Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)

Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)
Memberi Pelajaran


__ADS_3

"Yas minta tolong Ranti obatin Sean, yah." sahut Yashinta begitu mereka tiba di UKS dan Sean sudah duduk di tepi brankar. Ranti tentu saja panik, ia menahan tangan Yashinta yang akan berlalu pergi.


"Loe mau kemana?"


"Yas harus obatin lukanya Kafka." Yashinta tampak memelas. Jujur ia tidak bisa mengabaikan pacarnya begitu saja. Terlebih ia melihat Kafka yang menolak diajak ke UKS oleh Aris.


Ranti akhirnya tidak bisa berbuat apa-apa kecuali membiarkan Yashinta. Gadis itu tampak meminta obat merah, kain kasa dan juga plester pada anak OSIS yang sedang piket sebelum kemudian meninggalkan Ranti dengan Sean. Beruntung, anggota osis itu masih ada di sana, tapi sesaat kemudian. "Kak, saya tinggal, ya. Saya ada rapat." pamitnya yang kemudian dengan cepat berlalu setelah menyambar almamater OSIS yang disampirkannya pada stand hanger di sudut ruangan.


"He'h." Ranti berusaha menahan namun tidak bisa. Ia hanya mendesah setelah melihat pintu UKS yang tertutup rapat. Ia menoleh pada Sean yang tengah mengambil obat merah yang sudah anak OSIS tadi siapkan.


"Loe bisa pergi kalau mau, gue mampu obatin diri gue sendiri." sahut Sean melihat gadis itu yang tampak enggan mengobatinya. Ranti hanya menatapnya dengan tatapan datar.


"Sini! Yashinta udah minta tolong sama gue." Ranti menarik tangan pria itu agar menyerahkan obat merah padanya. Dengan terpaksa, Sean menyerahkan karena gadis itu memang merebutnya.


"Diem, jangan manja!" protes Ranti ketika ia meneteskan obat merah pada luka di pelipis pria itu. Sean hanya berdesis tanpa berkata apapun, Ranti bisa berbicara seperti itu karena tidak tahu apa yang Sean rasakan.


Namun begitu, ketika Ranti mengobatinya dengan telaten dan tampak hati-hati setelahnya, Sean justru betah menatap wajah serius gadis itu. Terlebih, ia memang tidak bisa mengalihkan pandangannya kemanapun. Sehingga Ranti menjadi satu-satunya objek yang bisa ia pandang.


"Loe harus bayar denda kalo ngeliatin gue kaya gitu." protes Ranti yang memang sadar jika pria itu terus saja menatapnya. Sean hanya berdecih tanpa bisa mengalihkan perhatiannya kemanapun.


"Merem aja!" perintah Ranti tampak tidak bisa dibantah. Sungguh, Sean sangat tidak suka berdebat sehingga ia memilih menuruti saran Ranti dan memejamkan matanya. Namun ketika pria itu memejamkan mata, justru Ranti yang terpana olehnya.


Tapi beberapa detik selanjutnya, gadis itu menyadarkan diri dan kembali mengobati luka Sean. Mengingat lagi jika dirinya sudah memiliki tambatan hati. Pria malaikatnya.


Memang Sean siapa?


***


Kafka menolak mati-matian saat Yashinta akan mengobatinya. Namun Yashinta tidak kalah keras kepala untuk memaksanya hingga gadis itu berhasil membawa Kafka ke lapangan basket indoor dimana tidak ada siapaun di sana, membawa Kafka duduk di tribun.


Suasana senyap menyelimuti dua orang yang hanya saling terdiam itu. Yashinta hanya sibuk mengobati luka Kafka dan tampak enggan berbicara karena kesal kepada sang pacar atas tindakan seenaknya tanpa bertanya dan bicara baik-baik terlebih dahulu.


Kafka juga tampak kesal karena ia menjadi orang ke sekian yang mengetahui fakta jika Sean dan Yashinta akan menadi saudara tiri.


Kafka meringis saat Yashinta menyentuh ujung bibirnya, gadis itu tampak menatapnya malas dengan gerakan tertahan. "Jagoan kok segitu aja sakit." ledeknya.


"Loe nggak ngerasain gimana sakitnya." Kafka tak mau diledek.


"Lagian siapa suruh berantem." desis gadis itu, melanjutkan aktivitasnya dan pada sentuhan terakhir ia menempelkan plester di pelipis Kafka. Sementara Kafka hanya diam.


Setelahnya, Yashinta bangkit dari duduk usai merapikan perlatan P3K yang dibawanya dari UKS. Kafka menahan tangan gadis itu, membuat Yashinta menoleh padanya dan mempertemukan tatapan mereka.


"Enggak ada yang mau loe jelasin ke gue?"

__ADS_1


"Kafka mau Yas jelasin apa?" Yashinta justru balik bertanya.


Kafka menarik gadis itu, membuat Yashinta kembali duduk dan berhadapan dengan Kafka. "Kenapa gue baru tahu kalau loe sama Sean bakal jadi sauadara tiri?"


"Boka nyokap kalian mau nikah?" tanyanya, sementara raut wajah Yashinta tampak biasa, gadis itu hanya mengangguk-anggukan kepala.


"Oh, Kafka udah tahu?"


Kafka mengernyitkan dahi, tidak terima dengan reaksi yang gadis itu berikan. "Kenapa loe nggak ngasih tahu gue, Yashinta?"


Yashinta tersenyum smirk, menatap Kafka dengan tatapan mengintimidasi. Tentu saja hal itu membuat Kafka mengerutkan kening karena heran.


"Jawab gue, Yashinta!" nada bicara Kafka terdengar datar.


