Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)

Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)
Belum Mampu Memaafkan


__ADS_3

Yashinta dan Gibran tiba sekitar pukul sepuluh malam di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta. Yashinta sudah tampak mengantuk saat Gibran menggandengnya menuju pintu keluar Bandara di mana Intan sudah berada di sana untuk menjemput mereka.


Intan segera membukakan pintu mobil begitu melihat Gibran dan Yashinta tiba. "Maaf merepotkan dan mengganggu waktu istirahat kamu." sesal Gibran pada sang skretaris ketika ia akan membantu Yashinta masuk ke dalam mobil tepat di bangku belakang.


Intan hanya mengangguk dengan senyuman, tidak masalah direpotkan oleh atasannya tersebut. Justru ia senang karena dibutuhkan.


Mobil melaju meninggalkan bandara setelahnya, menyusuri jalanan kota di malam hari. Yashinta sudah tertidur di samping Gibran, Gibran membentangkan tangannya dan memberikan ruang agar gadis itu tidur dengan nyaman.


Intan yang duduk di bangku depan tepat di samping kemudi hanya melihat dua orang itu melalui rear vision mirror dan mengukir senyum tipisnya.


"Bagaimana perusahaan setelah dua hari saya tinggal?" tanya Gibran meski keduanya sudah membahas hal itu melalui pesan whatsApp.


"Tidak ada yang terjadi Pak, semua berjalan seperti biasa." Intan menyahut seperlunya.


"Tidak ada masalah." sambungnya dan membuat Gibran mengangguk-anggukan kepala. Tapi beberapa detik selanjutnya raut wajah wanita itu tampak berubah, seperti ada yang mengganjal di hatinya.


"Hanya saja ...,"


"Ada apa?" Gibran mengerutkan kening.


"Pak Evan dari perusahaan Silver menolak meeting dengan saya, dia hanya ingin bertemu dengan Bapak." terangnya mengingat bagaimana siang tadi skretaris pria itu menghubunginya dan membatalkan pertemuan begitu tahu jika Gibran tidak hadir di sana, juga menolak bertemu hanya dengan Intan selaku skeretaris Gibran.


Intan menyesali hal tersebut karena ia tidak dapat menyelesaikan tugas yang Gibran berikan.


Gibran sempat diam beberapa saat, tapi kemudian menganggukan kepala penuh pengertian. "Tidak masalah, hubungi skretaris Pak Evan dan jadwalkan pertemuan dengannya besok." intruksinya yang segera mendapat anggukan kepala dari Intan.


Sisa perjalanan selanjutnya, keheningan terjadi di dalam mobil tersebut. Yashinta yang sudah tidur beberapa waktu terbangun saat dirasanya pergerakan mobil terhenti. Ia menggeliat dan menyadari Gibran tidak ada di sampingnya, Intan yang melihat gadis itu terbangun menoleh ke belakang.


"Pak Gibran ke toko kue sebentar." beritahu Intan saat melihat raut penuh tanda tanya di wajah gadis itu. Semula Intan menawarkan diri untuk membeli cake yang atasannya inginkan, tapi Gibran menolak karena ingin membelinya sendiri tanpa harus merepotkannya.


Yashinta ber-oh ria, menyandarkan punggungnya ke belakang setelah menoleh ke samping kiri dan melihat toko kue yang disambangi Gibran.


Gadis itu menggeser posisinya dan menemukan sesuatu di samping tangannya. Yashinta tampak tersenyum dan mengambil benda tersebut, kamera yang siang tadi Gibran pakai di acara resepsi pernikahan Bayu dan Shenina.


Gadis itu melihat-lihat hasil foto dan melebarkan senyum dengan sedikit decihan, rupanya jepretan Gibran cukup memuaskan, semua hasilnya tampak bagus terutama foto Yashinta.

__ADS_1


Gadis itu sempat mematung, tapi kemudian hanya tersenyum-senyun saat foto dirinya yang tampak diambil secara diam-diam memenuhi kamera pria itu, Yashinta sedikit tersentak saat pintu di sampingnya terbuka dan Gibran muncul dengan beberapa paper bag di tangannya.


"Sudah bangun?" tanya pria itu setelah sesaat melihat kameranya di tangan Yashinta. Gadis itu mengangguk, sedikit menggeser posisinya agar Gibran bisa duduk lebih leluasa.


"Intan,"


"Iya, Pak?"


"Untuk kamu." Gibran menyerahkan satu paper bag pada skretarisnya tersebut, Intan segera meraihnya. "Terimakasih, Pak Gibran." ucapnya, Gibran tampak nenganggukan kepala.


Yashinta hanya memerhatikan hingga Gibran menatapnya kemudian menyimpan sisa paper bag di samping gadis itu. Mobil melaju tak lama setelahnya, Yashinta menyerahkan kamera pada Gibran, Gibran perlahan menerimanya.


"Objek foto Mas Gibran cantik." sahutnya dengan senyuman, Gibran mengerutkan kening. Saat ia melihat kembali isi kameranya, barulah ia mengerti dan menyembunyikan senyum dengan mengalihkan perhatiannya ke arah lain.


***


Mobil yang dikemudikan sopir perusahaan Gibran berhenti di depan gerbang rumah Yashinta saat mereka sudah tiba. Gadis itu bersiap turun namun sesuatu mengganggu penglihatannya. "Siapa?" tanya Gibran saat melihat seorang gadis berdiri di depan pintu gerbang.


Yashinta yang juga memerhatikan objek yang sama menggelengkan kepala. "Nggak tahu." jawabnya karena ia pun tidak melihat jelas orang tersebut.


Yashinta dan Gibran turun dengan Gibran yang membawa dua paper bag berisi cake yang sengaja ia belikan untuk Yashinta dan calon mertuanya, sementara Intan tetap di sana saat Gibran menyuruhnya untuk tetap berada di dalam mobil.


