Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)

Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)
Tertangkap Basah


__ADS_3

"Papa masih lama?" tanya Yashinta ketika semua hidangan sudah tersaji di meja mereka dan Andri belum juga muncul. Padahal sang papa sudah lebih dulu mengirim pesan dan reservasi tempat di privat room salah satu restoran.


"Mungkin sebentar lagi." Arumi menyahut sesaat setelah melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Sementara Sean tampak hanya menunggu dengan sabar hingga kemudian pintu ruangan terbuka, seorang waitress masuk bersama dengan Andri, membuat Yashinta sesaat matung di tempatnya, kemudian ekpresinya tampak terkejut saat melihat siapa orang di belakang Andri.


Gadis itu bahkan sampai menutup mulutnya dengam kedua telapak tangan, terlebih saat Andri mempersilakan pria itu duduk di kursi yang bersebrangan sengan Yashinta.


"Tadi Papa sama Gibran habis ngobrol soal kerjaan, jadinya dia diajak ke sini." sahut Andri begitu ia duduk di samping Sean. Formasi duduk adalah para pria dan wanita itu saling berhadapan.


"Nggak papa Gibran ikut bergabung?" Andri kemudian meminta peesetujuan mereka. Sean menganggukan kepala, begitu juga dengan Arumi dan disusul oleh Yashinta yang masih tampak sedikit terkejut.


"Gimana fitting-nya?" Andri lantas bertanya pada Arumi dan Arumi menceritakan proses fitting baju pengantinnya dengan Sean dan Yashinta siang tadi.


Sementara Yashinta dan Gibran yang duduk saling berhadapan hanya bertukar pandang, beberapa detik kemudian, keduanya saling tersenyum hingga Yashinta melempar tatapannya ke arah lain, sedangkan Gibran merogoh ponsel di balik saku jasnya. Ia baru menyadari jika ada pesan masuk dari gadis itu.


Gibran tersenyum saat membacanya, terlebih saat ia melihat foto yang Yashinta kirimkan, ia lantas menatap gadis itu kemudian mengetikan balasan.


Yashinta yang menaruh ponsel di atas meja meraihnya ketika benda itu berdenting, satu pesan masuk dari Gibran membuatnya menatap pria itu sesaat, kemudian membuka pesan.


Kakak Ipar❤


Cantik, cantik sekali.


Yashinta hanya menunduk, rasanya saat ini pipinya memanas. Ia tidak bisa menahan senyumnya namun juga merasa malu pada Gibran di hadapannya.


Ia lantas perlahan menaruh ponsel dan kembali mendengarkan obrolan orang tuanya, mengabaikan Gibran hingga membuat pria itu smirk. Gibran mengambil kembali ponselnya kemudian tampak mengetikan sesuatu.


Saat mata Yashinta mengarah padanya, pria itu memberi kode agar Yashinta membuka ponsel, sehingga Yashinta mengambil ponselnya dan membuka chat dari Gibran.


Kakak Ipar❤


Kamu liat ke mana?


Fokus ke saya aja!


Gadis itu menatap Gibran setelah membaca pesan yang pria itu kirimkan, Gibran mengangguk mengiyakan agar gadis itu melakukan apa yang dirinya perintahkan.


"Liatin saya aja," pria itu berbicara tanpa bersuara, tetapi Yashinta dapat membacanya. Yashinta tidak bisa apa-apa saat itu, yang dilakukannya hanya tersenyum salah tingkah tetapi tetap menuruti perintah Gibran untuk hanya menatap pria itu.

__ADS_1


Gibran yang semula menyandarkan punggung pada sandaran kursi lantas menegakan tubuhnya dengan senyuman dan pandangan yang mengarah lurus pada Yashinta. Sean yang sejak tadi memerhatikan dua orang itu tampak merasa janggal, tapi ia hanya mengangkat bahu acuh dan tidak ingin ikut campur.


"Ayo, silakan makan." ucap Andri setelah ia cukup berbasa-basi dengan sang calon istri.


Yang lain mengangguk dan mulai menikmati makan malam tersebut, Yashinta tak bisa makan seperti biasa, makannya tampak lebih pelan karena Gibran yang terus memerhatikannya.


Andri juga ikut memerhatikan putrinya, dan ia baru menyadari sesuatu hal, sudah lama ia tidak melihat kedatangan calon menantunya ke rumah.


"Gimana sekolah kamu hari ini?" tanya Andri, membuat Yashinta mengarahkan pandangan pada sang papa.


"Hmm, baik, Pah. Kaya hari-hari biasa," jawabnya dengan senyum. Andri balas tersenyum.


Andri yang membawa Yashinta mengobrol membuat Gibran akhirnya fokus pada makanannya dan sesaat memalingkan pandangannya dari gadis itu. Gibran juga sadar jika Yashinta harus makan dengan nyaman.


"Kafka apa kabar, udah lama dia nggak main ke rumah." sahut Andri yang kemudian menyendokan makanan ke mulutnya. Tanpa sadar jika apa yang dikatakannya membuat tiga orang di sana bereaksi berlebihan.


Sean tampak menatap Yashinta sedangkan Gibran menahan pergerakannya sesaat, ia menatap gadis itu singkat kemudian hanya pasrah atas apapun jawaban Yashinta.


"Papa udah lama nggak ketemu dia." sahut Andri lagi. Yashinta hanya terdiam di tempatnya, ia kemudian melanjutkan makan setelah menyahut singkat.


