Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)

Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)
Kafka Adalah Cinta dan Luka (1)


__ADS_3

Kafka tengah sibuk mengumpulkan perlengkapan yang akan dibawanya untuk kemah. Ia membuka lemari, mengambil sebuah kaos berikut juga kaos yang tempo lalu diberikan Hafi untuknya. Seprrtinya kaos tersebut perlu dipakai olehnya guna menghargai orang yang memberikannya.


Kafa tidak perlu membawa banyak pakaian karena kemah hanya akan dilangsungkan dua hari semalam. Ia hendak menutup lemari, namun matanya lebih dulu menangkap sebuah paper bag berwarna hitam yang berada di sana.


Kafka meraih dan melihat isinya. Mengingat lagi saat Yashinta memberikan paper bag itu padanya kemarin.


"Ini apa?" tanya Kafka saat menjemput gadis itu untuk sekolah.


"Jaket buat Kafka di puncak nanti. Ini tebel banget, biar Kafka nggak kedinginan." ujarnya seraya menyimpan paper bag berisi jaket tersebut ke bangku belakang kemudian mengenakan seatbeltnya.


"Dipake, yah. Pokoknya harus dipake, Yas juga beli." ujarnya dengan senyum yang tak kunjung luntur begitu seatbelt terpasang sempurna di tubuhnya.


"Couple?" tanya Kafka, tampak sudah bisa menebak namun gadus itu hanya diam, tak menyahut sama sekali karena tidak ingin mendapat penolakan dari Kafka.


Membuat Kafka hanya menggelengkan kepala dengan tingkahnya. Padahal Yashinta tahu dengan baik jika Kafka sering menolak hal kekanak-kanakan itu meski pada akhirnya tetap mengalah dan memakai barang-barang pemberian Yashinta.


Kafka menggelengkan kepalanya mengingat hal itu. Ia lantas mengeluarkan jaket dari paper bag dan memasukannya ke dalam ransel berisi perlengkapan yang akan dibawanya.


***


"Kamu yakin mau ikut?" Andri masih tampak belum bisa membiarkan Yashinta pergi mengikuti acara kemah yang digelar kelas sang pacar.


"Iya, Papa." Yashinta menyahut seraya memasukan perlengkapam kemah yang sekiranya akan dibutuhkannya.


Andri menatap ragu Yashinta. Terutama mengingat insiden penculikan putrinya itu kemarin. Ia takut untuk membiarkan Yashinta berkeliaran di luar.


"Atau Papa kirim orang buat jagain kamu, yah Sayang." Andri mencoba bernegosiasi meski ia sudah menawarkan hal tersebut dan mendapat penolakan dari Yashinta. Jelas saja, Yashinta pasti tidak ingin diawasi saat menikmati acara kemahnya.


"Papa."


Yashinta menutup ranselnya ketika semua kebutuhannya sudah masuk ke sana.


"Papa nggak perlu khawatir, Yas sama Kafka. Sean juga ikut. Banyak yang jagain Yas."

__ADS_1


"Yas bakalan baik-baik aja." Yashinta menenangkan dan meyakinkan sang papa. Yang pada akhirnya membuat Andri tidak bisa berbuat apa-apa.


Mungkin akan bagus jika Yashinta bergabung dengan teman-temannya bahkan melihat dunia luar yang lebih luas lagi. Andri hanya bisa menitipkan putrinya pada Kafka dan calon saudaranya–Sean.


"Lagian loe belagu banget, sih. Ngapain kudu ikut segala." Ranti mengoceh di ujung sana saat Yashinta akan pamitan karena besok dia harus berangkat bersenang-senang dengan Kafka dalam acara kemah.


"Yas dari dulu, 'kan pengen ikutan acara kemah kelasnya Kafka, Ranti. Lagian sekolah payah, masa nggak ada acara kemah, sih." Yashinta tak kalah menggerutu.


"Ranti kenapa nggak ikut juga, sih. Kan ada Sean, kenapa nggak minta masuk, list, sih?"


"Lah?"


Yashinta tersenyum menggoda, merubah posisinya yang semula berbaring menjadi duduk. "Ranti nggak pernah cerita sama Yas."


"Cerita apaan?"


"Ranti sama Sean deket?"


"Apaan, sih, jangan ngawur!" Ranti menepis hal itu dengan segera.


"Besok Ranti!"


"Terserah deh, hati-hati, kalau ada apa-apa jangan lupa hubungin gue."


Panggilan terputus secara sepihak. Yashinta hanya menatap layar ponselnya dan tersenyum. Ia membuka aplikasi chat guna mengucapkan selamat tidur pada sang pacar. Namun sebelum itu, ia sempat melihat jendela obrolannya dengan Gibran yang kosong.