Saras yang sudah mempersiapkam diri untuk bertemu Yashinta dan menunggu gadis itu cukup lama hanya menatap Yashinta dengan sorot rasa bersalah.


Gibran yang tidak mengerti apa-apa di sana hanya menatap Yashinta dan Saras bergantian. Cukup lama dua gadis itu hanya saling bertukar pandang hingga Saras yang menghampiri Yashinta lebih dulu, berdiri di hadapan gadis itu tanpa mengatakan sepatah katapun. Barangkali Saras masih menyusun diksi yang tepat untuk mengungkapkan permintaan maafnya pada Yashinta.


***


Saras tiba-tiba saja merasa gugup setelah berhadapam dengan Yashinta. Rangkaian kata yang sudah ia susun sedemikian rinci dan rapi mendadak sirna. Padahal ia sudah mempersiapkannya beberapa jam yang lalu.


"Saras mau ngapain ke sini?" tanyanya. Tampak tidak senang dengan kehadiran gadis itu. "Yas nggak mau ngomong sama Saras." sambungnya saat gadis itu akan buka suara.


Hal tersebut bukan saja membuat Saras merasa terpukul atas reaksi Yashinta, tapi juga mengundang keheranan di wajah Gibran mendengar kalimat yang gadis itu berikan.


"Yas nggak mau ngomong sama Saras!" ucapnya lagi, kali ini dengan mata yang nyaris berkaca-kaca. Gadis itu tak mampu menahan sesak yang tiba-tiba saja menelusup dadanya.

__ADS_1


"Gue mau minta maaf sama loe."


"Maaf Saras nggak akan ngerubah apapun. Saras sama Kafka udah nyakitin, Yas. Yas belum bisa maafin kalian berdua." ujarnya lagi.


"Gue bakalan pergi dari kehidupan loe sama Kafka, kalian bisa bersama lagi." ujar Saras di luar kendalinya. Membuat Gibran merasa tidak terima karena sekarang Yashinta adalah miliknya. Tidak akan mudah ia lepaskan begitu saja.


"Gue tau gue salah, Yashinta. Gue minta maaf, gue juga mau bilang makasih sama loe atas semua kebaikan yang udah loe lakuin buat gue."


"Gue bakal pindah, gue mau buka lembaran baru sama nyokap gue Yashinta, gue nggak akan pindah sebelum loe maafin gue." ujarnya lagi diiringi dengan air mata yang membasahi pipi. Tapi Yashinta menutup telinganya, tak ingin mendengar apapun yang Saras katakan.


Tak ia sangka jika ia akan mengedepankan egonya. Padahal hatinya sudah berusaha sebisa mungkin memaafkan Saras dan Kafka, namun saat melihat Saras yang menemuinya dan meminta maaf secara langsung padanya, amarah Yashinta seolah membuncah, meminta untuk dilampiaskan.


Gadis itu tak memedulikan apapun, dengan cepat melangkah menuju pintu gerbang dan membuat sang satpam tak kalah cepat membukakannya gerbang.


Saras hanya menatap gadis itu dengan pilu, ia sadar apa yang dilakukannya sudah sangat melukai hati Yashinta. Sangat wajar jika gadis itu marah dan enggan memaafkannya.


Gibran yang melihat hal itu dan tidak mengerti dengan apa yang terjadi lantas mengejar Yashinta setelah memberikan tatapan penuh permintaan maaf pada Saras karena tak dapat menenangkannya.


Melihat hal itu, Intan lantas turun dari mobil dan membuka bagasi, mengeluarkan beberapa paper bag berisi pakaian Yashinta selama gadis itu berada du Bali dengan atasannya.


***


Andri yang tengah menonton televisi di ruang utama rumah tampak terkejut melihat kedatangan putrinya dalam keadaan terburu-buru dan tampak kacau. Ia segera bangkit dari duduknya, belum dia bertanya, putrinya sudah berjalan jauh menapaki anak tangga, tak lama Gibran muncul dari arah luar dan kian membuat Andri terheran.


Gibran menghentikan langkah saat mendapati Andri berdiri tak jauh darinya. Ia memang berniat mengantar gadis itu hingga bertemu dengan sang papa, namun ia tak menyangka jika akan ada kejadian seperti beberapa waktu lalu yamg membuatnya harus mengejar gadis itu, bukannya berjalan saling bersisian.


"Apa yang terjadi, Gibran?" tanya Andri. Gibran hanya diam menghela napasnya dan berjalan pelan menghampiri Andri.


"Sesuatu terjadi depan, Om. Saya juga nggak ngerti. Mungkin Om perlu menanyakannya pada Yashinta saat Yashinta udah tenang nanti." ujar Gibran dengan hati-hati, Andri hanya diam kemudian nengangguk mengerti–meski masih tampak bingung.


Gibran pamit setelah menyerahkan paper bag berisi cake yang sudah ia beli pada Andri. Sebelum melangkah keluar, ia sempat menatap anak tangga, akses satu satunya menuju kamar Yashinta.


Di pintu keluar, Gibran berpapasan dengan satpam rumah Yashinta yang membawa beberapa paper bag berisi pakaian gadis itu. Gibran hanya mampu menghela napas, padahal beberapa saat lalu ia masih bisa melihat senyum Yashinta.


Padahal beberapa waktu lalu mereka menciptakan moment yang begitu indah di pantai Bali, dalam sekejap suasana hati gadis itu sudah berubah, membuat Gibran merasa jika hari indah yang mereka lalui tak berarti apa-apa.

__ADS_1


Sirna begitu saja dan berganti dengan kesedihan Yashinta.


TBC


__ADS_2