
Yashinta berjalan menapaki anak tangga menuju kamar sang pacar, begitu ada di depan pintu kamar Kafka yang sedikit terbuka, tanpa mengetuk pintu Yashinta memegang handle dan membuka pintu kian lebar secara perlahan. Ia melihat Kafka yang tengah mengenakan kaos.
"Kafka?" panggilnya, melangkah masuk setelah Kafka benar-benar memakai kaosnya, kemudian menutup pintu. Kafka hanya menoleh, mengambil buku random dan setengah berbaring di atas ranjangnya kemudian membaca buku. Sementara Yashinta melihat-lihat kamar pria itu yang didomimasi dengan warna abu-abu. Tampak klasik, simpel dan futuristik.
"Bunda nyuruh turun ke bawah, katanya makan siang bersama." beritahu gadis itu tapi matanya mengedar melihat seluruh isi kamar Kafka. Tidak seperti kamar pria kebanyakan, kamar Kafka begitu rapi, hanya saja beberapa buku di atas meja belajar Kafka tampak berantakan.
Isi kamar pria itu dipenuhi oleh beberapa piala hasil kejuaran lomba olahraga yang dipajang di dalam sebuah lemari kaca bersama beberapa koleksi Super Hero Marvel yang tergabung dalam Avengers. Seperti Captain America, Iron Man, Hulk, Ant-Man dan Spiderman dengan ukuran cukup besar. Juga ada bola basket di sana bersama sebuah medali emas.
Kafka adalah siswa tampan, banyak disukai para siswi dan juga beberapa guru wanita. Namun pria itu tidak sesempurna tokoh di dalam novel yang memiliki segalanya lengkap dengan ketampanannya. Ia memang unggul di bidang non akademik, khususnya dalam olahraga. Namun dalam akademik, Kafka hanya memiliki nilai yang cukup lumayan.
Terdapat cermin berukuran besar di samping kanan tempat tidur, juga sebuah rak buku.
Gadis itu mendekat ke ranjang Kafka dan melihat sebuah foto yang terpajang di atas meja di samping tempat tidur. Dua orang yang sedang bergandengan. Salah satu di antara dua orang itu Yashinta dapat menebak adalah Kafka, namun satu lagi, yang tampak lebih tua dari Kafka membuat gadis itu bertanya-tanya.
Ia membalikan tubuh, hendak bertanya pada Kafka namun justru pria itu sudah berdiri di belakangnya, membuat wajah Yashinta sejajar dengan dada pemuda itu. Yashinta menengadah, menatap wajah Kafka yang menunduk padannya dengan tatapan datar.
"Ka–Kafka sama siapa?" tanya Yashinta, mengbil langkah mundur untuk menjauh dari Kafka.
"Sama loe." pria itu menyahut asal seraya meletakan buku yang semula ia ambil ke tempatnya.
"Bukan, yang difoto itu."
Kafka menoleh pada Yashinta dan melihat arah telunjuk gadis itu yang menunjuk fotonya dengan Gibran saat mereka masih kecil. Menurut Bunda, saat itu Gibran berusia sepuluh tahun dan Kafka baru berusia dua tahun ketika mereka sedang bermain di taman.
"Abang gue."
"Kafka nggak pernah bilang kalau punya kakak." Yashinta protes. Tatapan matanya tampak kesal, seperti yang sudah ia bilang jika Kafka tidaklah adil. Yashinta tidak tahu apapun tentang pria itu. Kecuali hanya beberapa hal kecil.
"Ini gue bilang."
"Bukan sekarang. Kenapa nggak bilang dari lama?"
"Ngapain? Nggak penting!"
"Pentinglah Kafka. Yas, 'kan pengen kenalan sama kakak ipar."
Kafka berdecak, tidak ingin meladeni ocehan Yashinta setelah melihat foto itu. "Foto kita yang Yas cetak dan kasih ke Kafka mana? Kok nggak dipajang?" tanya Yashinta lagi mengingat ia pernah beberapa kali memberikan Kafka foto mereka yang sudah sengaja ia cetak agar pria itu memajangnya sebagaimana Yashinta melakukan hal itu.
