Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)

Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)
Pesta Pernikahan (2)


__ADS_3

"Yashinta pindah sebelah sini."


"Gimana?"


"Loh, kok."


"Udah, disitu aja."


"Yang bener di mana?"


Suasan heboh dan sedikit membuat Yashinta merasa sakit kepala ketika proses foto bersama berlangsung saat keluarga Bunda akan berfoto dengan kedua mempelai pengantin.


Sean sengan Yashinta tentu turut ikut, namun ada kesalahan formasi ketika Yashinta justru berdiri di antara Bunda dan Gibran di samping pengantin pria atas arahan sang photografer sedangkan Kafka dan Sean di samping pengantin wanita.


Tentu saja hal itu terasa janggal karena seharusnya Kafka yang berada di antara Gibran dan Bunda, bukan Yashinta.


"Yaudah, nggak apa-apa. Habis ini biar Kafka pindah." Andri menengahi dan membuat Yashinta berhenti sehingga satu foto bersama didapati saat ia seolah sudah masuk dalam keluarga Bunda.


Diam-diam, tangan Gibran menelusup, menggandeng punggung Yashinta.


Hal itu cukup membuat Kafka merasa terganggu, namun ia tidak dapat protes dan hanya menurut saja. Meski pada akhirnya ia bertukar posisi dengan gadis itu.


Langkah yang seharusnya cepat itu terasa melambat dengan sendirinya bagi Kafka, terlebih saat beberapi jari tangannya bersentuhan dengan jari tangan Yashinta, rasanya Kafka tak kuasa.


Meski yang ia lihat dari Yashinta. Gadis itu tampak biasa-biasa saja dan tak lagi memiliki rasa untuknya.


****


Usai acara sesi foto dengan keluarga Bunda tersebut, Yashinta tentap berada di sana, Andri memintanya karena pria itu ingin mengenalkannya dengan seseorang.


Yashinta tau hal-hal klise memang kerap kali terjadi dalam hidup setiap orang, namun ia tak menyangka jika hal itu terjadi padanya hari ini dimana orang yang ingin Andri kenalkan padanya adalah Kanza.


Kanza.


"Sayang, ini Ibu Kanza. Beliau ini Direktur wanita muda yang meneruskan perusahaan keluarganya." Andri memperkenalkan.


"Di masa depan, kalau kamu mau mengurus perusahaan Papa, maka kalian akan bekerja sama." sambung Andri dengan raut wajah semringah.


Sedangkan Yashinta tampak hanya berusaha mengukir senyumnya. Kanza sendiri memang sudah mengukir senyumnya sejak menapaki kaki di pelaminan.


Wanita itu dengan ramah menyodorkan tangan padanya, setengah ragu Yashinta menerimanya.


"Kalian tampak serasi." Arumi memuji. Membuat Yashinta hanya tersenyum kaku, bagaimana mungkin ia tampak serasi bersama dengan wanita yang jelas-jelas adalah bagian dari masa lalu pacarnya?


Bagaimanapun Yashinta berusaha mengelak, ia tak dapat memungkiri fakta jika dirinya masihlah cemburu.


"Semoga suatu saat nanti kita bisa bekerja sama, Yashinta." ucap wanita itu dengan raut tenang dan elegan, yang bisa Yashinta lakukan hanya menganggukan kepala. Ia merasa seperti orang bodoh berda di sana.

__ADS_1


"Kamu nggak perlu khawatir, saya sama Gibran sudah lama putus. Sepertinya kami nggak memiliki kesempatan untuk kembali bersama." sahut Kanza ketika keduanya sudah turun dari pelaminan. Wanita itu mendatangi Yashinta yang berdiri di samping salah satu meja berisi minuman dan kue.


Yashinta tak menyahut, sekilas ia hanya melihat sang papa dan mama barunya yang tampak menerima ucapan selamat dari para tamu undangan hingga kemudian melakukan sesi foto. Ia lantas menatap Kanza yang menyerahkan segelas minuman padanya.


Yashinta tentu menerimanya dengan senyum yang tampak dipaksakan, dari kejauhan Gibran memerhatikan dua wanita itu dan melihat interaksi antara Kanza dan Yashinta.


"Kamu sudah berapa lama pacaran sama Gibran?" Kanza kemudian bertanya. Yashinta terkesiap, andai ia jujur pada Kanza jika ia dan Gibran belum genap berpacaran bahkan satu bulan, apa Kanza akan menertawakannya?


