
Jam pelajaran sudah dimulai sejak satu jam yang lalu. Pak Ferry, guru mata pelajaran kimia sudah membahas apa yang ditulis anak-anak beberapa waktu lalu. Tetapi, Kafka masih saja sesekali melihat pintu masuk bagian belakang karena biasanya, jika kesiangan Saras akan memilih masuk melalaui pintu belakang daripada pintu bagian depan yang letaknya sejajar dengan meja guru.
"Loe liatin apaan, sih, dari tadi?" Sean menepuk pundak Kafka dan bertanya.
"Liatin apaan lagi kalau bukan si Saras." Aris menyambar karena tidak melihat kehadiran Saras di kelas. Kafka tak merespond, hanya kembali mengalihkan pandangannya pada buku di atas mejanya.
Sejujurnya ia ingin segera nencari keberadaan Saras. Sejak pagi tadi nomor gadis itu tidak bisa dihubungi dan membuat Kafka khawatir. Hingga ketika jam istirahat tiba, pria itu memilih untuk bolos sekolah. Ia hanya menitipkan buku matematikanya pada ketua kelas demi PR yang sudah mati-matian ia kerjakan.
Yashinta yang saat itu berjalan menuju pintu gerbang untuk memberikam camilan pada Pak Satpam hanya diam memerhatikam mobil Kafka yang keluar daru gerbang sekolah usai pria itu bernegosiasi dengan Pak Satpam.
Usai mobil Kafka berlalu, Yashinta melanjutkan langkah menuju post satpam. "Eh, Non Yas." Pak Satpam menegur begitu melihat kehadiran gadis itu. Sedangkan mata Kafka masih mengarah pada mobil Kafka yang belum menghilang dari pandangannya.
"Kafka mau kemana Pak?" tanyanya, mengutarakan rasa penasaran begitu mobil Kafka tak terlihat lagi.
"Nggak tahu Non, tapi katanya buru-buru. Urgent." Pak Satpam menyahut sesuai dengan apa yang Kafka katakan tadi saat Kafka memintanya untuk membuka gerbang.
"Mas Kafka nggak bilang ke Non Yas?" tanya Pak Satpam kemudian. Yashinta menggelengkan kepala. Setelahnya Pak Satpam tampak diam kebingungan, sedangkan Yashinta sendiri lebih memilih diam karena penasaran. Ia pamit usai memberikan camilan bawaannya pada Pak Satpam dan kembali ke kelas.
Tapi sebelumnya, ketika di tangga menuju lantai dua menuju kelasnya, Yashinta berpapasan dengan Sean dan Aris yang heboh berbyanyi-nyanyi sendiri.
"Sean," Yashinta tentu saja lebih memilih berbicara dengan orang yang waras, terlebih Aris hanya menyapanya sambil berjalan menuju kantin.
"Ada apa, Yas?"
"Kafka kemana?" tanyanya. Setidaknya, Sean pasti akan tahu alasan Kafka pergi. Selain karena keduanya bersahabat, Sean juga satu kelas dengan Kafka.
"Kafka?"
"Pas bel istirahat dia buru-buru keluar, nggak bilang mau kemana." jawab Sean mengingat beberapa saat lalu ketika Kafka sangat menantikan bel istirahat dan dengan cepat segera melesat pergi saat bel istirahat dibunyikan.
"Oh, Kafka nggak bilang, yah sama Sean mau kemana?" tanya Yashinta lagi. Sean menggelengkan kepala, ketika Yashinta terdiam dengan raut sendu, Sean tersenyum.
"Saras masuk sekolah nggak?" gadis itu bertanya lagi, khawatir jika kepergian Kafka yang bolos sekolah adalah untuk bertemu Saras.
Sean tak menyahut ketika Yashinta menatapnya penuh harap. Ia justru mengacak puncak kepala gadis itu.
"Loe nggak perlu khawatir, Kafka nggak akan kemana-mana. Loe fokus belajar aja." sahutnya seraya berlalu meninggalkan Yashinta yang menyentuh kepalanya.
__ADS_1
"Sean, dibilangin jangan ngacak rambut Yas. Kan repot kalau sampe diliat Kafka." protesnya ketika punggung pria itu mulai menjauh dari pandangannya.
Sementara itu, Kafka yang sudah bisa menghubungi Saras berniat bertemu dengan gadis itu. Saras mengajaknya bertemu di taman. Kafka segera mencari keberadaan gadis itu sampai ia menemukan Saras dengan hoodie warna abu yang menutupi kepalanya.
Kafka segera menghampiri Saras dengan raut khawatir ketika melihat luka robek yang mengering di ujung bibir gadis itu.
"Bokap loe mukul loe lagi?" tanya Kafka dengan sorot marah mendapati gadis itu terluka. Saras tak langsung menjawab, ia lebih dulu meraih tangan Kafka dan tersenyum. "Enggak papa." sahutnya menenangkan pemuda yang bolos sekolah demi menemui dirinya itu.
