
Yashinta yang menapaki anak tangga untuk turun ke lantai bawah mengernyitkan dahi saat mendapati Saras yang baru saja menutup telepon. "Saras pake telpon rumah?" tanyanya, kemudian menapakan kakinya pada anak tangga terakhir kemudian menghampiri Saras.
"Abis telponan sama siapa?" tanya Yashinta lagi yang tampak membuat Saras panik. "Eu, gue abis–nelpon temen sekelas. Gue mau minta tolong buat dibeliin buku. Gue nggak enak pake buku loe terus." dustanya tepat sasaran. Padahal ia habis telponan dengan Kafka.
"Enggak papa, Saras. Lagian uang Saras emang masih ada?" tanya gadis itu lagi. Setiap pagi, Saras menolak uang saku yang Andri berikan dengan alasan ia membawa uang cash yang cukup banyak.
"Ada, tenang aja." gadis itu tersenyum yang dibalas senyuman pula oleh Yashinta. "Kalau gitu kita makan malam dulu. Papa udah pulang, 'kan?" Yashinta berjalan ke arah meja makan. Saras di tempatnya hanya mengangguk samar. Menatap punggung Yashinta yang kian menjauh.
Saras mendesah, mungkin seharusnya ia segera keluar dari rumah Yashinta. Ia benar-benar tidak tahu malu, sudah merepotkan dan menumpang di rumah gadis itu kemudian menusuk Yashinta dari belakang dengan berpacaran dengan Kafka. Saras juga membenci fakta itu, namun ia sedang butuh Kafka. Lebih butuh dari Yashinta.
"Kamu ganti nomor hp Sayang?" tanya Andri ketika makan malam berlangsung, putri semata wayangnya itu menganggukan kepala.
"I–iya, Pah." siang tadi Yashinta memang mengirimkan pesan pada Andri dan memberitahukan nomor barunya.
"Hp yang lama kenapa? Sudah bosan?" tanya Andri lagi.
"Iya, Pah. Udah rusak." dustanya, padahal pada kenyataannya, ponselnya masih sangat layak pakai andai Kafka tidak sembarangan membuangnya begitu saja di tengah jalan. Yashinta yakin ponsel lamanya itu sekarang sudah hancur ditabrak kendaraan yang lewat.
Andri mengangguk-anggukan kepalanya, kemudian kembali bicara. "Oh, yah. Sayang. Papa sama Tante Arumi punya rencana makan malam nanti." beritahu Andri mengingat obrolannya siang tadi dengan sang calon istri.
"Kapan Pah?"
"Mungkin lusa atau minggu depan."
Yashinta sempat bertukar pandang dengan Saras yang tidak tahu apa-apa kemudian mengerutkan kening. "Papa sama Tante Arumi masih sama-sama sibuk." beritahu Andri agar putrinya mengerti.
"Papa, orang kaya Papa sama Tante Arumi itu kalau nggak sengaja nyempetin waktu ya nggak akan bisa ketenu." Yashinta setengah menggerutu, sementara Andri hanya menanggapinya dengan senyuman, Saras di sana juga hanya tersenyum sopan pada Andri.
"Arumi, siapa, Yas? Kayaknya familiar." tanya Saras saat ia dengan Yashinta sudah bersiap untuk tidur, malam ini dia tidak lagi tidur di kamar tamu seperti kemarin. Kondisi Yashinta sudah jauh lebih baik.
"Mamanya Sean."
"Hmm?"
Saras memang tahu beberapa hari kemarin Kafka dan Sean adu jotos karena Sean yang dekat dengan Yashinta, tetapi Kafka tidak bercerita apapun setelahnya. "Loe sama Sean bakal sodaraan?" tanya Saras lagi setelah menangkap kesimpulan, menoleh pada Yashinta, Yashinta juga menoleh dan mempertemukan tatapan mereka kemudian menganggukan kepala.
