Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)

Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)
Asal Tebak


__ADS_3

Gibran duduk di sofa putih di ruang tamu setelah gadis itu mempersilakannya, sementara ia sendiri pamit ke arah dapur untuk membuatkannya minum.


"Ini, minum. Silakan," ucap gadis itu dengan senyum manisnya setelah muncul dari arah dapur.


Tidak ada yang membahagiakan saat sekarang selain bebas dari ancaman berbagai marabahaya yang mengintainya saat ada di jalanan tadi. Begitulah yang Yashinta rasakan.


"Terimakasih," Gibran meminum minuman yang disuguhkan gadis itu. Selain menghargai tuan rumah, ia juga kebetulan sedang sangat haus.


"Oh, yah. Kita belum berkenalan."


Yashinta masih berdiri di sebrang meja bulat di hadapan Gibran. Ia mulai berjalan kesana kemari sekitar dua atau tiga langkah untuk mulai memperkenalkan diri. Persis guru TK yang akan mengajak berkenalan pada anak muridnya.


"Kenalin, Yashinta Wiraguna, panggil aja Yashinta. Umur tujuh belas tahun. Masih sekolah, kelas tiga SMA."


"Yakin kelas tiga SMA?" Gibran merasa ragu melihat gadis yang begitu kekanak-kanakan itu.


"Bukan anak SMP?"


"Ih, bukan. Ini liat aja seragamnya." sahutnya seraya menunjukan seragamnya yang kucel. Gibran akhirnya hanya menganggukkan kepala dan membiarkan gadis itu kembali melanjutkan sesi perkenalannya.


"Hoby baca buku, nonton drama korea, sama nonton MV-nya EXO."


"Yas anak tunggal, Papa warkaholic, sedangkan Mama udah meninggal saat Yas masih kecil."


Gibran mengernyit mendengar penuturan gadis itu yang sedang memperkenalkan diri. Gibran merasa apa yang dikatakannya hanya sekedar keisengan semata, tapi wajah gadis itu terlihat begitu serius. Gibran tidak bisa menebak apakah gadis itu sedang serius atau hanya bermain-main saja.


"Mau tau ukuran sepatu Yas, nggak?"


"Biar apa?"


"Siapa tau nanti kita akrab dan Om mau ngasih hadiah." gadis itu semringah, sementara Gibran kembali terheran-heran.


"Yas selalu tidur dibawah jam sepuluh, karena istirahat itu penting, bangunnya jam setengah enam, biar nggak kesiangan. Yas suka air putih, biar sehat. Yas juga—"


"Apa harus sedetail itu?" sela Gibran dengan cepat, ia pusing mendengar Yashinta banyak berbicara.


"Haruslah, siapa tau nanti kita jadi deket."


Gibran mendesah, ia tidak pernah menyangka jika akan di pertemukan dengan gadis macam ini. Apa sebaiknya beberapa waktu yang lalu ia tidak perlu menolong Yashinta? Entahlah, tapi Gibran merasa sedikit menyesal.


"Mana ponselnya, save nomor Yas. Siapa tau nanti perlu bantuan." sambungnya seraya menengadahkan tangan ke arah Gibran.


"Ponsel saya habis batrai."


Kini, gilliran Yashinta yang mendesah, ia berjalan ke arah sofa di mana tadi meletakan tasnya di sana, mengambil pena dan mendekat pada Gibran.


"Sini tangannya!"


"Buat apa?"

__ADS_1


"Sini aja!"


Dengan sedikit ogah-ogahan, Gibran menyodorkan tangannya. Cekatan, Yashinta menuliskan nomor ponselnya di telapak tangan pria itu.


Gibran ingin tertawa, tangannya terasa geli


dengan gerakan pena dari Yashinta. Tapi ia malah menatap wajah gadis itu. Aneh, ia tidak mengerti pada dirinya sendiri yang mau membuang-buang waktunya untuk hal yang tidak penting ini dengan gadis yang baru saja dikenalnya.


Yashinta.


"Udah. Itu nomornya, Yas. Jangan lupa Om save, ya."


"Om?" kali ini Gibran protes dengan panggilan yang sejak tadi mengganggunya karena tidak enak didengar.


"Iya, Om." Yashinta mengangguk dengan yakin tanpa tau jika sejak tadi hal itu membuat seseorang merasa tidak nyaman.


"Oke. Biar Yas tebak!"


"Namanya siapa?" tanyanya dengan serius.


"Gibran!"


Yashinta mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia melangkah dan melakukan gerakan mondar-mandirnya seperti saat tadi memperkenalkan diri.


"Gibran. Pengusaha muda," Yashinta mengawali tebakannya. Ia menilai penampilan Gibran yang memang terlihat cocok seperti pengusaha muda.


"Umur tiga puluh lima tahun, sudah punya dua anak, dan satu istri. Pekerja keras, dan sayang keluarga. Right?"


"Iya!"


"Yes!" tangan gadis itu mengepal di udara, senang karena tebakannya tepat sasaran. padahal ia hanya asal menebak saja.


