Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)

Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)
Bye Gibran


__ADS_3

Yashinta mengipas-ngipasi Ranti dengan buku paket saat gadis itu tiba di kelas dengan napasnya yang berantakan. Semula peluh menenuhi keringatnya namun Yashinta sudah menyekanya dengan tisu yang selalu tersedia di tasnya.


Beruntung, guru biologi mereka yang maha on time pagi ini belum tiba di kelas. Ranti dalam keadaan hoki.


"Ranti kenapa sampe kesiangan gini, sih?" heran Yashinta. Jujur ia tidak memiliki waktu untuk simpati pada siapapun namun Ranti menjadi pengecualian baginya dalam kondisi perasaan dan moodnya yang tengah berantakan.


"Bus yang gue tumpangin bannya pecah, jadi yaudah." Ranti menyahut pasrah, membuat Yashinta mendesah dengan terus mengipasi Ranti, tetapi ketika gerakan tangan gadis itu memelan, Ranti membuka tasnya, mengambil kipas portable berukuran mini dari sana. Yashinta melongo.


"Saras kok nggak bilang kalau bawa kipas, sih."


"Loe nggak nanya." Ranti menyahut acuh sembari menikmati angin dari kipas portable yang dipegangnya.


"Tangan Yas pegel jadinya." gerutunya, Saras tak menyahut. Hanya mengarahkan kipas pada Yashinta dan membuat gadis itu menepisnya dengan wajah kesal yang justru terlihat lucu di mata Ranti.


Yashinta menumpu kedua tangannya di atas meja, lantas merebahkan kepalanya di sana. Ranti yang melihatnya tentu dengan mudah sudah dapat menebak jika ada yang salah dengan anak itu. Namun begitu, ia tidak bertanya, bukan tidak perduli tapi Yashinta pasti akan berbicara dengan sendirinya nanti jika dia sudah siap bercerita.


Pikiran Ranti sedang berkelana ke arah lain. Kalau ia tidak salah. Pelajar pertama di kelas Sean adalah matematika. Saras tidak dapat membayangkan bagaimana nasib Sean saat berjumpa dengan Pak Herlambang yang tentunya sudah berada di dal kelas.


"Ranti jangan diarahain ke Yas kipasnya!" Yashinta menggerutu, Ranti yang tidak sadar sudah membuat Yashinta merasa terganggu hanya cengengesan.


Sementara itu, di kelas 12 IPA 2. Sean harus berhadapan dengan Pak Herlambang, guru matematika yang tidak akan mengizinkan muridnya masuk jika datang terlambat.


Sean hanya mematung di pintu masuk, sedangkan Pak Herlambang menatapnya horor. Sementara anak-anak yang lain tampak melongo menatap Sean, tahu pasti apa yang akan terjadi selanjutnya bukanlah hal baik bagi Sean.


"Kenapa kamu terlambat?" Pak Herlambang sudah memicingkan mata.


"Jalanan macet, Pak."


"Klise sekali." Pak Herlambang berdecih. "Kenapa kamu tidak bangun pagi untuk berangkat lebih pagi ke sekolah agar terhindar dari kemacetan?" Pak Herlambang tidak dapat menerima alasan apapun.


Sean hanya menatap Pak Herlambang, ia tidak ingin memperpanjang perdebatan karena sejujurnya ia memang bersalah karena sengaja datang terlambat ke sekolah demi Ranti.


Sean buru-buru menepis, bukan semata-mata demi Ranti. Tetapi karena Yashinta, yah mengingat fakta jika Ranti adalah sahabat baik Yashinta dan Yashinta adalah calon saudara tirinya.


"Maaf Pak." hanya itu yang dapat Sean katakan.


Pak Herlabang tampak mendesah, tapi kemudian, "masuk!"intruksi Pak Herlambang ketika Sean bersiap memutar badan untuk keluar dari kelas.


Semua atensi anak seisi kelas tertuju pada Pak Herlambang. Apakah orang yang berada di hadapan mereka jelmaaan malaikat? Demi apapun Pak Herlambang tidak pernah sebaik itu mengizinkan muridnya masuk. Aturan itu berlaku bagi semua murid–tanpa terkecuali.


Pak Herlambang mendehem saat melihat reaksi para murid yang menatapnya penuh perhatian. "Istri saya baru pulang dari Rumah Sakit. Anggap saja hari ini saya sedang sangat berbaik hati," ucap guru itu yang membuat anak-anak seisi kelas bersorak girang. Lolos dari suasana mendebarkan.