"Yas bakalan punya abang." gadis itu tampak girang.
__ADS_1
***
Keesokan paginya, suara benda jatuh dari arah kamar ketika Yashinta sedang berada di balkon dan menikmati udara pagi membuat gadis itu bergegas kembali ke kamar. Ia melihat Saras yang tengah berdiri dengan raut takut dan tubuh yang tampak gemetar.
Yashinta tentu panik melihatnya. Ia menghampiri Saras, langkahnya memelan saat mendapati ponsel gadis itu berada di lantai.
"Saras, ada apa?" tanyanya. Saras tak langsung menyahut, melihat hal itu Yashinta segera memungut ponsel Saras yang beberapa hari ini gadis itu biarkan dalam keadaan mati. Sepertinya Saras nencoba memberanikan diri untuk mengaktifkan kembali ponselnya.
"Saras," Yashinta tampak terkejut saat melihat ponsel gadis itu, spontan Saras menangis, mendekap tubuh Yashinta dengan begitu erat.
"Yashinta, gimana keadaan nyokap gue."
"Gue nggak mau dia kenapa-napa, Yashinta." Saras menangis sejadi-jadinya dalam dekapan Yashinta. Yashinta hanya mengusap punggung Saras, melihat kembali sebuah foto yang menampilkan seorang wanita dengan penampilan berantakan dan beberapa luka di wajahnya dalam keadaan duduk pada sebuah kursi dengan posisi tangan dan kaki yang terikat.
Dia adalah Mama Saras, dan foto itu dikirimkan oleh Papa Saras.
Mau tidak mau, pada akhirnya Saras bersedia untuk mengadukannya pada Andri atas bujukan Yashinta dan bercerita mengenai semua perlakuan sang Papa padanya. Mereka butuh bantuan dari orang tua dan Andri sangat bisa diandalkan.
Andri mengangguk mengerti setelah mendengar semua cerita Saras. Sementara gadis itu masih terus menangis dan Yashinta terus menggenggam tangannya guna menenangkan.
"Om, apa yang harus saya lakuin? Saya nggak bisa biarin Mama terus disiksa kaya gitu sama Papa." ujarnya dengan isak tangis yang membuat genggaman tangan Yashinta kian erat untuk menguatkannya.
"Mama nggak bisa nunggu, Om. Saya takut Papa nekad ngebunuh Mama," Saras panik dan khawatir dengan keadaan Mamanya yang berada di tangan seorang psikopat seperti Papanya.
"Saya nggak bisa diem aja, Om. Papa pasti akan berenti kalo saya nyerahin diri." sambungnya, yang membuat Andri segera menggelengkan kepala.
"Kamu nggak bisa ngelakuin itu, Saras. Papa kamu pasti sangat marah karena kamu kabur dari rumah. Dia nggak akan kasih kamu ampun gitu aja,"
"Tapi Om–"
"Kedatangan kamu nggak akan bisa bebasin Mama kamu. Yang ada kalian berdua akan terjebak." Andri menyela dengan sedikit penekanan. Sejauh yang ia tahu mengenai Johan–Papa Saras, dia memiliki watak yang keras, nekad dan tanpa ampun. Membiarkan Saras mendatanginya meski gadis itu adalah putri kandungnya tentu bukan hal yang baik.
Saras hanya menangis setelahnya, ia tak dapat menemukan solusi apapun untuk menyelamatkan Mamanya yang saat ini pasti sedang tertekan dan butuh bantuan.
"Om harus kumpulkan bukti untuk lapor masalah ini ke polisi."
Saras tampak terkejut mendengar hal itu, bagaimanapun Johan adalah papa kandunganya dan ia merasa sedikit keberatan jika papanya itu harus terpuruk di balik jeruji besi.
__ADS_1
Yashinta mengusap punggung Saras, membuat gadis itu menoleh padamya dengan mata membengkak. "Yas tahu ini berat, Saras. Tapi Papa Saras udah melewati batas, dia harus merasa jera."
