Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)

Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)
Menghapus Jejak


__ADS_3

Aroma mint begitu menguar di dalam ruangan bernuansa abu yang Gibran tempati. Gibran hanya mengetuk-ngetukan jarinya di atas meja. Ia mengendurkan dasinya begitu mengingat apa yang Yashinta katakan beberapa hari lalu usai Gibran mengantarkannya pulang.


"I–iya, kita khilaf dan sekarang ..., anggap aja nggak pernah terjadi pokonya! Udah, jangan dibahas lagi, Yas nggak mau denger pokoknya."


"Cih." Gibran berdecih.


Pria itu bahkan membuka kancing teratas kemejanya. Membuat sang skretaris yang saat itu berada di ruangannya untuk menyerahkan bahan presentasi pada Gibran harus memalingkan wajah.


Saat ia masuk ke dalam ruangan sang atasan. Pria tampan berbalut stelan formal itu hanya diam dan sesekali raut wajahnya tampak berubah kesal.


Sang skretaris ingin menegur namun takut Gibran marah karena merasa diganggu.


"Khilaf? Saya ngelakuin itu bukan karena khilaf. Tapi karena saya ingin." decaknya, masih tidak terima dengan sikap Yashinta.


"Anggap nggak pernah terjadi? Ngarang! Mana mungkin! Ingatan saya tajam. Saya nggak bisa bersikap seolah nggak terjadi apa-apa setelah apa yang udah kami lakuin." ocehnya. Sang skretaris di sana kian bingung dan tak tau harus bersikap seperti apa. Sekeras apapun ia menutup mata dan telinga nyatanya ia tidak bisa.


Apa yang Gibran katakan tertangkap jelas indera pendengarannya. Kalau sang skretaris tidak salah menyimpulkan. Barangkali atasannya ini memiliki kekasih dan mereka sudah melangkah jauh. Andai para karyawati perusahaan tahu, mereka pasti akan patah hati.


Kali ini Gibran menggebrak meja saat kekesalannya butuh dilampiaskan. Terlebih, setelah kejadian itu, ia dan Yashinta sama sekali tidak pernah lagi berhubungan.


Keduanya tidak bertukar pesan sebagaimana biasanya. Gibran juga bingung alasan apa yang harus ia gunakan untuk menghubungi gadis itu.


Ia tidak mungkin meminta Yashinta untuk segera mengembalikan pakaian miliknya bukan? Gibran akan terkesan pelit dan aneh.


"Pak–Gibran." sang skretaris berusaha menyadarkan setelah melakukan puluhan kali pertimbangan. Gibran menengadah, ia melongo mendapati skretarisnya berada di sana. Namun begitux pria itu tetap stay cool. Meski rasanya ia mendapati dirinya tampak aneh di mata sekretarisnya.


Pria itu mendehem, merapikan dasi yang dikenakannya dan menegakan duduknya. "Ada perlu apa?" tanyanya, berwibawa. Sang skretaris sempat tersenyum kecut sebelum kemudian menyahut.


"Pak Gibran yang menyuruh saya kemari. Ini bahan presentasi untuk nanti siang." ia menyerahkan sebuah map berwarna biru.


Gibran sempat terkejut, ia tidak ingat jika dirinya memanggil sang skretaris. Menerima berkas tersebut dari tangan sang skretaris dan melihat isinya. Kemudian meletakannya di atas meja dan kembali menatap skretarisnya.


"Bagus, terimakasih." ujarnya meski agak canggung.


"Baik Pak. Saya permisi." ia pamit undur diri.


"Tunggu sebentar." Gibran berseru dan membuatnya menghentikan langkah kemudian berbalik pada Gibran.


"Iya Pak?"


"Sejak kapan kamu berada di ruangan saya?" Gibran memberanikan diri untuk bertanya, setidaknya ia berharap jika skretarisnya tidak mendengar ocehan di luar kendalinya. Gibran akan sangat berterimakasih karena dengan begitu, harga dirinya terlindungi.


Skretarisnya tampak tersenyum hambar, ia ragu untuk menjawab, tapi kemudian tetap buka suara. "Jauh sebelum Bapak bilang 'Khilaf'–" ia menatap Gibran dan melihat air muka atasannya berubah sehingga memilih untuk tidak meneruskan. Gibran mengibaskan tangannya dengan kepala tertunduk.


"Kamu boleh keluar!"


Rupanya, harga dirinya sudah tidak dapat terlindungi.


***


Sepulang sekolah, benar saja jika Kafka menunggunya di parkiran untuk memenuhi janjinya jika siang ini mereka akan makan di restoran. Yashinta menghampiri pria itu yang bersandar pada body mobilnya.


