
Kafka tahu kakaknya, sebagai anak yang tumbuh langsung di bawah asuhan ayah mereka, Gibran tumbuh menjadi pribadi yang gigih dan selalu mendapatkan apa yang diinginkannya.
Gibran selalu mendapat apa yang harus didapatnya. Tetapi dengan Kafka, hal itu tidak berlaku. Dengan Kafka, Gibran selalu mengalah dalam semua hal.
Karena sebagai seorang kakak, ia harus membahagiakan adiknya, harus memberikan yang terbaik untuk sang adik. Membelikan apapun yang Kafka inginkan dan memberikan apapun miliknya andai Kafka ingin.
Gibran selalu mengalah dalam segala hal pada Kafka. Apapun tanpa terkecuali.
Tetapi kali ini, Kafka melihat sorot berbeda dari sang kakak, ia melihat Gibran selayaknya Gibran Abiansyah yang gigih dan teguh pada prinsipnya.
"Mas jatuh cinta pada Yashinta. Kafka, untuk kali ini Mas nggak akan ngalah sama kamu. Maaf."
Kafka berdecih, jelas saja ia tidak suka ada orang yang mengusik miliknya. Terlepas dari perasaan ia mencintai Yashinta atau tidak, Yashinta masih miliknya dan ia tidak akan menyerahkannya pada siapapun sekalipun orang itu adalah Gibran–orang yang sudah mengorbankan banyak hal untuknya.
"Ambil–"
"–Kalo loe bisa!"
Kafka tahu dengan baik bagaimana Yashinta sangat mencintainya. Tidak akan mudah bagi Yashinta untuk berbaling pada pria lain.
***
Saras tidak mengerti alasan kenapa Yashinta lebih memilih untuk tidur di kamar tamu daripada satu kamar dengannya di kamar gadis itu. Tapi satu hal yang pasti jika Saras melihat Yashinta pulang dalam keadaan kacau. Matanya bengkak dengan penampilannya yang berantakan.
Gadis itu pasti mendapat masalah.
"Yas, are you okay?" tanya Saras, tidak yakin dengan keadaan gadis itu. Namun memaksa Yashinta bercerita juga bukanlah hal baik mengingat rasanya mereka tak cukup akrab untuk bebar-benar saling terbuka–meski Saras sudah melakukannya pada Yashinta.
"Yas baik-baik aja kok, Saras. Yas cuma pengen sendiri aja." gadis yang sedang mengancingkan kancing piama itu menyahut lesu. Membuat Saras merasa tidak enak di tempatnya. Bagaimana mungkin pemilik kamar yang keluar?
"Gue aja, deh yang pindah ke kamar tamu." ucap Saras, dia benar-benar akan merasa sangat tidak enak jika Yashinta harus meninggalkan kamarnya. Yashinta menghentikan gerakan tangannya, kemudian menatap Saras tidak enak. Jujur Yashinta ingin menyembunyikan perasaannya, namun ia benar-benar terluka dan tidak dapat berpura-pura untuk terlihat baik-baik saja.
Yashinta menatap gadis itu dengan sorot sendu. Saras tersenyum dan mengusap punggung tangan Yashinta. "Maafin, Yas, ya. Saras."
"Enggak papa, loe santai aja. Gue ngerti." ucap Saras penuh pengertian.
"Kalo gitu gue ke kamar tamu, loe tenangin diri loe, yah." ucap Saras yang kemudian berlalu pergi, keluar dari kamar Yashinta setelahnya. Usai kepergian gadis itu, Yashinta hanya menatap pintu kamarnya. Ia tidak bermaksud membuat Saras merasa tidak nyaman. Tetapi hatinya benar-benar tidak tenang sekarang.
Yashinta berjalan ke arah meja belajarnya. Mengambil sebuh buku dengan sampul berwarna bubblegum yang ia dapatkan dari Gibran kemarin. Membawanya ke atas tempat tidur dan memeluknya.
"Mas Gibran, maafin Yas." andai ia mencari tahu siapa kakak sang pacar, mungkin tidak akan seperti ini jadinya. Andai ia teliti terhadap keluarga Kafka, maka tidak akan ada kesalahpahaman.
