Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)

Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)
Butik


__ADS_3

Gibran kembali ke perusahaan setelah bertemu dengan Andri. Ia melepas jas yang dikenakannya begitu tiba di dalam ruang kebesarannya, menyampirkannya pada stand hanger di sudut ruangan. Ia sempat menyandarkan punggung ke belakang dengan mata terpejam sebelum kemudian menyadari jika ada tupperware susun di atas mejanya.


Sebelum masuk ke dalam ruangannya tadi, skretarisnya menyampaikan jika ada orang yang mengantar makanan dari rumah. Gibran tersenyum, meraih ponsel dan menghubungi nomor sang Bunda. Dalam dering ketiga, panggilan terhubung.


"Hallo Bunda." ia segera menyapa wanita tercintanya.


"Iya, Mas. Kamu sudah makan siang?" tanya Bunda di ujung sana. "Belum."


"Yasudah, makan siang, ya. Bunda sudah masak makanan kesukaan kamu." suruhnya yang tampak sudah tahu jika kirimannya sudah tiba di tangan Gibran.


"Iya Bunda. Bunda sudah makan siang?" Gibran balik bertanya.


"Ini baru mau makan siang bersama."


"Kafka udah pulang, Bun?"


"Iya, sama pacarnya." suara Bunda terdengar senang.


Gibran berdecak, anak itu benar-benar senang membawa pacarnya ke rumah. Yah, Gibran tahu, karena apartement tidak akan menjadi pilihan Kafka. Bagaimanapun, Gibran akan mengawasai sang adik melalui kamera pengawas.


"Yasudah kalau begitu, Bun. Titip salam ke pacarnya Kafka."


"Iya. Nqnti Bunda sampaikan, yah."


"Hmm. Dah Bunda."


Gibran memutus sambungan, ia menatap layar ponselnya dan tersenyum. Jari tangannya membuka aplikasi chat dan melihat jendela obrolannya dengan Yashinta. Ia belum membalas pesan yang pagi tadi gadis itu kirimkan karena sibuk setengah hari ini.


***


Sementara itu, di rumah makan siang berlangsung ketika Kafka dan Yashinta turun dari lantai atas, Bunda hanya tersenyum melihat raut masam Yashinta yang tampaknya mendapaat godaan dari Kafka. Sepanjang makan siang, obrolan ringan seputar sekolah terjadi di meja makan.


Bunda banyak bertanya dan Yashinta yang menjawab, Kafka hanya sesekali bersuara ketika Bunda bertanya secara langsung padanya.


Setelahnya, Bunda sendiri yang meminta Kafka untuk mengantarkan mereka ke butik. Tentu saja Kafka tidak dapat menolak, namun ia lebih dulu kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian. Sementara Bunda dan Yashinta menunggunya di ruang utama sembari menonton tv dan menikmati potongan buah apel.


Yashinta mengunyah potongan apelnya, ia menatap Bunda yang tersenyum melihat acara televisi yang menayangkan berita kuliner. "Bunda," panggilnya, mengalihkan atensi Bunda dari layar televisi.


"Ada apa Sayang?"

__ADS_1


"Ternyata Kafka punya Kakak, yah, Bunda?" tanyanya mengingat foto yang terpajang di dalam kamar Kafka. Satu-satunya foto yang ia lihat di dalam rumah tersebut.


Bunda tak menjawab, hanya menganggukan kepala, kemudian mengusap tangan Yashinta.


"Iya, kakaknya sibuk bekerja. Nerusin perusahaan ayah mereka makannya jarang ada di rumah."


"Siang ini Bunda kirim makan siang ke perusahaannya." beritahu Bunda. Tak lama ia berdecak, membuat Yashinta memerhatikannya. "Sayang banget, kalian nggak berjodoh."


Kali ini Yashinta mengerutkan kening. "Maksudnya Bunda?"


"Kemarin-kemarin kakaknya Kafka ada di rumah. Tapi satu hari yang lalu pamit buat tinggal di apartement, kerjaannya lagi banyak." panjang lebar Bunda sementara Yashinta hanya mampu mengangguk-anggukan kepala.


"Dia titip salam sama kamu." sambung Bunda mengingat obrolannya dengan puura sulungnya itu melalui sambungan telepon.


"Bilangin salam balik, Bunda."


"Yas jadi penasaran, kakaknya Kafka ganteng juga, yah, pasti Bunda?" tanyanya tanpa tedeng aling yang justru membuat Bunda tertawa, kemudian menganggukkan kepala.


Sementara Yashinta mengetahui hal itu karena ia dapat melihat sendiri bagaimana ketampanan Kafka. Kakaknya pasti tidak akan jauh berbeda. Apalagi Yashinta melihat foto masa kecilnya dan kakak Kafka memang terlihat tampan.


