Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)

Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)
Lapang Dada


__ADS_3

"Kita udah berakhir. Mulai sekarang, Kafka nggak perlu temuin Yas lagi."


Di dalam hidupnya, ketika ia jatuh cinta pada Kafka kemudian berpacaran dengan pria itu, sekalipun Yashinta tidak pernah membayangkan jika mereka akan putus. Ia hanya selalu memimpikan masa depan bersama Kafka. Seolah jika tidak dengan Kafka, maka ia tak memiliki dunia.


Tetapi hari ini, justru Yashinta sendiri yang meminta hubungan mereka agar berakhir. Sulit dipercaya, tapo keadaan punya kenyataan. Dan inilah yang terjadi.


Hubungan yang ia bangun dengan pria itu pada akhirnya harus runtuh.


Yashinta masuk ke dalam mobil begitu jemputannya tiba. Hatinya hancur saat sekarang statusnya bukan lagi pacar Kafka Ali Abiansyah. Tetapi air matanya sudah mengering untuk menangisi pria itu.


Setelah malam dimana Kafka berciuman dengan Saras dan ia pulang bersama Gibran, Yashinta mendapati perasaannya pada Kafka sudah hambar. Rasa cinta di hatinya hntuk Kafka barangkali hanya obsesi untuk memiliki pria itu, sehingga setelah bertemu Gibran, perasaannya mulai gamang, kemudian pengkhianatan Kafka membuatnya sadar jika keduanya tak lagi bisa bertahan.


Tentunya Yashinta adalah yang paling tahu bagaimana dirinya. Dia adalah yang paling hancur saat keduanya harus berpisah, bagaimanapun, Kafka adalah cinta pertamanya yang sangat ia cintai, namun ia akan sangat hancur jika terus mempertahankan hubungan.


Yashinta meraih ponselnya, membuka kontak telepon dan memilih untuk menghapus nomor Kafka, menyisakan hanya beberapa kontak saja. Karena setelah ini, Yashinta harus memulai hari barunya dengan status baru.


Sementara itu, Kafka yang sudah duduk di bangku kemudi hanya terdiam dengan pikiran yang dihantui kalimat-kalimat Yashinta tadi. Benarkah ia sudah sedemikian jahat pada Yashinta?


Selama ini, Kafka selalu menghindari kemungkinan-kemungkinan yang bisa membuatnya jatuh cinta pada Yashintan. Gadis itu adalah pribadi yang baik, lemah lembut dan penuh perhatian. Tingkah polosnya seringkali membuat Kafka menggelengkan kepala karena gemas.


Namun Kafka sadar, jika niatnya berpacaran dengan Yashinta bukanlah untuk hal tersebut, sehingga ia membatasi diri dalam memberikan perhatiannya pada Yashinta. Ia tidak ingin jatuh cinta pada gadis itu dan menyakiti keduanya lebih banyak lagi.


Kafka sering meyakinkan dirinya sendiri jika bersikap acuh tak acuh pada Yashinta adalah jalan terbaik agar tidak ada celah di hatinya untuk mencintai gadis itu. Karena yang Kafka tahu ia hanya mencintai Saras.


Gadis yang menjadi alasan kenapa ia banyak memacari siswi SMA Firgo dan salah satunya adalah Yashinta yang tak lain adalah anak pemilik Yayasan.


Tapi Kafka tidak tahu jika dampak yang dikatakan Yashinta mengenai Gibran akan sangat mengganggu perasaannya. Ia tidak menyangka jika ternyata kedekatan Gibran dan Yashinta terlampau jauh.


***


Hari-hari berikutnya, Yashinta membiasakan diri dengan keadaannya sekarang, dengan status barunya. Wajahnya memang tidak seceria hari-hari kemarin, tapi ia merasa bahagia. Sekalipun masih ada rasa sakit, faktanya putus dengan Kafka tidak membuat hidupnya benar-benar berakhir.


