
Sontak semua siswa kelas 12 IPA 1 heboh begitu melihat Yashinta masuk membawa beberapa buku paket biologi diikuti Kafka di belakangnya yang membawa setumpuk buku paket boilogi hingga menutupi wajahnya.
Anak-anak langsung berbisik karena yang mereka tahu, dua orang itu sudah putus berhari-hari yang lalu. Rasanya cukup mengejutkan melihat Kafka membantu Yashinta membawakan buku-buku itu sampai ke kelas.
"Terimakasih Kafka," ucap Bu Dania saat mengetahui jika yang membantu Yashinta membawakan buku adalah Kafka. Kafka hanya menganggukkan kepalanya dengan sopan lantas keluar dari kelas bersamaan dengan Yashinta yang duduk ke mejanya.
Ranti tentu menatap gadis itu dengan tatapan nyalang. Kemudian segera menyambar Yashinta dengan pertanyaan ketika gadis itu sudah duduk di sampingnya.
"Kok loe bisa sama Kafka?"
"Dia ngikutin loe?" Ranti sadar jika hubungan antara Gibran dan Yashinta sangat menyeramkan, namun akan sangat menyeramkan andai Yashinta dengan Kafka flashback. Ranti tidak akan membiarkannya.
"Kafka kebetulan lagi ada di Perpus." Yashinta menyahut lesu.
"Terus kenapa mata loe merah gituh?"
"Loe nangis?" Ranti menyelidik dan tak membiarkan Yashinta mengelak. Sementara yang ditanya terdengar hanya mengembuskan napas dan terdiam.
Membuat Ranti hanya mematung menatapnya.
****
Yashinta berusaha mengabaikan Kafka saat itu, ia mencoba mengambil kursi agar dapat meraih buku yang dibutuhkannya, ia ingin segera pergi, tak ingin berlama-lama dengan Kafka di sana.
Namun saat ia kembali, Kafka sudah menurunkan buku paket biologi tersebut, yang pada akhirnya membuat Yashinta hanya mematung di posisinya.
"Berapa jumlah siswa di kelas loe yang masuk hari ini?" tanya Kafka tanpa menatap gadis itu."
"Ti–tiga puluh empat." Yashinta menyahut sedikit gugup. Kafka tampak mengambil empat buku lagi kemudian menumpuknya dengan buku-buku yang sudah ia ambil sebelumnya.
Sementara Yashinta hanya memerhatikan, perasaan gadis itu campur aduk melihat Kafka di hadapannya dengan kondisi hanya ada mereka berdua di sana.
Sedih, kecewa, marah, berdebar, itu semua Yashinta rasakan, kecuali benci. Ia tak dapat membenci Kafka.
"Kenapa Kafka harus bantuin Yas?" tanyanya saat Kafka hendak membawa tumpukan buku.
Kafka menatap gadis itu dengan tatapan tidak terbaca, kemudian mengembuskan napasnya. "Kalau loe nggak mau di bantuin yaudah."
"Lagian siapa, sih, orang yang nyuruh loe ngambil buku sebanyak ini sendirian?"
"Kafka nggak perlu sok perduli sama Yas!" gadis itu nyaris berteriak.
"Loe kegeeran banget, sih. Siapa yang perduli sama loe? Justru gue perduli sama temen-temen loe yang pastinya nunggu loe lama karena buku-buku ini."
"Gue cuma bantuin, bukan berarti gue perduli sama loe."
"Emangnya loe siapa!" Kafka berdesis.
__ADS_1
Mata gadis itu tampak berkaca-kaca, tangannya mengepal dan dadanya bergemuruh. Ada perasaan mengganjal di hatinya yang begitu hebat.
"Kenapa Kafka nggak peka banget, sih?"
Kafka mengembuskan napas kasar dengan apa yang baru saja meluncur dari bibir gadis itu. "Apalagi, Yashinta!" Kafka tampak frustrasi sendiri.
"Kenapa Kafka nggak pernah mau minta maaf sama Yas setelah apa yang Kafka lakuin ke Yas?"
"Kalau emang dengan gue minta maaf loe akan ngerasa jauh lebih baik, gue bakal lakuin." ujar Kafka yang berhasil membuat gadus itu meneteskan air matanya, ia seolah mengemis agar Kafka meminta maaf padanya, padahal seharusnya hal itu menjadi kewajiban Kafka.
Tapi buru-buru ia seka dengan punggung tangan.
"Kenapa Kafka jahat banget, sih. Kenapa Kafka seneng banget nyakitin Yas." gadis itu berteriak tidak terima.
"Itu kenapa loe nggak perlu deket-deket sama gue."
"Yas salah apa sama Kafka?"
"Salah loe karena hadir di kehidupan gue!"
Setelahnya adalah hening, Yashinta tidak tahu lagi harus mengatakan apa pada pria keras kepala yang hanya mementingkann dirinya sendiri itu seperti Kafka. Satu satunya hal yang bisa ia lakukan adalah menjatuhkan air matanya agar sesak di dadanya sedikit berkurang.
Kafka menumpuk sekitar sepuluh buku, kemudian menyerahkannya pada Yashinta dan spontan Yashinta menerimanya bahkan sebelum ia menyeka air matanya.
"Cengeng banget." gumam Kafka, tapi kedua ibu jari pria itu mendarat di pipi Yashinta, menghapus jejak air mata gadis itu dan membuat Yashinta mematung di tempatnya.
Tangan pria itu terasa panas saat mendarat di pipinya.
Yashinta yang sudah duduk di mejanya menoleh ke samping di mana Kafka berjalan di luar kelasnya, Yashinta dapat melihat kepala pria itu melalui jendela kelas, hingga pria itu menghilang dari pandangannya.
