
"Kafka pulang."
Kafka berseru saat memasuki rumah. Bunda tampak tengah merapikan meja makan dibantu asisten rumah tangga mereka. Sepertinya makan malam di rumah tercintanya baru saja selesai. Kafka juga melihat mobil sang kakak ll terparkir di pelataran tumah, artinya Gibran sudah pulang.
"Kamu baru pulang. Ayo makan," tawar Bunda melihat kemunculan Kafka yang kemudian menyalaminya.
"Udah Bun."
"Kamu habis dari apartement?"
"Kafka dari rumah Yashinta." sahutnya. Andri berhasil menahan Kafka hingga malam dan membuatnya berakhir makan malam di rumah sang pacar.
"Seharian?" tanya Bunda, menatap putra bungsunya itu. Kafka mengangguk.
"Yashinta apa kabar?"
"Baik Bun."
"Ajaklah dia ketemu Bunda, Bunda kangen sekali." kalimat Bunda membuat Kafka terdiam sejenak, tapi tak lama ia mengangguk.
"Nanti Kafka usahain." Kafka menyahut enteng.
"Kafka ke kamar." sambungnya seraya berlalu.
"Bilangin Bunda ada hadiah buat dia." Bunda sedikit berteriak saat putranya sudah melangkah pergi.
Sementara di salah satu ruangan di rumah tersebut, Gibran tampak sedang berkutat dengan laptop dan juga beberapa berkas penting perusahaan. Ia memakai kacamata baca yang membuat wajahnya kian tampan, terlebih saat alisnya bertaut begitu membaca berkas.
Tak lama, pria itu melihat waktu pada ponselnya. Waktu sudah menunjukan pukul setengah sembilan. Adiknya pasti sudah pulang. Gibran sudah berjanji untuk membicarakan apa yang anak itu tanyakan melalui sambungan telepon di rumah, tapi beberapa saat lalu Kafka bahkan belum pulang.
Pria tampan itu melepas kacamata bacanya. Membuka kontak dan melihat kontak Yashinta di sana. Sampai detik ini, ia belum menghubungi gadis itu untuk memberitahukan nomor ponselnya. Atau meminta bantuan pada Yashinta sebagaimana yang dikatakan gadis itu saat menuliskan nomornya di telapak tangan Gibran.
Ketika mereka bertemu di toko buku tempo hari dan gadis itu menyapanya karena tertangkap basah sudah mengawasinya. Gibran tak memedulikannya. Ia cuek. Acuh tak acuh seolah mereka tidak saling mengenal. Bersikap seolah keduanya tidak pernah bertemu sebelumnya.
Bukankah hal itu jauh lebih baik daripada harus terlibat lebih jauh dengan gadis cerewet itu?
Gibran keluar dari ruang kerja yang berada di dalam kamarnya, ia lantas berjalan keluar kamar dan menuju kamar Kafka.
"Ka." Ia memanggil sang adik dengan satu kali ketukan pintu namun tidak ada sahutan dari kamar Kafka. Membuatnya berlalu dari sana dan memilih menuruni tangga barangkali Kafka ada di lantai bawah. Tapi ternyata nihil saat tak ia temukan siapapun di sana.
__ADS_1
Gibran memutuskan untuk ke dapur mengambil air minum, kebetulan ia sedang merasa haus. Setelah satu gelas air putih berhasil ia tandaskan, ia berniat kembali ke kamarnya, namun pintu samping yang terbuka membuatnya justru berjalan ke arah sana.
Gibran hendak menutup pintu, tapi di detik berikutnya ia mendesah mendapati sang Bunda dengan buku sketsa di tangannya. Gibran berlalu ke kamarnya terlebih dahulu, ia kembali ke lantai bawah dan berjalan menuju pintu samping dengan selimut tebal di tangannya.
Menghampiri sang Bunda dan menyampirkannya pada bahu perempuan yang. dicintainya itu.
"Bunda kebiasaan. Gibran udah sering bilang, jangan di luar malam-malam." sahutnya, masih memeluk sang Bunda dari belakang, menaruh dagunya di pundak Bunda.
Bunda yang mendapat protes itu hanya tersenyum, sama sekali tidak berniat menanggapi protes dari putranya.
Gibran melihat buku sketsa sang Bunda di mana sebuah dress hasil coretan sang Bunda tampak begitu cantik berada di sana. "Cantik." pujinya.
"Orang yang nanti pakai dress ini pasti akan sangat cantik. Karena dress ini desain Bunda." sambung pria itu. Bunda kembali tersenyum.
"Kamu bener, Mas. Orang yang pakai dress hasil desain Bunda ini pasti akan sangat cantik sekali."
"Bunda nggak sabar pengen dressnya cepet jadi." lanjut Bunda. Gibran tersenyum, tapi tak menanggapi.
"Ini spesial buat seseorang." sahut Bunda lagi setelah cukup lama mereka hanya diam dan membiarkan suara angin malam mendominasi.
"Yasudah, sekarang kita masuk ke dalam ya, udah malam." ajaknya kepada Bunda. Bunda mengangguk, menuruti perintah putra sulungnya dan berjalan masuk ke dalam rumah dengan selimut yang masih membalut tubuhnya, sedangkan Gibran membawakan buku sketsa dan juga pensil miliknya.
"Kenapa Mas?" tanya pemuda itu saat sang kakak menatapnya.
"Mas mau membahas sesuatu sama kamu."
"Sesuatu apaan?" Kafka tampak sama sekali tak berniat mengobrol dengan Gibran, membuat Gibran menatapnya, malas.
"Yang kamu tanyakan tadi siang."
"Oh, itu?"
