
Gibran baru saja tiba di apartement dan tertidur sebentar setelah melakukan perjalanan bisnis guna menyelesaikan masalah di anak cabang saat ia mendapati telepon dari Yashinta yang memintnya untuk datang dengan tangis dan membuat Gibran khawatir.
Dalam perjalan pulang beberapa saat lalu, Gibran sempat mampir di toko kue mengingat jika besok adalah hari ulang tahun Yashinta dan bertepatan dengan hari minggu dimana Gibran bebas mengganggu waktu gadis itu untuk memberinya kejutan.
Namun saat ia tiba di rumah Yashinta, asisten rumah tangga gadis itu bilang jika Yashinta sedang ada acara di luar. Acara kemah dengan teman-teman sekolahnya.
Gibran tentu merasa kecewa, terlebih tubuhnya sangat lelah dan ia berbaik hati dengan perasaan senang ingin memberi gadis itu kejutan dan berakhir dengan kegagalan.
Yashinta pasti sedang bersenang-senang dengan Kafka, begitu pikirnya. Sehingga ia memilih pulang ke apartement dalam keadan lesu dan penampilan yang sedikit lusuh.
Gibran mengira kue ulang tahun itu akan berakhir sia-sia. Namun ternyata Tuhan lebih tahu apa yang terbaik untuknya. Bahkan menuntunnya menuju jalan dimana ia dapat menemukan Yashinta.
Gibran tidak tahu apa yang terjadi dengan gadis itu disaat seharusnya ia bersenang-senang dengan acara kemahnya. Gibran berasumsi jika gadis itu ribut dengan Kafka, mengingat bagaimana Yashinta berjalan sendiri ke tepi jalan–ditengah malam tanpa rasa takut, gadus itu pasti sangat kecewa.
"Saya ada di sini, Yashinta."
"Saya bersama kamu." Gibran menenangkan gadis itu.
***
Gibran hanya menatap Yashinta yang masih terisak sepanjang perjalanan pulang. Gadis itu tidak bicara sepatah katapun padanya. Membuat Gibran kian khawatir dengan keadaannya, sampai kemudian pria itu memutuskan untuk menghentikan laju mobil.
Tapi rupanya hal tersebut tidak berhasil ia lakukan. Yashinta masih tak kunjung bicara. Membuat Gibran mendesah dan memiringkan tubuhnya menghadap gadis itu.
"Saya tahu kamu sedang marah dan kecewa, tapi seharusnya bukan pada saya, Yashinta."
"Apa yang Kafka lakukin sama kamu, huh?"
Cecar Gibran, tidak terima dengan apa yang gadis itu lakukan padanya seolah ia menjadi pelampiasan amarahnya.
Yashinta masih hanya terdiam, sama sekali tidak bicara dan hanya terisak, kian membuat Gibran kesal melihatnya terlebih saat gadis itu kembali menangis, membuat Gibran mendesah pasrah dan berakhir dengan membiarakan saja Yashinta berbuat sesuka hatinya.
Gibran sadar jika gadis itu tidak bisa dipaksa.
"Jangan pulang ke rumah." Yashinta berbicara saat Gibran hendak membelokan mobil ke arah jalan pulang menuju rumah gadis itu.
"Kamu ingin kemana?" tanya Gibran dengan tatapan lembut menatap mata sembab gadis itu. Hati kecilnya merasa menyesal karena tadi sempat marah.
"Kemana aja asal jangan ke rumah." gadis itu tampak memohon pada Gibran. Gibran menganggukan kepala dan menuruti keinginan Yashinta, ia melajukan mobilnya ke arah lain.
Yashinta tidak ingin pulang ke rumah. Waktu sudah terlalu larut malan dan ia tidak bisa mengatakan apapun pada Andri saat papanya itu nanti bertanya alasan kenapa ia pulang sebelum acara kemah berakhir.
Air mata gadis itu kembali jatuh mengingat apa yang Kafka dan Saras lakukan beberapa saat lalu. Ia mengingat lagi apa yang terjadi antara ia dan Kafka dalam perjalanan menuju lokasi kemah. Yashinta menyentuh bibirnya, perih di hatinya kembali terasa, kian terasa. Sangat menyiksa.
****
Gibran tidak memiliki pilihan lain selain membawa Yashinta ke apartementnya. Gadis itu hanya mengikuti langkahnya dan terdiam sepanjang menuju unit apartement Gibran.
"Kamu mau makan? Minum? Atau sesuatu?" tanya Gibran seraya melepas jaket yang dikenakannya dan menyampirkannya pada sandaran sofa.
Yashinta hanya menggelengkan kepala. Gibran mengembuskan napas pelan. Ia tidak memiliki cara untuk menghibur gadis itu. Tetapi ada satu hal yang harus pria itu lakukan.
