Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)

Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)
Salah Kirim (2)


__ADS_3

Usai seharian bekerja, dengan badan yang terasa lelah begitu tiba di apartement, Gibran segera merebahkan tubuhnya beberapa saat sebelum kemudian mandi dan membersihkan diri.


Ia tidak makan malam dan lebih memilih mie instan untuk mengisi perutnya. Hanya sesekali, hanya hari ini karena Gibran belum membeli bahan makanan. Gibran sering memarahi Kafka jika sang adik terlalu sering mengonsumsi mie instan. Tidak sehat.


Dengan segelas mie instan yang dimasaknya, pria dengan pakaian kasual ala rumahan itu berjalan menuju meja kerjanya yang berada dekat dengan jendela kaca balkon dimana laptop miliknya sudah menyala di atas meja.


Ia meraih ponsel saat sebuah pesan masuk membuat benda pipih itu bergetar. Sang skretaris yang memberitahunya jika fail yang ia butuhkan sudah dikirim. Dengan tangan kanan yang memegang sumpit dan mengaduk mienya, ia keluar dari jendela obrolannya dengan sang skretaris.


Matanya fokus pada layar laptop di hadapannya dengan sesekali melahap mienya. Gibran berdecak, sesungguhnya tinggal di rumah jauh lebih menyenangkan karena ia bisa menikmati makanan rumahan buatan sang bunda.


Biasanya, jika di apartement, ia memasak sendiri. Atau memesan lewat aplikasi.


Pria itu menggeser mangkuk mienya yang hanya tersisa kuah. Lantas meraih ponsel untuk kembali menghubungi sang skretaris, tapi justru ia terpaku pada kontak Yashinta yang ia beri nama Masha.


Iseng, tangan Gibran membuka jendela obrolannya dengan Yashinta dimana belum ada strory apapun di sana. Ia tanpa sadar tersenyum tipis mengingat tingkah polos Yashinta di ketiga pertemuan mereka.


Gadis itu yang merengek di pertemuan pertama saat Gibran menemukannya di jalanan, bertingkah usil saat keduanya bertemu di toko buku dan tingkah anehnya saat mereka bertemu di pusat perbelanjaan kemarin, saat gadis itu tiba-tiba saja menangis di Gramed. Sampai saat ini pun Gibran tidak tahu alasan kenapa gadis itu menangis tiba-tiba tanpa tahu tempat.


Pria itu berniat keluar dari jendela obrolan, namun tanpa sengaja jari tangannya justru mengirimkan stiker bunga pada Yashinta. Gibran membulatkan mata, tampak panik. Ketika ia akan menghapus pesan, gadis itu justru sudah lebih dulu membaca pesan dan memberinya balasan.


๐ŸŒท


Masha


Maksudnya apaan, yah?


"Sial!" Gibran berdecak, nasi sudah jadi bubur. Ia harus meluruskan agar tidak terjadi kesalahpahaman.


Maaf, salah kirim. Gibran membalas sekenanya. Toh ia tidak sengaja mengirimkan pesan pada gadis itu. Ia sama sekali tidak berniat menghubungi Yashinta.


Gibran menatap layar ponsel dengan raut serius saat melihat tulisan typing di sana sampai dua buah pesan masuk dari Yashinta membuatanya dengan cepat kembali membuka jendela obrolan.


Modus. Bilang aja mau ngchat Yas!


Basi banget pake alasan salah kirim๐Ÿ˜œ


Pria itu berdecak dengan tawa tertahan Sekaligus kesal karena gadis itu sudah berpikiran macam-macam.


Dasar anak kecil! Gibran mengetikan balasan dengan malas dan menaruh ponsel ke atas meja dengan gerakan kasar. Wajahnya tampak kesal meski ia tetap menunggu balasan dari Yashinta.


Masha


Iya, maaf Om.


Gibran membulatkan matanya. Yashinta benar-benar membuatnya naik darah. ******* napas pria itu memburu, ia kembali mengetikan balasan.


Masha, dengarkan saya. Saya masih muda. saya nggak mau dipanggil om.

__ADS_1


Masha


Kalau begitu apa? Dek?


Oh, kamu senang bermain-main.


Masha


Iya, senang. Apalagi main hujan.


๐Ÿ˜ 


Masha


Nggak asik bercanda sama orang tua.


"Nih, anak!" Gibran geregetan sendiri meladeni gadis itu. Dengan penuh emosi, ia tetap mengetikan balasan.


Awas saja kamu kalau kita ketemu! Ancamnya.


Cukup lama Gibran menunggu balasan, namun tak kunjung ada tulisan typing di sana. Membuat Gibran cemas hingga kemudian ia sadar atas hal kekanak-kanakan yang ia lakukan.


Untuk apa juga ia meladeni Yashinta?


***


"Makan malamnya sudah siap Non." sahut Mbak Lala yang saat itu sedang berada di dapur.


"Iya. Makasih, Mbak Lala."


"Sama-sama Non Yas."


"Mbak Lala udah makan?"


"Sudah Non."