Sudah tiga hari, dan Gibran belum memberinya kabar, ataupun kembali. Tampaknya pria itu ingkar janji.


"Katanya cuma beberapa hari." decaknya penuh sesal.


***


Kafka datang menjemput Yashinta pagi-pagi sekali, karena udara masih segar dan bersih untuk dihirup sepanjang perjalanan, begitulah yang Kafka katakan. Anak kelas Kafka menyewa sebuah mini bus. Sementara beberapa anak membawa mobil pribadi, seperti Sean dan Kafka salah satunya.

__ADS_1


"Kafka, Sean, Om titip Yashinta, yah." untuk kedua kalinya Andri mengatakan hal serupa pada dua pria itu. Sean tentu saja mengerti, Yashinta adalah anak Andri satu-satunya yang sangat ia sayangi.


Mengingat ini kali pertama bagi Yashinta, sangat wajar Andri sedikit bersikap lebih posesif dari biasanya.


"Om tenang aja. Yashinta aman." Sean menenangkan, begitu juga Kafka yang mengangguk mengiyakan.


"Yaudah, Papa. Yas berangkat, yah." gadis itu pamit, memeluk Andri kemudian melambaikan tangan pada sang papa sambik berjalan mundur menuju mobil Kafka yang berada di luar gerbang.


Kafka dan Sean juga pamit. Ransel berat Yashinta berada di tangan Kafka, pria itu ingin menggerutu karena barang bawaan Yashinta yang berat, entah apa yang gadis itu bawa, namun pada akhirnya ia memilih diam karena ini adalah kali pertama bagi sang pacar mengikuti acara kemah seperti ini.


"Anak-anak yang lain udah pada berangkat?" tanya Yashinta ketika ia sudah berada di luar gerbang rumahnya, ia terkejut saat mendapati kaca mobil Sean yang terbuka tiba-tiba. kemudian muncul wajah Aris yang tampak masih mengantuk.


"Udah sampe?" tanyanya seraya menguap. Sean mengibaskan tangan di hadapan wajah Aris. "Belum juga berangkat." Yashinta tertawa melihat Aris. Sementara Kafka yang tampak tengah memasukan koper ke bagasi mobil hanya menggelengkan kepala.


Aris yang baru menyadari jika mereka baru berada di depan gerbang rumah Yashinta hanya tersenyum. "Asiik. Yashinta ikutan. Seru, nih." ujarnya, "enggak usah banyak tingkah. Tidur lagi sana." Kafka bersuara seraya menyentuh kedua bahu Yashinta dan menjauhkannya dari Aris.


Aris hanya melambaikan tangan pada Yashinta sementara Yashinta hanya tertawa melihat tingkahnya. Mobil Sean berlalu lebih dulu, mobil Kafka mengikuti di belakang.


"Anak-anak yang lain udah pada berangkat?" tanya Yashinta. Kafka menganggukan kepala.


Kafka bilang, mereka akan bertemu di titik yang sudah ditentukan dan berangkat bersama dari sana. Yashinta sudah dapat membayangkannya, pasti akan sangat menyenangkan.


Yashinta begitu tampak senang, hal itu adalah kali pertama dalam hidupnya merasakan suasana semacam itu. Sepanjang perjalanan, gadis itu hanya menatap keluar kaca jendela mobil yang terbuka, menikmati udara segar sepanjang melewati perkebunan teh.


Kafka yang fokus menyetir sesekali menoleh ke arahnya hingga gadis itu berbalik menatapnya. "Makasih, yah, Kafka. Makasih udah ngajakin Yas ikutan." ujarnya yang mendapat anggukan kepala dari Kafka.


"Makasiiiiiiiih, bangeeet."


"Cuma bilang makasih?" tanya Kafka sesaat memelankan laju mobilnya, Yashinta mengerutkan kening, sampai berselang beberapa detik setelahnya, Yashinta berinisiatif mendaratkan kecupan di ujung bibir Kafka.


Sesaat membuat pria itu mematung di tempatnya. Kafka berdecih, menghentikan laju mobilnya dan menatap Yashinta. Yang ditatap hanya meluruskan pandangannya ke depan, sampai kemudian gadis itu membulatkan mata ketika Kafka menarik tangannya–meraih bahu Yashinta hingga keduanya saling berhadapan. Tidak butuh waktu lama untuk kemudian Kafka menyatukan bibir mereka.


Perlahan membuat Yashinta memejamkan mata dengan tangan yang mencengkram lengan Kafka.

__ADS_1


TBC


__ADS_2