Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)

Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)
Sesal


__ADS_3

Suasana malam yang mungkin seharusnya senyap dan damai tidak dirasakan oleh Kafka saat justru ia berada di tempat berisik dan penuh cahaya warna-warni. Cukup menyilaukan mata dan memusingkan kepala andai ia baru pertama kali berada di sana, meski begitu Kafka belum cukup terbiasa menyesuaikan diri berada di sana.


Tapi ini bukan kali pertama bagi Kafka. Ini adalah kali keempat sejak ia putus dari Yashinta. Padahal ia sudah cukup lama tidak berada di sana bahkan sering kali menolak ajakan Hafi ketika pria itu mengajaknya.


Tapi akhir-akhir ini, Kafka tak memiliki tempat untuk mengalihkan perhatiannya selain tempat tersebut.


Kafka tak mengerti perasaannya sendiri. Padahal dirinya yang membuat Yashinta pergi, namun dampak yang ditimbulkan dari hubungannya dengan gadis itu yang kandas cukup menyakiti seluruh hidup Kafka.


Hafi yang duduk di samping pria itu hanya memerhatikan Kafka dengan raut prihatin. Sebenarnya ia sedikit terkejut saat pertama kali Kafka mengatakan padanya jika pria itu ingin pergi ke club.


Padahal kali terakhir saat pria itu menurunkan Yashinta di jalanan, Kafka pernah mengatakan padanya jika pria itu tidak akan lagi mendatangi club malam. Tapi sekarang, kalimat itu hanyalah omong kosong.


Sepertinya perasaan Kafka benar-benar hancur setelah Yashinta melepaskan kendalinya pada pria itu. Sering kali Kafka memeriksa ponsel dengan wajah penuh harap mendapat spam chat dari Yashinta seperti biasanya, atau panggilan telepon yang tak pernah berhenti sebelum Kafka menjawabnya.


Dulu, Kafka selalu marah saat gadis itu melakukan hal tersebut padanya. Tapi sekarang, pria itu selalu tampak seolah menunggu hal tersebut untuk terjadi–lagi.


"Kesambet apaan si Kafka tiap kesini?" Aris bersuara saat merasa sudah bosan melihat Kafka hanya diam selama beberapa waktu sejak mereka di sana.


"Tau, tuh, nggak ngerti sama tu anak." Hafi menggelengkan kepala, menyerah memerhatikan pria itu.


"Sean nggak ke sini?" tanya Hafi kemudian, Aris mengangkat bahu. "Nyokapnya pindahan, lagian kalau nyokapnya ada di rumah dia mana bisa ke sini."


"Masih anak mami, yah?" Hafi tertawa meledek, Aris ikut tertawa. "Biasalah, anak semata wayang. Harus dididik sebaik mungkin buat nerusin perusahaan." sahut Aris yang membuat Hafi mengangguk-anggukan kepalanya.


"Kalo loe belum bisa move on dari Yashinta, pepet si Sean. Deketin kakaknya baru adeknya." Hafi memaksudkan kalimatnya pada Kafka. Kafka yang samar-samar mendengar Hafi menyebutkan nama Yashinta hanya menoleh sebentar tapi tak merespond.


"Mana ada, malahan nanti Kafka kena gampar si Sean. Udah dibilangin jangan nyakitin Yashinta, ehh malah selingkuh." sarkas Aris, Kafka hanya acuh tak acuh, suara berisik musik yang menggema juga memang meredam suara kedua sahabatnya itu untuk masuk ke indera pendengarannya.


"Dihajar Kafka sama si Sean?" tanya Hafi, sedikit terkejut.


"Hampir." Aris menyahut disusul dengan tawanya.


Hafi menggelengkan kepala, sedangkan yang jadi bahan perbincangan masih asik sendiri dengan dunianya.


****


Yashinta menjalani hari-hari sekolahnya seperti biasa, bertemu dengan banyak siswa lain baik kawan seangkatan sampai kawan-kawan ekstrakulikulernya dari kelas bawah.


Hari ini Ranti tidak masuk sekolah, dia bilang ayahnya sedang sakit. Sehingga Yashinta memutuskan untuk menjenguk ayah sang sahabat sepulang sekolah. Ia sudah menghubungi guru les pianonya dan izin jika dirinya tidak akan masuk.