"Ada." Kafka menyahut seperlunya.
"Kenapa nggak dipajang?" tanya gadis itu lagi. Kafka menatap Yashinta dengan sorot lelah, yang pada akhirnya membuat Yashinta mencebikan bibir dan mengalah. Tak lagi mempertanyakannya.
"Yas harus gimana biar dapet perhatian Kafka?"
__ADS_1
Kafka tersenyum. "Cukup nurut sama gue."
"Udah, Kafka."
"Masa?"
Yashinta mengangguk polos, Kafka mendekat sedangkan gadis itu hanya mengerjap polos, tapi begitu Kafka benar-benar nyaris mengikis jarak di antara mereka dengan kepala tertunduk untuk menjangkau wajah gadis itu, Yashinta memberikan sorot waspada.
Dadanya tiba-tiba berdebar, otaknya memutar apa yang beberapa waktu lalu pernah ia dengar dari Ranti maupun anak-anak lain mengenai Kafka yang nakal. "Nggak usah terlalu percaya deh sama Kafka. Dia itu playboy, buaya. Lagian gue juga gak bakal tenang loe balik sama dia, udah malem. Loe lupa, sama mantan-mantannya Kafka yang udah berhasil dia tidurin di apartementnya?"
Tanpa sadar Yashinta meremas ujung rok yang ia kenakan. Membuat tatapan Kafka mengarah pada apa yang ia lakukan, Kafka tahu pacarnya gugup. Sehingga Kafka mengambil langkah mundur, membuat Yashinta mengembuskan napas tenang. Kafka tertawa.
"Loe takut sama gue?" tanyanya, gadus itu terkesiap. "Ah, kenapa? Takut kenapa?" Yashinta balik bertanya, tampak gugup.
"Gue yakin loe udah banyak denger dari anak-anak." Kafka tak melanjutkan kalimatnya, raut wajah Yashinta penuh tanya hingga Kafka menyambung. "Ya, segimana brengsek dan bejadnya gue."
Yashinta diam sesaat, menatap Kafka yang diam menatapnya.
"Loe mau tanya sesuatu?" Kafka memberi penawaran yang tidak bisa gadis itu tolak. Yashinta mengangguk. "Iya. Yas pengen denger sendiri dari Kafka. Apa yang anak-anak itu bilang bener apa nggak?"
"Menurut loe?" pria itu justru balik bertanya. Yashinta menghela napas, kemudian duduk di tepi tempat tidur sementara Kafka berdiri dengan tangan terlipat di dada dan punggung yang bersandar pada rak buku.
"Kalo menurut Yas, sih, ngga."
Kafka lagi-lagi tersenyum. Yashinta sendiri juga tersenyum lebar, memperlihatkan deretan giginya yang putih. "Loe tau sendiri gue dikenal playboy, tsundere atau apalah. Mantan-mantan gue yang nggak terima dengan sikap dan sifat gue, setelah putus berakhir dengan ngejelek-jelekin gue." sahutnya sebagaimana adanya.
Kafka tidak seberengsek itu untuk sembarangan bermain wanita bahkan sampai membawa mereka ke atas ranjangnya. Gibran bisa saja membunuhnya andai ia melakukan hal tersebut.
Tapi, saat berita itu beredar di seantero SMA Firgo, Kafka sekalipun tidak pernah membela diri ataupun mengelak atas tuduhan tersebut. Ia tampak tidak merasa terganggu sedikitpun dan membiarkan anak-anak membicarakannya hingga rumor itu lenyap seiring dengan berjalannya waktu.
"Berarti Kafka nggak ngapa-ngapain mereka?" tanyanya, Kafka menganggukan kepala.
"Gue bahkan belum pernah bawa cewek manapun ke apartement gue." Kafka mendadak mengingat apa yang Ranti katakan pada Yashinta di halte bus saat itu jika Kafka sering membawa pacar-pacarnya ke apartement.
