Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)

Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)
Meja Makan Bunda


__ADS_3

"Gue mau jadi pacar loe sekarang Kafka."


"Hah?" Kafka spontan mengerutkan kening mendengar pernyataan gadis yang sudah ratusan kali menolaknya itu.


"Kenapa loe kaget?" tanya Saras setelah melihat reaksi yang diperlihatkan oleh Kafka.


"Loe terlalu tiba-tiba."


Setelahnya, dua orang itu hanya saling terdiam dengan pandangan dalam satu garis lurus. "Jadi gue bisa mutusin Yashinta?" tanyaa Kafka setelah cukup lama. Saras menggelengkan kepala.


"Sebelum waktu yang ditentuin habis, loe nggak bisa mutusin dia."


Kafka tersenyum sumbang. "Artinya gue selingkuh dari Yashinta?" tanya Kafka, tampak keberatan. Padahal semalam ia menuduh Yashinta berselingkuh dengan Gibran.


Saras menganggukan kepala, mengalihkan perhatiannya ke arah lain sementara Saras menatap pria itu, melihat baik-baik perubahan wajah Kafka.


Saras ingin tahu apakah pria itu mau melakukannya atau tidak. Apakah dia sanggup menduakan Yashinta atau tidak. Apakah Kafka mampu menyakiti Yashinta dengan cara seperti ini atau tidak.


"Okay."


"Mulai sekarang loe jadi pacar gue." Kafka menyahut setelah cukup lama. Cukup membuat Saras berdecak kagum, ia bahkan tidak memahami bagaimama sistem perasaan di hati Kafka bekerja.


(Othor:Jingaaan si Kafka!)


***


Gibran hanya menatap mobil Yashinta yang membawa gadis itu pergi, berlalu dan hilang dari pandangannya. Ia sudah menduga hal seperti ini akan terjadi, namun kedatangannya tidaklah sia-sia setelah Gibran dapat memastikan langsung jika kondisi gadis itu baik-baik saja.


Setidaknya rasa khawatirnya pada Yashinta berkurang, sekalipun ia tidak bisa menghindari sakit saat bahkan Yashinta tidak memperlihatkan senyum untuknya.


***


"Gue tadi liat mobil Mas Gibran." sahut Saras, Yashinta yang semula menatap kaca jendela mobil dan memerhatikan rintik air hujan menoleh dengan raut heran. "Oh, yah? Yas nggak liat." dustanya yang kemudian kembali mengalihkan perhatiannya pada objek semula.


Saras di tempatnya hanya mengangkat bahu acuh. Ia jelas-jelas melihat mobil Gibran tadi dan saat ini ia dapat menebak bagaimana perasaan Yashinta.


Bimbang.


***


Gibran kembali ke perusahaannya usai ia memastikan keadaan Yashinta setelah mendatangi sekolahnya. Ia menghabiskan waktunya selama seharian di kantor dan pulang ke rumah Bunda karena sang Bunda mengundangnya untuk datang.


Mobil Kafka sudah berada di garasi saat Gibran tiba, waktu menunjukan pukul setengah tujuh malam dan Gibran lebih dulu melihat ponselnya sebelum meninggalkan mobil yang ia parkir di pelataran.


Pria itu mendesah ketika melihat pesan yang ia kirimkan pada Yashinta sejak semalam masih dalam keadaan centang satu dan bahkan saat Gibran memberanikan diri menekan ikon telepon, nomor gadis itu justru tidak bisa dihubungi.

__ADS_1


"Hay Mas." Bunda segera menyapa saat mendapati putra sulungnya itu tiba. Semula Gibran mengatakan jika ia tidak akan datang karena memiliki banyak sekali pekerjaan.


Namun Bunda tidak menerima penolakan dan meminta Gibran untuk tetap datang, sehingga mau tak mau Gibran meninggalkan pekerjaannya dan menuruti keinginan sang Bunda.


Sejujurnya alasan ia tidak mau datang bukan semata-mata karena banyak pekerjaan, melainkan karena ia belum siap untuk bertemu dengan adiknya, dan Bunda yang menyadari hal itu tentu tidak akan membiarkan hal tersebut terjadi. Sebagai orang tua, tentu Bunda harus meluruskan apa yang semalam terjadi di antara mereka. Antara Gibran, Yashinta dan Kafka.


"Hay Bun." Gibran balas menyapa, ia menyalami sang bunda, mendaratkan kecupan singkat di pipi lantas duduk pada salah satu kursi. Hidangan makan malam dengan masakan ala rumahan di meja makan sudah tersaji dengan lengkap.


"Mas," Bunda yang masih sibuk dengan asisten rumah tangga mereka menata meja makan memanggil.


"Iya Bun?"


"Bunda boleh minta tolong?"


"Minta tolong apa, Bun?" Gibran sudah bangkit dari duduknya dan siap membantu sang Bunda bahkan ia dengan segera menggulung lengan kemejanya.


"Bukan." Bunda mencegah.


"Bunda minta tolong, panggilin adek kamu. Ajak dia makan malam bareng." pinta Bunda tanpa menunggu persetujuan Gibran dan kembali sibuk dengan pekerjaannya.


Gibran di tempatnya tak protes, ia segera memenuhi perintah Bunda beranjak menuju ruang utama dan menapaki undakan tangga menuju lantai dua di mana kamar Kafka berada. Bunda yang melihat hal itu hanya menatap punggung putra sulungnya. Anak itu dewasa sekali.


"Mas Gibran sama Mas Kafka sedang tidak akur yah, Bu?" tanya si Bibi, Bunda hanya tersenyum dan mengangguk. "Biasa, ribut kecil." ujar Bunda kemudian yang membuat Bibi tersenyum mengerti.


