
"Yas, nggak gitu caranya." Ranti berdecak melihat Yashinta yang membawa nampan. Tampak nyaris terjatuh karena gadis itu tidak bisa memposisikan tangannya dengan benar, padahal atasnya hanya segelas minuman. Mungkin Yashinta takut jatuh sehingga salah memegangnya guna mempertahankan segelas minuman itu.
"Gimana Ranti?" tanyanya dengan polos. Ranti berdecak kembali, menyerah. "Udahlah, loe diem aja. Jangan ikut bantuin." spontan kalimat itu membuat Yashinta mengerucutkan bibir, tampak kecewa. Beberapa waitress yang ada di sana hanya tersenyum melihat anak pemilik restoran itu dan juga pekerja paruh waktu mereka yang ternyata berteman akrab.
"Kalau begitu biar saya aja yang ngasih tugas." salah seorang waitress buka suara melihat keributan yang dua orang itu ciptakan. Yashinta tampak antusias.
Beberapa waktu selanjutnya, ia pasrah saat waitress tadi memakaikannya apron dengan logo restoran di bagian depan dan membekalinya dengan buku menu. Gadis itu bersiap dengan tersenyum manis untuk menyapa para pelanggan yang berdatangan di jam makan siang.
Dari kejauhan. Ranti yang sudah mengantarkan pesanan mengangkat jempolnya pada Yashinta yang gadis itu tanggapi dengan senyum secerah mentari. Yashinta siap menjalankan misi.
"Selamat siang, Mas mau pesan apa, yah?" ia menyodorkan buku menu pada pelanggan pertamanya.
Yashinta tidak menyangka, jika ternyata pekerjaan itu membuat hatinya merasa senang. Ia senang melihat orang-orang berdatangan untuk makan di restoran milik sang papa dan calon mama tirinya itu.
Yashinta dan para waitress restoran kian sibuk ketika sekumpulan mahasiswa dengan almamaternya datang dan memenuhi meja. Yashinta melongo, ia menarik baju waitress yang memberikannya buku menu beberapa saat lalu.
"Mbak, emang tiap hari tempatnya serame ini, yah?" tanyanya dengan tatapan lekat pada para waitress yang sibuk kesana kemari melayani para pelanggan, memberikan buku menu, mencatat pesanan dan mengantarkannya begitu seterusnya. Padahal terakhir kali Yashinta datang, restoran tersebut tidak seramai sekarang.
Wanita yang gadis itu tanya hanya mengbuskan napasnya, ia menepuk pundak Yashinta seolah menyemangati. "Biasanya emang nggak sreame ini."
"Tapi hari ini–"
Yashinta menoleh, membuat tatapan mereka bertemu. "–Mungkin karena ada kamu." sambungnya yang membuat Yashinta mendesah lelah. Semula sangat menyenangkan, namun mendapati dirinya yang begitu sibuk, Yashinta rasanya perlu mengeluh. Ternyata tidak semenyenangkan yang ia rasakan sebelumnya.
Sementara itu, di sebuah perusahaan yang Gibran pimpin. Beberapa karyawannya tampak keluar dari gedung perusahaan dengan wajah berseri-seri. Setelah rapat bulanan dengan atasan mereka, sang pimpinan mengajak mereka untuk makan siang di luar alih-alih di kafetaria perusahaan.
"Pak Abi itu pimpinan yang baik, nimpah ke anaknya, baik juga." komentar salah satu karyawan seraya berjalan ke arah mobil yang sudah terparkir.
"Iya, meski Pak Gibran agak cuek, tapi dia perhatian. Apalagi sama karyawan teladannya." yang lain ikut berkomentar dan mendapat anggukan dari yang lainnya.
"Kita berangkat duluan aja?" tanya salah satu dari mereka.
"Bu Intan bilang Pak Gibran nggak bisa ikut. Banyak berkas yang harus ditandatangi dan harus beres sore nanti." seorang wanita yang baru saja tiba dengan rambutnya yang disanggul acak memberitahu karena ia baru saja bertemu dengan skretaris atasan mereka.
"Bu Intan cuma ngasih–Ini, dari Pak Gibran." sambungnya seraya menunjukan sebuah kartu atm yang tak lain adalah atm perusahaan. Membuat yang lain bersorak senang.
"Oh, yaudah. Langsung berangkat aja kita." usul pemilik mobil. Sepuluh orang karyawan itu berangkat dengan dua mobil. Restoran tujuan mereka adalah restoran yang jaraknya dapat ditempuh dengan lima belas menit menaiki mobil. Restoran yang terkenal dengan makanan Italianya yang juara.
Acara makan siang itu Gibran gelar sebagai apresiasinya pada karyawan dari salah satu divisinya. Pun mungkin karena suasana hatinya sedang sangat baik, tapi terlepas dari hal itu, ia memang terbilang cukup sering mentraktir para karyawannya makan di luar, atau meminta skretarisnya agar mengatur koki perusahaan untuk mengganti menu setiap hari. Gibran cukup mengerti jika makan di kafetaria perusahaan cukup membosankan.