Ranti yang menatap ke arah yang sama dengan gadis itu hanya mendesah, Yashinta juga tidak bercerita. Ia yakin jika memang ada yang terjadi di Perpustakaan tadi di antara dua orang itu.
****
Yashinta berada di mobil yang sama sengan Sean saat ptia itu menjemputnya untuk memenuhi permintaan Arumi yang mengajak keduanya ikut fitting baju pengantin.
"Mama udah pulang dari perusahaan, yah?" tanya Yashinta ketika mobil berhenti di lampu merah.
"Udah, Mama minta dijemput di perusahaan." sahut pria itu yang kemudian melajukan mobil begitu lampu lalu lintas berwarna hijau. Yashinta hanya terdiam setelahnya, Sean menoleh pada gadis itu dan tersenyum.
Sadar jika diperhatikan, Yashinta lantas menoleh dengan raut penuh tanya. "Ada apa, Sean?"
"Nggak papa,"
"Mm, gue cuma nggak nyangka aja bakal sodaraan sama loe." terang pria itu. Sean jujur saat mengatakannya, rasanya aneh ketika gadis yang pernah ia sukai akan menjadi saudaranya sebentar lagi.
Benar, Sean pernah menyukai gadis itu, atau bahkan mungkin ..., hingga kini. Alasannya? Sean tidak tahu pasti, ia hanya sering memerhatikan Yashinta, baik saat sedang sendiri maupun saat sedang bersama dengan Kafka.
__ADS_1
Baginya Yashinta adalah gadis polos yang sangat baik, dia tidak bosan di pandang, Yashinta happy virus, seperti itu Sean melihat sosok gadis yang sekarang notabenenya sudah berubah. Bukan lagi kawan seangkatan, pacar kawannya atau bahkan mantan pacar kawannya. Tetapi lebih daripada itu.
"Apa kabar, Sayang." Arumi menyambut kedatangan gadis itu dengan memeluknya, mengabaikan putranya sendiri yang berdiri di belakang Yashinta.
"Baik, Mama apa kabar?" Yashinta menyahut dan balik bertanya begitu pelukan terurai.
"Baik, Sayang,"
"Yashinta belum jadi anak Mama, loh." Sean mengingatkan dengan tangan terlipat di dada. Arumi hanya tersenyum, kemudian tangannya mendarat di puncak kepala putranya tersebut.
"Gantengnya, Mama. Cemburuan banget, sih." ledeknya yang membuat Sean berdecak, ia hanya mendesah ketika sang mama berlalu sambil menggandeng Yashinta menuju mobil dan meninggalkannya.
Parahnya lagi, dua wanita itu tampak duduk di bangaku penumpang dan berhasil membuat Sean berdecak takjub. "Jadi sopir, nih, gue."
Sepamjang perjalanan menuju butik tempat Arumi memesan gaun pengantin, dua wanita di bangku belakang itu asik mengobrol, dimulai dari Arumi yang banyak mempertanyakan cerita Yashinta mengenai dunia sekolahnya atau kehidupan sehari-harinya seperti biasa. Topik yang tak pernah habis dibahas.
Mereka berbicara banyak hal dan Sean hanya menjadi pendengar di sana tanpa sedikitpun menimbrung, dia persis seperti sopir pribadi yang tak turut serta merecoki obrolan majikannya.
"Baiklah Nyonya, Nona muda. Kita sudah sampai." Sean baru bersuara begitu tiba di tempat tujuan. Ia bahkan totalitas meminkan perannya sebagai sopir dengan membukakan pintu mobil bagi Arumi dan Yashinta.
Arumi tampak tersenyum semringah, kemudian berjalan memasuki butik dengan menggandeng Yashinta dan Sean. Bagi orang yang sekilas melihat mereka. Persis, orang-orang memang akan mengira jika mereka adalah sebuah keluarga yang harmonis.
Mama bersama dengan anak laki-laki dan perempuannya. Tepat sekali.
Ternyata alasan Arumi mengajak Yashinta dan Sean ikut dengannya bukan saja hanya untuk menemani Arumi fitting gaun pengantin, tetapi wanita itu juga menyiapkan stelan Sean dan sebuah gaun untuk Yashinta.
"Kamu suka, Sayang?" tanyanya pada Yashinta, menilik penampilan anggun gadis itu dengan gaun berwarna hitamnya.
"Suka, Mah. Cantik," Yashinta menyahut puas, Arumi tak kalah puas, ia tersenyum dan mengusap puncak kepala gadis itu.
"Papa nggak ke sini, Ma?"
"Papa udah ke sini lebih dulu karena sekarang ada meeting," Arumi menyahut mengingat apa yang calon suaminya itu sampikan siang tadi.
Ia kemudian mengambil ponsel saat sebuah pesan masuk membuat benda canggih itu bergetar. "Papa kalian ngajakin kita makan malam." ujarnya setelah membaca pesan, membuat Sean yang semula masih mematut diri di cermin dengan stelan barunya mengangguk.
Yashinta juga mengangguk, lantas bergegas menuju fitting room untuk mengganti pakaiannya, namun sebuah dress berwarna merah menyilaukan pandangannya, mencuri perhatiannya dan berakhir dengan jatuh ke tangannya.
Yashinta membeli dress tersebut dan mengenakannya, ia bahkan sempat merapikan rambut dan merapikan penampilannya. Lantas ia mengambil ponsel dan berniat menghubungi sang pacar.
Mas Gibran di mana?
Udah pulang dari kantor?
Tidak ada balasan, gadis itu hanya mendesah. Kemudian ia memgambil fotonya dengan gaun merah tersebut dan mengirimkannya pada Gibran.
Cantik, nggak?
__ADS_1
TBC