siswa tengah duduk bersandar pada rak buku dengan buku tebal yang menghalangi wajahnya.
Itu belum seberapa, karena saat Yashinta mendapati jam tangan yang yang dipakai siswa tersebut, ia yakin jika itu adalah Kafka. Kemudian kebenaran itu segera terbukti saat Kafka menurunkan buku dan memperlihatkan wajahnya.
Kemudian menatap Yashinta dan membuat gadis itu salah tingkah. Kini Yashinta mulai berpikir, mungkin seharusnya ia iyakan saja tawaran Ranti tadi untuk menemaninya. Tapi Yashinta juga tidak tahu jika Kafka akan berada di sana alih-alih berada di kelas karena pelajaran sedang dimulai.
"Ka–Kafka kenapa nggak di kelas?" gadis itu terpaksa bertanya, ia tidak mungkin membiarkan rasa canggung menguasai dirinya.
"Gue demam." Kafka menyahut singkat seraya bangkit dari duduk. Yashinta menatapnya dengan tatapan tidak terbaca, Kafka balik menatap gadis itu.
"Terserah kalau loe nggak percaya." ujarnya melihat raut tidak yakin gadis itu. Yashinta hanya diam, Kafka juga tidak beranjak dari tempatnya. Membuat keduanya terjebak dalam hening.
Sejujurnya banyak yang ingin Yashinta katakan, banyak yamg ingin ia tanyakan pada pria itu.
Alasan mengapa Kafka tak pernah minta maaf. Alasan mengapa Kafka tampak tidak menyesali perbuatannya, juga alasan mengapa Kafka tampak tak merasa bersalah padanya.
Tapi yang bisa Yashinta lakukan justru hanya diam menatap pria itu.
TBC
__ADS_1