Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)

Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)
Bali, Senja dan Cinta Pertama


__ADS_3

Yashinta pernah memimpikan sebuah pernikahan yang mewah. Ia menjadi seorang putri di hari bahagianya, menjadi ratu sehari dan bersanding dengan pangeran dari negri dongeng, atau dengaan raja yang menguasai isi hatinya.


Hal tersebut masih menjadi keinginannya hingga hari kemarin. Namun siang ini, pandangannya tentang perniakahan mewah ala putri berubah setelah melihat konsep sederhana respesi pernikahan Bayu dan Shenina.


Resepsi outdoor di pinggir pantai, terlihat santai, elegan dan yang pasti akan sangat berkesan.


Yashinta melihat dekorasi yang didominasi dengan warna putih. Ia bahkan mengenakan dress berwarna putih sesuai dengan dress code acara tersebut. Para tamu undangan sudah banyak yang hadir, waktu menunjukan pukul dua siang dan acara akan segera dimulai.


Yashinta melihat sekitar dan mencari keberadaan Gibran, hingga ia menemukan pria dengan kemeja putih itu muncul dan tersenyum padanya. Gibran membawa sebuah kamera, sesekali tampak memotret beberapa objek di sana termasuk para tamu undangan berikut anggota keluarga kedua mempelai yang tengah terenyum bahagia.


Yashinta hanya memerhatikan hingga kemudian pria itu berdiri di hadapannya dan mengarahkan kamera padanya. Alih-alih berpose, gadis itu justru menutup wajahnya.


"Jangan foto sembarangan, Yas nggak suka." protes gadis itu dengan senyum malu-malu, Gibran menahan senyummya, kemudian mengarahkan kamera pada objek lain.


"Jangan khawatir, saya pemilih soal objek foto." pria itu menyahut dan justru membuat bibir Yashinta mengerucut. Gadis itu memilih kembali menikmati keindahan dekorasi dan pemandangan laut, mengabaikan Gibran yang asik dengan dunianya sendiri.


Gibran yang semula memfoto objek lain mengarahkan kameranya pada Yashinta, mengambil foto gadis itu secara diam-diam dan memerhatikan bagaimana mata gadis itu bergerak, melihat bagaimana bibir gadis itu mengukir senyum tipis yang manis dan merasakan sendiri bagaimana debaran di hatinya begitu menggebu saat mata cantik itu mengarah padanya.


Gibran memilih menurunkan kameranya, mengulurkan tangan pada gadis itu dan berjalan dengan Yashinta untuk duduk bergabung dengan Leon dan Krystal. Pembawa acara sudah membuka acara dan para tamu undangan diminta untuk segera duduk.


Yashinta duduk di samping Krystal, wanita dengan balutan dress putih yang memperlihatkan lekuk tubuhnya itu menyapanya dan tersenyum.


Perhatian para tamu undangan teralihkan pada tokoh utama acara tersebut saat pasangan pengantin muncul dan berjalan bergandengan menapaki red carpet. Shenina tampak tersenyum lebar dan terlihat begitu cantik dengan balutan dress berwarana biru laut yang elegan, di sampingnya Bayu mengenakan stelan dengan warna senada dengannya.


Keduanya terlihat begitu serasi dan tampak bahagia, menebar senyum pada setiap tamu undangan dan berdiri di tempat yang disediakan, bersiap mengucap janji suci dan menerbangkan merpati putih.


"Merpati itu simbol cinta." Yashinta yang sebelumnya terpesona menatap pasangan pengantin di balik backround hati yang dihiasi bunga-bunga putih itu menoleh pada Gibran di sampingnya.


Pria itu tengah mengarahkan kamera pada pasangan pengantin sementaraa Yashinta cukup yakin jika sebelumnya Gibran berbicara padanya.


Yashinta menunggu hingga pria itu menoleh dan tersenyum padanya. "Yas tahu itu." Yashinta menyahut, Gibran mengusap punggung tangan Yashinta. "Good girl." decaknya yang membuat Yashinta tersenyum lebar.


Yashinta juga melihat Krystal yang mendekap tangan Leon saat di hadapan mereka Shenina dan Bayu tengah mengucapkan janji suci pernikahan.


Deburan ombak menjadi backsound paling romantis dengan semilir angin pantai yang menyejukan. Di balik sinar matahari sore yang cukup terik, dua pasangan pengantin itu menerbangkan dua merpati putih.


Sorak sorai dan tepuk tangan terdengar meriah begitu dua burung lambang perdamaian dan cinta suci itu terbang tinggi menuju cakrawala.