"Mereka sudah berangkat, Pak." beritahu Intan pada Gibran yang tampak sibuk di meja kerjanya. Gibran hanya mengangguk dengan gumaman.
"Kamu tolong pisahkan berkas yang baru dikumpulkan." Gibran menyodorkan setumpuk berkas yang baru sepuluh menit lalu tiba di mejanya. Intan mengangguk, duduk di kursi yang bersebrangan dengan meja Gibran. Berhadapan dengan atasannya itu.
Intan memulai pekerjaannya, hingga beberapa saat kemudian, ketika ponsel milik Gibran beberapa kali berdenting, ia meraihnya dan melihat pesan masuk.
Intan hanya tersenyum."Dari siapa?" tanya Gibran dengan mata dan tangan yang masih fokus pada pekerjaannya.
"Oh, ini, Pak. Dari mereka, Pak Gibran mau lihat?" Intan menawarkan Gibran untuk melihat beberapa foto yamg ia dapat dari para karyawan yang tengah makan siang di luar.
__ADS_1
"Mereka pesen banyak makanan." beritahu Intan dengan tertawa. Gibran berdecih, namun tak ayal, senyum samar ikut terbit di bibirnya.
"Mereka memakai credit card perusahaan dengan sebaik mungkin." sambungnya. Lantas menunjukan sebuah foto pada Gibran, membuat pria itu sejenak menghentikan aktivitasnya dan melihat foto yang skretarisnya tunjukan.
Gibran hanya melihatnya sekilas, dimana foto itu menunjukan meja panjang mereka yang penuh dengan berbagai makanan ditambah senyum senang para karyawan dan restoran tampak dipenuhi para pengunjung.
Namun bukan hal itu yang menyita perhatian Gibran. Melainkan seorang waitress dengan seragam SMA yang tampak mengantarkan makanan ke meja mereka.
"Kenapa anak itu bisa ada di sana?"
"Ngapain dia?"
"Hah? Kenapa Pak Gibran?" Intan mengerutkan dahi melihat reaksi sang atasan.
***
Yashinta sibuk mondar-mandir melayani para pelanggan, membantu watiress restoran yang begitu sibuk dan kerepotan. Sesekali gadis itu menyeka keringat di dahinya yang mengucur deras karena ia terlalu banyak bergerak. Mereka kian sibuk saat lebih dari delapan orang karyawan perusahaan masuk dan menempati meja panjang juga memesan banyak makanan.
"Tempatnya nggak bisa kita tutup sekarang aja, ya." keluhnya pada Ranti di sampingnya yang sudah bersiap mengantar makanan.
"Enggak bisa, lah, Yas. Orang-orang lagi pada makan."
"Yas cape, cape banget Ranti."
"Tadi gue udah suruh loe biar diem aja."
"Masalahnya Yas bakalan lebih cape kalau cuma ngelat kalian bolak-balik doang." Ranti menggelengkan kepala, memang sulit berdebat dengan seorang Yashinta.
"Loh, Sean ngapain? Sean sering ke sini juga, ya?" tanya Yashinta, namun alih-alih menjawab pria itu justru mengambil alih nampan dari tangan Yashinta kemudian berlalu pergi setelah Ranti menunjuk meja dimana Sean harus mengantatkan makanan yang dibawanya ke sana.
"Sean emang sering ke sini, kadang kaya gitu. Bantu-bantu juga." beritahu Ranti yang membuat Yashinta menganggukan kepala.
"Yaudah, loe anter ini ke meja deket pintu masuk." suruh Ranti yang langsung mendapat anggukan dari Yashinta. Ia membawa nampan yang Ranti berikan kemudian berlalu dari sana, tak lama setelahnya Sean kembali.
"Rame banget?"
Ranti hanya mengerutkan kening, Sean mengedarkan pandangan, membuat Ranti melihat ke arah para pelanggan yang memenuhi meja restoran.
"Iya, tumben-tumbenan banget sampe membludak gini." komentarnya. Sean hanya mengangguk samar.
"Makasih, yah." apa yang Sean katakan kali ini membuat Ranti menatapnya. Sementara Sean berterimakasih pada gadis itu karena ia belum sempat mengatakannya di UKS saat di sekolah pagi tadi karena gadis itu yang langsung berlalu pergi meninggalkannya setelah selesai mengobati lukanya.
"Gimana luka loe?" Ranti bertanya setelah sebelumnya sempat mengangguk samar atas ucapan terimakasih yang Sean sampaikan.
Sean memegang ujung bibirnya. "Masih perih, sedikit." ia meringis karena perih memang terasa jika ia berbicara terutama saat makan atau tertawa.
"Nyokap loe gimana pas liat loe babak belur gituh?"
"Belum ketemu, nyokap masih di perusahaan."
