
Mohon fokus pada keseluruhan isi cerita, bukan hanya salah satu scene saja. Terimakasih dan selamat membaca.
***
Yashinta dan Gibran hanya saling bertukar pandang setelahnya. Ketika Gibran mengukir senyum seperti biasa, Yashinta membalas senyuman itu sekalipun kaku.
"Selamat siang, Om." Kafka menyapa calon mertuanya itu.
"Hay, siang Kafka." Andri balas menyapa dengan senyum ramah.
"Pak Andri, saya duluan." beberapa rekan kerjanya pamit lebih dulu menuju privat room yang sudah mereka reservasi sebelumnya. "Oh, iya. Silakan, silakan." Andri mempersilakan rekan-rekannya untuk berlalu lebih dulu, sementara Gibran masih berdiri di sana, sangat mengganggu penglihatan Kafka.
"Kalian sudah selesai?" tanya Andri yang membuat Kafka memutus tatapannya dari Kafka. "Udah, Om. Ini mau pulang, biar Kafka–" pria itu menjeda kalimatnya saat ponsel di saku jaketnya berdering. Ia melepas tangan Yashinta yang semula ia genggam, sekali lagi hal itu tidak lepas dari radar Gibran.
"Saya permisi sebentar." pamitnya. "Sebentar, Yas." ia menatap Yashinta dan gadis itu hanya mengangguk, membiarkan Kafka keluar dari restoran untuk mengangkat telpon.
"Papa makan siang di sini?" tanya Yashinta pada Andri, ia bertanya guna meredam rasa canggung yang tercipta saat keadaannya dengan Gibran tak lagi sama.
"Iya, Sayang. Papa ada rapat di kantor Mas Gibran." Andri menyahut yang sekilas membuat Yashinta menatap pria yang namanya Andri sebutkan.
Andri dan Gibran menoleh ketika Kafka kembali dengan raut berbeda. "Ada apa, Kafka?" Yashinta bertanya dengan nada cemas. "Yas, sorry, yah, gue nggak bisa anterin loe pulang. Anak-anak ngabarin kalo tim basket ada latihan hari ini." sahut Kafka tampak tidak enak karena harus meninggalkan Kafka di hadapan Papanya, Yashinta mengangguk mengerti.
"Yaudah, Kafka duluan aja. Biar Yas pulang sama Papa." Yashinta tersenyum pada Andri, Kafka menatap Papa Yashinta, pria itu tersenyum mengerti. "Kamu duluan aja, biar Yashinta sama Om." ujar Andri. Kafka mengangguk, pamit pada mereka untuk memenuhi panggilan.
Sebelum menghidupkan mesin mobil, Kafka sempat menghela napas. Sejujurnya orang yang menghubunginya bukanlah anak dari tim basket, melainkan Saras yang berbicara dengannya diiringi tangis.
Kafka tentu tidak bisa mengabaikannya, sejauh yang Kafka tahu, Saras tidak memiliki siapapun selain dirinya. Insiden yang menimpa sang mama pasti sangat membuat gadis itu terpuruk dan bimbang, Kafka memahaminya dan ia ingin berada di samping gadis itu.
Kafka melajukan mobilnya menuju sebuah taman dekat kompleks perumahan Yashinta, Saras mengajaknya bertemu di sana. Setengah berlari ia mencari keberadaan gadis itu di sekitar taman, sampai Kafka menemukan sosok gadis berbalut hoodie tebal duduk di kursi panjang di bawah pohon cemara lilin.
Persis saat Kafka menemuinya tempo hari ketika gadis itu mendapat luka robek di ujung bibirnya akibat ulah sang papa.
Kafka melangkah perlahan ke arahnya, "Saras." panggilnya dengan napas yang masih sedikit memburu. Saras yang tengah menangis dengan pandangan tertunduk lantas mendongak dan mempertemukan tatapannya dengan Kafka, tangisnya kian tak terbendung, terlebih saat Kafka duduk di sampingnya, meraih tangannya dan mendekap Saras dalam pelukan.
"Kafka," tangis gadis itu kian pecah tak terbendung saat mendapat sandaran.
Kafka memejamkan matanya sesaat, mengusap punggung Saras dengan lembut. "Loe baik-baik aja, ada gue di sini."
"Loe nggak sendiri."
***
"Yashinta ini yang dulunya sering ikut acara pesta kolega, iya?" salah satu rekan kerja Andri bertanya di sela-sela makannya.
Usai Kafka pergi, Yashinta yang harus pulang dengan sang papa akhirnya memilih bergabung dengan mereka untuk makan siang. Tetapi gadis itu hanya memesan tiramisu karena perutnya sudah kenyang.
"Iya, Om."
"Sekarang sudah besar, yah. Dulu masih kecil sekali. Sekarang Om jarang liat bareng sama Papa di acara-acara perusahaan." sahutnya lagi yang hanya gadis itu tanggapi dengan senyuman.
"Kemarin dia ikut di acara ulang tahun perusahaan." beritahu Andri.