__ADS_1


Tapi sialnya, Yashinta yang hari itu tidak membawa mobil karena akan dijemput Gibran sepulang les piano harus sedikit menggerutu ketika tak kunjung ada taksi. Sopir pribadinya mengalami masalah di jalan dan kemungkinan akan sangat terlambat datang.


Dan kejadian paling klisenya adalah saat Kafka menawarkannya tumpangan. Yashinta ingin menolak, tapi ia merasa akan membuang-buang waktu jika hanya diam menunggu.


Sehingga pada akhirnya, untuk pertama kali bagi gadis itu duduk di mobil Kafka tepat di samping pria itu setelah mereka putus. Keheningan terus terjadi sepanjang perjalanan. Yashinta tidak memiliki bahan obrolan dan sepertinya Kafka pun demikian, sehingga hanya hening yang menjadi pengiring perjalanan.


Kafka menoleh pada gadis itu ketika mobil yang dikemudikannya berhenti di lampu merah. Jujur Kafka merasa sangat tidak nyaman dengan keadaan yang terjadi di dalam mobilnya.


Melihat gadis itu hanya diam dan tampak menghindarinya membuat Kafka merasa aneh. Karena dulu, gadis itu tidak pernah diam saat bersamanya. Saat bersama Kafka, Yashinta kerap kali bertingkah dan membuat Kafka sakit mata juga sakit telinga, tapi saat ini mendadak ia rindu dengan suasana tersebut.


Ia rindu suara berisik Yashinta yang bercerita banyak mengenai hal-hal yang Kafka anggap tidak penting.


"Kafka, kita mampir di toko kue dulu, yah." pinta gadis itu saat perlahan mobil kembali melaju, Kafka hanya menganggukan kepala, Yashinta juga menoleh pada pria itu tapi kemudian kembali memfokuskan pandangannya ke depan.


Sama seperti Kafka, Yashinta pun merasa aneh dengan situasi merek saat ini. Rasanya canggung dan tidak nyaman.


Ketika tiba di toko kue, Yashinta mulai memilih kue untuk dibawanya sebagai buah tangan saat menjenguk ayah Ranti. Kafka mengekor di belakang gadis itu.


Jika dilihat sekilas, dua orang itu tampak seperti pasangan remaja pada umumnya, terlebih saat sesekali Yashinta tampak menanyakan pendapat Kafka mengenai kue yang ditunjuknya.


"Yashinta," gadis itu menoleh saat suara yang terdengar familiar memanggil namanya. Jujur Yashinta merasa gugup dan sedikit terkejut, entah gugup karena sekarang dia adalah pacar Gibran, atau gugup karena ia dengan Kafka sudah putus tapi saat ini mereka tengah bersama dan bertemu dengan Bunda.


"Euu, ini, Bunda. Yas lagi milih kue buat jenguk ayan temen Yas yang lagi sakit." sahut gadis itu saat Kafka hanya diam di tempatnya.


"Kalau Bunda?" gadis itu balik bertanya.


"Sama. Bunda juga lagi beli kue buat temen Bunda yang lagi sakit."


"Kamu udah lama nggak main ke rumah, kemana aja, Sayang? Sibuk, yah?" basa-basi Bunda yang membuat Yashinta mendapat kesimpulan jika Bunda belum tahu bahwa ia dan Kafka sudah putus.


Yashinta menoleh pada Kafka sebentar sebelum menjawab pertanyaan Bunda. "Euu. iya, Bun. Sibuk, sedikit." jawabnya, Bunda tersenyum, tangannya terulur mengusap puncak kepala gadis itu.


"Anak cantik, Bunda kangen sekali. Kapan-kapan main ke rumah, yah." sahut Bunda.


"Kalau sudah nggak sibuk." sambungnya, kali ini Bunda mengusap lengan Yashinta dengan tatapan sayang yang penuh kerinduan. Tak ada yang bisa Yashinta katakan, yang dilakukannya hanya menganggukan kepala dengan senyuman.