__ADS_1
Ranti mengangguk-anggukan kepalanya, sesaat Sean tersenyum. "Tumben loe perhatian." ujarnya yang membuat Ranti menatapnya dengan sinis. "Nyesel gue nanya." desisnya, Sean tertawa tapi sesaat kemudian ia meringis ketika merasakan perih di ujung bibirnya.
Setelahnya, fokus dua orang itu teralihkan ketika lonceng berbunyi, menandakan ada pelanggan masuk.
Yashinta menaruh pesanan di meja yang Ranti tunjukan. Ketika lonceng berbunyi, ia mengukir senyum terbaiknya untuk menyambut kedatangan pelanggan. Hingga senyum gadis itu perlahan luntur saat melihat jika orang yang baru saja masuk adalah seorang pria dengan stelan formal yang semalam mengobrol dengannya melalui sambungan telepon. Yashinta terkejut.
Gibran tentu saja segera datang ke restoran dimana ia mengirimkan para karyawannya untuk makan siang saat Yashinta tertangkap kamera salah satu karyawannya.
Entah apapun yang gadis itu lakukan di restoran milik papanya, Gibran tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk bertemu dengan Yashinta.
Karena jika ia datang ke sana, dirinya tidak memerlukan alasan untuk bertemu gadis itu, Yashinta jelas akan tahu jika kedatangannya di sana adalah untuk makan.
"Mas Gibran." decaknya, Gibran nengangguk dengan antusias. Sememtara gadis itu celingukan. "Ngapain?" Yashinta bertanya kemudian dengan suara pelan.
"Saya harus jelasin ke kamu alasan kenapa sayang datang ke sebuah restoran?" Gibran menyahut retoris. Membuat Yashinta tersenyum.
"Pak Gibran." dua orang itu menoleh ke sumber suara, Gibran hanya tersenyum pada para karyawan yang melihat kehadirannya. Sebagian dari mereka tampak terkejut melihat dia berada di sana, tanpa sang skretaris pula.
"Mereka?" Yashinta bertanya.
"Karyawan saya. Kami memang punya jadwal makan siang di luar hari ini. Kebetulan sekali saya ketemu kamu di sini. Ini seperti, hmm. Takdir?" panjang lebarnya yang membuat Yashinta hanya berdecih mendengar sederet kalimatnya.
"Kamu kerja paruh waktu di restoran papa kamu?" tanya Gibran kemudian.
"Yas bantuin temen. Ternyata cape banget karena banyak pelanggan, mereka datangnya keroyokan." keluhnya dengan wajah lelah. Gibran tersenyum melihatnya.
"Kasian kamu, mungkin harusnya saya nggak usah ajak karyawan saya makan di sini. Yaudah saya mau ajak mereka pulang." pria itu hendak berlalu namun Yashinta menahan.
"He'h, jangan, kasian. Mereka baru aja mau makan. Lagian kasian juga temen-temen Yas yang udah ngelayanin mereka. Hebat karyawan Mas Gibran," panjang lebar gadis itu, tapi kalimat terakhirnya membuat Gibran mengerutkan kening.
"Mereka pesen banyak makanan, mahal-mahal lagi. Atasannya pasti baik banget, tuh, makannya mereka berani kaya gitu." sambungnya dengan tatapan polos seolah memuja Gibran, membuat pria itu tidak tahan untuk tidak tersenyum dan hanya mengalihkan perhatiannya ke arah lain.
Sementara itu, Ranti yang melihat keakraban keduanya tampak heran dan bertanya-tanya. "Jadi mereka saling kenal?"
"Yashinta sama Pak Gibran akrab?" gadis itu bergumam pelan. Bertanya pada dirinya sendiri.
Sean di sampingnya hanya menoleh ketika mendengar gadis itu bergumam, melihat gadis itu yang tampak memusatkan perhatian penuh pada Yashinta dan seorang pelanggan yang baru saja tiba membuatnya ikut melihat objek yang menarik perhatian Ranti.
Tidak ada yang istimewa baginya, namun kenapa tatapan Ranti terlihat berbeda melihat Yashinta dengan Gibran? Sean merasa heran.
TBC
Btw yeorobun, daripada komen nyuruh-nyuruh Yashinta biar sama Mas Gibran, mending koment isi cerita aja, deh. Wkwk. Mereka mah biar ngalir aja.
Hmm ngomong-mgomong besok udah puasa. yah? MasyaAllah tabarakAllah. Alhamdulillah sekali dipertemukan lagi dengan bulan suci ramadhan.
Selamat menjalankan bagi kita yang menjalankannya. Perbanyak amal sholeh di bulan suci ini, perbanyak dzikir dan mengingat Allah, perbanyak shalawat kepada Baginda Nabi kita.
Perbanyak sabar, jaga emosi dan kendalikan diri. Semoga Allah senantiasa memberikan rahmat, hidayah dan ridhonya kepada kita semua. Aamiin.
__ADS_1
Selamat Menjalankan Ibadah Puasa Ramadhan 1443 Hijriyah readerku sayaaang🙏❤