"Lucky Boy." mereka berdecak pada Sean.


"Sean, kamu tidak akan duduk?" tanya Pak Herlambang saat Sean masih saja berdiri di tempatnya dengan senyuman.


"Ah, iya Pak. Terimakasih," Sean segera melangkah dan duduk di samping Aris yang tampak kegirangan karena ia tidak dikeluarkan, melewati Kafka dengan tampang datarnya.


"Lu ngapain telat dah, mogok mobil mewah loe?" decak Aris setelah berhigh five ria dengan Sean sebelumnya.

__ADS_1


"Biasalah." Sean menyahut acuh, enggan bercerita dan membuat Aris mengalihkan perhatian darinya. Sean mulai mengeluarkan buku dan Pak Herlambang di depan sana juga melanjutkan pelajaran di papan tulis.


***


"Loe masih di rumah Yashinta?" tanya Kafka ketika anak-anak sudah membubarkan diri dari kelas begitu jam istirahat tiba. Hanya ada beberapa anak dan Kafka dengan Saras adalah salah satunya.


Saras yang baru saja memasukan buku-bukunya ke dalam tas lantas mengangguk.


Kemudian memperbaiki posisinya agar berhadapan dengan Kafka yang duduk si tempatnya.


"Hp loe juga nggak aktif." sambung Kafka, lagi-lagi Saras hanya menjawan dengan anggukan.


"Gue takut ada teror dari Bokap gue kalo gue buka hp." akhirnya gadis itu buka suara. Kafka hanya mengangguk-anggukan kepala. Saras diam setelahnya, mengingat kembali apa yang semalam terjadi pada Yashinta dan apa yang dikatakan gadis itu padanya pagi tadi.


"Yashinta cerita kalo katanya ada kesalahpahaman antara kalian sama Mas Gibran." Saras memutuskan untuk membahasnya dengan Kafka.


Kafka menatap gadis itu, kemudian menganggukan kepala. Tampak enggan membahasnya.


"Kayaknya Yashinta beneran nggak tahu kalo Mas Gibran kakak loe."


"Terus?"


"Gue yakin loe nuduh Yashinta sama Mas Gibran macem-macem." rasanya Saras hapal adat tabiat seorang Kafka.


"Enggak. Gue nggak ngelakuin apapun."


Saras terkekeh melihat reaksi Kafka yang seolah tertangkap basah olehnya, tampak berlebihan. "Loe kenapa Ka?" tanya Saras, membuat Kafka kian tidak mengerti dengan kebingunnya sendiri.


"Harusnya loe merasa diuntungkan sama kejadian ini."


"Loe punya niat buat nggak mutusin Yashinta?"


"Tenggat kalian sebentar lagi."


Kalimat Saras yang bagai membombandir dirinya tampak membuat Kafka tidak bisa berkata-kata. Ia hanya diam di hadapan Saras yang tampak meremehkannya. Ketika pandangannya dengan Saras berada dalam satu garis lurus, anehnya Kafka merasa jika perasaannya sudah berbeda.


Gairah di hatinya untuk bersama dengan gadis itu perlahan seperti sirna, bahkan Kafka tidak menyadarinya kapan hal itu bermula. Saras Seolah tidak lagi menjadi tujuannya.


"Gue mau jadi pacar loe sekarang Kafka."


***


"Yashinta,"


Gadis yang sedang membaca buku di mejanya itu mendongak saat seorang anak yang baru saja masuk memanggil namanya.


"Ada Kafka di depan, nyariin loe." sambungnya yang kemudian tersenyum sembari menunjuk pintu. Yashinta hanya mengangguk samar, "oh, iya. Makasih." ujar gadis itu yang kemudian perlahan bangkit dari posisinya dan mulai berjalan menuju pintu keluar.


Yashinta jelas tidak tahu apa kepentingan Kafka mendatanginya ke kelas, namun hal yang ditakutkannya tidak akan terjadi bukan? Kafka tidak mungkin mengungkit masalah semalam dan mempermalukannya di hadapan anak-anak seantero Firgo bukan?

__ADS_1


Gadis itu menepis pikirannya sendiri setelah dia keluar dari kelas. Ia melihat Kafka berada di ujung pembatas kelas. Yashinta melangkah ke arahnya dengan perlahan, dengan tatapan lekat pada punggung Kafka. Pria itu bahkan terlihat tampan meski dilihat dari belakang.