"Sepertinya sudah lama." Kanza menyimpulkan sendiri, Yashinta yang tak bisa mengatakan apa-apa hanya mengangguk samar.


"Gibran pria yang baik. Dia dewasa, mapan dan tampan." Kanza tertawa di ujung kalimatnya. Dari yang Yashinta lihat, wanita itu tampak tulus memuji. Bagaimanapun Kanza dan Gibran berpacaran cukup lama, Kanza pasti tau banyak mengenai Gibran.


"Dia juga setia." sambungnya saat Yashinta tak menunjukan respond apapun.


"Kalau begitu kenapa kalian putus?" pertanyaan yang gadis itu ajukan berhasil membuat Kanza terdiam. Sesaat wanita itu menenggak minumannya lantas mengukir senyum.


"Mbak Kanza atau Mas Gibran yang minta putus?" tanyanya lagi. Dengan cepat membuat Kanza menyimpulkan jika Yashinta tak mengetahui apapun tentang dirinya dan Gibran di masa lalu.


Yang artinya, Gibran tidak cukup terbuka dengan gadis itu atau Gibran sengaja mengubur dalam-dalam masa lalunya, mengubur dirinya dan kenangan mereka dalam kehidupan pria itu.


Kanza mengerti, ia hanya masa lalu Gibran dan Gibran tak ingin melibatkannya lagi dalam jalan yang akan pria itu tempuh. Kanza tertinggal ..., sengaja ditinggalkan. Dianggap bukan bagian yang pernah hadir dalam kehidupan pria itu.


"Mbak Kanza atau Mas Gibran yang mutusin?" tanya gadus itu lagi saat Kanza hanya diam melamun.


"Kenapa kamu nggak coba tanya sama Gibran?" Kanza tak memberi gadis itu jawaban sehingga Yashinta hanya bisa terdiam. Ia tidak akan memaksa, Yashinta berusaha untuk tidak penasaran.


Yashinta pamit untuk ke toilet setelahnya, menghindari Kanza yang terus berada di sekitarnya, membuat gadis itu tidak nyaman berada di sana.


Kanza membiarkan gadis itu pergi, Gibran yang semula hanya memerhatikan pada akhirnya menghampiri Kanza karena cukup penasaran akan apa yang wanita itu bicarakan dengan gadisnya.


Kanza hanya menoleh saat tiba-tiba saja Gibran sudah berdiri di sampingnya tanpa mengatakan sepatah katapun. Ia dapat menebak apa yang sekiranya akan Gibran katakan padanya.


"Kamu nggak perlu khawatir, aku nggak bilang macem-macem ke pacar kamu." sahut Kanza, Gibran mendengarkan, tetapi pandangannya mengedar ke sekitar.


"Kalian udah lama pacaran?" tanyanya kemudian, Gibran hanya menganggukan kepala tanpa berpikir panjang.


"Aku penasaran, dia orang yang kaya gimana, ya? Kelihatannya kamu sayang banget sama dia."


"Dia gadis yang baik, dia cantik dan–"


"Kamu bahagia sama dia?" sela Kanza sebelum Gibran menyelesaikan kalimatnya. Gibran diam beberapa saat, mengingat kembali awal pertemuannya dengan Yashinta dan bagaimana hari-harinya mulai berubah sejak bertemu dengan gadis itu hingga kemudian Gibran jatuh cinta padanya.


Gibran menoleh pada Kanza yang sejak tadi menatapnya, ia kemudian menganggukan kepala, membuat Kanza mengukir senyumnya. Tangan mulus wanita itu lantas mendarat di dada Gibran, mengusapnya lembut.


"Bagus kalau kaya gitu, kamu juga berhak bahagia Gibran." ucapnya, ia tampak menahan sesuatu kemudian kembali mengukir senyum dengan kepala yang mengangguk perlahan. "Yashinta gadis yang baik, kalian beruntung karena saling memiliki."


****

__ADS_1


Yashinta mencuci tangannya di wastafel, menatap wajahnya dalam pantulan cermin dan memastikan jika ia tak kalah cantik dari Kanza.


Beberapa saat kemudian, ia menggelengkan kepalanya. Tak ingin banyak memikirkan hal tersebut mesi tanpa diminta, pikiran-pikiran mengenai Kanza datang seolah menghantuinya.


