
Ranti segera menaiki bus begitu bus tujuannya tiba di halte. Ia tampak terburu-buru dan sesekali melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan untuk memastikan jika dirinya tidak akan terlambat datang ke tempat kerja atau manajer tempat dimana ia bekerja akan marah besar nanti. Begitu juga beberapa seniornya.
Begitu tiba di sebuah kafe dimana ia bekerja paruh waktu, Ranti buru-buru masuk dan berganti pakaian, ia mendapat tatapan sinis dan juga teguran dari salah satu seniornya di sana karena memang datang terlambat. Ia tidak bisa tepat waktu meski sudah buru-buru.
"Kemarin terlambat, hari ini juga terlambat. Mau seterusnya kaya gini?" protesnya, tidak terima.
"Ranti, 'kan masih anak sekolah, wajar kalo telat, dia banyak urusan dan jarak dari sekolah kesini pun nggak deket." salah satunya membela Ranti dan membuat Ranti merasa jauh lebih baik meski dia tetap merasa terganggu dengan seniornya tersebut yang tetap melayangkan tatapan tidak suka padanya.
Sejak awal bekerja di sana, seniornya itu memang tampak tidak menyukainya. Tapi Ranti tidak pernah perduli, ia hanya niat bekerja di sana, tidak ingin ribut dengan siapapun.
"Ranti, tolong antarkan minuman ke meja nomor 11, yah." senior yang membela Ranti meminta bantuannya sekaligus meloloskannya dari situasi tersebut. Ranti mengangguk dan segera memenuhi perintahnya bersamaan dengan senior yang tidak suka padanya yang juga mengantarkan makanan.
Ranti tidak pernah berpikir sejauh itu jika senioarnya yang tidak menyukainya tersebut akan tega melakukan hal tidak terduga saat ia dengan sengaja mendahului langkahnya dan menyenggol bahu Ranti dengan keras, membuat minuman yang dibawa gadis itu tumpah mengenai seorang pengunjung yang duduk di meja nomor sembilan. Seketika, keributan terjadi karena sang pengunjung yang tidak terima terkena siraman minuman.
"Mbak pumya mata nggak, sih!" makinya pada Ranti. "Maaf, Mbak, maaf, saya nggak sengaja." Ranti segera mengambil tisue dan mencoba mengelap pakaian wanita itu yang basah namun tangannya ditepis begitu saja dengan gerakan kasar.
"Makannya hati-hati, Mbak. Kalo yang ditumpahinnya makanan panas, gimana nasib saya, Mbak mau tanggung jawab?"
"Mbak punya uang buat nanti biaya rumah sakit?" ia tampak tidak terima atas apa yang tetjadi padanya, senior Ranti tersenyum puas melihat hal itu, sementara Ranti memilih berjongkok dan memunguti pecahan gelas. Ia bukan tidak tahu jika seniornya sengaja melakukan hal tersebut padanya, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Yang terjadi menyita atensi semua pengunjung, terlebih manajer kafe turun langsung dan Ranti sudah pasrah ditempatnya, yang terlihat semua orang adalah keteledorannya, ia akan menjadi pihak yang disalahkan.
"Kamu itu becus bekerja atau tidak?" manajaer kafe tampak marah pada Ranti karena membuat pengunjungnya protes.
"Gaji kamu nggak akan cukup buat biaya kompensasi kalau sampai pengunjung saya kenapa-napa." ia kian marah tanpa perduli situasi, membuat Ranti merasa malu di tempatnya karena semua orang menatapnya.
"Kamu kerja di sini karena butuh uang, kamu mau dipecat?" Ranti menengadah, menatap tajam manajar kafe, membuat pria pendek itu tidak terima.
"Apa kamu melotot? Kamu berani?"
__ADS_1
Pada akhirnya, Ranti hanya bisa menunduk, ia tak punya kuasa untuk melawan meski hatinya tengah berontak sekarang.
"Maaf, Pak. Apa tidak sebaiknya kita liat rekaman cctv, saya lihat dia didorong rekannya yang di sana." seorang pria dengan setelan rapinya angkat bicara dan menunjuk senior Ranti yang tersenyum puas melihat gadis itu dimarahi, namun perlahan senyumnya turuh mendapat tuduhan seperti itu. Jika rekaman cctv dicek, artinya ia tidak dapat mengelak.
Ranti menengadah, melihat Andri yang berdiri di sana dengan tatapan kesal pada manajer kafe. Namun bukan Andri yang berbicara, melainkan pria muda di sampingnya.
"Seharusnya, sebagai manajer kafe, anda tidak langsung menyalahkan karyawan anda tanpa mengetahui apa yang terjadi." sambungnya.
"Apalagi memarahinya di hadapan pengunjung anda sendiri. Menurut anda, apa yang nanti akan mereka pikirkan."
Manajer kafe mengedarkan pandangan, melihat semua orang yang menatapnya dengan tatapan heran bahkan sebagian penuh cemoohan. Ia lantas kembali menatap pria itu dan berbicara. "Anda tidak berhak ikut campur urusan saya!"
