Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)

Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)
Satu Permintaan


__ADS_3

"Yas cape Kafka, kalau emang Kafka nggak sayang sama Yas Kafka boleh mutusin Yas."


"Yas rasa, kalau sikap Kafka kaya gini terus, pacaran atau nggak pacaran sama Kafka rasanya akan sama aja."


"Selama ini, cuma Yas aja yang cinta sama Kafka. Tapi kayaknya Kafka enggak, Yas nggak pernah ngerasain itu."


"Seandainya Yas nggak sama Saras, apa Kafka tetep mau ikut nyelametin Yas?"


"Yas nggak papa kalo putus sama Kafka."


"Loe tega ngomong kaya gitu ke gue, Yashinta?"


"Segitu nggak berartinya gue buat loe sampe seenaknya loe mau putus?" sambung Kafka, Yashinta hanya menatapnya dengan mata berair.


Kafka beranjak dari duduknya, menyambar tas yang semula ia sandarkan pada kursi. "Gue nggak mau putus. Loe nggak bisa minta putus seenaknya dam loe juga nggak bisa mutusin gue."


Kafka mengacak rambutnya kesal ketika mengingat lagi perdebatannya dengan Yashinta. Apa gadis itu sudah terlalu lelah meladeninya?


Kafka berdesah, menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi panjang taman Rumah Sakit. Ia memutuskan pergi dari ruangan Yashinta dan berniat pulang, namun ia tidak menyangka jika tuntutan Yashinta yang sudah lapang dada untuk putus darinya begitu mengganggu.


"Seandainya Yas nggak sama Saras, apa Kafka tetep mau ikut nyelametin Yas?"


Kafka berdecih mengingat kalimat singkat penuh belati tajam itu, ia yakin seratus persen jikapun Yashinta tidak bersama Saras, ia tetap akan menolong gadis itu.


Entah karena Andri yang maju paling depan demi putri kesayangannya–dan ia akan malu sebagai pacar karena tidak ikut berkontribusi, atau karen perasaan Kafka sendiri yang menggerakan hatinya untuk ikut mencari.


Karena bagaimanapun, ia tidak bisa diam saja membiarkan Yashinta menderita mengingat sebagaimana kebaikan yang sudah gadis itu lakukan untuknya.


Kali ini, Kafka mengacak rambutnyaa frustrasi, hingga sebuah minuman kaleng yang tampak dingin berada di hadapannya, ia menoleh dan mendapati Saras. Saras mengarahkan dagu, meminta Kafka agar menerima minuman yang ia berikan.


Setelah Kafka menerimanya, Saras segera duduk di samping pria itu. Menikmati minuman dingin itu di cuaca yang cukup panas.


"Gimana keadaan nyokap?" tanya Kafka, menatap gadis itu dan membuat Saras menoleh hingga tatapan mereka bertemu.


"Udah lumayan buat luka fisik."


"Perlu ke psikolog?" tanya Kafka. Saras mengangguk. "Harus. Gue nggak mau Mama trauma. Dia harus sembuh fisik dan mentalnya."


Kafka mengangguk-anggukan kepala, mengerti, kemudian menatap gadis itu. "Loe nggak butuh psikolog?" tanya Kafka kemudian, mengingat jika Saras pasti juga membutuhkannya.


Saras menggelengkan kepala. "Loe yakin? Gue nggak mau loe kenapa-napa. Jangan pendem masalah loe sendirian, okay? Loe harus cerita sama gue."


Saras sempat hanya tersenyum, kemudian menganggukan kepala dan kembali menikmati minumannya. Pandangan keduanya lurus ke depan, melihat lalu-lalang pasien Rumah Sakit yang sedang berjalan-jalan.


Tentu saja, karena kamar rawat pasti sangat membosankan bagi mereka terutama untuk yang sudah lama tinggal.


Saras menoleh pada Kafka. Kemudian menatap pria itu, mengingat lagi apa yang semalam terjadi. Mengingat dengan jelas bagaimana Kafka tampak mengkhawatirkan Yashinta dan spontan berniat menolong gadis itu lebih dulu daripada dirinya.


Saras tahu, bagaimanapun Yashinta adalah gadis yang paling lama berhubungan dengan Kafka, rasanya mustahil jika Kafka tak memiliki perasaan apapun, setidaknya, rasa simpati pasti ia miliki.