Mungkin adalah asing bagi Yashinta saat ia berpapasan dengan Kafka dan menilih acuh tak acuh, tapi Yashinta merasa hal itu jauh lebih baik.


Meski sekali waktu, ada sesak menelusup dadanya, kemudian krystal bening jatuh begitu saja dari matanya. Yashinta tahu hal itu adalah proses penyembuhan. Ia tahu jika dirinya butuh waktu untuk sembuh, butuh waktu untuk bisa menghapus memorinya dengan Kafka dan terbiasa dengan semuanya.


Saat itu Yashinta tengah berada di wastafel toilet, menatap pantulan wajahnya di cermin dan merapikan rambut, menghapus jejak air matanya saat Saras datang.


Yashinta hanya berbalik menatap gadis itu tanpa bertanya, karena Saras yang lebih dulu melemparnya dengan pertanyaan.

__ADS_1


"Loe sama Kafka putus?" tanyanya. Yashinta tidak menyahut, ia kembali membalikan tubuhnya menghadap cermin, menyalakan keran air dan mencuci tangannya.


Sementara Saras menatapnya. Dia memang mengetahui hal tersebut, Kafka mengatakan sendiri padanya.


"Yashinta."


Lantas gadis itu kembali berbalik pada Saras setelah mengatur napas dan berusaha menahan air matanya. Melihat Saras membuatnya benar-benar merasa sakit. Saras seperti mengandung luka untuknya.


"Gue mau bilang sesuatu sama loe. Gue tau gue terlambat, tapi gue mesti bilang masalah ini." sahut Saras tidak perduli Yashinta mendengarkannya atau tidak.


Saras sempat menoleh kiri kanan untuk memastikan jika hanya ada mereka berdua di sana. "Saras mau bilang apa?" tanya Yashinta tanpa minat.


Saras menghela napas, jujur ia merasa malu pada Yashinta. Ia akan sangat terkesan tidak tahu diri setelah mengatakan hal ini pada Yashinta. Tapi ia sudah berjanji pada dirinya sendiri jika ia akan jujur pada gadis itu.


"Sebelumnya gue minta maaf. Tapi gue yang minta Kafka buat pacaran sama loe." sahut Saras yang dengan cepat membuat Yashinta terlihat terkejut.


"Kafka selalu minta gue buat jadi pacarnya, tapi gue nggak mau."


"Itu kenapa gue ngajuin syarat buat Kafka macarin siswi lain di sekolah kita, dan terakhir loe."


"Gue minta dia pacarin loe selama enam bulan. Kalau dia berhasil, gue mau pacaran sama Kafka." panjang lebar Saras dengan lantang meski merasa ragu. Yashinta mati-matian menahan air matanya setelah mendengar hal itu.


Artinya selama ini Kafka dikendalikan oleh Saras. Artinya Kafka hanya terpaksa berpcaran dengannya agar Saras mau kepadanya. Artinya selama ini Yashinta hanya menjadi ajang permainan dua orang itu.


Saras cukup terkejut saat salah satu pintu toilet terbuka, Ranti muncul dari sana dengan raut marahnya. Sementara Yashinta tidak bisa untuk tidak menjatuhkan air matanya.


Buru-buru Yashinta menyeka air matanya dan mengalihkan perhatiannya ke arah lain. Tidak ingin Saras melihat air matanya.


"Loe gilak, Saras?"


"Loe nggak tahu malu banget, sih. Nggak tahu diri!" maki Ranti sementara Saras hanya diam dan pasrah, ia bersalah. Beberapa anak yang masuk ke toilet tampak heran dengan keributan yang tengah terjadi.


"Setelah apa yang Yashinta lakuin buat loe sampe hampir ngorbanin nyawanya saat diculik sama loe, loe tega baru kasih tahu itu sekarang?"


"Kenapa loe nggak bilang dari dulu!"


Ranti benar-benar marah, kesal, dan ingin menghajar Saras. Tapi tidak ada yang bisa ia lakukan kecuali hanya memaki gadis itu, tak perduli saat kian banyak siswi bahkan siswa yang masuk ke toilet wanita dan menontonnya karena keributan tersebut.


