
Suasana canggung masih terus berlangsung di salah satu meja di restoran tersebut, lebih tepatnya antara Kafka dan Yashinta. Sementara Gibran tampak santai seperti biasanya.
"Kafka kenapa nggak ngasih tahu kalau Saras berangkat hari ini?" Yashinta berusaha meredakan canggung dan memulai obrolan dengan Kafka. Gibran sekilas menatap gadis itu namun kemudian ia kembali asik menikmati makanannya. Justru bagus jika dua orang itu mengobrol.
"Gue kira loe bakal nggak perduli." Kafka menyahut acuh tak acuh.
"Tapi, 'kan–" Yashinta tak melanjutkan kalimatnya. Ia merasa yakin jika Saras sudah bercerita pada Kafka bahwa beberapa hari yang lalu Yashinta cukup keras kepala untuk mengabaikan permintaan maaf Saras.
Mendapati Yashinta yang tak melanjutkan kalimatnya, Kafka lantas menoleh. "Loe tau dari mana kalau Saras berangkat hari ini?" kali ini Kafka yang bertanya.
"Dari Aris, katanya Kafka nggak masuk sekolah karena nganterin Saras ke Bandara."
"Yas nelponin Saras tapi nggak bisa."
"Kenapa loe nggak nyoba nelpon gue?"
"Nomornya nggak ada." gadis itu menyahut spontan sembari menyendokan tiramisunya ke mulut. Sementara Kafka memusatkan tatapannya pada gadis itu begitu juga Gibran.
"Loe hapus nomor gue?" tanya Kafka, gadis itu mengangkat pandangannya dan menatap Kafka. Mempertanyakan pada diri sendiri jawaban apa yang dikatakannya pada Kafka beberapa saat lalu.
Ketika Yashinta hanya diam dan tak memberikannya jawaban, hal itu sudah cukup menjadi jawaban bagi Kafka. Kafka mengalihkan pandangannya kembali ke makanan dan tak menghiraukan gadis itu.
Semudah itu Yashinta melupakannya bahkan menghapus nomornya. Fakta tersebut cukup mengejutkan bagi Kafka.
Usai makan, Kafka pamit lebih dulu. Ia tidak mungkin membiarkan dirinya berlama-lama berada di antara Gibran dan Yashinta.
Pria itu keluar dari restoran kemudian merogoh ponsel di saku celana dan mendial nomor seseorang. "Loe di mana?"
"Gue ke tempat loe sekarang."
"Clubbing gimana?" usulnya yang tampak mendapat persetujuan dari lawan bicaranya.
****
Gibran dan Yashinta hanya saling terdiam ketika mereka keluar dari restoran. Yashinta tidak berani bersuara karena takut Gibran sedang marah padanya karena semua yang terjadi di dalam restoran tadi. Gadis itu hanya diam, saat Gibran menyodorkan tas sekolah miliknya yang pria itu bawakan, Yashinta menerimanya dengan senyum yang tampak dipaksakan.
"Kamu beneran hapus nomor Kafka?" tanya Gibran sebelum keduanya meninggalkan teras restoran. Yashinta hanya menganggukam kepala.
"Kenapa?" pria itu mencondongkan wajahnya pada Yashinta, Yashinta mundur seraya melipat bibirnya, kemudian menggelengkan kepala. Gibran lantas mengambil jarak dan menengadahkan tangannya pada gadis itu.
Yashinta menaikan alis, gestur bertanya. "Liat hape kamu." pinta Gibran, pria itu tidak memaksa bahka rasanya jika Yashinta menolakpun Gibran tidak akan marah, namun sayangnya dengan cepat Yashinta justru menyerahkan ponselnya pada pria itu.
Gibran menatap gadis itu sebentar sebelum kemudian melihat sendiri kontak telepon di ponsel Yashinta. Gadis itu tidak berbohong, tidak ada nomor Kafka di sana, Yashinta menghapusnya. Hanya terdapat beberapa kontak di ponselnya. Andri, Arumi, Sean, Ranti, sopir pribadi, juga beberapa teman sekelasnya mengingat jika ponsel gadis itu memang masih baru.
Gibran mengernyitkan dahi saat melihat kontak miliknya yang gadis itu namai sebagai "Kakak Ipar". Gibran menyipitkan mata menatap Yashinta, membuat gadis itu cemas akan apa yang Gibran temukan di ponselnya.
Gibran lantas menyerahkan kembali ponsel ke tangan Yashinta, gadis itu mengerutkan kening melihat Gibran berjalan lebih dulu menuju mobil dengan cicitan. "Oh, jadi 'Kakak Ipar'."
Yashinta mencoba memeriksa ponselnya. Ia memang tidak mengganti nama kontak Gibran, hanya diedit sedikit dengan menambahkan emot love.
Buru-buru gadis itu mengejar Gibran dan masuk ke dalam mobil, duduk di samping pria itu.
__ADS_1
"Mas Gibran marah?" tanyanya, cemas.
"Jadi nama kontak saya 'Kakak Ipar'?" tanya Gibran lagi.
"Tapi, 'kan bukan 'Kakak Ipar' biasa. Ada emot lovenya kok." gadis itu menyahut polos seraya menunjukannya pada Gibran.
"Iya, deh, 'Adek Ipar'." Gibran menyahut acuh setelah berusaha menyembunyikan senyumnya. Sepertinya menjahili Yashinta akan menjadi hal yang menyenangkan setelah melihat raut panik gadis itu yang tampak menggemaskan.