Pada kenyataannya tidak, Gibran mengawasinya dan Kafka tidak bisa seenaknya membawa sembarang wanita. Bagaimanapun, ia masih dalam pengawasan Gibran mengingat statusnya yang masih anak sekolah.
"Kalau gitu ajakin Yas ke sana." usul gadis itu, meraih tangan Kafka dan membuat pria itu melangkah mendekat, berdiri di hadapannya.
"Ngapain?" Kafka bertanya dengan alis bertaut.
"Biar Yas jadi cewek pertama yang datang ke apartement Kafka." sahutnya dengan polos sembari menggoyang-goyangkan tangan Kafka. Kafka tak merespond, ia hanya tersenyum penuh ketidakmengertian menatap gadis itu. Membuat Yashinta tampak salah tingkah akan tatapan mata Kafka.
Ia mendehem setelah melepas tangan Kafka yang semula digenggamnya. "Ka–kalau gitu Kafka pacarannya ngapain aja?" tanyanya, ambigu begitu memgingat topik obrolannya dengan Kafka sebelumnya.
__ADS_1
Alih-alih menjawab, Kafka justru masih hanya tersenyum menatap gadis itu, membuat Yashinta kian panik dan salah tingkah. "Selama pacaran sama Yas Kafka belum pernah apa-apain Yas." dan apa yang ia katakan pun keluar begitu saja, lepas dari kendalinya.
"Loe mau gue apa-apain?" tanya Kafka yang membuat Yashinta membulatkan mata, baru menyadari apa yang baru saja dikatakannya.
Ia tak menyahut, hanya mengerjap polos menatap Kafka yang mencondongkan wajah ke arahnya, tangan pria itu berada di kedua sisi tubuh Yashinta, membuat gadis itu perlahan memundurkan tubuh, mengambil jarak dari Kafka. Yashinta salah tingkah, jantungnya bergemuruh, terdengar begitu berisik. Bahkan Yashinta yakin jika Kafka-pun pasti dapat mendengarnya.
"Loe mau gue apain Yashinta?" Kafka berbicara tepat di depan wajah Yahinta, embusan napas pria itu benar-benar menerpa wajahnya.
"Loe tinggal request."
Kafka kian mendekatkan wajah mereka, ketika bibir keduanya nyaris bersentuhan, Yashinta memalingkan wajah, membuat Kafka tersenyum miring.
"Kafka–nanti harus anterin–Yas sama Bunda ke butik." gadis itu mengalihkan topik, Kafka memutar bola matanya jengah, memperbaiki posisinya. Membuat Yashinta dapat bernapas lega. Gadis itu juga bangkit dari duduknya bersamaan dengan Kafka yang berbicara. "Gue gak mau ikut. Bunda aja, Bunda juga bisa nyetir."
"Atau loe aja yang nyetir. Jangan nyusahin Bunda!"
Yashinta mencebikan bibir, Kafka membuka pintu kamar untuk keluar. Mereka sudah cukup lama membuat Bunda menunggu di meja makan.
"Yas bisa nyetir, cuman Papa belum bolehin. Makannya dianter sopir terus." sahutnya seraya mengikuti langkah kaki Kafka.
"Yas juga udah punya SIM, Kafka." beritahunya pada sang pacar. "Dapet nembak?"
"Iya." Yashinta menjawab spontan, membuat Kafka tertawa keras, Yashinta memukul punggung Kafka keras-keras karena pria itu menertawakannya.
"Ampun Yas."
"Jangan ngetawain makannya."
Kafka berbalik, mengacak puncak kepala gadis itu. Sesaat membuat Yashinta mematung atas tindakan tiba-tiba sang pacar. Hari ini Kafka sukses membuat dadanya terus berdebar.
"Loe bisa nggak ngurangin kadar kepolosan loe?"
Yashinta menggelengkan kepala, Kafka mengembuskan napas. "Yas kaya gini, nggak bisa diubah-ubah, Kafka."
"Kafka keganggu?"
"Iya."
"Kenapa?"
"Jantung gue nggak aman, Yashinta."
TBC
__ADS_1