Di luar toilet, Aris, Sean dan Kafka yang tengah berjalan menuju kantin dan akan melewati area toilet juga heran dengan kerumunan para siswa di sana.

__ADS_1


"Ada apaan, tuh?" tanya Aris. Sean menoleh padanya. "Mana gue tahu, kita dari tadi bareng-bareng." Sean menyahut dongkol. Ketika salah satu siswi berjalan ke arah mereka, Aris menahan tangannya untuk bertanya.


"Mereka rame-rame di toilet lagi pada ngapain?"


"Oh, itu, Ranti lagi ribut sama Saras."


"Why?"


"Nggak tahu, katanya gara-gara Yashinta putus sama Kafka." sahutnya, melihat Kafka sekilas kemudian berlalu pergi. Aris mengerutkan kening, tampak heran. Sementara Sean sudah melangkah menuju toilet dengan langkah cepat.


"Ka, loe sama Yashinta putus?" tanya Aris. Ia memang melihat jika belakangan sikap keduanya berbeda, terutama Yashinta sejak acara kemah kelasnya. Namun ia tidak tahu jika dua manusua itu memilih mengakhiri hubungannya.


Kafka tidak menjawab pertanyaan Aris, ia justru melangkah mengikuti Sean menuju toilet.


"Gue tahu gue salah, tapi loe nggak harus permaluin gue di depan anak-anak." Saras tidak terima. Marah anak-anak padanya karena insiden sang papa saja belum sepenuhnya reda, jika ditambah dengan masalah ini maka hancur sudah masa sekolah Saras.


"Loe masih punya malu?"


"Serius loe masih punya malu Saras?" nada bicara Ranti meninggi. Anak-anak tampak mulai berbisik-bisik mencibir Saras. Yashinta berusaha melerai Ranti namun gadis itu tampak emosi. Sean dan Kafka yang baru saja tiba setelah berhasil menembus kerumunan hanya berdiri menatap keduanya.


Ranti yang melihat hal itu menatap Kafka sekilas. "Bagus kalo loe sama Kafka pacaran. Kalian berdua cocok, sama-sama nggak tahu diri. Sama-sama nggak tahu malu!" Ranti kian mengeraskan suaranya, menembus indera pendengaran Kafka.


"Ranti udah."


"Biarin Yas, biar semua anak-anak tahu gimana bejadnya mantan pacar loe itu. Biar anak-anak tau gimana murahannya Saras. Gimana nggak tau terimakasihnya Saras sama loe."


Saras sudah menundukan pandangan ketika semakin banyak yang menonton mereka. Sementara Kafka mengepalkan tangannya, Sean yang melihat hal itu segera menghampiri Ranti untuk menghentikan gadis itu.


"Loe diliatin banyak orang." beritahunya.


"Gue tau, gue juga punya mata."


"Yaudah, makannya udah." ucap Sean, pelan. Menaruh tangannya di kedua pundak Ranti dan mendorong gadis itu agar keluar dari sana, Ranti berontak tapi pada akhirnya menurut, berjalan melewati Kafka yang masih mengepalkan tangannya. Ia mengumpat pelan. "Brengsek loe, Ka!"


Setelah keperguan Ranti, anak-anak mulai membubarkan diri saat dirasa perdebatan sudah usai dan Aris juga bergerak untuk membuat mereka keluar dari barisan.


Sementara tiga orang itu masih berdiri di sana, hingga kemudian Kafka menghampiri Saras yang menangis. Ia dipermalukan berlipat kali di sekolah.


"Loe nggak papa?" tanya Kafka, Saras menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Yashinta hanya menatap kedua orang itu. Hingga ketika Kafka dan Saras dengan ragu menatap kepadanya, ia hanya bergumam pelan. "Kafka sama Saras cocok." lantas melenggang dari sana, melewati Kafka dan Saras yang hanya terdiam di tempatnya.


TBC


__ADS_2