Kafka hanya menatapnya iba. Ia tidak terima melihat wajah cantik wanita itu terluka. Namun ia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Terlebih. Saras seringkali menolak bantuannya.
Beberapa waktu selanjutnya. Kafka dengan Saras sudah berada di dalam mobil yang Kafka kemudikan, hingga ketika mereka tiba di sebuah jalanan sepi, Kafka menghentikan mobilnya. Ia tak bicara, namun dari ******* napasnya, Saras tahu jika Kafka kecewa.
"Semalem nyokap gue dateng ke rumah. Bokap lagi sama pacarnya. Bokap marah karena nyokap dateng, dia kira gue yang hubungin nyokap." beritahu Saras, bagaimana pun Kafka pasti menunggu penjelasannya.
Kafka menoleh, ia mengulurkan tangannya dan menurunkan hoodie yang gadis itu kenakan. Ia tahu Saras tidak ingin bercerita. Tangan Kafka lantas menyentuh ujung bibir Saras yang terluka.
"Pasti sakit." sahutnya, tidak tega.
"Loe bahkan udah pernah liat gue lebih parah dari ini. Gue nggak papa, Ka." Saras menenangkan.
"Bokap loe pukul loe dibagian mana lagi?" Kafka ingin memastikan jika tidak ada luka lain ditubuh Saras.
Kafka mendesah, sementara Saras meraih tangannya tanpa berbicara. "Gue udah bilang, 'kan. Loe tinggal di apartement gue aja, gue bisa tanggung biaya hidup loe." sahut Kafka, terlihat putus asa.
Saras tertawa mendengar usulan Kafka yang entah ke berapa ratus kali sejak mereka kenal, "enggak usah belagu. Biaya hidup loe aja masih ditanggung Mas Gibran." sahutnya, Kafka berdecak, menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Faktanya, apa yang dikatakan Saras memanglah benar.
"Tapi seenggaknya gue bisa ngurus loe." jawab pria itu, sementara Saras masih teguh dengan prinsipnya, ia menggelengkan kepala.
"Loe tau ssndiri gimana gilanya bokap gue. Nyokap bisa dalam bahaya kalau gue keluar dari rumah."
"Terus, loe ngapain ada di luaran kaya gini?"
"Gue kabur untuk beberapa waktu."
"Bokap, 'kan lagi di kantor, hmm mungkin." Saras menyahut diakhiri kekehan kecil. Kafka mengukir tipis melihat hal itu. Dalam kondisi sesakit ini pun, Saras tak menunjukan air matanya di hadapan Kafka.
Saras yang ditatap mengukir senyum lebar pada Kafka. "Kafka,"
__ADS_1
"Hmm?"
"Makasih,"
"Makasih?"
"Makasih karena loe selalu ada buat gue."
****
"Gue nggak nerima tamu, kerjaan gue lagi banyak. Lagian gue juga nggak mau temenan lagi sama kalian!"
Bayu dengan Leon yang datang bertamu untuk menemui Gibran di perusahaannya mendapat sambutan sesuai dengan apa yang mereka prediksikan karena insiden kencan buta kemarin yang gagal dan kacau.
Dua orang yang duduk di sofa pojok ruangan Gibran hanya saling pandang sedangkan Gibran berada di meja kerjanya dan sedang menandatangani setumpuk berkas.
"Sorry Bran, gue nggak tahu kalau bakal sekacau itu acaranya."
"Gue udah buat acara serapi mungkin. Gue nggak tahu kalau mereka bakal ketemu." sesal Bayu.
Gibran berdecak. "Kalian pikir aja, mereka squad Pasti punya grup chat." Gibran menyahut malas. Sedangkan Len dan Bayu nyengir, memamerkan deretan gigi putihnya. Tidak bisa berkata-kata.
"Gimana kalau kaya gini aja, Bran. Kita bakal atur lagi kencan buta–"
"Gue nggak mau."
"Sorry Bran, kita nggak tahu kalau bakal kaya gini jadinya."
"Kita nyesel, Bran." Leon angkat bicara. Gibran menghentikan pekerjaan, ia tersenyum mengingat kembali apa yang kemarin terjadi. Tidak masalah, setidaknya bertemu dengan Yashinta bukanlah hal yang buruk.
"Kita minta maaf, Bran."
"Nggak masalah. Kejadian kemarin bukan apa-apa." sahut pria itu seraya beranjak dari duduknya. Tentu saja tingkahnya tersebut membuat Leon dan Bayu saling bertukar pandang dengan raut heran.
Tiba-tiba? Padahal beberapa detik lalu pria itu masih marah-marah.
"Loe nggak sakit, 'kan Bran?" Bayu mendadak khawatir melihat Gibran yang tersenyum. Pria yang sudah duduk di single sofa dan menautkan jari-jemarinya itu mengangkat bahu acuh. "Gue sehat."
__ADS_1
TBC