Di samping Yashinta berdiri, Gibran menggenggam tangannya. Tapi tatapan mata pria itu mengarah pada pasangan pengantin di hadapan mereka. Yashinta menatap tangan Gibran yang kemudian beralih mendekap pinggangnya, ada hangat menjalari sekujur tubuhnya.


Ada perasaan mendebarkan yang membuat Yashinta merasa bahagia. Debaran membahayakan yang melebihi perasaan saat bersama dengan Kafka.


****


"Mau langsung balik?" tanya Gibran saat Krystal dan Leon tampak akan meninggalkan lokasi acara.


"Kita mau ke pantai Kuta. Loe mau ikut?" Leon menyahut dan bertanya.


"Mumpung jadwal pemotretan Ital lagi senggang." sambungnya.


Gibran tak langsung menjawab, ia lebih dulu menoleh pada Yashinta, kemudian mengalihkan perhatiannya kembali pada Leon. Keduanya tak memiliki niat untuk memperpanjang liburan.


"Ikut aja, Yashinta. Kita seneng-seneng di sana." Krystal lebih dulu menyambar sebelum Gibran bersuara.

__ADS_1


"Kita pesen kamar pasangan. Aku sama Leon dan kamu sama Gibran." sambungnya yang membuat Yashinta terheran, Gibran menutup kedua telinganya meski sangat terlambat, karena Yashinta tetap mendengar apa yang baru saja Krystal katakan.


Leon juga menarik tangan wanita itu agar Krystal tidak berbiacara sembarangan di hadapan Yashinta. Yashinta yang kebingungan menengadah pada Gibran, pria itu tampak memperlihatkan tatapan datar.


"Apa salahnya?" Krystal buka suara saat melihat protes yang ditunjukan dua pria itu.


"Pada akhirnya tujuan hubungan dari pria dan wanita dewasa adalah erotisme. Right?"


"Kamu mau menjalani cinta platonik, Gibran?"


"Di jaman sekarang? Hellow, open your eyes–"


"Lebar-lebar!" Krystal menekankan.


Leon kali ini berusaha menutup mulut Krystal karena wanita itu sudah membuat Gibran kian kesal di tempatnya. Leon juga tak lupa tersenyum pada Yashinta meski yang ditampilkan adalah senyum kecut yang membuat Yashinta kian kebingungan.


"Gue sama Ital mau langsung berangkat." pamitnya dengan cepat, Krystal yang diseret masih sempat melambaikan tangan pada Yashinta.


"Dah Yashinta."


"Dah–Mbak Ital." Yashinta melambai kaku. Menatap kepergian dua orang itu yang kian menjauh. Begitu punggung keduanya menghilang, Yashinta mengalihkan perhatiannya pada Gibran.


"Kita jalan-jalan." ajak pria itu tanpa menatapnya lebih dulu, berjalan begitu saja meninggalkan Yashinta dan membuat Yashinta mengekor di belakangnya.


Sepuluh langkah, lima belas langkah atau mungkin lebih Yashinta hanya mengikuti jejak kaki Gibran, berusaha hanya melewati jejak kaki pria itu yang begitu besar.


Yashinta mengagumi jejak kaki pria itu, karena ukurannya yang jauh berbeda dengan miliknya, namun baru gadis itu akan melangkah, Gibran sudah berhenti tepat di hadapannya, membuat langkah gadis itu tertahan.


Yashinta tidak bersuara, hanya menatap pria itu dengan tatapan penuh tanya. Tanpa berkata pula Gibran membalikan tubuhnya menghadap pantai, menatap sunset yang baru Yashinta sadar ternyata tampil begitu sangat indah.


***


Yashinta kembali mengingat apa yang Krystal katakan. Hal itu terus menghantui pikirannya. Sementara Gibran memerhatikan, tau jika gadis itu tengah memikirkan sesuatu.


"Kenapa?" tanyanya, Yashinta menoleh.


"Yas kepikiran apa yang Mbak Ital bilang."


"Emang semua orang dewasa yang pacaran kaya gitu, yah?" maksud Yashinta adalah melakukan berbagai interaksi yang hanya dilakukan sepasang suami istri.


"Mm, mungkin." Gibran menyahut ambigu.


"Kok mungkin?"


"Beberapa seperti Krystal dan Leon, sisanya mungkin enggak." Gibran menyahut singkat. Yashinta hanya bergumam kemudian menilik pria itu.


"Kalau Mas Gibran tipe yang kaya gimama?"


