
"Sayang, perkenalkan ini Tante Arumi, Mamanya Sean."
Yashinta baru akan menyapa sebelum kemudian Andri melanjutkan kalimatnya.
"Calon Mama kamu."
Yashinta seketika mematung, menatap Andri dengan sorot tidak terbaca. Sean hanya mengalihkan perhatian ke arah lain, ia beberapa kali menonton sinetron untuk adegan seperti yang saat ini tengah mereka lakukan, rasanya Sean sadar jika ekspresi yang Yashinta berikan adalah sebuah penolakan.
"Pah," Yashinta berucap, Andri mengenal putrinya. Ia tahu apa yang Yashinta maksud, sekalipun bukan langsung penolakan, tapi putrinya itu menuntut penjelasan. Andri menatap calon istrinya sebentar, perempuan itu memberinya senyum penuh maklum. Lantas Andri mengusap tangan Yashinta yang berada dalam genggamannya.
"Papa dan Tante Arumi sudah saling mengenal cukup lama sekali. Kami sama-sama sendiri dan saling membutuhkan."
"Kami menemukan diri kami cocok untuk menjalin sebuah hubungan yang lebih dari sekedar partner kerja." sahut Andri dengan tutur kata yang terdengar lembut agar putrinya dapat dengan mudah mengerti.
Andri dan Arumi–Mama Sean, sebagai dua orang yang sama-sama menjalankan sebuah perusahaan, keduanya memang sudah bekerjasama selama lima tahun terakhir, bahkan mereka memiliki sebuah restoran yang dikelola bersama dengan adik Arumi sebagai manajernya.
Lambat laun, hubungan kerja itu membuat keduanya yang sudah lama kesepian setelah pasangannya masing-masing pergi untuk waktu yang lama saling merasakan kenyamanan. Dua orang itu sudah terlalu dewasa untuk hanya bermain-main saja dan berniat ke jenjang serius diatas persetujuan anak mereka.
"Papa benar Yashinta, dan kami menunggu persetujuan kamu." Mama Sean angkat bicara.
Yashinta mengalihkan tatapannya pada Andri, pria itu menganggukan kepala. "Iya, Sayang. Seandainya kamu tidak setuju," Andri menjeda kalimatnya, tampak ragu dengan mata yang tertuju pada Arumi.
"Papa dan Tante Arumi tidak akan menikah." sambungnya penuh pengertian. Andri tahu, akan sangat sulit bagi Yashinta menerima kehadiran mama baru di rumahnya setelah sepuluh tahun hanya ada Andri di samping gadis itu sebagai orang tua. Andri tidak akan memaksa Yashinta untuk merestuinya dan Arumi.
Sementara Sean, dia sudah memberi restunya. Ia dudah beberapa kali bertemu dengan Andri di atas statusnya sebagai calon suami sang mama sekaligus calon papa tirinya, berbeda dengan Andri yang belum berhasil melangkah untuk mengatakan pada Yashinta dan Arumi sangat memaklumi hal itu.
Ketika kali pertama ia mempertemukan Andri dengan Sean, putranya pun memberikan reaksi sama seperti Yashinta. Namun perlahan, pria itu dapat menerima dan memahami sang mama. Ia juga butuh pendamping hidup setelah sekian lama menyendiri begitu Papa Sean meninggal.
Sean memahami itu, sudah cukup sang mama terus menerus memprioritaskannya. Giliran Sean yang harus berada di belakang sang mama dan mendukung kebahagiaannya.
"Kami bisa memberi kamu waktu, Sayang." Arumi menyambung dengan senyum tulus. Yashinta hanya tersenyum tipis, sorot matanya masih tampak bingung.
"Yas, ke toilet sebentar." pamitnya kemudian yang berlalu dari hadapan tiga orang tersebut. Andri tampak menghela napas, juga merasa tidak enak pada Arumi dan juga Sean.
"Yashinta cuma butuh waktu." Arumi menenangkan, Andri hanya mengangguk samar. Sedangkan Sean hanya menatap punggung Yashinta yang berjalan menuju lift dan menembus kerumunan.