"Papa Saras harus dapat hukuman atas apa yang udah dia lakuin sama Saras dan Mama Saras." ucap Yashinta dengan sangat hati-hati.
"Cuma itu satu-satunya cara untuk nyelametin Mama Saras dan ngebuat Saras bebas dari Papa Saras." sambungnya, Saras tak bisa berkata apa-apa. Tapi air mata kian mengalir deras di pipinya. Ketika gadis itu berhambur memeluk Yashinta, Andri paham jika gadis itu–meski dengan berat hati–setuju untuk membawa Papanya ke jalur hukum.
Atas persetujuan Saras, Yashinta menghubungi Kafka, meminta pria itu mengirimkannya foto-foto bukti kekerasan fisik di tubuh Saras atas perbuatan papanya yang pria itu koleksi sebagai barang bukti untuk kemudian hari.
Yashinta tahu, apa yang menimpa Saras bukanlah hal sepele. Pasti gadis itu sangat tertekan sekali. Selama beberapa hari, Saras menolak untuk masuk sekolah, Yashinta paham. Sehingga ketika keadaan Saras membaik, maka ia akan berusaha membahas materi yang sudah ia pelajari di sekolah agar Saras tetap tidak tertinggal pelajaran.
Andri sibuk mengurus kasus Johan, mengumpulkan lebih banyak bukti untuk dapat menjeratnya dengan mudah.
Kafka juga khawatir, sangat khawatir dengan keadaan Saras yang notabenenya adalah gadis yang sudah resmi menjadi pacarnya meski statusnya masihlah selingkuhan. Ia ingin bertemu dan memberi gadis itu pelukan, namun Saras masih menolak untuk bertemu dengannya.
***
Siang itu, sepulang sekolah Yashinta mengajak Kafka untuk makan di restoran milik papanya dan mama Sean. Sudah lama juga ia dengan Kafka tidak makan bersama, awalnya Yashinta kira Kafka akan menolak. Namun ternyata Kafka menyanggupinya sehingga ketika jam bubaran sekolah, pria itu sudah menunggunya di parkiran.
Keadaan restoran siang itu tidak begitu ramai, Yashinta dan Kafka menikmati makannya dengan tenang, raut wajah Kafka tampak seperti biasa tapi Yashinta tahu pria itu pasti mengkhawatirkan Saras dan ingin menemui Saras.
"Kafka,"
"Hmm?" Kafka mengunyah pelan makanannya dan menatap Yashinta.
"Kafka baik-baik aja?"
"Gue baik-baik aja. Udah, cepetan abisin makannya, gue anterin loe balik nanti." ujar Kafka, Yashinta hanya mengangguk dan melanjutkan makan. Ketika sudah selesai, Yashinta menunggu Kafka yang membayar di kasir. Bersamaan dengan itu, saat suara lonceng terdengar, gadus itu menoleh ke arah pintu masuk dan melihat beberapa orang dengan pakaian rapinya berjalan masuk diiringi obrolan ringan.
"Papa," Yashinta segera menghampiri Andri yang tengah mengobrol dengan beberapa rekan kerjanya.
"Sayang." Andri mentapa putrinya itu. Yashinta menatap rekan-rekan Andri dan tersenyum hangat sebagai bentuk sapaan.
Sekilas Yashinta menatap Gibran di samping Andri namun gadis itu tidak bereaksi, terlebih saat Kafka yang tiba-tiba saja sudah berdiri di sampingnya dan menggenggam tangannya.
Gadis itu menoleh, menatap tangan mereka, begitu juga Gibran yang menatap ke bawah dan melihat dimana tangan adiknya tengah menggenggam tangan Yashinta seolah sengaja menunjukan padanya jika gadis itu sudah ada yang punya.
Gibran tahu itu, ia memang kalah satu langkah dari Kafka. Ia tertinggal jauh.
__ADS_1
TBC