Gibran mengambil sebuah kardus yang ia taruh di meja pantry, mengeluarkan sesuatu dari sana dan meraih sebuah geretan, kemudian membawanya ke ruang utama dimana Yashinta berada.
__ADS_1
Yashinta sudah duduk di sofa saaf Gibran meletakan kue ulang tahun di atas meja. Membuat gadis itu tampak terkejut saat melihatnya.
"Mas Gibran–"
"Saya nggak punya cara untuk menghibur kamu dan kamu juga nggak mau bicara. Jadi saya hanya akan melakukan apa yang harus saya lakukan." panjang lebar Gibran, ia melihat jam dinding yang berada di salah satu dinding apartementnya. Waktu menunjukan pukul setengah tiga pagi.
"Ini hari ulang tahun kamu?" tanya Gibran. Yashinta mengangguk perlahan–dengan sorot tidak percaya. Atensinya teralihkan sepenuhnya pada Gibran. Sejenak melupakan apa yang terjadi padanya hingga membuat ia bersama dengan pria itu saat ini.
"Da–dari mana Mas Gibran tahu?"
"Saya menyukai kamu, tentu saya akan mencari tahu banyak hal tentang kamu." pria itu menyahut jujur. Membuat Yashinta tak percaya di tempatnya.
"Jadi, sebelum beristirahat, saya ingin kamu meniup lilin. Kejutan saya mungkin sederhana–" Gibran tersenyum. "Ditahun-tahun selanjutnya, saya akan menyiapkan kejutan spesial."
"Asal kamu tetap dengan saya."
Kalimat yang terus menerus Gibran katakan hanya mampu membuat Yashinta terdiam. Ia tidak ingin salah paham dengan perasaannya sendiri.
Gibran menyalakan lilin, mengangguk pada Yashinta agar segera meniupnya. "Make a wish dulu." suruh Gibran yang membuat gadis itu menganggguk dan menangkupkan tangan. Memejamkan mata dan meminta pada Tuhan untuk melenyapkan kesedihan yang ia rasakan.
Sementara Gibran menatap wajah gadis itu. Ia ingin meraih wajah Yashinta, namun gadis itu sudah perlahan membuka matanya.
Tak lama, Yashinta meniup lilin dan tersenyum pada Gibran. "Selamat ulang tahun Yashinta, semoga selalu bahagia."
Yashinta tersenyum seraya menganggukan kepala, cukup lama menatap pria itu tanpa berkata-kata, hingga kemudian ia buka suara. "Terimakasih Mas Gibran." air matanya jatuh, menganak sungai di pipinya.
Dari semua orang yang ia harapkan, Gibran justru menjadi orang pertama yang memberinya kejutan. Menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun untuknya dan menjadi orang pertama yang bersama dengannya diusia delapan belas tahun.
"Maaf karena Yas selalu ngerepotin." sambungnya, kali ini dengan isakan dan air mata yang kian berjatuhan. Gibran hanya menatapnya dengan tersenyum.
"Saya senang direpotkan jika oleh kamu, Yashinta."
Apa yang Gibran katakan tentu saja membuat Yashinta kian merasa sedih. Saat raut wajah gadis itu tampak akan menangis kencang, Gibran buru-buru meraih Yashinta dalam pelukan.
"Nangis aja, Yashinta. Saya siap mendengarkan." ujarnya, membuat gadis manja itu benar-benar menangis.
Di antara orang-orang yang melihatnya menangis, mereka seringkali mengatakannya untuk berhenti. Tetapi Gibran berbeda, dia justru memintannya untuk terus menangis dan meluapkan rasa sedihnya.
"Saya harap perasaan kamu akan jauh lebih baik setelah menangis." sambungnya.
Selang beberapa saat setelahnya, Yashinta dalam pelukan Gibran mulai meredakan tangisnya. Gadis itu hanya terisak, Gibran menilik wajah gadis itu, kemudian tersenyum.
"Sudah?" tanyanya, Yashinta mengangguk seraya menyeka air matanya. Gibran melepas pelukannya, mengambil jarak dan merapikan rambut Yashinta yang berantakan.
"Saya nggak akan maksa kamu buat cerita. Tapi kalau kamu ingin cerita, saya siap jadi pendengar yang baik." ujar Gibran, gadis itu hanya terdiam.
"Jadi sekarang, gimana kalau kita potong kue?" Gibran mencairkan suasana, memberi penawaran yang langsung membuat gadis itu menganggukan kepala.
Ketika Yashinta memotong kue dan otomatis potongan pertama diberikan pada Gibran, justru pria itu membuka mulutnya. Membuat Yashinta berdecih namun tetap mengambil garpu dan menyuapi pria itu.
"Enak?" tanya Yashinta, Gibran mengangguk-anggukan kepala seraya mengunyah kue di mulutnya.