"Mas Gibran kok, gitu. Marah, yah?" gadis itu kian cemas dan merasa bersalah pada Gibran. Hari ini ia sudah banyak merepotkan dan banyak pula menyinggung perasaan Gibran. Yashinta merasa jika dirinya menjadi gadis yang begitu jahat sekarang.
"Yas ganti, deh, yah."
"Maunya dikasih nama apa?" tanya gadis itu. Yang ditanya hanya mengangkat bahu acuh tak acuh dan tak kunjung menghidupkan mesin mobil.
"Mas Gibran, jangan gitu dong." Yashinta berusaha membujuk.
"Dikasih namanya Mas Pacar, aja, mau?" tawaran gadis itu hampir membuat Gibran tertawa, namun Gibran berusaha menahannya dan hanya melipat tangan di dada, punggungnya ia sandarkan ke belakang.
"Atau 'Sayang'?"
"Maunya apa?" gadis itu setengah frustrasi ketika Gibran tak merespondnya sama sekali. Yashinta menatap Gibran dengan tatapan sendu, menyerah untuk membujuk pria itu. Selang beberapa detik, Gibran justru tertawa, ia tidak bisa menahannya lagi.
Alhasil, sadar jika dirinya dipermainkan, Yashinta memukul dada pria itu berulang-ulang, yang dipukuli hanya tertawa tanpa menghentikan amukan Yashinta.
"Nyebelin!" ketusnya.
"Terserah, deh!" gadis itu tak ingin memperpanjang urusan nama kontak dan memilih melipat tangan di dada.
"Marah?"
"Tau, ah, Yas ngambek. Mas Gibran nyebelin."
"Saya cuma bercanda."
"Nggak lucu!"
"Saya–"
"Yas mau pulang!"
Gibran mendesah dengan senyum kemudian memasang raut datar yang dibuat-buat. "Cowok lawan cewek emang nggak akan menang."
****
"Selamat istirahat, yah." Gibran membukakan pintu mobil untuk gadis itu begitu tiba di depan gerbang rumah Yashinta. Yashinta masih dengan wajah cemberutnya, turun dari mobil seraya mengenakan tasnya.
"Mas balik ke perusahaan."
"Hmm," gadis itu menyahut malas. Ia masih sangat kesal pada Gibran, pria itu sudah membuatnya panik tidak karuan dan ternyata hanya menjahilinya.
Saat gadis itu berjalan melewati Gibran tanpa mengatakan apa-apa, Gibran hanya tersenyum dan membiarkan gadis itu. Ia menatap kepergian Yashinta yang akan memasuki gerbang, ketika gadis itu melangkah masuk, Gibran berbalik hendak masuk ke mobilnya.
__ADS_1
Tapi beberapa detik berselang, gadis itu berbalik. Bagaimanapun, Yashinta tidak mungkin terus menerus mengabaikan Gibran, setidaknya ia harus berterimakasih pada Gibran atas bantuannya hari ini.
"Mas Gibran." panggilan gadis itu membuat Gibran membalikan tubuh dan menaikan alis.
"Makasih,"
Gibran mengangguk dengan senyumnya yang tak kunjung luntur. "Hati-hati." sambung gadis itu, sedikit gugup yang kemudian berbalik dengan cepat dan melangkah pergi setengah berlari.
Gibran yang ditinggalkan mengerutkan kening, kemudian menggelengkan kepala dengan tingkah menggemaskan gadid itu.
"So cute." pria itu berucap seraya membuka pintu mobilnya.
Dengan Gibran, Yashinta merasa hari-harinya berjalan jauh lebih baik dari sebelum-sebelumnya. Ia merasa bahagia setiap waktu dan yang paling penting, perasaan cintanya pasti. Pasti terbalas dan ia mendapat perhatian besar dari Gibran yang berharga setiap harinya.
Gibran memperlakukan Yashinta dengan sangat baik. Bahkan pria itu mengetahui detail kecil tentangnya dan membuat Yashinta terkesan karena merasa diperhatikan.
Namun, ada satu hal yang mengganggu perasaan Yashinta. Sekali pun ia tidak pernah melihat Gibran menunjukan kecemburuannya. Atau mungkin pria itu tidak pernah cemburu? Mengingat kilas baliknya dengan Kafka dan bagaimana posesif juga cemburuannya pria itu, Yashinta merasa Gibran berbeda.
Untuk kali ini, Yashinta merasa terganggu dengan hal itu. Ia merasa kecewa pada Gibran yang tak pernah cemburu.
Seperti hari ini misalnya saat pria itu menlepon Yashinta untuk menjemputnya pulang sedangka Yashianta memiliki acara makan siang dengan anak-anak teater sepulang sekolah.
"Mas Gibran udah di depan gerbang sekolah?"
tanya gadis itu.
"Belum, saya masih di basemant perusahaan."
"Hmm."
Yashinta diam setelahnya.
"Yas hari ini ada acara makan siang sama anak-anak teater."
"Hmm, yasudah kalau gitu."
"Mas Gibran nggak nanya Yas makan siangnya sama siapa aja?"
"Sama temen-temen sekolah, kamu, 'kan?"
"Iya."
"Yasudah."
"Tapi banyak cowoknya juga." Yashinta memberitahu, Gibran diam, beberapa saat kemudian ia menyahut. "Iya, saya tau."
Jujur Yashinta kecewa dengan jawaban pria itu. Ia bahkah berharap jika Gibran akan mati-matian melarangnya untuk makan siang dengan anak-anak teater karena anak cowok ikut bergabung.
Yashinta tidak bohong jika akan banyak cowok di sana. Tapi Gibran tampak tidak perduli.
Sehingga akhirnya Yashinta menikmati makan siang bersama kawan-kawannya itu dengan hampa.
__ADS_1
TBC