__ADS_1
Tapi, jika hal itu ia lakukan. Apakah keakrabannya dengan Gibran akan terjalin seperti sekarang?
Tanpa rerasa air mata Yashinta menetes, mengingat lagi sederet kalimat Kafka yang menyayat hati, melukainya.
"Kenapa Kafka jahat sama Yas?" air matanya kembali mengalir deras dengan kantuk yang perlahan menyerangnya. Tanpa sadar ia membandingkan sikap Kafka dan Gibran dalam memperlakukannya. Yashinta tidak bisa memungkiri fakta jika Gibran jauh lebih baik padanya daripada Kafka–pacarnya sendiri.
Tak berapa lama, mata gadis itu perlahan terpejam, ia tertidur dengan buku bubblegum birisi halaman-halaman kosong yang terlepas dari pelukannya.
Sementara di tempat lain, Gibran yang memutuskan untuk menginap di rumah sang Bunda atas paksaan Bundanya itu hanya menatap plafon kamarnya. Pria itu dalam posisi terlentang dengan kedua tangan sebagai bantalan.
Gibran meraih ponsel. Membuka aplikasi chat dan membuka jendela obrolannya dengan Yashinta sebagai pesan yang disematkan. Berada diurutan paling atas. Gibran tidak tahu sejak kapan ia jatuh cinta pada Yashinta.
Tapi yang pasti, sejak saat itu Gibran tidak bisa mengendalikan perasaannya.
****
Bahkan pada keesokan paginya, tampaknya mood Yashinta belum membaik, gadis itu terlihat lesu bahkan di hadapan Andri. Membuat Saras hanya mampu mengangkat bahu ketika Andri bertanya mengenai keadaannya karena ia tidak tahu apa yang terjadi dengan Yashinta.
Gadis itu belum bercerita dan Saras juga belum memiliki inisiatif untuk bertanya. Sepanjang perjalanan menuju sekolah, mereka berdua hanya saling terdiam. Yashinta seperti biasa hanya menatap keluar kaca jendela mobil dengan kepala yang disandarkan pada kaca jendela mobil.
"Yas,"
******* napas Yashinta terdengar saat ancang-ancang Saras mulai membuka obrolan. Tak berapa lama gadis itu menoleh padanya dengan tampang kusut.
Kalimat Kafka yang menuduh jika dirinya berselingkuh terus terngiang-ngiang di kepalanya. Bersahut-sahutan dengan ungkapan cinta yang pernah Gibran utarakan padanya. Nyaris membuat kepala Yashinta pecah memikirkannya.
"Mungkin harusnya Yas istirahat aja di rumah, Saras." ucapnya, hampir menangis. Saras segera mengusap puncak kepalanya dengan lembut.
"Loe ada apa, sih, cerita sama gue."
Yashinta lagi-lagi mendesah, tapi kemudian ia mulai bercerita sebagaimana yang terjadi padanya. Jika ia memiliki seorang kenalan yang ternyata adalah saudara Kafka, parahnya mereka bertiga bertemu dengan dramatis. Persis seperti sinetron.
"Jadi loe nggak tahu kalo Mas Gibran itu kakaknya Kafka?" tanya Saras. Ia sangat terkejut mendengar cerita Yashinta. Ia mengira keakraban dua orang itu saat Saras melihatnya berpelukan di depan gerbang karena keduanya akrab sebagai ipar. Tapi nyatanya bukan, Saras salah menduga.
"Saras tahu?"
"Tahu, gue sering ke rumah Kafka dan–" gadis itu menjeda kalimatnya, menutup rapat-rapat mulutnya saat melihat Yashinta mencebikan bibir mendengar apa yang dikatakannya.
Yashinta tentu saja merasa sedih, rupanya Saras jauh lebih tahu banyak mengenai Kafka daripada dirinya. Yashinta tidak tahu apa-apa mengenai Kafka.
