
Sepertinya Gramed selalu menjadi pilihan para anak muda untuk sepuasnya membaca, begitu juga Yashinta. Udai menangis dalam dada Gibran, gadis itu tetap melanjutkan niatnya membaca dan mencari beberapa novel.
Sementara Gibran masih setia bersamanya. Melihat gadis itu yang tampak sudah kembali normal, sejujurnya Gibran ingin tertawa mengingat beberapa saat lalu gadis itu bersikap seperti anak kecil dan membuat mereka menjadi pusat perhatian.
"Jangan ngeliatin!" ancam gadis itu, menoleh pada Gibran yang tertangkap basah karena terus menatapnya. "Yas bukan barang tontonan!" sambungnya, sadar jika sejak tadi Gibran memang menatapnya.
"Dibilang jangan ngeliatin!" gadis itu tampak kesal saat Gibran tak kunjung memalingkan pandangannya. Gibran tertawa, "Masha, Masha! Saya jadi tahu harus kasih nama apa kontak nomor kamu." sahut pria itu yang membuat Yashinta tidak mengerti.
Gibran mengeluarkan ponselnya dan menamai kontak Yashinta yang selama ini ia simpan tanpa nama. Kemudian ia memblokir beberapa nomor baru yang hari ini menyerang ponselnya. Yashinta hanya memerhatikan.
"Mas Gibran udah simpen nomor Yas?" tanyanya, Gibran mengangguk. "Kok belum ada ngehubungin Yas?" protesnya.
"Buat apa?"
"Ya biar Yas juga simpen nomornya Mas Gibran." sahutnya yang membuat Gibran tersenyum, gadis yang masih mengenakan topi miliknya itu menatapnya dengan heran.
"Sini hp kamu," Gibran mengulurkan tangannya.
"Buat?"
"Katanya pengen punya nomor saya." sahut Gibran, gadis itu dengan perlahan mengambil ponsel dan menyerahkannya pada Gibran.
"Ya, Yas nggak pengen-pengen amat, sih. Tapi, 'kan Yas harus balas budi karena Mas Gibran udah nolongin Yas waktu itu." ocehnya saat Gibran mulai mengetikan nomor ponselnya. Sebelumnya Gibran melihat lock screen gadis itu dimana seorang pria berdiri di sebuah bukit memunggungi matahati terbit, Gibran hanya mengangguk samar saat melihatnya.
"Mas Gibran mau minta apa? Biar Yas penuhin."
Gibran yang sudah selesai mengetikan nomor ponsel lantas menyerahkan ponsel kembali ke tangan Yashinta. Gadis itu menerima ponselnya.
"Yas bakal penuhin apapun yang Mas Gibran mau." sambungnya seraya mengetikan nama untuk kontak Gibran. Gibran mengintip, lebih penasaran pada hal tersebut daripada apa yang gadis itu tawarkan.
"Kamu kasih nama apa kontak saya?" tanyanya, penasaran karena Yashinta menghindar, tidak memberinya celah untuk mengintip.
"Ada, deh. Rahasia!" gadis itu memasukan kembali ponsel ke tasnya. Kemudian menutup buku yang semula ia baca, sepertinya untuk saat ini berbicara dengan Gibran jauh lebih menarik daripada membaca.
"Cepetan Mas Gibran!" ia masih menyambung penawarannya pada pria yang pernah menolongnya itu.
"Apa?"
"Yang tadi Yas tawarain!"
Gibran diam, bagai berpikir kemudian bangkit dari duduknya. "Untuk saat ini saya tidak menginginkan apapun. Artinya, kamu punya hutang bukan?"
"Hmm." Yashinta menganggukan kepala dengan polos.
"Nangi saya minta setelah saya butuh sesuatu. Biar sekarang saya pikir-pikir dulu."
"Okay."
"Mana aja buku yang mau kamu beli? Sudah sore, kita harus pulang."
"Kita pulang bareng?"
"Kamu mau saya anterin pulang?"