"Lama banget, ngapain dulu, sih?" tanya Kafka, ia memang sudah cukup lama dan kepanasan menunggu gadis itu.


"Panas!"


"Lagian siapa juga yang nyuruh Kafka nunggu di sini? Kan Kafka bisa nunggu di depan kelas Yas atau di mana aja yang tempatnya teduh." oceh Yashinta yang membuat Kafka memutar bolamatanya, jengah.


Kafka sedikit memutari mobil dan masuk ke dalam mobil. Duduk di kursi kendali, Yashinta membuka pintu mobil sendiri, masuk dan duduk di samping pria itu.


"Sean sama Aris udah duluan yah?"


"Aris atau Sean?" Kafka bertanya dengan nada sewot. Yashinta yang tengah mengenakan seatbeltnya menoleh heran.


"Dua-duanya lah Kafka. Mereka barengan, 'kan?" Kafka tidak menyahut. Membuat Yashinta menghela napas, beruntung stok sabarnya untuk pria itu begitu banyak.


Tak lama setelahnya, mobil yang Kafka kemudikan melaju keluar dari gerbang SMA Firgo. Yashinta hanya memerhatikam pria itu, wajah Kafka tampak kesal, tapi Yashinta tidak tahu apa alasannya. Kafka sering menunjukan ekspresi itu saat sedang marah dengan sesuatu hal yang berhubungan dengan Yashinta.


Tapi Yashinta tidak tahu apa alasannya kali ini. Seingatnya, ia belum membuat kesalahan apapun. Pria yang menyadari jika dirinya di tatap oleh gadis yang duduk di sampingnya itu menoleh. Alasan ia mengajak Yashinta dan dua kawannya makan di restoran karena Kafka ingin melihat interaksi langsung antara Sean dan Yashinta.

__ADS_1


Apakah mereka biasa saja sedangkan di belakangnya berinteraksi atau tidak.


"Kafka kenapa ngajak-ngajak makan di restoran segala? Bukannya Kafka, sibuk, yah?" tanya Yashinta dengan tatapan lekat pada pria itu.


"Pengen aja." Kafka menyahut enteng.


"Padahal Yas ada acara sepulang sekolah." beritahunya, kali ini ia meluruskan pandangan. Menolak bersitatap dengan Kafka. Saat pria itu menoleh padanya, Yashinta tetap memilih bertahan di posisinya.


"Acara apa? Sama siapa?" tanya Kafka, terdengar tidak sabaran namun Yashinta hanya diam. Hingga setelah beberapa saat, "Yas mau jenguk mamanya Sean di rumah sakit." ujarnya jujur. Kafka berdecih, ia tahu jika mama Sean sakit bahkan kemarin ia sempat menjenguk dengan Aris ke Rumah Sakit.


Tapi kenapa Yashinta juga harus ke sana sedangkan rasanya Yashinta dan Sean tidak cukup akrab untuk hal itu. Untuk saling mengenal orang tua masing-masing.


"Nanti kalau makannya udah beres Yas mau ke rumah sakit sama Sean, yah, Kafka. Boleh?" meski begitu gadis itu tetap meminta izin. Tapi untuk kali ini jika Kafka melarang maka Yashinta tidak akan mendengarkan.


"Harus banget loe satu mobil sama Sean?"


"Kalau Kafka nggak bisa anterin Yas, Yas bisa naik taksi." ujarnya bagai mengerti. Tidak ingin memaksa sang pacar untuk bisa mengantarkannya.


"Jam 2 siang pelatih basket nyuruh kapten tiap tim buat kumpul. Gue nggak bisa absen, jadi gue nggak bisa nganterin loe." sahut Kafka, Yashinta melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu menunjukan pukul satu siang lewat sepuluh menit. Ia diam, tak lagi bersuara.


Bersama Kafka, sekarang sensasinya terasa berbeda, meski tetap hanya pria itu yang ia cinta.


***


Yashinta dan Kafka memasuki restoran dan segera menghampiri Aris yang sudah duduk di mejanya dengan beberapa hidangan yang sudah tersaji di atas meja. Artinya Yashinta memang sudah membuat mereka menunggu cukup lama.


"Langsung pesen aja, Yas." Aris segera memerintah saat Yashinta sudah duduk. Pria itu berlaga seolah dia adalah orang yang akan mentraktir.


"Iya, Aris. Siap." Yashinta menyahut patuh dan segera mengambil buku menu yang Sean sodorkan. "Tnaks, Sean." ucapnya pada Sean.