"Bunda bawa mobil sendiri?" Kafka bertanya guna mengalihkan suasana. Mengingat bagaimana statusnya dengan Yashinta, Kafka cukup peka jika gadis itu tidak nyaman dengan Bunda yang mengira bahwa keduanya masih berpacaran.


"Iya, Bunda bawa mobil sendiri." Kafka hanya menganggukan kepala.

__ADS_1


"Kamu pulang ke rumah apa apartement?" tanya Bunda kemudian. Kafka tak langsung menyahut, membuat raut wajah Bunda tampak berubah.


"Pulang ke rumah, yah. Bunda nggak suka kamu pulang ke apartement terus. Kemaren kata Pak Ayus kamu nggak ada di apartement. Kamu nginep di mana?" panjang lebar Bunda yang kali ini terlihat tampak khawatir.


Ayus adalah salah satu karyawan Gibran dan jujur Kafka merasa kesal karena pria itu harus bertetangga dengannya.


Yashinta menatap pria yang hanya terdiam itu kemudian menatap Bunda saat Bunda menyentuh tangannya. "Belakangan ini Kafka jarang pulang ke rumah. Kamu bilangin ke dia biar pulang, yah." bujuk Bunda. Yashinta hanya mampu menganggukan kepala meski ragu.


Bunda tersenyum, tampak mengecek arloji di pergelangan tangannya. "Bunda duluan, yah." pamit Bunda kemudian, mengusap satu sisi wajah Yashinta, lantas mengusap lengan Kafka.


"Bunda hati-hati." dua orang itu berucap bersamaan, menatap kepergian Bunda hingga perempuan paruh baya itu menghilang di pintu keluar.


Setelah hanya ada mereka berdua di sana, Yashinta hanya diam mematung, Kafka yang melihat hal itu menyadarkan. "Kita ambil kue yang ini aja."


***


Kafka dan Yashinta melanjutkan perjalanan menuju rumah Ranti. Sejak keluar dari toko kue, tidak ada yang berbicara di antara keduanya. Sama seperti beberapa saat lalu di mana dua orang itu hanya diam di dalam mobil. Terlebih, pertemuan dengan Bunda tadi membuat perasaan Yashinta tidak enak. Seolah ada yang mengganjal di hatinya.


Terutama mengingat fakta Bunda yang mengira jika ia masih berpacaran dengan Kafka.


Kafka yang menyadari hal tersebut lantas menoleh pada gadis itu. "Loe nggak usah terlalu mikirin apa yang dibilang Bunda." ujarnya. Membuat Yashinta menoleh padanya.


"Kafka belum bilang ke Bunda kalau kita udah putus?" tanya gadis itu, yang ditanya hanya diam dan fokus pada kemudinya. Tampaknya pria itu tengah menyusun diksi yang tepat untuk bicara.


"Belum ada waktu." pria itu menyahut singkat setelah beberapa saat.


"Bunda sering nanyain loe. Gue belum berani bilang kalau kita udah putus." sambung Kafka. Yashinta diam beberapa saat, gadis itu tau dengan baik bagaimana Kafka sangat menyayangi Bunda. Mungkin Kafka tidak ingin membuat Bunda kecewa jjka tau hubungan mereka sudah berakhir.


Tapi terus berbohong pada Bunda juga bukanlah hal baik, sehingga Yashinta angkat biacar. "Mau sampai kapan, Kafka?" Kafka menoleh. Melihat raut wajah gadis itu, Kafka dapat menyimpulkan jika Yashinta keberatan andai harus terus berpira-pura menjadi pacarnya.


"Rasanya nggak baik kalau ngebuat Bunda terus berharap sama hubungan kita yang udah nggak ada. Itu sama aja ngebohongin Bunda." Yashinta menjelaskan. Kafka mengerti, selanjutnya tanpa terasa mobil yang ia kemudikan sudah tiba di rumah Ranti.


Saat Kafka sudah memarkirkan mobilnya dengan sempurna, ia menoleh pada Yashinta. "Kasih gue waktu, secepatnya gue bakal bilang ke Bunda."


TBC


Hay semua, maaf baru up.


Selamat Hari Raya Idul Adha, yah. Mohon maaf lahir dan batin💙💙💙💙

__ADS_1


__ADS_2