
Satu-satunya nama yang terlintas di kepala Kafka saat ia yakin jika bukan Ranti yang menjemput Yashinta adalah Gibran. Kafka merasa cukup yakin jika Gibran yang menjemput gadis itu, sehingga sepulang dari rumah Yashinta, tempat yang menjadi tujuan Kafka adalah apartement Gibran.
Kafka dengan tidak sabaran menekan bel, butuh waktu cukup lama untuk kemudian Gibran muncul dan membukakannya pintu.
Kafka tak langsung bertanya ataupun bicara, hanya menatap Gibran dan menilik tampilan wajah lelah sang kakak dengan sedikit lingkaran hitam di sekitar matanya.
Kafka tahu jika beberapa hari yang lalu sang kakak pergi ke luar kota untuk menyelesaikan masalah di anak cabang perusahaan mereka. Pria itu pasti kelelahan, ada rasa tidak tega di hati Kafka jika harus menegur atau memakinya.
"Mau ngapain?" tanya Gibran.
"Mau mampir," pria itu nyelonong masuk, melewati Gibran yang berdiri di ambang pintu. Cukup membuat sang kakak heran. Padahal saat melihat Kafka melalui layar intercom beberapa saat lalu, Gibran sudah memprediksi jika sang adik akan membahas mengenai Yashinta.
***
Pacar Yashinta
Loe kenapa balik?
Loe balik nggak bilamg, ada apa, sih? Bikin panik tahu nggak?
Loe sekarang di mana?
Jangan bikin repot, Yashinta!
Yashinta hanya menatap chat dari Kafka dengan tatapan flat setelah membuka ponsel yang sejak semalam ia abaikan. Ia melihat belasan panggilan tidak terjawab dari Kafka. Yashinta kembali membuka aplikasi chat saat ada pesan masuk dari nomor baru.
+6285*******
Yas, loe pulang ke Jakarta sendiri? Kenapa nggak bilang.
Yashinta berdecih. Rasanya ia tahu siapa pengirim pesan tersebut. Saras.
Kenapa Saras mesti bertanya padahal alasan Yashinta pulang cepat ke Jakarta adalah dirinya. Karena gadis itu bermain belakang dengan Kafka. Sangat ingin membuat Yashinta melenyapkan mereka berdua.
Yashinta melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya saat waktu menunjukan pukul satu siang dan pintu kamarnya diketuk dari luar.
"Non, Yas, ada Mas Sean." terdengar suara Bi Rasti.
__ADS_1
"Iya, Bi." Yashinta menyahut, setengah malas beranjak dari tempat tidur dengan kaos oblong berwarna putih dan celana pendeknya. Ia membuka pintu, melihat Sean yang berdiri di depan pintu kamarnya.
"Sean, ada apa?" tanya gadis itu. Sean tidak menjawab, hanya mengangkat paper bag di tangannya ke hadapan Yashinta.
"Mama bikin kue lagi dan nyuruh gue nganterin ini buat loe." Menyodorkannya pada Yashinta yang langsung diterima oleh gadis itu.
"Makasih." gadis itu menyahut dengan senyum kaku, cukup membuat Sean dapat membaca jika memang ada masalah yang tengah terjadi. Biasanya Yashinta tidak seperti ini.
"Loe ada masalah?"
"Loe sama Kafka, ribut? Kenapa balik ke jakarta sendirian?" Sean bertanya beruntun.
"Kafka macem-macem?" tanyanya lagi. Yashinta mengembuskan napasnya.
"Sean nggak perlu ikut campur. Yas bisa urus masalah Yas sendiri." sahut Yashinta, berharap Sean tidak terlibat. Ia sudah cukup merasa bersalah karena membuat Sean pulang sebelum acara kemah berakhir.
"Kalau dia emang macem-macem gue nggak bisa diem." Sean keras kepala, pria itu tampak marah saat melihat ada yang tidak beres pada Yashinta. Sean berbalik, hendak berlalu pergi namun Yashinta menahan pergelangan tangan pria itu.
Sean menoleh, amarah di matanya bagai mereda saat melihat raut memelas Yashinta. "Yas mohon, Sean. Jangan apa-apain Kafka. Percaya sama Yas kalau Yas bisa urus masalah Yas sendiri." ujarnya dengan sangat memohon pada Sean.
Semula Sean hanya diam menatap gadis itu. Ia sudah janji pada dirinya sendiri jika ia akan menghajar Kafka jika sampai membuat Yashinta terluka. Tapi rupanya Kafka tidak mendengarkannya dan Yashinta tampak tidak ingin jika Sean meninggalkan luka bonyok di wajah pria itu.
"Loe kalau mau bohong kenapa nggak ngode gue dulu, sih?" kesal Ranti. Gadis itu dataang sekitar setengah jam setelah kepergian Sean.
Yashinta hanya diam ketika gadis itu datang dan menggerutu karena Yashinta membawa-bawa namanya pada Sean tanpa menghubunginya terlebih dahulu–membuat Ranti kelabakan saat Sean bertanya mengenai keberadaan Yashinta padanya.