__ADS_1
"Mas Gibran mau?"
Gibran tersenyum tipis, kemudian mengangguk, membuat Yashinta bangkit dari duduknya dengan tersenyum dan berjalan mengikuti langkah kaki pria itu menuju kasir.
***
Mobil yang Gibran kemudikan berhenti di depan gerbang rumah Yashinta. Sekilas Gibran mengingat malam dimana ia menemukan dan mengantarkan gadis berisik itu pulang. Gibran tersenyum tipis melihat gadis di sampingnya yang tengah melepas seatbelt.
"Mas Gibran mau mampir dulu?" tanyanya sebelum turun dari mobil pria itu. Gibran menggelengkan kepala.
"Yaudah kalau gitu. Hati-hati di jalan Mas Gibran, dadaaah." Melambaikan tangan sekilas.
"Makasih, yah." ia membuka pintu mobil dan turun, kembali melambaikan tangan pada Gibran yang berada di dalam mobil sebelum kemudian memasuki gerbang dan meninggalkan pria itu.
Gibran hanya tersenyum menatap kepergian Yashinta. Hingga beberapa detik kemudian ia tersadar jika hal itu tampak tidak normal baginya.
Namun, sampai mobil melaju meninggalkan gerbang rumah Yashinta pun, Gibran tak dapat menemukan alasan kenapa ia terus tersenyum–hari ini–sejak bertemu dengan Yashinta.
***
Yashinta merebahkan diri di atas tempat tidur usai ia mandi dan membersihkan diri. Ia menatap plafon kamar yang dihiasinya dengan stiker bintang. Hingga kemudian, matanya menangkap sebuah benda yang tergeletak begitu saja di atas meja riasnya.
Yashinta lantas meraih ponsel. Ia mendial nomor seseorang, nomor orang yang baru saja ia dapatkan nomor ponselnya. Yashinta segera menekan ikon telepon begitu menemukan kontak Malaikat.
Seperti itulah Yashinta memberi nama kontak Gibran. Pria itu seperti malaikat baginya, yang sudah Tuhan kirim untuk menolongnya.
Yashinta menempelkan benda pipih itu ke telinganya begitu terdengar nada sambungan.
Kafka yang saat itu menuruni anak tangga dan mendengar ponsel Gibran berdering lantas melangkah menuju meja di ruang utama dimana ponsel sang kakak bersama dengan laptop dan beberapa berkas perusahaan yang berserakan berada di sana.
"Siapa?" tanyanya saat melihat Kafka yang tengah mengintip ponsel namun tampak tak berniat mengangkat panggilan, karena setahu Gibran sang adik memang tidak pernah menyentuh ponselnya yang ia anggap sebuah privasi. Kafka menghargai hal itu.
"Masha." sahut Kafka dengan raut heran, Gibran meraih ponselnya saat dering ponsel sudah berhenti. Kafka tak beranjak, melihat sang kakak yang justru tersenyum, ia menjadi penasaran dan menghentikan langkahnya.
"Masha pacar loe?" tanyanya, tampak tidak begitu penasaran karena tak ingin mencampuri urusan pribadi sang kakak. Ia hanya sekedar bertanya karena kali pertama melihat sang kakak mendapat telpon dari wanita di luar daripada partner kerjanya.
Atau itu juga mungkin partner kerjanya?
"Oh, ini kenalan Mas." sahut pria itu yang kemudian duduk dengan santai. Kafka tampak mengangguk-anggukan kepala, ia hendak melangkah memenuhi tujuannya untuk mengambil air putih ke dapur tapi kemudian urung mengingat sesuatu hal.
"Mas." panggilnya pada Gibran. Pria itu menengadah. "Ada apa?"
"Tadi siang loe kemana?"
Gibran tak menyahut. Pria dengan piama hitam itu justru mengerutkan dahi. Bukan, hanya saja, ia tahu jika sang adik tidak pernah seperhatian itu.
"Berarti bener, gue cuma salah liat." Kafka kembali bersuara melihat reaksi sang kakak.