"Yas sama Kafka udah putus."


Gibran diam-diam terlihat lega saat mendengarnya, setidaknya Yashinta sudah jujur pada orang tuanya jika hubungannya dan Kafka sudah berakhir. Sehingga gadis itu tidak perlu berpura-pura jika ia masih berpacaran dengan Kafka.


Andri yang mendengarnya tampak terkejut, ia menatap putrinya tidak percaya. Andri sangat tahu bagaimana gadis itu begitu mencintai Kafka. Ketika mendengar kabar jika hubungan putri kesayangannya dengan pemuda itu kandas, Andri tentu merasa khawatir.


Yashinta pasti terluka tetapi ia tidak tahu mengenai hal itu. Arumi yang semula bersikap biasa saja dengan hal itu juga tampak heran mendapati calon suaminya yang terlihat sangat khawatir.


Baginya, hal itu sangat wajar terjadi pada hubungan asmara anak remaja. Semua orang pasti mengalami hal tersebut, awalnya mungkin memang berat, tapi seiring berjalannya waktu, jika memang masih ada luka, pasti akan sembuh dengan sendirinya.


"Sayang,"


"Yas baik-baik aja, Pah." Yashinta menenangkan dengan senyum meyakinkan. Tetapi Andri tidak bisa begitu saja percaya, ia khawatir jika diam-diam Yashinta merasa terluka dan menangis sendirian tanpa sepengetahuannya.


"Yas baik-baik aja." Yashinta kembali meyakinkan sang papa. Andri berusaha mengerti, terlebih saat matanya beradu pandang dengan Arumi dan wanita itu menyuruhnya untuk berhenti–mendesak Yashinta.


Suasana setelah itu berubah canggung. Yashinta fokus dengan makanannya, ia hanya sekilas menatap Gibran yang sekarang tak lagi memerhatikannya, pria itu fokus makan dan tak bicara sama sekali. Jujur membuat perasaan Yashinta merasa tidak enak karena ia tidak terus terang pada Andri jika keduanya berpacaran, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa saat ini.

__ADS_1


"Gibran katanya habis menang tender beberapa hari yang lalu," Arumi buka suara guna mencairkan suasana, Gibran yang sibuk makan mengangkat pandangannya dan mengangguk diiringi senyum, kemudian menyahut singkat.


"Iya, Tante."


"Hebat, yah, diusia kamu yang terbilang masih muda di dunia bisnis, kamu bisa menjalankan perusahaan dengan baik."


"Almarhum Papa kamu pasti bangga." Arumi memuji, yang dipuji hanya mempertahankan senyum dengan tatapan penuh terimakasih.


"Hebat memang Gibran, ini. Gigih dan cerdas." Andri menimpali.


"Saya belajar banyak dari beliau saat beliau masih hidup." sahut Gibran, kemudian melanjutkan makannya. Arumi dan Andri juga tampak tersenyum dan mengangguk-anggukan kepalanya.


"Kamu belum ada rencana untuk menikah?" tanya Arumi kemudian yang berhasil membuat Yashinta mematung dengan posisi tertunduk, ia memasang indera pendengarannya lebar-lebar untuk mengetahui apa jawaban Gibran.


Sedangkan pria itu hanya tersenyum, sesaat ia menatap sang pacar sebelum kemudian menjawab pertanyaan Arumi. "Belum Tante, sepertinya masih lama."


Jawaban Gibran cukup membuat Arumi terkejut, "artinya kamu sudah ada calon?" tanya wanita itu lagi, kali ini pipi Yashinta memanas dan dadanya berdebar lebih hebat daripada saat membaca pesan dari Gibran yang memujinya beberapa saat lalu.


"Hmm?" Arumi menunggu jawaban, semua mata menuju pada Gibran saat itu–kecuali Yashinta yang hanya makan–pura-pura fokus dengan makanannya.


"Ada," Gibran menyahut singkat.


"Sudah ada."


Arumi dan Andri tampak tersenyum, ikut senang mendengarnya. "Kami tunggu kabar baiknya" ucap Arumi yang hanya Gibran tanggapi dengan anggukan kepala.


Usai makan malam dan obrolan ringan yang berlangsung di privat room restoran tersebut, mereka bersiap pulang dan keluar dari sana. Andri keluar lebih dulu dengan Arumi di susul oleh Yashinta, dia mengekor di belakang sang papa dan calon mama barunya.


Yashinta tersentak dan sontak mengibaskan tangan seseorang menyentuh tangannya, namun Gibran lebih dulu menggenggam tangan gadis itu. Yashinta tentu saja terkejut.


"Ada Mama sama Papa." ujarnya dengan suara pelan, tapi Gibran tak menggubris hal tersebut.


"Mas Gibran." ujarnya dengan tangan yang berusaha melepas genggaman tangan pria itu. Gibran abai, hanya menoleh kemudian tersenyum santai.


"Oh, ya. Sayang." Arumi berbalik, spontan membuat Gibran melepaskan genggaman tangannya. Arumi tidak menyadari hal tersebut, namun dua orang itu lupa jika Sean berada di belakang mereka.


Sean yang melihat hal itu hanya memalingkan wajah dengan senyuman, sejak awal ia memang merasa curiga jika ada sesuatu antara Yashinta dan Gibran.

__ADS_1


Senyum Sean kian lebar saat ia melihat raut panik Yashinta yang mengetahui fakta jika Sean melihat kejadian tadi.


TBC


__ADS_2