Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)

Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)
Tidak Ingin Kehilangan


__ADS_3

Dulu, saat Yashinta membahas masa depan dengan Kafka, Kafka pernah mengatakan padanya jika hubungan keduanya hanyalah hubungan anak remaja yang belum tentu arah tujuannya.


Padahal bagi Yashinta, memulai hubungan artinya siap untuk melangkah menuju tujuan. Yang pasti, tujuannya adalah ikatan yang jauh lebih baik lagi daripada berpacaran.


"Cinta sewajarnya, galau juga sewajarnya aja. Nggak usah berlebihan!" begitulah yang Kafka katakan.


Tapi pada kenyataannya, saat ini Yashinta melihat bahwa Kafka terlalu berlebihan menyikapi hubungan keduanya yang berakhir. Kafka terlihat tak punya tujuan hidup setelah putus dengannya.


Awalnya Yashinta tidak ingin tampak terlalu percaya diri dengan hal itu. Tapi keadaan membuktikan demikian. Kafka terlihat tidak normal sejak mereka putus.


"Kafka jarang pulang ke rumah?" Yashinta mengingat apa yang dikatakan oleh Bunda.


"Sesekali." Kafka menyahut acuh.


"Pulang Kafka. Jangan keluyuran di luar."


Kafka menoleh, begitu juga Yashinta sehingga tatapan keduanya bertemu. "Tapi terserah Kafka, Yas nggak maksa. Yas tau Kafka nggak suka diatur." Yashinta tau ia tidak pantas berkata demikian pada pria itu. Ia bukan siapa-siapa bagi Kafka.


"Gue suka!" Kafka dengan cepat menyela. Gadis itu membeku beberapa saat, kemudian meluruskan pandangannya ke depan dan bicara. "Kafka harus mikirin Bunda, kasian Bunda kalau terus khawatirin Kafka."


Kafka tak merespond, ia hanya menatap gadis itu kemudian memfokuskan kembali tatapannya ke jalanan.


"Loe serius ke sini sama dia?" adalah pertanyaan pertama Ranti yang sudah ia duga saat Yashinta tiba. Sementara Kafka tampak membawa kue yang mereka beli dan menyapa orang tua Ranti.


"Yas nggak bawa mobil, sopir Yas lama. Yas nggak bisa nolak pas Kafka ngajakin." terang gadis itu yang membuat Ranti mendesah tak mengerti.


"Bener-bener nyari penyakit loe, Yas!" Ranti tidak habis pikir.


Yashinta hanya diam dengan omelan Ranti, melihat gadis itu hanya pasrah, akhirnya Ranti menyerah mengomel lebih lama. ia menarik tangan Yashinta menuju orang tuanya yang duduk di sofa usang di ruang tamu.


"Non Yashinta kenapa repot-repot datang kemari," Ayah Ranti berujar dengan suara seraknya. Ibu Ranti duduk di sampingnya dan tersenyum tidak enak pada Yashinta.


"Enggak apa-apa Ayah. Lagian Yas udah lama nggak main ke sini." jawab gadis itu yang pada akhirnya membuat ayah dan ibu Ranti hanya bisa tersenyum.


Sejak berteman dengan Ranti, Yashinta seringkali menyambangi rumah Ranti sekedar untuk bermain atau bahkan menginap seperti yang Ranti lakukan di rumahnya.


Awalnya, semua kesederhanaan yang dimiliki keluarga Ranti kerap kalo membuat mereka tak nyaman pada Yashinta yang notabenenya adalah orang berada, tapi Yashinta selalu dapat membuktikan jika ia dapat menyesuaikan diri di mana pun dirinya berada.


Yashinta tidak pernah keberatan jika makan seadanya di rumah Ranti, ia tidak pernah keberatan jika kadang kala ikut membantu Ranti membereskan rumah. Ia juga tidak pernah keberatan tidur di atas kasur sederhana di kamar Ranti.


Ia tidak pernah keberatan dengan segala kesederahaan yang dimiliki Ranti dan keluarganya.


Yashinta seringkali menawarkan bantuan pada keluarga Ranti berupa materi namun seringkali pula keluarga Ranti menolak, sehingga Yashinta dan sang papa tidak dapat memaksa. Bagagiamanpun, ia harus menerima keputusan ayah Ranti. Yashinta takut melukai harga diri pria paruh baya itu jika ia terus memaksa untuk membantu sesuatu hal yang tidak mereka inginkan.


Ayah Ranti hanya menerima bantuan dengan cuma-cuma dalam keadaan terdesak, hanya saat itu. Selebihnya, ia meminta pekerjaan dan memanfaatkan tenaganya daripada diberi dengan cuma-cuma.


"Ranti nggak bilang kalau Ayah Ranti, sakit." ujar Yashinta saat keduanya tengah berada di kamar Ranti.