__ADS_1


****


Yashinta perlahan membuka matanya, ia mengerjap sesaat setelah terbangun dan menyadari jika ia masih berada di ruangan Gibran. Ia melihat pergelangan tangannya yang mungil dimama sebuah arloji yang semalam Andri bawakan terpasang di sana.


Ia mengangkat pandangannya, seketika matanya bertemu dengan Gibran yang menaikan alis karena gadis itu bergerak tiba-tiba.


"Euu," Yashinta mendadak gugup.


"Yas, Yas–"


"Kenapa Yas ada di ruangan Mas Gibran?" tanyanya spontan dengan polos, semula Gibran hanya mengerutkan kening, namun kemudian ia tertawa, tapi pada akhirnya meringis saat merasakan nyeri di dadanya.


Yashinta menekuk wajah, ia pasti tampak sangat bodoh di hadapan Gibran saat ini. Gadis itu menyesali pertanyaannya tadi.


"Mas Gibran seneng banget ngetawain Yas." kesalnya yang membuat senyum Gibran berubah tipis.


"Yas lama yah, tidur di sini?" tanyanya kemudian.


Sesaat, hening menyelimuti ruangan tersebut. Gibran mengingat lagi bagaimana gadis itu masuk, merapikan rambutnya, mengelus pipinya seraya mengucapkan terimakasih kemudian menangis dengan isakan memilukan. Sampai perlahan, isakan gadis itu tak lagi Gibran dengar hingga ia menyadari jika gadis itu tertidur.


Yashinta tidur lebih dari satu jam di ruangannya, saat suster masuk untuk memerika infusan, Gibran meminta mereka untuk tidak berisik karena takut gadis itu terbangun. Bahkan sang suster mengira jika gadis itu adalah pasangan pasien di ruang rawat nomor 21 tersebut.


Yashinta membulatkan mata. Ia tidak tahu menahu jika Gibran mendengar semua yang ia katakan. Kesal, gadis itu spontan memukul dada Gibran, membuat pria itu meringis kesakitan dan membuat Yashinta tersadar jika luka Gibran berada di sana.


"Mas Gibran, maaf, maaf. Yas lupa," ujarnya sembari mengusap dada Gibran tanpa sadar, hingga setelah beberapa saat, Yashinta menatap pria itu yang tengah menatapnya. Mendadak ia berubah kikuk. "Euu–" Yashinta kembali duduk di tempatnya.


"Mas Gibran seneng banget, sih, pura-pura tidur biar denger apa yang Yas omongin!" protesnya dengan bibir mengerucut.


"Yashinta,"


"Yashinta, liat saya."


Yashinta memaksakan diri beradu pandang dengan pria itu hingga tatapan mereka bertemu. "Liat saya, biar perasaan saya juga jadi lebih baik setelah ngeliat kamu." ujar Gibran, tampak serius yang justru membuat Yashinta mematung di tempatnya.


"Pe–perasaan Mas Gibran kenapa?"


"Berantakan."


Dan bimbang antara terus meneruskan perasaannya untuk gadis itu atau menyerah saja setelah melihat bagaimana Yashinta sangat mencintai Kafka.


"Kenapa?"


"Karena ...,"


"Karena?" kedua alis Yashinta bertaut.


"Karena perasaan kamu yang berantakan juga bikin perasaan saya ikut berantakan." ujarnya yang membuat gadis itu tersenyum, kemudian mendaratkan tangannya di puncak kepala Gibran.


"Maaf, yah. Gara-gara perasaan Yas yang berantakan perasaan Malaikatnya Yas juga ikut berantakan." unjarnya dengan nada manja yang justru sesaat membuat Gibran mematung di tempatnya menayap gadis itu, tapi detik selanjutnya ia terkekeh pelan.

__ADS_1


Nyaris mengutuki tindakan menggemaskan Yashinta yang membuat perasaannya kian berantakan. Dua orang itu tergelak setelahnya, karena bersama Gibran–Yashinta seolah menemui dunia baru, dimana hanya ada senyum dan tawa sebagaimana yang Gibran berikan padanya.