Tidak ada yang gadulis itu lakukan ketika sudah berada du toilet kecuali hanya mencuci tangannya yang masih bersih. Ia hanya menatap pantulan wajahnya di cermin dan melakukan penilaian terhadap calon mama tirinya. Hal pertama yang Yashinta lihat tentunya adalah Sean.
__ADS_1
Yashinta mengenal Sean sebagai pria yang baik, artinya Arumi berhasil mendidiknya karena dia juga orang baik. Senyum Arumi dan juga pengertian yang perempuan itu berikan padanya saat belum bisa mengambil keputusan juga terlihat penuh ketulusan.
Yashinta jelas tidak bisa langsung menolak, ia tidak memiliki alasan, terlebih melihat bagaimana Andri tampak memuja Arumi. Kilatan kasih sayang di mata sang papa jelas terpancar ketika menatap perempuan itu. Pancaran yang kali terakhir Yashinta lihat sekitar sepuluh tahun yang lalu saat sang mama masih ada.
Namun, untuk melihat wanita lain di rumahnya dengan status sebagai istri Andri, sebagai mamanya, Yashinta merasa sulit menerimanya.
Gadis itu hanya diam melamun sesaat ketika sudah berada di dalam lift. Pintu lift baru saja akan tertutup saat seseorang memasukan jari-jari tangannya guna menahan pintu lift. Membuat pintu lift kembali terbuka dan dua orang yang saling berhadapan itu saling menatap dalam satu garis lurus.
Yashinta melihat Gibran yang begitu tampan dengan stelan formalnya yang serba hitam, terlihat rapi seperti biasa. Gibran juga tampak sama terpananya dengan Yashinta yang hari ini tampil berbeda, gadis itu terlihat dewasa dengan riasan make up-nya.
Tapi bukan hal itu yang menyita perhatian Gibran. Melainkan dress selutut berwarna bubbelgum yang dikenakannya. Sekilas bayangan saat Bunda mendesain dress tersebut bahkan mendiskusikan warnanya dengan Gibran melintasi kepala pria itu.
Gibran cukup yakin jika dress yang Yashinta kenakan adalah desain khusus sang Bunda. Aksen pita di bahu kirinya menjadi bukti, pun Gibran mengenali desain Bundanya. Jadi ia tidak mungkin salah, artinya Yashinta mengenal Bundanya, entah sebagai customer langganan butik Bunda atau mungkin lebih dari itu.
"Mas Gibran," Yashinta menegur, membuat pria itu menaikan alis lantas melangkah masuk ke dalam lift dan menekan tombol menuju atap gedung.
Dua orang di dalam lift itu sesaat hanya saling terdiam, hingga kemudian Yashinta yang menegur duluan untuk mencairkan suasana beku di dalam lift.
"Mas Gibran ganteng malam ini." pujinya yang membuat Gibran tanpa sadar tersenyum tipis.
"Mata Yas, sehat. Kenapa emangnya?" gadis itu menautkan alisnya, Gibran hanya mengangkat bahu acuh. Membiarkan keheningan menyelimuti keduanya. Gibran menoleh, memerhatikan gadis itu yang tampak melamun setelahnya. Gibran mengerutkan kening, raut wajah Yashinta tidak seperti biasanya, gadis itu tampak berbeda dengan aura ceria yang hilang di wajahnya.
Gibran dapat menebak jika gadis itu sedang berada dalam suasana hati yang buruk. "Kamu ada yang ingin diceritain ke saya?" tanya Gibran bersamaan dengan lift yang berhenti, dua orang itu hanya saling terdiam ketika pintu lift terbuka. "Kenapa Yas harus cerita sama Mas Gibran?" gadis itu balik bertanya.
"Karena saya siap dengerin apapun cerita kamu."
"Temui saya kalau kamu udah siap buat cerita." pria itu menyahut dengan senyum dan keluar lebih dulu, menganggukan kepalanya sekilas pada Yashinta sebelum kemudian berlalu pergi dan bergabung dengan yang lain.
Acara ulang tahun perusahaan dimulai setelahnya, Andri selaku pemilik perusahaan. Orang paling penting di sana memberikan sambutannya, berterimakasih pada para ramu undangan yang sudah hadir, menceritakan secara singkat mengenai perusahaannya, berterimakasih pada para karyawan yang mendedikasikan diri di perusahaannya sekaligus memperkenalkan Yashinta pada khalayak ramai sebagai putri sematawayangnya yang akan menjadi penerus perusahaan di masa depan.