Sementara Kafka berada di luar, tengah mengobrol dengan ayah Ranti yang saat itu memang sudah dalam proses pemulihan, mereka mengobrol sambil menikmati kue yang dibawa Yashinta dan Kafka.


"Kalau gue bilang nanti loe repot."


"Ranti gitu, ih." Yashinta menggerutu namun Ranti hanya menanggapi dengan senyuman. "Tapi udah dibawa ke dokter, 'kan Ranti?" tanya gadis itu kemudian.


"Kemaren dibawa ke Klinik depan." Ranti menyahut enteng. Jujur membuat perasaan Yashinta tidak enak. Seharusnya Ranti mengatakan padanya jika ayahnya sakit sehingga Yashinta bisa membawanya ke Rumah Sakit.

__ADS_1


"Loe nggak usah khawatir, Yas. Lagian Ayah juga cuma sakit biasa kok, sekarang aja udah mendingan."


"Ranti suka kebiasaan, kalau ada apa-apa pasti ditutup-tutupin." pada akhirnya Yashinta mengutarakan kekesalannya.


"Gue nggak mau terus-terusan ngerepotin loe."


"Nggak repot Ranti–"


"Udahlah, lagian Ayah udah baik-baik aja." sela Ranti dengan cepat, menghentikan perdebatan mereka. Yashinta akhirnya hanya diam, ia mengedar menatap kamar Ranti yang bahkan tak seluas kamar mandi di rumahnya.


Yashinta lupa kapan terakhir kali ia tidur di kamar Ranti, rasanya sudah lama ia tidak menginap di rumah gadis itu, terlebih sejak mereka duduk di bangku SMA. Sekalipun kamar Ranti tidak seluas kamarnya, faktanya Yashinta tetap merasa nyaman berada di sana.


Terlebih, Ranti adalah orang yang rajin membereskan dan merapikan kamarnya.


"Den Kafka ini pacarnya Non Yashinta?" Ayah Ranti bertanya, pria itu hanya diam beberapa saat. Ia tersenyum lantas menggelengkan kepala.


Hari ini, Kafka rasanya diliputi oleh hal-hal seperti itu yang membuatnya kian tidak bisa merelakan Yashinta. Padahal sudah dengan jelas gadis itu menunjukan padanya jika ia tampak sudah melupakan Kafka.


"Biasanya Non Yas diantar sopir kalau ke sini." sambung Ayah Ranti.


"Sopirnya mengalami masalah di jalan. Jadi, saya nawarin Yashinta tumpangan." terang Kafka. Saat berpacaran dengan gadis itu pun, Yashinta memang jarang melibatkannya dengan sesuatu hal yang berhubungan dengan Ranti mengingat bagaimana Ranti sangat membencinya.


Sehingga sekalipun Yashinta tidak pernah meminta Kafka untuk mengantarkannya saat gadis itu akan main di rumah Ranti, pun sekalipun Yashinta meminta, mungkin Kafka akan banyak menolak.


Sehingga hari ini menjadi kali pertama baginya berkunjung ke rumah Ranti.


"Loe nggak perlu segitunya ngeliatin rumah gue, rumah gue emang jelek." begitulah yang Ranti katakan saat Yashinta dan Kafka pamit pulang begitu waktu sudah senja.


"Rumah loe adem." Kafka menyahut. Demi apapun ia memang tidak memandang rendah Ranti setelah melihat kondisi rumah gadis itu. Ia sudah dapat menebak bagaimana kehidupan Ranti yang bahkan masuk ke SMA Firgo atas bantuan Papa Yashinta.


"Nggak papa Bu, lagian Yas yang inisiatif dateng ke sini." gadis itu menyahut dengan senyum terbaiknya.


"Terimakasih sudah jenguk Ayah, Non Yas." Ayah Ranti bersuara.


"Kapan-kapan main ke sini lagi Kak Yashinta." adik Ranti yang baru saja pulang ekskul beberapa saat lalu dan tengah menggandeng Ayah yang ikut mengantarnya sampai ke depan buka suara.


Yashinta mengangguk mengiyakan. "Loe hati-hati, kalau ada apa-apa kabarin gue." pesan Ranti sebelum Yashinta benar-benar pergi. Yashinta hanya mengangguk setelah sebelumnya sempat mencebikan bibir karena sikap Ranti yang berlebihan.


Ketika Yashinta dan Kafka baru akan keluar dari pagar, sebuah mobil putih tampak memasuki kawasan tersebut dan berhenti tepat di samping mobil Kafka.


Membuat Ayah dan ibu Ranti tampak bertanya-tanya mengenai siapa sang pengemudi mobil tersebut. Begitu juga Yashinta dan Ranti yang terheran, sedangkan Kafka yang sudah lebih dulu menebak siapa yang datang hanya diam.


Gibran keluar dari pintu kemudi dan tersenyum. Pria itu masih mengenakan stelan kantorannya yang rapi.


"Siapa? Gantengnya," Ibu Ranti berbisik pelan dengan decakan kagum.


