Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)

Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)
Bagaimana Hari Ini?


__ADS_3

Yashinta merentangakan tangannya, menikmati semilir angin yang menerpa tubuhnya ketika ia berdiri di ujung gedung, ia menumpukan tangan pada pembatas gedung, sedangkan Kafka duduk di sana.


"Kafka nggak takut jatuh?" tanyanya dengan mata menyipit ketika mendongak pada Kafka. Kafka hanya menoleh, kemudian menyahut singkat. "Enggak."


"Loe mau naik?" tanya Kafka kemudian, Yashinta diam. Keberaniannya sangat kecil untuk melakukan apa yang sang pacar lakukan sekalipun ada Kafka di sampingnya.


"Loe takut jatoh?" Kafka bagai dapat menebak raut wajah Yashinta, gadis itu menganggukan kepala.


"Ada gue. Gue nggak akan biarin loe jatoh." Kafka mengulurkan tangannya, Yashinta menggelengkan kepala, tapi tetap meraih tangan Kafka. "Yas pegang tangan Kafka aja, tapi nggak mau naik. Yas phobia ketinggian, Kafka."


"Aaa––"


Gadis itu hanya memejamkan mata ketika ia merasa dirinya terbang ke udara. Bebetapa detik selanjutnya saat ia membuka mata, ia sudah berdiri dengan Kafka pada pembatas gedung, dengan spontan Yashinta segera memeluk tangan Kafka. "Kafka, takut." ia menatap Kafka dengan raut wajah tidak berdaya, kemudian memejamkan matanya erat-erat.


Kafka perlahan melepas tangan gadis itu meski pada akhirnya sia-sia karena Yashinta berpegangan sangat erat padanya. "Loe rileks, berdiri di sini nggak serem." sahut Kafka dengan santainya, tapi Yashinta tidak mendengarkan meski pada akhirnya, perlahan ia menenangkan diri dan melihat jalanan di bawahnya. Melihat lalu lalang kendaraan di atas ketinggian.


Andai satu kakinya tersandung pada kalinya yang lain, maka tamat sudah riwayatnya. Yashinta tersenyum.


Kafka benar, tidak buruk ternyata. Selama ini, saat berada di rooftop sekolah, Yashinta hanya melihat jalanan dari area dalam pembatas. Ia harus berjingjit karena pembatas yang cukup tinggi.


"Indah banget Kafka." decaknya, tampak tak lagi takut meski pegangan pada tangan Kafka masih sangat erat.


"Apalagi kalau malem."


"Kafka pernah kesini malem-malem?"


Kafka menganggukan kepala saat Yashinta menatapnya. "Pas acara sekolah."


"Nanti kapan-kapan, ajak Yas malem-malem kesini, yah." pintanya. Kafka tak merespond, membuat Yashinta mengguncang tangannya.


"Yah, Kafka." seperti biasa gadis itu membujuk dengan sedikit memaksa.


"Gue nggak janji."


"Ih, Kafka, yah."


"Iya, iya, nanti. Kapan-kapan."


Beberapa waktu selanjutnya, dua orang itu duduk pada pembatas gedung, kali ini Yashinta tampak menjaga jarak dari Kafka. Ia tampak tidak takut lagi berada di sana. Yashinta dan Kafka menikmati semilir angin, menghabiskan waktu istirahat dan menunggu bel masuk berbunyi.


****


"Ranti, Ranti."


Yashinta berlari mengejar Ranti yang berlalu begitu saja setelah bel pulang dibunyikan. Ranti menoleh. "Ada apa, Yas?" tanyanya. Yashinta mengangkat tangan di hadapam Ranti. Lebih dulu mengatur napasnya yang berantakan.


"Ranti buru-buru amat. Dari tadi Yas panggil-panggil nggak nyaut." sahut Yashinta begitu napasnya mulai normal.


"Oh, i–iya, Yas. Gue emang buru-buru." Ranti menyahut kaku, membuat Yashinta mengernyitkan kening. Ranti terlihat sangat berbeda dua hari ini. Bermula setelah mereka pulang dari restoran, begitulah yang Yashinta rasakan.


"Kenapa?" tanya Ranti ketika melihat raut wajah Yashinta yang tampak murung.


"Ranti kapan nginep lagi di rumah Yas?" Yashinta balik bertanya.