Ranti yang melihat wajah murung Yashinta tentu tahu jika ada masalah, namun ia hanya menatap gadis itu dan menunggu Yashinta saja yang bercerita tanpa harus ia yang lebih dulu bertanya.
"Kafka, Ranti."
"Kafka." mata gadis itu berkaca-kaca.
Sudah dapat Ranti tebak jika awal mulanya adalah pria itu. "Brengsek!" Ranti mengumpat kesal. Yashinta menyentuh tangan Ranti yang tiba-tiba mengepal dengan kuat. Seolah siap menghajar Kafka.
"Apa lagi yang dia lakuin sama loe?" Ranti tidak bisa untuk tidak emosi.
"Kafka sama Saras." Ranti kian marah saat nama Saras disebutkan. Dua orang yang tidak disukainya menyakiti sahabatnya, tentu saja Ranti murka.
__ADS_1
"Selama ini Kafka selingkuh sama Saras." sambungnya dengan pelupuk mata yang menggenang. Mengingat lagi bagaimana sakitnya saat ia memergoki dua orang itu tengah berciuman.
Yashinta menangis dengan isakan. "Yas ngeliat mereka ciumam, Ranti. Hati Yas sakit." kali ini Yashinta menyerahkan diri dalam pelukan Ranti, memeluk Ranti erat-erat.
Ranti tentu ikut sedih mendengarnya, ia hanya memeluk Yashinta dan mengusap punggung gadis itu.
Disatu sisi mungkin hal tersebut sangat bagus karena artinya Yashinta melihat keburukan Kafkan dan sadar jika pria itu memang hanya bermain-main dengannya.
Tapi di sisi lain, jika tahu Yashinta akan sehancur ini, rasanya sangat sulit bagi Ranti melihatnya.
"Okay, jadi setelah mergokin Kafka sama Saras loe balik ke Jakarta sendiri?" jujur Ranti tidak percaya akan hal ini, rasanya Yashinta tidak seberani itu untuk pulang sendiri–ditengah malam pula–meski keadaan sangat mendesak.
Yashinta menggelengka kepala, mengurai pelukannya pada Ranti. Tangan Ranti terulur untuk menghapus jejak air mata di pipi gadis itu.
"Yas dijemput sama Mas Gibran."
Sesaat, Ranti mematung setelah mendengar jawaban tersebut. Mendengar nama Gibran, dadanya masih saja berdebar, Ranti belum dapat menghapus perasaannya pada pria itu sekalipun ia sadar jika cintanya hanya akan menjadi perasaan yang bertepuk sebelah tangan.
"Yas minta Mas Gibran buat jemput dan bawa Yas ke apartementnya." sambung Yashinta yang kian membuat secercah sisa harapan di hati Ranti hancur dalam sekejap waktu.
Gadis itu hanya tersenyum kecut, kemudian meraih kembali Yashinta dalam pelukannya agar gadis itu tidak menyadari perubahan raut wajahnya.
"Loe beruntung karena malaikat loe itu selalu ada buat loe." ujarnya seraya mengusap punggung Yashinta. Yashinta dalam dekapannya menganggukan kepala.
Ranti benar, beruntung Gibran selalu ada. Pria itu memang selalu ada.
***
Yashinta tidak tahu jika Arumi tetap menggelar pesta kecil-kecilan untuknya. Ketika ia turun ke lantai bawah setelah tidur siang, ruang utama rumah sudah didekor dengan cukup mewah. Terdapat banyak balon berukran besar berwarna putih dan silver.
Tulisan happy birth day Yashinta dari balon huruf berwarna gold tertera di sana.
Arumi yang melihatnya segera menghampiri kedatangan Yashinta dengan balon di tangannya. Sean tampak sibuk dengan Bi Rasti dan juga Ranti yang ternyata belum pulang–tentu, karena gadis itu datang untuk ikut berpesta seperti biasanya–selain untuk mengetahui kronologi kepulangan Yashinta.
"Kamu kenapa turun? Kejutannya belum jadi." ujar Arumi saat Yashinta hanya berdiri di anak tangga terakhir. Yashinta tersenyum. "Enggak papa, Tante. Udah terlanjur." ia nyengir diakhir kalimatnya.
Arumi tersenyum, lantas menggandeng gadis itu. "Ayo, biar Tante bantu kamu rapi-rapi, Tante bakal dandanin kamu lebih cantik lagi." ajak Arumi, Yashinta menganggukan kepalanya, lantas dua perempuan itu berjalan naik menapaki anak tangga menuju kamar Yashinta.
__ADS_1
Andri yang baru keluar dari ruang kerjanya setelah menghubungi seseorang dan melihat Arumi bersama dengan Yashinta hanya tersenyum. Sepertinya ia memilihkan calon ibu sambung yang tepat untuk putri kesayangannya.
TBC