Yashinta menghela napas, cukup panjang hingga kemudian ia keluar dari bilik kamar mandi, ia membuka clucth yang dibawanya, hendak memasukan ponsel namun sebuah lipstik dari sana justru terjatuh dan mengenai kaki seseorang.


Seseorang yang baru saja keluar dari pintu toilet pria. Dia mengambil lipstik tersebut dan berjalan ke arah pemiliknya sedangkan Yashinta hanya mematung, ketika orang tersebut menyerahkan lipstik miliknya Yashinta menerima dengan gerakan lambat.


"Makasih, Kafka." ungkapnya beberapa saat setelah lipstik berada di tangannya.


Kafka hanya mengangguk samar, setelahnya hanya hening, keduanya tampak sama-sama bingung sedangkan sebenarnya tujuan keduanya adalah sama–meninggalkan toilet dan kembali ke tempat pesta.


"Loe cantik." puji Kafka kemudian. Sejujurnya sejak awal melihat gadis itu Kafka tak bisa berhenti memuji, namun saat ia mendapatkan kesempatan untuk menyampaikannya secara langsung, Kafka tidak bisa melewatkannya begitu saja.


Sementara yang dilontari pujian tampak terkejut. Ia menatap Kafka beberapa saat tanpa berkedip hingga kemudian ia sadar dan mengukir sebuah senyum.


"Makasih Kafka. Kafka juga ganteng, rapi. Kafka cocok pake stelan kaya gitu." gadis itu balas memuji. Mengungkapkan kalimat yang sejak beberapa waktu lalu dipendamnya.


"Ini kali pertama Kafka bilang Yas cantik." sambungnya yang membuat Kafka menundukan pandangan demi mengukir senyum miris. Ia sangat terlambat bahkan hanya untuk memberikan sebuah pujian sederhana.


Kafka memilih tak menanggapi kecuali hanya memberikan senyum penuh sesalnya. Hingga kemudian keduanya berjalan untuk kembali ke area pesta namun sebuah pemandangan yang mengejutkan bagi Yashinta terjadi saat Gibran berjalan ke arah mereka.


Yashinta tentu saja panik setengah mati, ia menoleh pada Kafka dan rasanya bukan hal yang bagus jika saat ini Gibran dan Kafka bertengkar apalagi sampai saling hajar.


Gadis itu terkesiap ketika Gibran meraih tangannya dan menariknya kembali masuk ke dalam tepat pada pintu toilet wanita.


Kafka yang melihat dua orang itu tampak hanya pasrah kemudian melanjutkan langkah. Ia tau Gibran tidak akan menyakiti Yashinta.


Sedangkan Yashinta yang diseret oleh Gibran melayangkan protesnya dengan mendengkus ketika Gibran menyandarkannya pada tembok disamping pintu toilet. Membuat napas keduanya berantakan.


"Kamu–" Yashinta sudah akan memaki pria itu.


"Kamu bawa lipstik?" Gibran menyela dengan cepat. Yashinta terkesiap, mencoba mencerna pertanyaan Gibran.


"Saya tanya kamu bawa lipstik?" tanya Gibran lagi.


"Ada–" Yashinta hendak membuka clucthnya namun Gibran sudah lebih dulu meraih dagunya, spontan membuat tatapan mereka bertemu sebelum akhirnya pria itu menyatukan bibir mereka.


Yashinta tentu saja merasa terkejut, namun tidak ada yang bisa ia lakukan kecuali hanya memejamkan mata dengan perlahan tatkala tangan Gibran merengkuh pinggangnya. Ia tidak berdaya.


Gibran yang ditinggalkan oleh Kanza sesaat setelah mengobrol dengan wanita itu semula hanya menikmati berjalannya pesta sembari menunggu Yashinta.


Namun ketika gadis itu tidak kunjung datang dan Kafka juga menghilang, perasaan Gibran mulai tak karuan. Ketika ia justru menemukan gadis itu tengah bersama Kafka dari arah yang sama, perasaan Gibran kian tidak beraturan.


Dan ia tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri, ia cemburu pada Kafka. Dan Yashinta menjadi pelampiasannya.


Persetan dengan janjinya untuk tidak melakukan kiss on the lips dengan Yashinta before marriage.

__ADS_1


TBC


__ADS_2