Adegan menyenangkan yang Gibran rasakan itu harus segera berakhir saat dua orang pria mengunjungi ruang rawatnya. Mereka adalah Leon dan Bayu.


"Loe nggak papa, kan Bran?" Leon langsung bertanya dengan heboh saat melihat Gibran yang berbaring di atas brankar. Sementara Yashinta hanya diam dan terlihat canggung, perlahan duduk di kursinya melihat interaksi Gibran dan juga teman-temannya. Semula Yashinta tidak tahu jika Gibran memiliki teman.


"Gue nggak papa." Gibran menyahut seraya mengibaskan tangan Leon yang hendak membelai wajahnya.


"Masalahnya kita bakalan kasian banget sama loe kalo loe mati muda, Bran. Jomblo seumur hidup, belum ngerasain indahnya cinta, udah meninggal aja." Bayu sama gilanya dan membuat Gibran mendesah, merasa malu pada Yashinta karena ocehan dua makhluk tidak diundang itu.


"Jangan salah, Bay. Gibran bilang dia udah ada calon." Leon menepuk bahu Bayu. Bayu mengerutkan kening dengan tatapan penuh tanya pada Leon dan Gibran. Sampai dua orang itu memyadari jika sebelumnya Gibran tidak sendirian di ruang rawatnya.


Tatapan dua orang itu mengarah pada Yashinta, gadis yang ditatap hanya mengerutkan kening. Gibran berdecak, melempar bantal ke arah dua orang itu. "Itu Bran?" Bayu menaikan alis, tidak bisa menjaga mulutnya. Membuat Gibran ingin menyumpahinya saat itu juga.


"Hay Dek, calonnya Gibran, saya Leon?" Leon menyapa tak kalah membuat Gibran ingin membunuhnya. Panggilan 'Dek' dari Leon tentunya berdasar, melihat bagaimana Yashinta tampak imut dan terlihat jauh lebih muda di antara mereka.


"Yashinta." gadis itu tampak ragu mengatakannya.


"Ini Bayu, temen kita juga."


Yashibta tersenyum ramah. Mendadak ia merasa canggung berada di antara mereka. Tapi rupanya tidak buruk, dua kawan Gibran itu ramah dan asik. Banyak bicara sama seperti dirinya.


Dalam sekejap waktu, mereka menjadi akrab dan Gibran yang tak banyak bicara itu hanya menjadi pendengar bagi mereka.


Setelah puas mengacau di ruang rawat Gibran yang statusnya adalah pasien yang butuh istirahat, Gibran mengusir halus Leon dan Bayu agar segera pulang dan meninggalkan ruangannya. Membuat mereka tampak berat hati melangkah pergi.


Yashinta hanya tertawa setelah Leon menutup pintu dengan wajah sendu. Seperti tidak rela harus berpisah dengan Gibran.


Gibran menatap gadis itu. Ia berdecih, membuat Yashinta menoleh dan bertanya. "Mas Gibran mau ngusir Yas juga?" tanyanya, Gibran kembali berdecih. "Jadi kamu pengen saya usir atau enggak?" pria itu justru balik bertanya.


"Enggak." gadis itu menyahut seraya tertawa, Gibran hanya menatapnya. Jika Yashinta mengatakan padanya bahwa gadis itu merasa jauh lebih baik setelah melihatnya, maka Gibran setuju. Yashinta jauh lebik baik sekarang.


Jadi, apakah ia harus merampas gadus itu dari Kafka?


"Yashinta,"


"Hmm?"


"Kamu masih ingat saya punya satu permintaan yang harus kamu penuhin?" tanya Gibran, sesaat gadis itu mematung hingga kemudian menganggukan kepala behitu ingat janjinya sendiri.


"Sepertinya saya sudah punya satu permintaan itu."


"Hmm, apa? Biar Yas coba penuhin."


Yashinta siap mendengarkan sementara Gibran justru hanya diam menatapnya, sampai pria itu kemudian meraih tangan Yashinta. "Permintaan saya sederhana. Tetaplah seperti ini, Yashinta."


"Tetap seperti ini. Ceria, tertawa, bahagia, dan jangan menjaga jarak dari saya."


Yashinta diam mematung menatap pria itu. "Bisa?" Gibran meminta kepastian.

__ADS_1


Yashinta menganggukan kepala.


TBC


__ADS_2