"Oh, yah. Om nggak liat–"
"Soalnya Om nggak dateng." selorohnya yang membuat semua orang di meja itu tertawa.
"Yashinta sekarang ini sudah besar, makin bosan dia gabung sama bapak-bapak." Andri juga berseloroh. Karena faktanya putri tunggalnya itu memang kerap kali menolak ajakan Andri untuk datang ke pesta-pesta kolega.
Alasannya selalu sama, acaranya membosankan karena semua orang hanya membicarakan mengenai pekerjaan.
Selorohan tidak seberapa Andri itu menciptakan gelak tawa. Semua orang tertawa kecuali hanya Gibran dan Yashinta. Pria itu lebih banyak menatap gadis yang menjadi bahan pembicaraan dan Yashinta berusaha menghindari kontak mata dengan pria itu.
"Mm, Yas permisi ke toilet sebentar." gadis itu bangkit dari duduknya.
__ADS_1
"Silakan, silakan."
"Jangan lama-lama, Sayang." pesan Andri, Yashinta mengangguk.
Lama-kelamaan, jika Gibran terus saja menatapnya, Yashinta benar-benar akan meleleh di tempatnya.
Bagaimana mungkin pria itu dengan leluasa memberikannya tatapan yang sangt lama dan membuat Yashinta merasa dilucuti oleh tatapannya?
Gadis itu mendesah, menatap pantulan wajahnya di cermin. Ia merapikan rambut, mengambil sebuah lip balm dari saku alamamternya kemudian mengenakannya.
Yashinta begitu terkejut ketika mendapati Gibran yang melipat tangan di dada begitu ia keluar. "M–Mas Gibran." desahnya. Gibran menurunkan tangannya dan menatap Yashinta.
"Mas–Gibran ngapain di sini?" gadis itu gugup.
"Saya kesini karena saya rasa kamu ngehindarin saya. Saya nggak suka, Yashinta." ujar pria itu tanpa basa-basi dan membuat Yashinta mati kutu di tempatnya. Gadis itu hanya diam membatu.
"Apa kabar Yashinta?" tanya Gibran kemudian setelah cukup lama menatap gadis itu, Yashinta menatapnya sebentar kemudian menyahut. "Baik, Mas."
Gibran berdecak dan membuat gadis itu tampak heran. Menatap Gibran penuh tanya.
"Kenapa rasanya saya kesal kamu baik-baik aja setelah berhenti berhubungan dengan saya." ujarnya dengan senyum sumbang.
Yashinta di tempatnya tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya menatap pria itu, Gibran menggaruk pelipis dengan jari telunjuk kemudian kembali bersuara. "Kamu enggak tanya bagaimana keadaan saya?"
"Yas rasa Mas Gibran baik-baik aja."
Gibran menggelengkan kepala. "Di sini nggak baik-baik aja Yashinta." Gibran menunjuk dadanya, menunjukan rasa sakitnya pada gadis itu sejak mereka berhenti saling berhubungan.
***
Kafka dan Saras hanya duduk di bangku taman setelah tangis Saras reda. Perasaannya sudah jauh lebih baik setelah ia bertemu dengan Kafka dan menumpahkan tangisnya.
"Jadi, apa yang mau loe lakuin?" tanya Kafka, menoleh pada gadis itu. Saras hanya menggelengkan kepala, menatap sneakers putih yang ia kenakan kemudian mengembuskan napas. "Gue nggak bisa nunggu. Tapi gue juga nggak bisa ngelakuin apa-apa. Gue cuma percayain semuanya sama Om Andri." ia menyahut kemudian.
"Bagus kalau gitu."
"Tapi gue malah jahat sama Yashinta. Gue nggak tahu diri, yah Ka?" gadis itu bertanya tanpa meminta Kafka benar-benar menjawabnya.
"Yashinta pasti bakalan benci banget sama gue kalo dia tahu apa yang gue kasih buat ngebales kebaikannya." ujarnya lagi.
"Gue bilang biar gue putusin Yashinta." Kafka angkat bicara.
"Sekarang?"
"Bisa aja kalo loe setuju."
"Gue mau tahu perasaan loe ke Yashinta." sahut Saras yang membuat Kafka menegang di tempatnya. Entahlah, tapi ia merasa kesulitan dalam menentukan jawaban.
"Gue mau tau, Ka."
"Gue nggak ada perasaan apapun sama Yashinta."
"Kalian hampir enam bulan pacaran. Mustahil kalo loe nggak ada perasaan apapun sama dia."
"Gue lebih tahu perasaan gue, Saras. Gue macarin dia juga karena loe, gue nggak ada perasaan apapun sama Yashinta." Kafka kukuh dengan pendiriannya.
"Biar secepatnya gue putusin dia. Biar kita nggak perlu sembunyi-sembunyi." sambungnya, yakin.
"Enggak sekarang Ka. Loe masih ada waktu. Mutusin Yashinta saat ini juga bukan cara terbaik. Gue emang egois, tapi gue butuh loe. Gue juga nggak mau Yashinta sakit hati kalau loe tiba-tiba mutusin dia."