"Pokoknya gue tahu. Kemarin gue liat Mas Gibrab nganterin loe, gue kira loe tahu dia kakaknya Kafka dan Mas Gibran tahu kalau loe pacar adeknya. Ternyata enggak?" Saras meneruskan kalimatnya dan bertanya kemudian, masih tak percaya atas apa yang dikatakan Yashinta.
__ADS_1
Yashinta menganggukan kepala. "Yas sama sekali nggak tahu. Kafka nggak pernah bilang kalo dia punya kakak. Tapi Bunda pernah cerita, tapi Mas Gibran juga nggak pernah cerita soal keluarganya."
"Yas nggak tahu apa-apa soal merekax Saras." jelas Yashinta, Saras tidak bisa apa-apa kecuali hanya mengusap punggung Yashinta saat gadis itu berhambur dalam pelukannya dengan isakan.
***
Ranti tampak panik ketika ia tiba dan melihat gerbang sekolah yang sudah ditutup. Napas gadis itu memburu setelah sekuat tenaga berlari mengejar waktu, padahal ia sudah sangat buru-baru dari rumah. Tapi nahas, saat bus yang ditumpamginya mengalami kebocoran sehingga menghambat perjalanannya.
"Pak, bukain dong. Cuma telat dua menit doang." Ranti memohon.
"Aduh, maaf. Enggak bisa Non Ranti." Satpam yang baru saja menutup gerbang tampak memasang raut tidak enak. Jujur ia seringkali merasa kasihan pada anak yang terlambat, tetapi sekolah punya aturan dan ia tidak bisa melanggar.
"Pak tolong dong Pak."
"Sudah aturan sekolah Non, saya nggak bisa."
"Bapak curang banget, giliran si Kafka aja dikasih jalan bolos. Masa saya yang mau belajar nggak dibolehin masuk, sih, Pak. Plis dong Pak." Ranti memohon-mohon dengan raut memelas.
Satpam di dalam sana tampak kebingungan dan merasa tersudutkan. "Buka aja gerbangnya Pak." sebuah suara dari arah belakang Ranti membuat gadis itu menoleh.
"Sean," Ranti mengerutkan kening.
"Loe kesiangan juga?" kali Ranti memicingkan matanya. Sean menganggukan kepala tanpa minat. Ranti berdecih, "mobil aja keren, tapi jalannya lamban, kesiangan, heran." decaknya kemudian. Sementara Sean tampak mengangkat bahu acuh.
Pada kenyataannya, seharusnya ia sudah tiba sepuluh menit yang lalu di sekolah. Namun karena ia tidak sengaja melihat seorang gadis yang keluar dari bus dan berlari ke arah sekolah, dengan sengaja ia memelankan laju mobilnya. Karena untuk memberi tumpangan, ia merasa tidak yakin untuk melakukannya.
Sehingga kesiangan bersama menjadi jalan baginya.
"Maaf Mas Sean, nggak bisa Mas. Nanti saya kena marah kepala sekolah." Satpam dilema.
Ranti sudah pasrah, kedatangan Sean yang kesiangan dan notabenenya adalah karib Kafka ternyata tidak membantunya sama sekali. Sampai sebuah mobil dari arah belakang dua orang itu membunyikan klakson, membuat Ranti dan Sean menoleh dan saling tersenyum penuh arti mengetahui jika yang datang adalah mobil guru BK mereka.
Pak Satpam yang membuka pintu gerbang tidak bisa mencegah saat dua orang yang terlambat itu menerobos masuk. Sebelumnya, Sean juga menyerahkan kunci mobilnya pada Satpam Sekolah.
"Pak, minta tolong mobil saya masukin ke dalem." ujarnya yang berlari ngibrit dengan Ranti menuju kelas.
"KALIAN BERDUA. KE RUANGAN SAYA DI JAM ISTIRAHAT NANTI" Guru BK yang membuka kaca jendela mobilnya berteriak pada dua orang itu.
Saras dengan Sean mendengar, namun dua orang itu hanya terus berlari, saling menoleh kemudian melempar senyum tak perduli.
Ruang BK menjadi urusan kedua, yang pertama adalah masuk kelas dan tidak tertinggal pelajaran.
__ADS_1
TBC