"Yas udah mau cerita sama Kafka dari kemaren-kemaren, bahkan Yas pengen minta pendapat Kafka, tapi Kafka sibuk. Kafka nggak pernah mau dengerin cerita Yas!"


"Kapan?"


"Kemaren-kemaren, Yas ajak Kafka ketemu tapi Kafka nolak dan nggak bisa ngobrol lewat telepon juga."


"Yas pikir Kafka nggak perduli dan nggak perlu tau." sahut gadis itu. Kafka tampak terdiam dengan air muka yang berubah keruh.


"Tadi pagi juga Yas telponin Kafka sebelum minta tolong Sean buat minta dijemput karena Yas kesiangan dan sopir Yas nggak ada.Yas kirim pesan berkali-kali tapi Kafka nggak perduli." panjang lebarnya, membuat tatapan Kafka melemah.


"Kafka nggak pernah ada kalo Yas lagi butuh bantuan apapun. Kafka nggak pernah ada buat, Yas."


"Jatuh cinta sama Kafka, tuh, nyiksa. Yas sakit. Tapi nggak sama Kafka ngebuat Yas makin sakit." ungkapnya, kali ini dengan isakan tangis yang terdengar. Gadis itu menyeka air matanya dengan punggung tangan secara kasar.


Kafka tak bisa berkata apapun, sementara gadis di hadapannya hanya menangis sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.


"Jangan nangis." Kafka meraih gadis itu dalam pelukan, mengusap punggungnya dengan gerakan lembut.


"Kafka yang selalu bikin Yas nangis."


"Gue tahu, sorry."


"Kafka terlalu sering minta maaf dan ngulangin kesalahan yang sama."


Kafka mendesah dengan masih mengusap punggung Yashinta yang bergetar karena gadis itu masuh menangis. "Gue harus gimana, Yashinta?" Kafka bertanya dengan nada lemah. Yashinta tidak menjawabnya, tidak ada suara yang terdengar keluar kecuali hanya isak tangis gadis itu.


Sementara di balik pintu masuk lapangan indoor, Saras hanya bersandar pada pintu. Gadis itu tersenyum. "Bodoh, Kafka. Harusnya loe sadar sama perasaan loe!"


****

__ADS_1


Anak-anak berhamburan dari kelas masing-masing ketika bel tanda pulang sudah dibunyikan. Yashinta berjalan santai dengan Ranti dan keluar dari kelasnya ketika anak-anak yang lain sudah membubarkan diri. Yashinta tidak ingin berdesak-desakan melewati pintu sehingga ia selalu mengalah dengan pulang ketika kelas sudah sepi.


"Ranti mau ke tempat kerja, ya?" tanya Yashinta saat keduanya sudah ada di parkiran.


Ranti menoleh kemudian menganggukan kepala. Tidak ada libur baginya kecuali hanya hari minggu.


"Yas ikut boleh nggak?"


"Ngapain, Yas?"


"Yas bisa bantu-bangu Ranti kok, enggak akan ngerepotin, yah." ujarnya amat memohon. Ranti tertawa. "Itu restoran punya bokap loe, loe berhak dateng kapanpun loe mau kali."


"Yas mau bantuin Ranti aja, yah." Yashinta membujuk, sedikit memaksa.


"Terserah loe, deh."


Yashinta tersenyum girang seraya menggandeng lengan Ranti. Ketika kaki keduanya berjalan melewati gerbang, seseorang memanggil Yashinta. Rupanya itu Kafka. Pemuda itu setengah berlari mengejarnya yang berjalan ke arah gerbang.


"Yashinta."


Yashinta hanya menatapnya. Perlahan melepaskan tangan Ranti yang tadi digerayanginya.


"Ada apa Kafka?"


"Gue anterin loe pulang."


"Tapi Yas mau ikut sama Ranti ke restoran."


"Gue anterin loe pulang." Kafka bagai memaksa. Tatapan Yashinta berubah datar.


"Kafka udah minta maaf sama Sean?" tanyanya. Sebelum berpisah di lapangan indoor pagi tadi, Yashinta meminta Kafka agar meminta maaf kepada Sean karena sudah menghajar pria itu tanpa basa-basi, dan Kafka mengiyakan.


Yashinta tidak akan mau menurut pada pria itu sebelum Kafka meminta maaf pada Sean.


Kafka yang ditanya hanya diam, saat di kelas tadi, ia bahkan tidak berbicara apapun dengan Sean apalagi meminta maaf. Jelas Kafka gengsi, setelah bersikap so jagoan, ia harus meminta maaf? Rasanya sulit untuk dilakukan.


"Yas tahu jawaban Kafka." ujar gadis itu saat pacarnya hanya diam.


"Yas mau sama Ranti aja." sambungnya tampak mantap. Padahal sebelum-sebelumnya, Yashinta akan banyak meminta maaf pada Ranti karena ia selalu.ada di pihak Kafka. Tapi untuk kali ini, Yashinta ingin memberi Kafka pelajaran, agar pria itu jera dan menyadari kesalahannya.


Pada waktu istirahat, Yashinta sempat bertanya pada Aris hukuman apa yang Guru BK berikan pada Kafka. Aris bilang, mereka hanya disuruh menulis surat permintaan maaf. Tentunya setelah melewati wejangan panjang Guru BK hang sangat suka berbicara.


"Ayo Ranti."

__ADS_1


Ranti mengangguk, menggandeng Yashinta dengan bangga seraya memperlihatkan tampang jumawanya pada Kafka, berjalan dengan gadis itu keluar dari gerbang sedangkan Kafka hanya mampu menatapnya hingga gadis itu melewati gerbang dan keluar dari area sekolah.


TBC


__ADS_2