"Iya, bawel. Gue mau makan dulu, loe juga jangan lupa makan."


Sekilas Gibran sudah dapat menebak siapa yang berbicara dengan Kafka, begitu memastikan adiknya selesai berbicara dengan Yashinta melalui sambungan telepon, Gibran lantas mengetuk pintu.


Kafka yang baru saja akan keluar dari kamarnya tampak heran mendapati kehadiran Gibran. "Loe ngapain di sini?" Kafka tampak tidak suka.


"Makan! Bunda udah nunggu di bawah." Gibran mengabaikan kalimat Kafka dan pergi setelah menyampaikan pesan Bunda. Kafka mengikuti langkah kaki pria itu.


Rasanya canggung berada di belakang Gibran dengan keadaan saling terdiam. Tidak ada canda ataupun obrolan ringan seputar kegiatan mereka sepanjang hari ini seperti biasa. Semua menjadi berbeda.


Bunda yang mendapati kedatangan kedua putranya hanya menatap Kafka dan Gibran bergantian, tapi kemudian mempersilakan dua orang itu untuk duduk.


Baik Gibran maupun Kafka tahu jika ada yang ingin Bunda bicarakan dengan mereka. Bunda tidak pernah merusak suasana di meja makan sehingga dua orang itu sudah bersiap bahkan sebelum memulai makan karena Bunda akan berbicara nanti.


"Ayo, makan yang banyak." sahut Bunda pada Kafka dan Gibran yang makan dalam keadaan canggung–saling terdiam.


"Iya Bunda." Gibran menyahut sebelum kemudian kembali makan. Disusul oleh Kafka yang juga ikut menyahut. "Iya, Bunda."


Bunda yang sudah lebih dulu menyelesaikan makannya hanya memerhatikan putranya itu, begitu dipastikan jika Gibran dan Kafka sudah menghabiskan makanan mereka. Bunda tampak bersiap untuk buka suara.


"Bagaimana?" tanyanya, membuat yang membuat dua orang itu kebingungan.

__ADS_1


"Bagaimana rasanya makan bersama dengan suasana seperti ini?"


"Apakah nyaman?" Bunda memperjelas pertanyaannya. Kafka dan Gibran saling bertukar pandang kemudian hanya sama-sama berdehem.


"Bunda sangat nggak nyaman, Mas, Ka." Bunda menatap kedua putranya bergantian.


"Mas, sejak kapan kamu mengenal Yashinta?" tanya Bunda.


"Sejak satu bulan yang lalu Bunda."


"Bunda paham, kamu nggak tahu kalau Yashinta itu pacar adik kamu dan adik kamu juga sepertinya nggak tahu Yashinta kenal sama kamu."


"Kamu dan Yashinta terlalu baru buat saling terbuka mengenai keluarga, sampai Yashinta nggak sadar kalau ternyata kamu ini kakanya Kafka. Begitu?" Bunda mengutarakan spekulasinya. Gibran hanya mengangguk.


"Bunda harap kalian nggak perlu ribut kaya gini. Bunda nggak suka ngeliat kalian Perang Dingin. Diem-dieman kaya orang asing." protes Bunda. Untuk beberapa saat, Bunda menghela napas dan menjeda kalimatnya, kemudian melanjutkan.


"Kamu sama Yashinta tidak ada hubungan apa-apa?" tanya Bunda. Kali ini Gibran tampak terdiam. Membuat Bunda menyipitkan mata dengan sorot curiga.


"Mas, jangan bilang–"


"Gibran sendiri yang bilang–"


"Kafka!" Bunda menatap Kafka ketika putra bungsunya itu menyela dan bersikap tidak sopan pada Gibran. Membuat pria itu meralat ucapannya. "Mas Gibran bilang sendiri kalo dia suka sama Yashinta."


Bunda tampak tercengang. Seharusnya ia sudah menduga hal tersebut saat Gibran mengatakan jika putra sulungnya itu akan mengenalkannya pada seseorang. Seharusnya ia sadar jika sorot mata Gibran amat penuh cinta dan kebahagiaan saat akan mempertemukannya dengan Yashinta.


"Mas Gibran nggak punya perasaan Bunda dia–"


"Kafka, kalau Mas kamu nggak punya perasaan dia nggak mungkin jatuh cinta sama Yashinta." Bunda menyela dengan raut wajah yang tampak masih tercengang.


"Bunda." Kafka protes dan terlihat frustrasi dengan pernyataan Bundanya.


"Bunda ini ada di pihak siapa, sih?" tanya Kafka kemudian dengan raut kusut. Sementara Gibran tampak biasa dan menatap Bundanya, menunggu jawaban atas pertanyaan Kafka.


"Bunda ada di pihak yang menang." Bunda menyahut tanpa pertimbangan. Membuat Kafka dan Gibran menatapnya dengan kerutan di dahi mereka.


"Siapapun di antara kalian yang menang, Yashinta tetap akan jadi menantu Bunda." sambung Bunda yang kemudian bangkit dari duduknya. Gibran tersenyum tipis, seperti diberi lampu hijau. Sementara Kafka menekuk wajah, posisinya terancam.


Bunda tahu karakter kedua putranya. Ia tidak akan berpihak pada siapapun dan hanya percaya jika Gibran dengan Kafka mampu melakukan yang terbaik untuk mereka sendiri.


Bunda merasa cukup yakin dua orang itu tidak akan saling menyakiti secara fisik. Tetapi perihal hati ..., pasti akan ada yang terluka pasti ada yang tersakiti.


Hal itu tidak akan bisa dihindari.


TBC

__ADS_1


__ADS_2