"Saya ingin bertemu dengan pemilik kafe." sahutnya yang kali ini membuat manajer kafe tersebut tampak panik.
"Uu–untuk apa?"
"Saya berniat membeli kafe ini." sahutnya yang membuat manajer kafe dan senior Ranti tampak panik. Sementara Andri turun tangan sendiri membantu Ranti bangkit dari posisi jongkoknya.
"Kenapa? Saya tertarik membeli kafe ini, biar anda jadi orang pertama yang saya pecat. Saya tidak suka bawahan saya berbuat seenaknya." sahutnya tampak marah. Bagaimana tidak, manajer kafe itu memarahi karyawannya tanpa bertanya lebih dahulu mengenai kronologi kejadian. Bahkan memarahi karyawannya dimuka umum, sama saja dengan mempermalukan, Gibran tidak suka melihatnya.
"Tidak perlu, Pak. Lagipula saya tidak ingin bekerja disini lagi. Saya memang miskin, butuh pekerjaan dan butuh uang. Tapi bukan berarti saya harus rela harga diri saya diinjak-injak." Ranti buka suara.
"Saya manusia dan saya ingin dimanusiakan." sambungnya yang kemudian berniat pergi, tetapi Gibran menahan tangannya, membuat Ranti menatap pria itu, untuk beberapa saat dia terpaku sebelum kemudian kalimat yang keluar dari mulut Gibran menginterupsinya.
"Setidaknya atasan dan senior kamu harus meminta maaf." sahutnya, membuat senior Ranti segera bersimpuh pada Ranti untuk meminta maaf, ia tidak ingin dipecat. Terlebih ia tidak ingin kehilangan pekerjaannya andai Gibran bebar-benar membeli kafe tersebut.
"Saya minta maaf Ranti, saya salah. Saya memang sengaja mendorong kamu. Saya minta maaf." sesalnya tampak memohon pada Ranti. Sementara Ranti menatapnya dengan tatapan tak terbaca, ia ingin marah dan balik memaki, namun ia cukup bisa menahan emosi.
"Anda tidak akan minta maaf?" Gibran mendesak manajer kafe yang membuat pria itu meminta maaf pada Ranti, sama seperri karyawannya yang lain, ia amat memohon.
__ADS_1
Ranti tahu Tuhan maha pemaaf, sehingga ia tidak layak untuk tidak memaafkan sesama manusia. Namun tekadnya bulat jika ia akan keluar dari kafe tersebut. Ia tidak bisa bertahan di tempat dimana dirinya tidak bisa dihargai.
"Terimakasih Om Andri, karena sudah nolong saya hari ini." ucap Ranti saat kini mereka berada di area parkir.
"Saya nggak ngelakuin apapun, Ranti. Gibran yang menolong kamu." Andri menyahut dengan senyuman. Gibran di samping pria itu tersenyum pada Ranti. Ranti balas tersenyum dengan anggukan kepala penuh rasa terimakasih.
"Oh, Gibran ini Ranti, sahabatnya putri saya." Andri memperkenalkan.
"Hay Ranti, saya Gibran." Gibran memperkenalkan diri.
"Ranti, Pak." gadis itu tersenyum, ketika Gibran juga tersenyum dengan paras memesona dan membuatnya terpesona.
"Terimakasih karena sudah menolong saya." ucap gadis itu. "Sama-sama. Lagipula, kamu nggak salah, saya melihat semuanya dan saya nggak bisa diem aja." sahut Gibran dengan detail. Seperti yang ia katakan jika dirinya memang melihatnya dan ia tidak bisa membiarkan orang yang tidak bersalah diperlakukan dengan tidak adil.
Andri yang mendengar hal itu hanya tersenyum dan menepuk punggung Gibran penuh bangga.
"Kalau begitu, saya duluan, yah Om." pamit Gibran kemudian.
"Kamu akan langsung kembali ke perusahaan?" tanya Andri. Gibran mengangguk. kedatangannya ke kafe tersebut hanya untuk memenuhi permintaan Andri yang mengundangnya secara langsung untuk menghadiri acara perayaan ulang tahun perusahaannya.
"Hati-hati."
"Iya, Om. Om Andri juga hati-hati." Gibran berlalu menuju mobilnya. Ranti hanya menatap punggung pria itu. Bahkan Gibran terlihat sangat tampan meski hanya dilihat dari belakang. Tanpa sadar Ranti tersenyum, mengingat bagaimana dengan gantlenya pria itu sudah menolong dan mengembalikan harga dirinya.
Ranti merasakan debaran aneh di hatinya. Debaran, yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan.
TBC
Thor, kalau Ranti kenal Mas Gibran bahaya nggak, sih? Ya enggaklah.
__ADS_1
Yashinta nanti gimana? Mm, gimana, yaah. Kita lihat aja kelanjutannya.