"Soalnya sejak pertama kali Yas dateng ke sini, Yas nggak pernah liat foto keluarga Bunda. Jadi nggaak tahu kalau Kafka ternyata punya Kakak." Yashinta sedikit ragu mengatakan hal ini. Takut menyinggung perasaan Bunda.


"Bunda tidak bisa menolak." sambung Bunda.


Yashinta mengangguk mengerti, rupanya seperti itu. Pantas saja selama ini Yashinta tidak pernah melihat satu pun foto terpajang di dinding rumah tersebut.


"Kalau Yas boleh tahu, Ayah sakit apa, Bunda?"


"Mama Yas juga meninggal sepuluh tahun yang lalu. Mama Yas sakit leukemia." sama seperti yang Bunda lalukan beberapa detik yang lalu, gadis itu mengukir senyum sekalipun ada luka yang cukup dalam di hatinya mengingat bagaimana saat itu Tuhan menjemput syurganya.


Bunda mengusap punggung Yashinta dengan lembut, memahami perasaan Yashinta sekalipun gadis itu mengukir senyum lebar. "Ayah sakit jantung."


"Ayah sama Mama Yas pasti lagi bahagia di syurga." hibur Yashinta.


"Iya Sayang."


Setelah obrolan maelow itu, saat Kafka turun dari lantai atas, Yashinta dan Bunda bangkit dari duduk dan bersiap untuk berangkat.


Dua wanita itu hanya saling melempar senyum ketika Kafka menggerutu di balik kemudi. Bagaimana tidak, Yashinta dan Bunda duduk di bangku belakang, membuat Kafka tampak seperti sopir meski pada kenyataannya Bunda dan sang oacar memang sedang menjadikannya sopir.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan, Bunda banyak mengobrol segala hal dengan Yashinta. Dua orang itu seperti tidak kehabisan topik pembicaraan, selalu saja ada topik baru yang bisa keduanya bahas.


Sesekali dua orang itu tertawa ketika ada hal lucu, Kafka yang tengah mengemudi juga sesekali melihat hal itu melalui rear vision mirror. Memerhatikan bagaimana Yashinta tertawa di belakang sana.


Setidaknya, Bunda dapat menggantikannya untuk membuat Yashinta tertawa, karena Kafka tidak bisa.


Kedatangan Bunda dengan Yashinta disambut para pegawai di butik. Mereka menyiapkan beberapa gaun dan dress keluaran terbaru saat Yashinta menanyakannya sesuai intruksi Bunda yang mengabari sebelum datang.


"Coba dulu aja, Sayang. Yang mana yang cocok." usul Bunda saat Yashinta tampak kebingungan memilih beberapa dress di tangannya.


Yashinta mengangguk setuju, ia dibantu oleh salah seorang pegawai kepercayaan Bunda untuk masuk ke ruang ganti dan mencoba beberapa gaun dan dress yang ia pilih sendiri.


Yashinta mencoba dress berwarna putih jenis midi dress. Bunda menganga melihat gadis itu yang begitu cantik dengan dress yang tampak cocok dengannya.


"Kafka, kemari." Bunda memanggil Kafka yang berada di ruangannya.


Kafka yang saat itu tengah bermain vidio game hanya berdecak, tapi juga tetap menuruti perintah sang Bunda lantas bangkit dan melangkah menuju keberadaan Bunda.


"Ada apaan, sih, Bun?"


"Lihat." Bunda mengarahkan pandangan pada Yashinta, membuat Kafka melakukan hal yang sama. Pemuda itu sesaat mematung melihat penampilan Yashinta.


"Gimana menurut kamu?" tanya Bunda. Kafka tak menyahut, yang terpaksa membuat Bunda menoleh dan mendapati putranya tengah terbengong. Bunda berdecak, menyenggol pemuda itu dan membuatnya tersadar.


"A, kenapa Bunda?" tanyanya. Sedangkan beberapa pegawai di sana begitu juga Yashinta hanya tersenyum melihat tingkah Kafka.


"Bagus, Yashinta cantik."


"Maksud Bunda dressnya, cocok atau nggak?"


"Aaa?" Kafka tampak keheranan, ia salah tingkah sendiri dan kian membuat mereka di sana tak bisa menahan tawa melihat Kafka yang terpesona pada Yashinta.


"Cocok Bunda, semua pakaian Bunda di sini 'kan bagus-bagus." sahut acuh tak acuh pria itu seraya berlalu untuk kembali ke tempatnya.


Bunda berdecak. "Bunda, 'kan nanyain dressnya. Kalau Yashinta, sih, jangan ditanya lagi. Cantik sekali, iya, 'kan?" sahut Bunda pada para pegawainya, mereka mengangguk mengiyakan. Membuat Yashinta tampak tersipu, terlebih saat melihat tingkah Kafka beberapa saat lalu.


Rasanya sangat lucu.


TBC

__ADS_1


__ADS_2