"Bi Rasti?"


"Sudah, tadi makan sama saya."


"Oh, yaudah. Kalau gitu, Yas makan yah."


"Iya Non, silakan." Mbak Lala tersenyum samar. Ia memerhatikan Yashinta yang lahap makan. Mbak Lala memang baru satu tahun bekerja di rumah tersebut. Tapi rasanya ia hapal orang seperti apa anak majikannya tersebut.


Ia memang manja, mungkin juga karena sang papa yang sangat memanjakannya, terlebih Yashinta tidak tumbuh dalam kasih sayang seorang ibu. Tapi Yashinta tidak seperti anam majikan Mbak Lala sebelum-sebelumnya yang suka seenaknya terhadap asisten rumah tangga mereka.


Yashinta tidak seperti itu, ia bahkan melakukan beberapa hal kecil tanpa meminta bantuan Bi Rasti maupun Mbak Lala. Seperti merapikan kamarnya sesekali atau mencuci sepatu miliknya sendiri. Nulai plusnya, Yashinta tidak pernah marah-marah sekalipun Mbak Lala dan Bi Rasti pernah membuat kesalahan.

__ADS_1


Pernah sekali waktu, Mbak Lala yang baru bekerja di rumah tersebut membereskan ruang kamar Yashinta. Saat itu kamar anak majikannya tampak berantakan. Mbak Lala membuang beberapa poster yang dirasanya sudah tidak dibutuhkan.


Tapi rupanya, poster-poster tersebut adalah poster kesayangan Yashinta yang akan gadis itu simpan dibrankasnya karena akan diganti poster baru. Gadis itu tidak memarahi Mbak Lala meski ia terlihat sangat kesal saat melihat posternya kusut. Tapi beberapa jam kemudian, gadis itu sudah kembali seceria sebelum-sebelumnya.


Yashinta selesai makan bersamaan dengan kedatangan sang papa yang membawa martabak keju kesukaannya. Andri hanya tersenyum menatap putrinya yang tengah menikmati martabak keju yang ia beli di tempat langgannanya saat perjalanan pulang.


"Pah,"


"Apa Sayang?"


"Yas kasihan sama Ranti,"


"Kasihan. Kasihan kenapa?"


"Dia kerja pas pulang sekolah. Malamnya juga kerja, sekolahnya akhir-akhir ini sering kesiangan, di kelas juga sering keliatan ngantuk banget." adunya mengingat kondisi Ranti belakangan ini, lantas kembali melahap martabak keju miliknya.


Andri yang mendengarkan mengangguk-anggukan kepala. "Kamu mau Papa bagaimana, Sayang?"


"Yas udah nawarin Ranti buat nggak kerja dan percaya aja sama Yas."


"Terus?"


"Ranti nolak." Yashinta menyesalkan sikap Ranti atas sarannya.


"Yas pengennya dia berenti kerja. Atau kalau nggak, dia punya gaji yang besar di pekerjaan paruh waktu siang biar malemnya nggak perlu kerja lagi. Biar punya waktu istirahat yang cukup, Pah." panjang lebar gadis itu yang membuat sang papa kembali mengangguk-anggukan kepala.


"Nanti biar Papa yang bicara sama Ranti, yah." Andri menenangkan, Yashinta mengangguk dengan senyum lebar yang membuat Andri juga tersenyum.


"Oh, iya. Satu minggu lagi ada acara ulang tahun perusahaan. Kali ini Papa ingin mengajak kamu." beritahu Andri kemudian.


"Buat?"


"Kamu, 'kan anak Papa satu-satunya. Kamu yang akan meneruskan perusahaan Papa untuk ke depannya."


"Sekarang, 'kan kamu sudah dewasa. Papa perlu mengenalkan kamu pada semua orang." terang Andri, Yashinta mengangguk mengerti. Tidak keberatan dengan ajakan Andri.


"Papa juga akan mengenalkan kamu dengan seseorang." sambungnya. Yashinta hanya mematung dan memerhatikan raut wajah sang papa yang terlihat senang. Setelahnya, Yashinta hanya mengangguk samar.


Yashinta kembali ke kamar setelah puas memakan martabak kejunya. Sang papa juga harus beristirahat sehingga Yashinta tidak bisa terus menerus mengajaknya mengobrol.


Gadis itu merebahkan diri di atas tempat tidur dengan kepala yang menerawang mengingat apa yang sang papa katakan bahwa Andri akan mengenalkannya pada seseorang. Membuat Yashinta bertanya-tanya mengenai siapa orang yang akan Andri kenalkan padanya.


"Papa nggak mungkin jodoh-jodohin, Yas, 'kan. Papa, 'kan udah tahu Yas pacarnya Kafka." gadis itu masih bertanya-tanya begitu posisinya miring ke samping kanan.


"Semoga bukan." ia menenangkan diri lantas memejamkan mata begitu menarik selimutnya. Memilih untuk lebih baik mengistirahatkan diri. Melupakan chat dari Gibran yang semestinya mendapat balasan.


TBC

__ADS_1


__ADS_2