"Salah lihat?"
"Iya, tadi siang di bioskop gue ngeliat loe. Ternyata cuma salah liat aja pasti."
"Tadi siang loe di perusahaan, 'kan?"
__ADS_1
Wajah Gibran berubah tegang. Ia mendehem dan mengalihkan pandangannya dari Kafka. Tidak mungkin bukan, jika ia mengatakan pada sang adik bahwasannya tadi siang ia menjalankan misi kencan buta yang sudah dua kawannya rencanakan?
Rasanya sangat memalukan. Ia tidak ingin Kafka meledek dirinya karena hal itu.
"Iya. Mas di perusahaan." pria itu menyahut setengah awkward. Kafka sempat mengernyit, tapi tak ingin ambil pusing dan memilih berlalu menuju dapur. Sementara Gibran merapikan peralatan tempurnya dan berjalan menapaki anak tangga dengan tangan yang mendial nomor Yashinta untuk menghubungi gadis itu kembali.
Kafka mengambil segelas air dari dispenser dan melegutnya bersamaan dengan sang bunda yang juga mengambil air.
"Kamu kapan bawa Yashinta kesini Ka?" sang bunda masih menagih janji untuk bertemu dengan calon menantunya.
Kafka yang sudah menandaskan segelas airnya menatap sang bunda dan mengingat apa yang siang tadi ia lihat di gedung bioskop.
"Nanti Kafka coba ngomong ke Yashinta." sahut pemuda itu. Bunda tersenyum, mengusap lengan Kafka saat putranya itu berlalu. Sementara Kafka melangkah untuk kembali ke kamarnya. Ia merogoh ponsel dari celana hitam yang ia kenakan dan menelpon Yashinta.
Menempelkan benda pipih itu di telinganya. Tak lama, pemuda itu mengerutkan kening, ia berdecak, sia-sia saja dirinya menghubungi Yashinta hanya demi mendengar suara operator yang memberitahukan jika nomor telepon Yashinta sedang sibuk.
"Telponan sama siapa dia?" raut wajah Kafka tampak tak terbaca. Pasalnya, tidak seperti biasanya nomor gadis itu sibuk.
Sementara itu ... di salah satu ruang kamar di dalam rumah tersebut, "ada apa kamu telpon saya?" tanya Gibran, panggilannya pada gadis itu baru terhubung ketika Gibran memasuki kamar.
"Ohh, ini, Yas cuma mau ngasih tahu aja kalau topi Mas Gibran masih ada di Yas." suara gadis itu terdengar lembut di ujung sana, entah mengapa menciptakan senyum tipis di wajah Gibran.
"Nggak papa, buat kamu aja."
"Dikasih ke Yas?"
"Iya, kalau kamu mau."
"Sebenernya Yas nggak butuh, sih. Tapi kalau Mas Gibran mau kasih, bakalan Yas terima."
"Oh, iya. Saya baru ingat–" wajah Gibran berubah tegang.
"Kenapa Mas Gibran?" Gibran bahkan tahu jika gadis di ujung sana ikut panik sekarang.
"Topinya belum saya bayar." Gibran ingat saat ia mengambil topi tersebut begitu saja dan lanjut berlari ketika para wanita itu mengejarnya.
"Hah? Beneran Mas Gibran?"
"Iya."
"Jadinya Yas yang harus bayar, yah?"
"Hmm?"
"Iya. Kan Yas punya hutang sama Mas Gibran. Yas bakal kasih satu permintaan ke Mas Gibran, nanti biar Yas kabulin."
Gibran tersenyum mendengar gadis di ujung sana berbicara panjang lebar dengan nada yang tampak serius.
"Yashinta?" panggil Gibran.
"Hmm? Ada apa Mas Gibran?"
"Saya belum ingin apapun. Saya sudah bilang biar saya pikir-pikir dulu, nanti kalau sudah tahu apa yang saya inginkan, saya akan menghubungi kamu."
__ADS_1
TBC