"Saya pengusaha muda, pekerja keras dan sayang keluarga. Tapi tidak memiliki istri, atau anak, satu apalagi dua!"


"Satu lagi, saya baru dua puluh enam tahun. Bukan tiga puluh lima tahun!" tegas Gibran dengan penuh wibawa.


"Masa?" gadis itu seperti tak percaya, menatap Gibran di hadapannya.


Gibran hanya mengangguk, mengabaikan tatapan penuh selidik dari gadis di hadapannya. Sementara Yashinta juga hanya mengangguk, sampai ia mendengar deru mesin mobil di pelataran rumah, wajahnya seketika berbinar.


"Papah Yas. Ayo, nanti Yas kenalin." gadis itu tanpa sungkan menarik tangan Gibran, membuat pria yang masih berbalut pakaian formal itu hanya berjalan pasrah mengikutinya.


"Papa!" Yashinta menghampiri sang papa yang baru saja keluar dari mobil.


"Sayang."


Yashinta berhambur pada pelukan Andri, sang papa mengusap puncak kepalanya dengan penuh kasih sayang.


"Kenapa masih pakai seragam, kamu baru pulang?" tanyanya menyadari penampilan Yashinta.

__ADS_1


"Ini, keningnya kenapa?" tanya Andri, cemas.


"Nggak papa, pokoknya ceritanya panjang. Yas mau kenalin Papa sama seseorang, ayo."


Yashinta menarik Andri ke teras, tepat di mana ada Gibran berdiri di sana.


"Kenalin, Pa. Namanya Gibran, usianya tiga puluh lima tahun, pengusaha muda, pekerja keras, sayang keluarga, dan udah punya istri sama anak." sahutnya dengan riang, memperkenalkan Gibran sesuai terkaannya sejak awal sekalipun Gibran sudah meralatnya. Kekeh meski Gibran sudah mengatakan kebenarannya.


Gibran hanya diam dan pasrah, kemudian ia justru berhambur memeluk, setelah sebelumnya sempat menyalami Andri. Sementara Yashinta hanya memperhatikan keduanya dengan mulut yang membentuk huruf O.


"Apa kabar Om?"


"Baik, Gibran. Kamu sendiri, apa kabar?"


"Baik, Om. Baik."


"Papa kenal?" Yashinta angkat bicara dengan terheran-heran.


"Yas. Gibran ini, anak rekannya Papa yang meneruskan perusahaan milik keluarganya setelah Papanya meninggal." jelas Andri sambil merangkul Gibran, dua orang itu terlihat begitu akrab.


"Wah, hebat dong." gadis itu berdecak senang, tersenyum pada Gibran penuh bangga.


"Oh, yah, satu lagi Yashinta. Gibran, dia ini masih sendiri. Belum menikah, apalagi punya anak."


"Dua lagi." sambung Andri dengan nada bercanda.


Yashinta tertawa mendengar teguran papanya, sementara Gibran menatap gadis itu penuh arti dengan menunjukkan aura penuh kemenangan.


"Oh, ya. Papa penasaran, kenapa kalian bisa bersama-sama?"


"Ceritanya panjang, Yas ceritain di dalem. Ayo," Yashinta menggandeng sang papa untuk masuk ke dalam rumah, keduanya berjalan dan Gibran menyusul di belakang setelah sebelumnya mendapat juluran lidah dari Yashinta.


***


Sementara di tempat lain. Di tempat ramai yang penuh dengan hingar bingar keindahan dunia malam, Kafka yang sudah lebih dari satu jam duduk hanya diam dengan segelas red wine yang sejak tadi tidak tersentuh oleh bibirnya.


Suara musik dj yang keras dan menggema mengisi seluruh ruangan bahkan seolah tak tertangkap oleh indera pendengarannya.


Sean, Aris dan beberapa kawannya yang lain sejak tadi hanya saling lempar pandangan saja melihat sikap aneh Kafka hari ini. Tidak biasanya pemuda itu bersikap seperti itu.


"Ada apaan, sih, Ka?"


Kafka menoleh pada dua kawannya, ia meletakan gelasnya di atas meja. Ia sama sekali tidak berselera. Sementara tatapan Aris dan Sean penuh tanya mengarah padanya. Mau tidak mau, Kafka menjelaskannya. Bagaimana brengsek dirinya menurunkan dan meninggalkan Yashinta begitu saja di pinggir jalan beberapa waktu yang lalu.


Sean hanya tertawa setelah Kafka selesai berbicara. Ia tidak tau ingin berkata apa, inginnya mengumpat kasar dan menyumpahi Kafka, tapi atas dasar apa? Ia tidak memiliki hak apa-apa. Toh percuma saja memberi tahu Kafka.


Telinganya hanya sekedar pajangan, tidak berfungsi dengan baik. Hatinya hanya pelengkap anggota tubuh, tidak memiliki perasaan.


TBC

__ADS_1


__ADS_2