"Kafka mau apa?" tanya Yashinta, menoleh pada sang pacar yang memainkan ponsel. Tampak sedang membalas pesan.


"Terserah aja."


"Hmm."


"Pesenin sushi aja, Yas, udah." suruh Aris. Kafka yang sudah memasukan ponsel pada saku jaketnya menoleh pada Yashinta yang menggelengkan kepala. "Jangan, Kafka nggak bisa makan pake sumpit." sahutnya sembari membaca buku menu.


"Iya dong, 'kan Yas pacar yang baik, gitu loh." gadis itu jumawa, satu sudut bibir Kafka terangkat. Ia tidak bisa untuk tidak tersenyum melihat Yashinta. "Repot kalau Yas harus makan sambil suapin Kafka." ujar gadis itu bagai pada dirinya sendiri.


"Yas nggak laper, Yas mau tiramisu aja."


"Kafka mau lasgana atau–"


"Sama aja kaya loe." Kafka menyela dengan cepat. Yashinta menganggukan kepala.


"Oh, okay." Yashinta memanggil seorang waitress. Waitress itu tampak ramah menyapa Yashinta, membuat Aris yang sedang makan memerhatikan. Sedangkan Sean yang juga sudah makan hanya sibuk dengan makanannya.


"Akrab banget, Yas, kaya yang punya restorannya aja." decak pria itu setelah sang waitress berlalu, kemudian melahap makanannya.


"Bukan punya Yas, sih, tapi punya Papa."


"Uhuk!" spontan Aris terbatuk, ia menengadah dan menatap Yashinta dengan mata membulat. Tampak meminta kepastian.


"Ini–restoran bokap loe?" tanya Aris setelah meredakan batuknya. Yashinta mengangguk. "Iya, hasil kerja sama sama perusahaannya Sean." terang Yashinta yang membuat Aris melongo takjub. Sedangkan Kafka tampak biasa saja, namun begitu mendengar nama Sean, raut wajahnya berubah.


Pria itu menatap Sean yang hanya makan dan mengabaikan obrolan di meja mereka. Dengan begitu saja Kafka meraih segelas minuman milik Aris dan menenggaknya hingga tandas. Membuat mata Aris membulat tidak terima. Ia lantas beralih pada Yashinta.


"Aris pesen lagi aja, nanti Yas yang bayarin." tawar gadis itu dengan mudahnya. Adalah kalimat yang Aris tunggu-tunggu.


"Boleh pesen apa aja, nih, Yas?"


"Kan ini restoran milik bokap loe." Aris menaik turunkan alisnya tak tahu malu. Yashinta hanya mengangguk dengan senyuman.


"Loe diem aja Se kalo punya restoran semewah ini. Harusnya loe bilang, biar gue bisa makan enak tiap hari." ia menyenggol lengan Sean yang asik sendiri.


"Itu makannya gue nggak bilang." Sean menyahut savage.


"Bisa bangkrut nanti." Yashinta menyambung dan tertawa setelahnya dengan Sean dan Aris. Sementara Kafka hanya memerhatikan Yashinta dan Sean yang tampak melakukan kontak mata. Kafka merasa tidak terima.

__ADS_1


Aris menyahut dengan leluconnya yang membuat Yashinta kembali tertawa, ketika seorang waitress tampak membawa nampan berisi mangkuk dengan uap panas yang mengepul di atasnya dan seorang anak kecil berlari serta hampir menabraknya, sang waitress mencoba menghindar namun justru nahas saat nampan yang dipegangnya terjatuh, tepat Yashinta berada di bawahnya.


Kafka yang melihat hal itu spontan bangun dan menggandeng Yashinta menjuh. Tentu saja tiga orang yang asik sendiri itu terkejut, terlebih Yashinta. Sementara Kafka meringis saat sup panas itu menimpa tangannya.


"Kafka," Yashinta buru-buru meraih tangan Kafka yang basah dan tampak memerah karena panas.


Ibu dari si anak mengejar anaknya dan memastikan anaknya baik-baik saja. "Mama bilang jangan lari, Sayang." ada nada kesal dalam bicaranya. Selain karena takut anaknya kenapa-napa, si ibu juga tampak merasa bersalah karena anaknya sudah membuat keributan.


Sang waitress juga tampak panik dan berulang kali meminta maaf pada Kafka dan Yashinta.


"Maaf, Mbak, Mas," si ibu meminta maaf karena anaknya sudah membuat keributan tersebut terjadi.


"Maaf, Mas."