"Iya, masalah marger dan akuisisi, ayo kita bahas bersama."
Kafka sempat terdiam sesaat, mengingat lagi egonya yang tidak ingin membantu Yasinta, terlebih lagi gadis itu dengan baik hati juga melarang papanya melakukan hal tersebut, sangat disayangkan padahal Kafka akan sangat senang melihat kehancuran Mr. Rajas yang sudah berani menyentuh Yashinta.
Gibran mengerutkan kening melihat sang adik yang justru melamun, tapi tak lama Kafka justru menepuk dada Gibran dengan raut menyebalkan. "Enggak perlu, Mas. Gue udah tahu." sahutnya seraya melanjutkan langkah menuruni anak tangg.
"Maksud kamu?" tanya Gibran, berbalik menatap anak itu tetapi Kafka justru mengibaskan tangan ke udara, membuat Gibran menggelengkan kepala, anak itu memang tidak pernah serius dalam hal apapun.
__ADS_1
***
Seperti yang sudah diprediksi, hari ini anak-anak seantero SMA Firgo tengah ramai membincangkan berita Mr.Rajas yang dipecat dari sekolah. Satu persatu fakta terkuak ketika anak-anak mengungkap hal buruk yang sering kali pria itu lakukan.
Seperti berani menyentuh paha siswi, mengajak makan malam dan bahkan berkencan. Sangat tidak mencerminkan etika seorang guru di lingkungan sekolah. Mungkin itu sebabnya dia dikuarkan. Setidaknya hal itu yang terlintas dibenak setiap siswa SMA Firgo.
Yasinta mungkin merasa harus senang karena hal yang ia takutkan tidak terjadi, tidak ada satupun di antara mereka yang membahas dirinya atas dipecatnya Mr. Rajas dari sekolah. Padahal Yashinta sudah sangat risih jika namanya disebutkan oleh anak-anak dan menciptakan kehebohan lain.
"Hei!"
Gadis itu terlonjak ketika Ranti tiba-tiba saja menepuk pundaknya dan duduk di sampingnya. "Ranti, ngagetin aja!" protesnya pada sang sahabat, sementara Ranti hanya tersenyum "Sorry." ia mengangkat dua jari lambang perdamaian.
"Loe udah tahu, 'kan kalau Mr. Rajas dipecat?" Ranti mengalihkan topik. Sejak dari pintu gerbang hingga sampai ke kelas. Anak-anak ramai membicarakan pemecatan guru bahasa inggris itu. "Udah." Yashinta menjawab sedikit gugup. Tentu saja hal itu membuat Ranti heran.
Ia menatap sahabatnya penuh selidik. "Ke–kenapa Ranti?" Yashinta menghindar dari gadis itu hang memajukan wajahnya.
"Loe tau sesuatu ya?" tebak Ranti, Yasinta segera menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Enggak Ranti, Yas sama sekali nggak tahu kalau misalnya Mr. Rajas dikeluarin, maksudnya Yas nggak tahu alasannya apa." gadis itu semakin terlihat mencurigakan di mata Ranti.
"Sumpah Ranti." Yashinta menambahkan dengan raut tegang.
Ranti menyandarkan punggungnya ke belakang, ia melipat tangannya di dada dengan mata terpejam. "Yaudah, kalau nggak mau cerita terserah!" sahutnya seolah sudah tahu jika Yasinta menyembunyikan sesuatu hal darinya, reaksi Ranti membuat Yasinta merasa tidak enak, ia menatap Ranti penuh pertimbangan.
Setelah berapa saat, Yasinta mendesah. "Ya udah, deh, iya. Yas cerita." pasrahnya, sontak membuat Ranti menegakkan duduk, matanya berbinar hendak mendapat gosip terpanas dari Yasinta, tampaknya hanya Yashinta saja yang tahu mengenai hal tersebut. Mengingat dia adalah anak pemilik yayasan. Papanya pasti bercerita alasan mengapa salah satu guru di sekolah tersebut dipecat secara tiba-tiba.
"WHAT?" adalah reaksi pertama Ranti ketika Yasinta menceritakan kejadian yang dialaminya Kemarin. Raut wajah Ranti tampak menyesal karena kemarin tidak menemani Yashinta ke ruang guru. Padahal ia tahu gadis itu bersama Mr. Rajas yang jelas-jelas berbahaya.
"Sorry, ya harusnya gue nemenin loe dulu ke ruang guru, harusnya gak percaya gitu aja sama Mr. Rajas." sesalnya, mengusap punggung tangan Yashinta berulang kali.
"Udahlah Ranti, Ranti nggak perlu nyalahin diri Ranti sendiri. Lagian, 'kan Ranti juga ada urusan."
"Yashinta juga nggak papa, 'kan. Mr. Rajas-nya juga udah dikeluarin dari sekolah kita" Yasinta menenangkan. Tapi tetap saja, Ranti merasa tidak tenang. Seandainya saja Mr. Rajas ada di hadapannya, mungkin Ranti sudah mengajar wajah tampan itu. Ia tak perduli.
Sedangkan bagian selanjutnya, Ranti tidak tahu harus merasa senang atau bagaimana saat mendengar dari sahabatnya itu jika Kafka yang menyelamatkan Yashinta.
Ia senang sahabatnya selamat dari bajingan seperti Mr. Rajas, tapi kenapa orang itu harus Kafka?
Kenapa harus Kafka yang menyelamatkan Yashinta?
Seolah, Ranti takut aksi heroik Kafka membuat Yashinta kian bebel dengan perlakuan tidak adilnya. Karena Yashinta pasti merasa berhutang budi pada Kafka.
__ADS_1
TBC