"Tajir juga kayaknya." Adik Ranti menambahi.


"Euu, Mas Gibran."


Mendapati Yashinta yang mengenali orang tersebur, tampaknya kehadiran pria itu bukan datang bertamu untuk mereka, tetapi untuk Yashinta.


Gadis itu sangat terkejut melihat kehadiran Gibran di sana. Ia baru ingat jika dirinya memiliki janji dengan Gibran dan Yashinta lupa mengabari pria itu.


Gibran berjalan dan memasuki pagar kayu yang terbuka, tersenyum menyapa semua orang yang ada di sana. Ranti tentu saja terpaku mendapati pujaannya itu datang berkunjung ke rumahnya–meski ia sadar jika kedatangan Gibran bukanlah untuknya.

__ADS_1


Sementara perasaan Yashinta mendadak tak karuan menyadari fakta jika ia sedang bersama Kafka saat ini. Tapi ia mengingat lagi apa yang Gibran katakan saat di gudang rumahnya. Yashinta yakin Gibran tidak akan berpikiran macam-macam mengenai kebersamaannya dengan Kafka saat ini.


Gibran tersenyum dan tampak menunduk menyapa Ayah dan ibu Ranti, ia menyerahkan parsel berisi buah-buahan segar pada Ibu Ranti kemudian beralih pada sang pacar.


"Hay, saya datang ke tempat les piano kamu tapi katanya kamu izin tidak masuk."


"Saya ketemu Bunda, dia bilang kamu mau jenguk ayah temen kamu yang lagi sakit. Saya pikkr kamu pasti di sini." ujar pria itu ketika Yashinta terpaku menatapnya.


"Mas Gibran tau alamat Ranti darimana?" tanya Yashinta dengan tatapan yang tetap memaku pada Gibran.


"Dari restoran." jawab singkat Gibran, Yashinta hanya mengangguk samar. Ia lantas mengalihkan pandangannya pada kedua orang tua Ranti yang menatap mereka penuh tanya.


"Ini, siapanya Non Yas?" Ibu Ranti yang bertanya. Yashinta menatap pria itu, sedangkan Gibran hanya tersenyum tipis.


"Ini–" Yashinta tampak ragu, terlebih saat matanya tak sengaja beradu pandang dengan Kafka. Rasanya, sangat tidak nyaman.


"Ini pacarmya Yas, Bu."


"Oh, pacarnya Non Yashinta. kirain mah pacarnya Non Yashinta Den Kafka."


****


Pada akhirnya Yashinta pulang dengan sang pacar, gadis itu harus membiarkan Kafka pulang sendiri setelah sebelumnya berterimakasih karena Kafka sudah memberinya tumpangan dan ikut menjenguk ayan Ranti.


Yashinta hanya diam ketika sudah masuk ke dalam mobil pria itu . Bagaimanapun ia menyangkalnya, saat ini Gibran terlihat berbeda. Raut wajahnya bahkan tampak tak terbaca. Padahal beberapa saat lalu suasananya tidak seperti saat ini. Mencekam.


Gadis itu spontan menghindat saat pria itu mendekat, Gibran tentu saja heran. Tetapi setelah Gibran menunjuk seatbelt, barulah Yashinta mengerti jika pria itu hendak memasangkan seatbelt tersebut ke tubuhnya.


"Makasih Mas Gibran," ucapnya setelah itu. Gibran tak merespond, pria itu juga memasang seatbelt di tubuhnya dan mematung setelahnya, kedua tangannya berada di atas gagang stir.


Yashinta hanya menatapnya saat pria itu tak kunjung menghidupkan mesin mobil. Membuat perasaan Yashinta kian tak karuan.


"Yashinta,"


Yashinta terkesiap saat Gibran memanggilnya dengan suara pelan yang terdengar parau. Sudah gadis itu duga jika memang ada sesuatu yang tidak beres.


"Kalau seandainya saya ngelarang kamu deket-deket sama Kafka, apa kamu mau dengerin saya?"


Hal tersebut adalah pertanyaan tidak terduga bagi Yashinta. Mungkinkah Gibran cemburu?


"Yashinta," panggil Gibran. Yashinta perlahan menganggukan kapala atas pertanyaan pria itu.


Kemudian, Gibran tak perlu menjelaskannya, Yashinta dapat membaca mata pria itu jika Gibran memang tengah cemburu saat ini. Padahal terakhir kali, pria itu tampak sama sekali tak cemburu pada Kafka saat mereka makan siang setelah dari Bandara.


"Saya bukan mau ngekang kamu," kali ini Gibran meraih tangan Yashinta.


"Yas ngerti." gadis itu tak perlu penjelasan. Gibran hanya menatap gadis itu, mengusap punggung tangan Yashinta dengan lembut.


"Yashinta,"


"So lucky to have you."


"Saya nggak mau kehilangan kamu."


TBC

__ADS_1


__ADS_2