"Biar nanti gue yang bilang sama Yashinta pelan-pelan. Semuanya."
"Gue bakal ceritain semuanya."
__ADS_1
***
"Yas emang ngehindarin Mas Gibran. Yas nggak mau hubungan persaudaraan Mas Gibran sama Kafka berantakan gara-gara Yas."
"Kafka yang bilang?"
"Enggak ngaruh apa-apa, Yashinta. Saya sama Kafka baik-baik aja."
"Tapi Yas nggak bisa terus-terusan berhubungan sama Mas Gibran. Kafka bisa marah sama Yas, sama Mas Gibran juga."
"Yas ganti nomor hp. Mas Gibran harus berenti hubungin Yas. Yas nggak mau bikin Kafka sedih."
Gibran diam, tak lama pria itu tersenyum hambar dan bertanya dengan nada pilu. "Lalu bagaimana dengan saya Yashinta?"
Gadis itu sempat diam beberapa saat sebelum kemudian berkata. "Mas Gibran bukan siapa-siapa Yas, jadi itu bukan urusan Yas."
Kalimat terakhir yang gadis itu katakan di depan pintu toilet padanya terus berputar di kepala Gibran. Tapi tidak ada yang bisa ia lakukan kecuali hanya menatap punggung Yashinta yang berlalu ke arah mobilnya dengan Andri.
Pria itu merogoh ponsel dan menyerahkannya pada Intan yang menghampirinya setelah cukup lama skretarisnya itu menunggu di dalam mobil.
"Pak," Intan tampak heran tapi hanya mampu menatap kepergian sang atasan setelahnya, kemudian menatap ponsel pribadi pria itu di tangannya.
Perasaan Gibran kian menggebu saat langkah kaki gadis itu kian menjauh, sehingga ketika Yashinta baru saja membuka pintu mobil, Gibran berjalan menghampirinya.
"Yashinta."
Gerakan tangan gadis itu yang membuka handle pintu tertahan, Andri yang juga akan masuk ke dalam mobil menjeda gerakannya, menatap Gibran yang sudah berdiri di hadapan Yashinta.
"Ada apa, Mas?"
Yashinta kira, setelah apa yang terjadi di depan toilet tadi Gibran tidak akan lagi berbicara padanya.
Yashinta merasa sudah kelewatan, padahal ia tidak berniat melukai perasaan Gibran dengan kata-katanya. Tapi ia benar-benar ingin menghindari pria itu untuk menjaga perasaan Kafka, juga menjaga hubungan persaudaraan dua orang itu.
Juga menjaga perasaan Gibran. Yashinta tidak ingin pria itu kian terluka. Yashinta tidak ingin terkesan memberi pria itu harapan palsu.
"Saya boleh minta tolong?" tanya Gibran, Yashinta tersadar dari lamunannya, kemudian menoleh pada Andri. Sang Papa mengangguk, menyuruh gadis itu memenuhi apa yang Gibran butuhkan.
"Iya, boleh."
"Saya pinjam hp kamu. Saya lupa naro hp saya di mana." ujarnya, sesaat membuat gadis itu diam di tempat. Tapi kemudian menyerahkan juga ponselnya pada Gibran sekalipun ia sadar jika apa yang ia lakukan adalah sebuah kesalahan.
Gibran meraih ponsel gadis itu, mengetikan nomor ponselnya dan menempelkan benda canggih itu di telinganya. Tak berapa lama, dering ponsel terdengar. Yashinta menoleh ke belakang, melihat ponsel pria itu berada di tangan seorang wanita.
Gibran menundukan pandangannya, kemudian tersenyum. "Saya lupa, tadi saya titip hp ke skretaris saya." ujar pria itu dengan raut wajah tanpa dosa.
Andri tertawa. "Gibran, Gibran. Kamu hampir sama kaya Om pas masih muda. Sibuk sama pekerjaan sampe kadang hp sendiri aja lupa naronya di mana." ujar Andri yang kemudian meneruskan gerakan tangannya membuka pintu mobil. Gibran hanya tersenyum menanggapi kalimat Andri, setelah Andri masuk ke dalam mobil, Gibran mengalihkan tatapannya pada Yashinta yang masih berdiri di hadapannya.
Gibran menyerahkan ponselnya pada gadis itu yang diterima Yashinta dengan ragu-ragu.
"Save nomor saya." ujar Gibran.
"Saya nggak minta kamu untuk balas chat yang saya kirimkan nanti,"
"Saya juga nggak akan minta kamu buat angkat telpon saya jika saya ingin denger suara kamu."
"Tapi seenggaknya, kalau kamu butuh saya, kamu bisa dengan mudah menghubungi saya."
"Saya pasti akan ada buat kamu, Yashinta."
"Kapanpun."
TBC
__ADS_1
Mas Gibran ini kelewat cerdas atau terlalu nekad yah? Haha