"Kamu harus coba." Gibran mengambil alih piring kue dari tangan Yashinta, kemudian menyuapi kue pada gadis itu.
__ADS_1
"Gimana?" tanya Gibran. Gadis itu mengangguk, dengan raut wajah yang tampak mengagumi rasa kue yang baru saja mendarat di mulutnya. Ia memcolek bagian cream kue dengan jarinya mengarahkannya pada Gibran, tanpa berpikir panjang Gibran meraihnya, cukup membuat gadis itu terkejut dan mematung di tempat saat melihat jarinya berubah bersih.
Sementara Gibran tampak menikmati kuenya dan tanpa sengaja membuat fokus Yashinta teralihkan pada bibir merah alami pria itu.
Yashinta salah tingkah, menyuapkan kue ke mulutnya, tanpa sadar meninggalkan jejak cream di ujung bibir. Gibran yang melihat hal itu mengarahkan ibu jarinya membersihkan jejak cream di ujung bibir gadis itu.
Membuat gadis itu kembali mematung di tempatnya dengan gerakan impulsif Gibran, terlebih saat menyadari jarak wajahnya dan pria itu amat berdekatan.
Gibran mengarahkan matanya tepat ke manik cerah gadis itu. Membuat mata keduanya beradu pandang. Perlahan, gadis itu memejamkan mata.
Setelah beberapa saat berlalu. Yashinta membuka matanya, mendapati Gibran yang menjauh alih-alih melakukan sesuatu hal yang terlintas di benaknya.
"Euu, kuenya mau diabisin nggak, Mas?" tanyanya, mati-matian menahan malu di hadapan pria itu. Gibran pasti berpikir jika ia adalah gadis berotak mesum
"Kita simpen di lemari es aja, yah." ia bangkit dari duduknya, sibuk merapikan kue dan menyimpannya ke lemari pendingin. Sementara Gibran hanya menatap gadis itu dengan senyuman.
***
Waktu menunjukan pukul tiga pagi ketika Yashinta hanya berbaring dengan selimut yang ia tarik sampai ke dada. Matanya masih terjaga. Ia ingin bicara namun masih merasa ragu.
"Mas Gibran." paanggilnya dengan suara pelan, pria yang berbaring beralaskan karpet tebal itu membuka matanya.
Keduanya berada di ruang utama apartement dan berencana tidur di sana. Yashinta tidur di sofa dan Gibran di bawah.
"Ada apa, Yashinta?" tanyanya. Ia memiringkan tubuh menghadap gadis itu.
"Kafka–" Yashinta kembali merasakan sesak begitu mengingat apa yang dilihatnya beberapa jam yang lalu.
"Yas liat Kafka sama Saras berduaan." pada akhirnya ia tetap bercerita dan Gibran tampak mendengarkan.
"Mereka–Yas ngeliat interaksi mereka seperti bukan temen. Dada Yas sakit ngeliatnya,"
Yashinta sempat menghela napas sebelum melanjutkan ceritanya.
"Mas Gibran, Yas memang cinta sama Kafka. Tapi kalau Kafka terus kaya gitu, Yas nggak yakin bisa pertahanin perasaan Yas buat Kafka atau enggak."
"Kafka udah sering ngelakuin ini, tapi buat yang sekarang–Yas nggak yakin Yas bisa maafin." air mata jatuh di sudut mata gadis itu. Gibran yang mengetahuinya lantas bangkit dari posisinya dan menghampiri Yashinta.
Yashinta perlahan bangkit dari duduknya dan menatap Gibran. "Yas harus gimana, Mas Gibran?"
"Yas harus gimana?"
Gibran hanya diam, "maaf karena saya nggak bisa mendidik Kafka. Maaaf karena saya gagal menjadi kakak buat dia." ujar Gibran, penuh sesal.
Yashinta menatap pria itu. Ia meraih sisi wajah Gibran. "Kenapa Kafka nggak seperti Mas Gibran?"
Gibran hanya diam, menatap Yashinta lekat-lekat, menggenggan tangan Yashinta yang menangkup sisi wajahnya–hingga perlahan, Gibran memiringkan kepala dan mendekatkan wajahnya ke wajah Yashinta. Mengabulkan apa yang beberapa saat lalu sempat tertunda.
Hal itu Gibran lakukan sebagai bentuk permintaan maaf pada Yashinta karena sang adik sudah melukai perasaan gadis itu. Ia merasa bersalah dan perlu menebusnya.
Tapi beberapa detik selanjutnya, Gibran menepis hal tersebut. Ia tidak ingin munafik, jika ia melakukannya karena memang ingin. Sejak tadi ia menahan diri untuk tidak melewati batas.
Tapi sekarang, pertahanan yang sudah pria itu bangun runtuh dalam sekejap waktu. Yashinta dengan mudah membuat perasaannya goyah.
__ADS_1
TBC