Yashinta mendapat sambutan baik sesuai dengan yang sang papa harapkan. Para tamu undangan menikmati jamuan begitu juga dengan semua karyawan karyawan perusahaan setelahnya.
Yashinta yang berusaha menghindari obrolan seputar dunia bisnis dari kolega-kolega sang papa berusaha mencari tempat sepi untuk menyendiri. Ia tidak ingat kapan kali terakhir ikut dengan sang papa pada acara pesta yang berhubungan dengan dunia kerja seperti ini. Namun yang pasti, situasinya tidak jauh berbeda dengan saat ini.
Dimana Yashinta selalu akan mencari tempat sepi demi menghindari pembahasan para pebisnis yang terdengar membosankan di telinganya. Yashinta belum tertarik untuk hal itu.
Ia meraih segelas minuman saat seorang waitress melewatinya demgan beberapa gelas minuman di atas nampan, memerhatikan orang-orang yang menghadiri acara hingga matanya menangkap sosok yang ia kenal. Sosok yang sangat ingin dibencinya namun tidak bisa. Ia mengerutkan kening melihat scarves yang melingkari lehernya.
__ADS_1
Tiba-tiba Yashinta mengingat mengenai apa yang tempo hari Kafka katakan padanya mengenai permasalahan Saras. Seperti yang Kafka katakan, jika Papa Saras seperti memiliki dua karakter. Yashinta memerhatikan interaksi ayah dengan anak itu yang tengah berbincang dengan Andri, Papa Yashinta. Hingga kemudian Andri melambaikan tangan, meminta Yashinta agar mendekat.
Gadis itu menurut, berjalan menghampiri Andri dan menyapa Papa Saras saat Andri mengenalkannya.
"Anakmu sangat cantik." puji Papa Saras yang membuat Andri tertawa, sedangkan Yashinta hanya tersenyum setelah mengucapkan terimakasih.
"Kamu kenal Saras, 'kan? Putri saya, saya dengar kalian satu angkatan." ia berbasa-basi pada Yashinta.
"Iya, Om. Kita satu angkatan, beda kelas." Yashinta menyahut sopan.
Selanjutnya, Papa Saras dan Andri berlalu ketika beberapa koleganya melambaikan tangan agar dua orang itu bergabung dengan mereka. Tinggalah hanya ada Yashinta dan Saras di sana. Dua orang itu hanya bersitatap seolah tidak saling mengenal.
Yashinta justru menatap scarves yang melingkari leher Saras, sampai ketika angin bertiup cukup kencang, scarves itu terlepas dan memperlihatkan luka memar disekitar leher gadis itu.
Saras yang menyadari jika Yashinta melihatnya lantas memperbaiki scarvesnya dengan cepat, ia hendak berlalu namun Yashinta lebih dulu mencekal pergelangan tangannya.
"Lehernya kenapa Saras?" tanyanya, Saras tak menyahut, hanya menatap Yashinta dengan tatapan tak terbaca.
"Kafka udah cerita, Yas tahu apa yang terjadi." sahut gadis itu ketika Saras benar-benar hanya diam.
Saras menghela napas. "Gue maksa ke Papa buat ketemu Mama dan nggak perlu ikut ke acara ini. Papa marah," pada akhirnya Saras bercerita.
"Terus cekik Saras?" Yashinta bertanya dengan nada ragu. Saras mengangguk. "Gue boleh minta satu hal sama loe?" tanya gadis itu kemudian.
"Apa Saras?"
"Loe jaga rahasia, jangan sampe anak-anak yang lain tahu hal ini."
Yashinta mengangguk mengiyakan. "Yas janji bakal jaga rahasia." Saras mengangguk percaya, baru gadis itu akan berlalu namun Yashinta kembali mencekal pergelangan tangannya.
"Kalau gitu Yas bisa minta sesuatu hal juga nggak sama Saras?" tanyanya.
"Apa?"
"Kalau kejadian kemarin keulang lagi, Yas minta Saras buat datang ke rumah Yas, jangan ke rumah Kafka."
TBC
__ADS_1