"Kafka," panggil Yashinta, pelan. Andai Yashinta ditanya apakah ia masih marah atau tidak pada Kafka, jawabannya adalah iya. Tetapi anehnya perasaannya terlalu bebel terhadap Kafka dan dia tidak bisa mengutuki pria itu sekalipun sangat ingin.


Kafka berbalik dengan sesuatu di tangannya, lantas menyerahkannya pada Yashinta. Sebuah kardus ponsel yang sudah dapat Yashinta tebak apa isinya.


"Hp baru buat ngegatiin hp loe yang semalem" pria itu buka suara.


Yashinta hanya menatap kardus ponsel itu dan melihat isinya. Jenis ponsel yang sama dengan miliknya yang Kafka buang semalam, bahkan warna mereka juga sama. Tapi tidak dengan isi dan kenangannya, Kafka tidak akan mampu mengembalikannya.


"Gue tahu hp ini nggak akan sama kaya punya loe yang semalem gue buang. Tapi gue berusaha buat nebus kesalahan gue. Gue udah kelewatan." ujar Kafka bagai dapat menebak isi hati gadis itu. Bagian membuang ponsel Yashinta, Kafka sadar jika ia sudah melewati batas.


"Di sana udah ada nomor gue, Ranti sama Bokap loe. Gue nggak nerima loe nyimpen nomor lain." sambung Kafka.


"Bukannya ini hp Yas." maksudnya apapun terserah Yashinta. Ia yang paling berhak atas barang mikiknya.


Seketika air muka Kafka tampak berbeda. "Loe mau nyimpen nomor hp Gibran?" tanyanya dengan sarkas. "Enggak masalah, kalo loe emang pengen hubungan gue sama kakak gue berantakan."


"Kafka ngancem Yas?"


"Loe pernah ngeliat gue ngebarin loe dideketin cowok?"


Yashinta diam. Kafka benar, selama ini dia memang tidak pernah membiarkan Yashinta dekat dengan cowok manapun bahkan Sean yang notabenenya adalah sahabat baiknya. Sepertinya aturan itupun berlaku bagi Gibran.


Di jam pulang sekolah, Yashinta mendapat kabar dari anak yang satu kelas dengan Saras jika gadis itu akan sedikit telat karena piket kelas. Membuat Yashinta menunggu di halte selagi sopir pribadinya juga belum tiba. Ranti seperti biasa sudah berlalu lebih dulu karena memiliki suatu pkerjaan.


Yashinta hanya menatap sepatunya, cuaca mendung dan hujan perlahan jatuh membasahi bumi. Membuat gadis itu mendadak merasa sepi, padahal ia ditengah keramaian. Saras belum menampakan batang hidungnya dan sopir pribadinya juga belum tiba. Membuat gadis itu menunggu sedikit lebih lama.


Ketika sebuah mobil putih berhenti dan sang pemilik mobil menurunkan kaca jendela kemudian menampilkan wajahnya yang tampan dengan senyuman, Yashinta nyaris akan membalas senyuman itu. Namun apa yang tadi Kafka katakan cukup mengusuk pikirannya.


"Jauhin Gibran kalo loe emang mau hubungan gue sama dia baik-baik aja."


"Jauhin Gibran kalo loe emang mau hubungan kita baik-baik aja."


"Yashinta." gadis itu menoleh ke sumber suara, melihat Saras yang susah berada di dalam mobil. Tak lama sopir Yashinta turun dan membentang payung, menjemput Yashinta ke halte.


"Ayo Non, cepat pulang. Di sini dingin." ajaknya, Yashinta mengangguk. Berlalu dari sana bahkan sebelum membalas senyuman Gibran. Bahkan sebelum menyapa pria itu. Atau mungkin, Yashinta tidak akan lagi menyapanya.


"Selamat tinggal Mas Gibran." gadis itu berbisik pelan ketika sopirnya sudah membukakan pintu mobil.


TBC


Kalo aku up dua eps sehari, berarti aku senggang.


Kalau aku up satu bab artinya aku cuma mampu ngetik satu bab dalam sehari.


Kalo aku enggak up berarti nggak ada waktu buat ngetik cerita.


Mohon pengertiannya readerskuuu❤❤❤❤

__ADS_1


Terimakasih.


__ADS_2