"Hmm, saya bagian dari sisanya."


"Beneran?" Yashinta tidak percaya.


"Hmm, saya dan kamu sisanya. Tidak ada **** sebelum menikah, Yashinta."

__ADS_1


"Beneran?" gadis itu masih berusaha meyakinkan. Gibran kembali menganggukan kepalanya. "Sama pacar Mas Gibran yang sebelum-sebelumnya?" kali ini Yashinta menyiratkan sorot penasaran akan kisah asmara pria itu.


Gibran menatap gadis itu, melihat sorot mata Yashinta dan ekspresi gadis itu membuat Gibran sedikit mencondongkan tubuhnya pada Yashinta guna melihat reaksi seperti apa yang akan gadis itu perlihatkan padanya setelah nanti Gibran memberinya jawaban.


"Mas Gibran?"


"Hmm?"


"Jawab Yas!"


Gibran menaikan alis, membuat Yashinta mengulang pertanyaannya. "Sama pacar Mas Gibran yang sebelumnya Mas Gibran pernah ngapain aja?"


"Kamu pikir ada perempuan lain sebelum kamu?"


"Hmm?" Yashinta memaku, mencerna perkataan Gibran hingga ia melihat pria itu tersenyum. "Kamu pacar saya yang pertama." kali ini Gibran nenggandeng Yashinta dan membuat gadis itu tampak tidak bisa menahan senyumnya.


"Jadi, sekarang kita pacaran?" tanya gadis itu kemudian, Gibran menoleh, mengangguk dan berbicara "Bisa dibilang seperti itu."


"Kamu mau tandain kalender di rumah?"


"Iya dong." gadis itu menyahut cepat, saat Gibran sekilas menggosokan kepalanya ke rambut Yashinta dengan mata terpejam. Yashinta hanya tersenyum.


Gadis itu tidak tahu alasan pasti kenapa ia begitu mudah membuka hati untuk pria itu, yang Yashinta tahu, Gibran berhasil memasuki hatinya dan membuatnya jatuh cinta.


***


"Kenapa Mas Gibran nggak pernah pacaran?" tanya Yashinta saat keduanya tengah berjalan bergenggaman tangan menuju kembali ke resort dan mengambil barang-barang mereka kemudian pulang.


Gibran sudah memesan tiket dan keduanya memang sepakat pulang setelah acara resepsi pernikahan Bayu dan Shenina usai. Lagipula, Yashinta hanya izin satu hari pada wali kelasnya untuk tidak masuk sekolah dan Gibran juga memiliki banyak pekerjaan untuk segera diselesaikan.


"Padahal Mas Gibran pinter, ganteng, tajir " sambungnya.


"Atau jangan-jangan–" Yashinta memperlihatkan raut terkejut dan menghentikan langkahnya. Otomatis membuat Gibran juga berhenti.


"Enggak ada yang mau sama Mas Gibran, yah?" tuduhnya.


"Hmm, sepertinya begitu, karena saya ditakdirin cuma buat kamu." jawab santai pria itu yang sontak membuat Yashinta mencebikan bibirnya karena Gibran sudah berhasil menggodanya. Gibran tersenyum, kemudian menyahut. "Karena nggak ada wanita yang menarik."


Yashinta menunggu kelanjutan kalimat pria itu. "Tapi begitu ketemu kamu, saya langsung merasa tertarik."


Gibran mengingat lagi pertemuan pertamanya dengan Yashinta dan tersenyum mengingat bagaimana ia menahan rasa kesal karena gadis cerewet itu yang terus mengoceh tanpa jeda setelah Gibran menolongnya.


Gibran menganggukan kepala dengan senyum di bibirnya. "Saya langsung tertarik."


"Jatuh cinta pada pandangan pertama?" Yashinta bertanya, tapi Gibran menggelengkan kepala. "Saya nggak percaya itu sebelum saya mengalaminya."


"Jadi?"


"Sekarang saya percaya karena saya udah ngerasain, jatuh cinta pada pandangan pertama."


"Sama Yashinta." ujarnya diakhiri tawa, membuat Yashinta ikut tertawa, Gibran menggandeng pinggang gadis itu, melanjutkan langkah mereka menuju resort. Meninggalkan matahati yang benar-benar tenggelam di belakangnya.


TBC

__ADS_1


Aku selow update karena di rumah sedang repot. Hari kami kemarin Nenekku meninggal, mohon doanya. Semoga beliau ditempatkan di sisi terbaik Allah SWT dan diampuni segala dosa-dosanya.


Terimakasih.


__ADS_2