"Kapan-kapan, deh, nanti."


"Perasaan Yas aja, atau emang bener, sih, Ranti beda." komentarnya mengutarakan perasaannya, Ranti mengerutkan kening.


"Beda kenapa? Gue gini kali, Yas." gadis itu tertawa, tampak jelas jika dipaksakan. Ia kemudian menepuk bahu Yashinta dan bertanya. "Pas jam istirahat loe kemana?" memilih untuk mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Yas sama Kafka, di rooftop." Yashinta menjawab pasrah, tidak ingin berbohong pada Ranti, sementara Ranti mendesah mendengar jawabannya.


"Loe masih datang ke rooftop?"


"Kalau ada guru yang liat terus loe dihukum, gimana?" Ranti khawatir, kali ini wajahnya tampak serius. Tidak ada tindak nepotisme di SMA Firgo sekalipun Yashinta adalah anak pemilik yayasan sekolah.


"Yas baik-baik aja Ranti." Yashinta menenangkan. Ranti diam, mengatur napasnya kemudian tersenyum. "Gue banyak kerjaan di resto, gue harus buru-buru. Gue balik duluan, yah, bye."


"Les matematika Ranti? Ini jadwal Les, 'kan?"


"Gue berenti."


"Loh?"


"Enggak ada waktu, Yas. Loe tenang aja, gue tetep belajar di rumah kok, gue nggak akan ketinggalan materi." ujarnya yang kemudian berlalu dengan cepat dari hadapan Yashinta sebelum gadis itu kembali berbicara.


Bagi Ranti, beberapa hari menjauh dari Yashinta tidak akan menjadi masalah. Ia sedang menenangkan diri dan meyakinkan dirinya sendiri jika ia tidak akan tersakiti oleh kedekatan antara Yashinta dan Gibran.


Ranti tahu Yashinta memiliki Kafka, ia bahkan tau dengan baik bagaimana sahabatnya itu sangat mencintai sang pacar. Namun apa yang ia katakan pada Yashinta ketika menginap di rumah gadis itu usai Yashinta bercerita tentang ciumannya dengan Gubran terus terngiang-ngiang di kepala Ranti.


"Yashinta, secinta apapun loe sama Kafka. Bukan berarti loe nggak bisa jatuh cinta sama orang lain lagi."


"Loe masih muda. Loe bebas jatuh cinta berkali-kali sama siapapun orangnya."


****


Yashinta meraih ponsel begitu usai mandi dan merapikan diri. Waktu menunjukan pukul delapan malam saat pintu kamarnya diketuk disusul suara Bi Rasti yang memanggil namanya.


Niat gadis itu untuk mengirimkan pesan pada sang pacar agar menelponnya urung, ia memilih menyimpan ponsel dan membuka pintu kamar.


"Ada apa Bi?" tanyanya, ia sempat mengernyitkan dahi menatap raut wajah Bi Rasti yang tampak panik.


"Di depan ada temennya Non Yas,"


"Siapa Bi? Ranti?"


"Bukan Non, nggak tahu. Perempuan, katanya temen Non Yas." ujar Bi Rasti tampak ragu-ragu.


Tidak ingin mati penasaran. Yashinta segera berlalu dari sana, setengah berlari menuruni anak tangga dan membuat Bi Rasti meneriaki namanya.


Yashinta berjalan menuju pintu keluar dan membukanya, ia berdiri di teras rumah dan menemukan seorang gadis dengan hoodie kebesaran yang bahkan tak dapat menampilkan wajah berdiri di depan gerbang rumah.


Sementara Bi Rasti yang mengikuti langkah kaki anak majikannya hanya diam mematung di teras dengan wajah takut. Orang yang datang bertamu adalah orang misterius, bahkan satpam rumah tidak membiarkannya masuk karena takut orang itu memiliki niat buruk.


"Ini–gue Yashinta." ujar gadis itu saat Yashinta menatapnya penuh heran. Yashinta membungkam mulutnya ketika gadis di hadapannya menurunkan hoodie dari kepalanya.


Dia adalah Saras, dengan kening yang tampak berdarah dan membuat Yashinta terkejut. "Gue mau datang ke rumah Kafka. Tapi gue inget kalau loe udah pernah larang gue ke sana. Jadi gue dateng ke sini." gadis itu berbicara dengan susah payah.


