
"Biarin gue ngelakuin apapun yang gue mau!"
"Termasuk Yas harus biarin aja kalau Kafka deket-deket sama Saras?" tanya gadis itu yang membuat Kafka menatapnya tak terbaca.
"Kafka ada acara sama Saras, 'kan?"
"Mau kemana Kafka?"
"Kalian saling suka, yah?" gadis itu berkata beruntun.
"Kafka selama ini nganggap Yas apaan, sih Kafka?"
Kafka mendesah, ia melangkah menghampiri Yashinta, namun gadis itu bergerak mundur melihat tatapan Kafka. Tapi nihil saat di belakangnya adalah loker dan punggungnya terbentur, tak bisa kemana-mana lagi, membuat Kafka dengan mudah menyudutkannya dengan satu tangan yang ia luruskan di samping kepala Yashinta, sementara wajahnya mendekati wajah gadis itu.
Membuat debaran aneh di hati Yashinta kian membuncah. Terlebih, saat Kafka berkata tepat di wajahnya. "Loe pacar gue Yashinta. Tapi bukan berarti loe bebas atur-atur kehidupan gue!"
***
Gibran hanya mengangkat alis saat ia kedatangan tamu di jam makan siang kantor. Satu sisi ia senang kawan-kawannya datang, namun di sisi lain sepertinya Gibran merasa tidak perlu bertemu dengan mereka.
"Yang lain udah nikah, tunangan, loe kapan Bran?"
Gibran mendesah. Bagian inilah, ia sangat tidak suka disinggung mengenai hal-hal tersebut. Wanita dan urusan rumah tangga, kawan-kawannya tampak sangat senang mendesaknya agar ia segera memiliki pasangan. Seperti itulah Bayu dan Leon.
Bayu, pria yang tadi berkomentar adalah orang yang sudah berteman dengan Gibran sejak bangku Sekolah Menengah Pertama. Dia sudah bertunangan dan bulan depan akan menggelar pernikahan di pulau dewata. Sama seperti Gibran, pria itu juga mengelola perusahaan milik keluarga.
Sementara Leon, dia masih melajang. Namun sudah memiliki pacar dan kabarnya sebentar lagi akan bertunangan. Entahlah. Gibran yang disibukan oleh pekerjaan memang seringkali tertinggal kabar perkembangan kawan-kawannya. Sementara kawan seangkatan mereka memang sudah banyak yang menikah.
"Betah banget sendiri." Leon menimpali sebelum Gibran menanggapi komentar Bayu sebelumnya.
"Kerjaan nggak akan ada habisnya bro." sambungnya, lantas menyesap coffee yang beberapa saat lalu office boy suguhkan.
"Loe bukan misogami, 'kan Bran?" Bayu bertanya dengan mata yang mbulat. Raut wajahnya penuh selidik menatap Gibran. Pria yang menyandarkan punggung ke belakang seraya menyangga dagu itu mendelik kesal.
"Gue bukan misogami. Gue juga pengen nikah, berkeluarga tapi nggak sekarang." Gibran menyahut dengan malas. Leon dan Bayu hanya saling bertukar pandang dan tertawa melihat reaksi temannya tersebut.
"Nah, jadi gini Bran. Karena kita berdua ini adalah temen loe yang baik," sahut Bayu, menatap Leon dan meminta pria itu untuk meneruskan kalimatnya.
"Kita udah siapin calon buat loe!"
"Kita juga udah siapin kencan buat pasangan yang nanti loe pilih!"
"Ini kandidatnya!" Bayu melempar beberapa lembar foto di atas meja. Gibran tak bereaksi, tampak tidak berniat sama sekali dengan inisiatif kedua sahabatnya. Ia sama sekali tidak tertarik.
__ADS_1
Wajah Leon yang sumringah perlahan berubah flat melihat Gibran tanpa minat.
"Bran–"
"Kalian emang nggak sibuk, yah?" tanya Gibran dengan malas.
"Sana balik! Gue harus kerja." usirnya pada dua orang itu seraya hendak beranjak. Tapi tidak semudah itu saat Bayu menahan tangannya dan membuat pria itu terpaksa kembali duduk.
"Seenggaknya loe liat dulu lah, Bran. Hargain usaha kita berdua."
"Gue nggak pernah minta!" Gibran menyahut telak. Membuat Bayu dan Leon bertukar pandang kebingungan. Sekaligus bingung cara menghadapi Gibran.
"Iya, gue tau. Tapi coba loe liat dulu, mana tau ada yang cocok." Leon berusaha membujuk. Gibran berdecak, terpaksa menuruti keinginan dua sahabatnya. Berharap hal-hal menyebalkan yang Bayu dan Leon ciptakan segera berakhir.
***
Sepulang sekolah, Kafka benar-benar pulang bersama dengan Saras, Yashinta yang saat itu menunggu jemputannya di pintu gerbang hanya menatap kepergian mobil pemuda itu dengan perasaan pilu.
"Non Yas belum pulang?" tanya Satpam yang sejak tadi memang memerhatikan gadis itu, sementara mobil Kafka sudah berlalu keluar dari gerbang, meninggalkan Yashinta di sana.