"Enggak apa-apa Bu. Lain kali dijaga anaknya kalau di tempat umum, apalagi tempat makan. takut kenapa-napa." Yashinta menyahut dengan masih memegangi tangan Kafka, sedangkan Kafka tampak memutar bola matanya jengah, jujur ia ingin marah, tapi ditahannya karena bukan hanya ada mereka di sana.


"Maaf Mas, Mbak." ia meminta maaf sekali lagi sebelum kemudian berlalu pergi bersama anaknya.


Atensi semua pengunjung yang semula teralihkan pada kejadian tersebut mulai kembali pada dunianya masing-masing.


"Yas, loe nggak papa?" Ranti muncul dan menilik tubuh Yashinta, memastikan jika sahabatnya itu baik-baik saja. Ia mendengar insiden itu dari rekannya dan terkejut saat mendapati meja Yashinta yang terkena tumpahan sup panas.


"Yas nggak apa-apa, Ranti." Yashinta menenangkan Ranti yang tampak panik


Setelahnya, sesaat suasana hening. Sedangkan Aris tampak melongo melihat Ranti berada di sana–dengan seragam waitress-nya.


Ranti hanya memutar bola matanya saat melihat tatapan pria itu. "Enggak usah gitu loe liatinnya!" protes Rangi pada Aris yang membuat pria itu menggelengkan kepala.


***


"Sakit ya Kafka?" tanya Yashinta sembari mengoleskan salep luka bakar ke tangan pemuda itu yang tadi tersiram sup panas. Saat ini keduanya tengah berada di dalam mobil Kafka untuk mengobati luka Kafka.


"Menurut loe?" Kafka tampak kesal. "Ya sakitlah." sambungnya.


"Apa susahnya, sih, tinggal bilang sakit doang. Nggak perlu kaya gitu." gadis itu menyesali sikap sang pacar. Kafka mengembuskan napas kesal. "Lagian loe kenapa maafin si ibunya gitu aja? Dia salah karena ngebiarin anaknya berkeliaran." oceh Kafka.


"Kalau dia bisa jaga anaknya dengan bener. Hal kaya gini nggak akan terjadi."


"Ya namanya musibah, Kafka. Enggak ada yang tahu, 'kan."


"Ya itu makannya kita harus hati-hati, Yashinta. Kalo sampe sup panas itu nimpa loe gimana, huh?" Kafka sangat kesal mengingat jika sup panas itu hampir saja menyiram seluruh tubuh Yashinta.


Alih-alih menyahuti Kafka seperti sebelumnya. Gadis itu justru tersenyum, senyumnya kian lebar saat ia sudah selesai mengobati luka Kafka. Kafka yang melihatnya berdecih. "Bisa-bisanya loe malah senyum."


"Habis Kafka kalau khawatir gitu lucu."


"Lucu menurut loe?" Kafka kian kesal. Yashinta mengangguk, mencondongkan tubuhnya pada Kafka. "Lucu. Kafka kalau khawatir sama Yas gitu lucu. Kafka sayang banget sama Yas?" tanya gadis itu dengan tatapan menggoda.


Kafka memalingkan wajahnya dengan senyum tertahan. "Iya, 'kan Kafka?"


"Enggak." Kafka menyahut spontan.


"Ngaku aja."


"Enggak, sana jauh-jauh!"


"Kafka." panggil Yashinta, kali ini nada bicara gadis itu terdengar serius.


"Hmm?"


"Liat Yas!"


Kafka menoleh, melihat wajah Yashinta tepat di hadapannya, ia hanya mematung. "Kafka, kata orang cinta itu buta. Sementara Yas enggak buta. Tapi Yas lebih memilih menutup mata seolah hanya Kafka satu-satunya pria di alam semesta." ujarnya dari lubuk hati terdalam.


Kafka diam, hanya menatap mata gadis itu yang terlihat penuh binar ketulusan. Sampai perlahan, saat Yashinta tak kunjung beranjak, Kafka meraih dagu gadis itu dan menyatukan bibir keduanya dengan perlahan. Sangat lembut memperlakukan gadis itu.


Membuat Yashinta perlahan memejamkan mata dan menerima sentuhan yang diberikan Kafka. Yashinta tidak tahu dengan isi kepalanya. Tapi yang pasti, jauh di dalam hatinya. Ia berharap, dengan begitu kenangan dengan Gibran atas insiden di apartement dapat ia lupakan.


Biar Kafka menghapus jejak pria itu di bibirnya. Menghapus jejak Gibran yang sempat tinggal.

__ADS_1


TBC


Wah, tim Mas Gibran ketar-ketir, nih. Wkwk


__ADS_2