"Pak, buka gerbangnya!" intruksinya pada satpam rumah. "Baik, Non."


Yashinta segera keluar gerbang begitu gerbangnya terbuka, ia menyentuh kedua lengan Saras dan menilik tubuh gadis itu, memastikan jika keadaan Saras baik-baik saja.


"Saras, ini kenapa?"


"Gue–gue nabrak bahu jalan."


Yashinta mengerutkan kening. "Gue kabur dari rumah. Gue nggak tahan, Yashinta. Bokap gue–ngelarang gue ketemu saka nyokap gue–sementara setiap hari, dia bawa pelacur ke rumah. Gue muak sama semuanya."


Saras menangis histeris setelahnya, tidak ada yang bisa Yashinta lakukan kecuali hanya memeluk Saras, meraih gadis itu dalam dekapannya dan memgusap punggung Saras penuh kelembutan.

__ADS_1


Mata Yashinta ikut berkaca-kaca, ia merasa sesak, ikut merasakan sakit yang Saras rasa.


****


Kafka segera datang begitu Yashinta menghubunginya jika Saras berada di rumahnya setelah mengalami kecelakaan. Saras juga sudah mendapat pengobatan, Bi Rasti mengobati lukanya karena ia menolak saat Yashinta akan memanggilkan dokter.


Yashinta dapat melihat dengan jelas bagaimana raut khawatir di wajah Kafka begitu melihat Saras, sekaligus ketenangan di wajahnya saat mendapati Saras dalam keadaan baik-baik saja.


"Loe bener-bener nggak papa, 'kan?" Kafka memastikan sekali lagi jika tidak ada luka yang gadis itu sembunyikan.


"Gue baik-baik aja."


"Selama dua hari nggak masuk sekolah loe nggak papa, 'kan?"


"Gue nggak papa, Kafka."


Yashinta yang bersandar pada tembok dekat pintu kamarnya hanya menatap interaksi dua orang tersebut. Ia memang cemburu, namun begitu untuk kali ini ia memberi pemahaman pada Kafka, terutama Saras.


"Kafka mau minum apa, Yas bikinin " tawarnya, namun Kafka tampak tak mendengar dan masih sibuk memerhatikan Saras. Yashinta tidak memiliki pilihan lain kecuali hanya pergi dari sana dan berinisiatif sendiri mengenai minuman apa yang akan dibawanya untuk Kafka.


Gadis itu berlalu, bersamaan dengan denting di ponselnya yang menandakan pesan masuk. Ia hanya tersenyum samar ketika membaca jika pengirim pesan adalah Gibran. Pria itu mengiriminya foto, sebuah buku dengan sampul berwarna bubblegum yang tampak cantik.


Malikat


Saya ketemu klien tadi siang di Mall. Saya sempat mampir di Gramed dan lihat ada buku baru. Saya sengaja beli buat kamu.


Gadis itu berdecih, tapi tak ayal senyum manis terbit juga di bibirnya. Tak lama, ia segera mengetikan balasan.


Sengaja beliin buku buat Yas biar bisa ketemu, ya?


Malaikat


Terlalu mudah ditebak, yah?


Iya. Payah.


Malaikat


Bagaimana hari ini? Apa terjadi hal baik.


"Formal banget, kaya artikel." decaknya.


Yashinta menghentikan langkahnya ketika ia sudah tiba di dapur. Ia diam setelah membaca pesan dari Gibran. Gibran adalah orang yang seringkali bertanya hal semacam itu padanya. Sederhana, tapi anehnya selalu membuat Yashinta merasa berharga.


Seolah setiap hari baginya adalah penting, harus ia ingat semua dengan jelas karena nanti akan ada yang bertanya.


Gadis itu mengingat lagi sepitur kejadian hari ini, kebersamaannya dengan Kafka di rooftop sekolah, sikap Ranti yang berbeda, dan kedatangan Saras ke rumahnya dalam keadaan terluka.


Yashinta mengetikan balasan dengan senyum di bibirnya.


Banyak hal terjadi hari ini Mas Gibran. Terlalu panjang buat Yas ceritain.


Malaikat


Kalau begitu, kamu bisa cerita saat kita bertemu nanti.


Malaikat


Ayo segera bertemu.

__ADS_1


TBC


__ADS_2