"Belum, Pak."
Pak Satpam mengangangguk-anggukan kepala. "Waktu itu Mas Kafka dateng malem-malem." kemudian Pak Satpam membuka percakapan. Yashinta hanya memerhatikan, mungkin insiden saat Kafka mencari tupperware kesayangan Yashinta, begitu pikir gadis itu.
"Kirain teh nyari apaan, ternyata nyari tupperware katanya."
"Terus ketemu Pak?" Yashinta bertanya bukan tidak tahu. Hanya saja ia ingin mendengar dari apa yang satpam sekolahnya ceritakan berdasarkan dari apa yang dilihatnya.
"Ketemu Non, Mas Kafka kelihatan seneng banget."
"Pasti tupperware kesayangannya."
"Itu tupperware kesayangan Yas." beritahu gadis itu yang membuat satpam terheran-heran.
"Berarti Mas Kafka sayang banget atuh, yah, sama Non Yas."
"Kenapa bisa gitu Pak?" Yashinta tidak mengerti.
"Kalau Mas Kafka nggak sayang, mana mau dia ngubek-ngubek sampah buat cari tupperware kesayangannya Non Yas."
Yashinta sempat terdiam, sebelum kemudian. "Oh, gitu, yah Pak. Tapi, 'kan Kafka yang ilangin tupperwarenya Yas. Jadi dia harus tanggung jawab buat nyari sampai ketemu." tutur gadis itu, kali ini membuat Pak Satpam tampak bingung.
Sementara Yashinta mengalihkan pandangannya ke arah lain, tampak sudah ingin mengakhiri topik mengenai Kafka.
__ADS_1
"Non Yas nggak pulang bareng sama Mas Kafka?" tanya Satpam kemudian.
"Enggak Pak, Kafkanya ada urusan. Yas dijemput sopir," gadis itu menyahut lesu.
"Itu sopir Yas udah dateng," sambungnya ketika sebuah mobil putih melaju perlahan ketika sudah di depan gerbang.
"Yas duluan yah Pak Satpam." pamitnya seraya berjalan dengan lesu menuju mobil. Cuaca sangat panas siang itu, sama panasnya dengan perasaan Yashinta melihat sang pacar bersama dengan gadis lain.
"Pak, nanti anterin Yas ke mall, yah." pinta Yashinta pada sopirnya.
"Mau ngapain Non Yas?" sang sopir bertanya seraya menoleh ke belakang.
"Yas cuma mau jalan-jalan aja. Tapi kita pulang dulu, nanti dimarahin Papa kalau belum ganti baju." sahutnya, membuat sang sopir menganggukan kepala.
***
Kafka membayangkan lagi apa yang terjadi antara dirinya dengan Yashinta di jam istirahat siang tadi. Satu sisi, ia seringkali merasa bersalah pada Yashinta setelah memarahi gadis itu, namun di sisi lain, ia seringkali tidak bisa menahan amarahnya di hadapan Yashinta yang sangat senang menguji kesabarannya.
Entahlah Yashinta sadar atau tidak, tapi apa yang gadis itu katakan seringkali memprovokasi Kafka. Membuatnya ingin meluapkan amarah sekalipun Yashinta tidak membuat salah.
"Ka, loe ngelamun?"
"Loe dari tadi dengerin gue nggak, sih." Saras terlihat kesal begitu mendapati Kafka ternyata tidak mendengarkannya, padahal ia sudah berbicara panjang lebar pada pemuda itu.
"Hah, loe ngomong apa?" tanya Kafka, risih karena gadis itu pasti akan marah padanya.
"Sorry, gue tadi nggak fokus." sambungnya merasa bersalah.
Saras tak menyahut, terus melangkah menghindari Kafka. Membuat pria itu mendesah karena setelah ini harus membujuk Saras.
Keduanya sedang berada di pusat perbelanjaan terbesar ibu kota. Saras meminta pria itu untuk menemaninya menonton film karena film bagus sedang tayang hari ini. Namun waktunya masih dua jam sehingga Saras dengan Kafka memilih untuk berjalan-jalan lebih dulu.
"Saras, Sorry." Kafka meraih tangan gadis itu, ia menatap Sarad dengan tatapan sayu berharap gadis itu akan memaafkannya dengan mudah. Sepertinya Kafka berhasil, karena Saras terlihat menghela napas dan mengangguk.
"Okay, sebagai tanda permintaan maaf gue. Gue bakal dapetin boneka yang loe mau. Loe bebas pilih." sahutnya tepat ketika mereka berada di dekat mesin penjapit boneka.
"Pede banget, kaya bisa aja." ledek Saras yang membuat Kafka tertawa.
"Bisa, loe liat aja." sahut pria itu seraya melangkah menuju mesin pencapit boneka. Saras hanya diam di tempatnya, ia menatap punggung Kafka. Bahkan, pria itu terlihat tampan meski hanya dilihat dari belakang.
Namun sampai detik ini, Saras masih belum berniat menerima kehadiran Kafka lebih dari teman. Mengingat betapa berantakan hidupnya di atas kehidupan pria itu yang sangat apik.
TBC
__ADS_1