Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)

Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)
Cemburu


__ADS_3

Gibran menawarkan diri untuk mengantarkan Yashinta pulang sekalipun gadis itu menolak. Meski begitu, Yashinta tetap mengekor di belakangnya, Gibran hanya memejamkan matanya sekilas saat mendengar isakan gadis itu, ia berusaha tidak perduli atau lebih tepatnya belum siap menjelaskan apa yang ingin Yashinta ketahui.


"Jadi sebelum sama Yas, Mas Gibran emang pernah pacaran sama perempuan lain?" gadis itu berujar.


"Mas Gibran bilang Yas yang pertama." ia protes.


"Harusnya Yas nggak usah percaya gitu aja sama Mas Gibran."


"Mas Gibran masih berhubungan sama perempuan yang namanya Kanza itu?"


"Mas Gibran juga udah ngenalin dia ke Bunda. Kalian dulu udah sedekat apa?"


Gibran berusaha mengabaikan apapun yang Yashinta katakan. Tentu saja membuat perasaan gadis itu kian dongkol karena diabaikan.


Ketika keduanya sudah keluar dari rumah Bunda, Yashinta berbicara sedikit lebih keras seraya mengikuti langkah cepat Gibran.


"Mas Gibran jahat, Mas Gibran bikin Yas nangis!"


Gibran dengan cepat membalikan badannya kemudian meraih gadis itu dalam pelukan. Membuat tangis Yashinta pecah seketika. Mengetahui fakta jika Gibran pernah bersama wanita lain dan harapan Bunda begitu besar agar Gibran bersama dengan wanita itu membuat perasaan Yashinta hancur berkeping-keping.


Rasanya sulit dijelaskan dan ia benci mengetahui fakta tersebut. Terutama saat mengingat apa yang pernah Gibran katakan yang tak lebih dari sekedar kebohongan.


"Mas Gibran jahat!" gadis itu masih sempat memukul punggung Gibran sekalipun pada akhirnya tetap membalas pelukan sang kekasih.


Sedangkan Gibran hanya pasrah dan memeluk gadis itu dengan erat dan mata yang terpejam. Gibran tak pernah menyangka jika pada akhirnya Yashinta akan mengetahui masa lalunya, setidaknya Gibran tak menyangka jika akan secepat ini.


Ia juga tidak menyangka jika Bunda akan kembali membahas Kanza di rumah tersebut setelah tiga tahun terakhir Bunda merelakan perpisahannya dengan wanita itu.


****


Lama Gibran dan Yashinta hanya saling terdiam di dalam mobil yang berhenti sekitar beberapa meter dari gerbang rumah Yashinta. Gadis itu masih tampak marah padanya dan Gibran masih menyusun diksi yang tepat untuk disampaikannya pada Yashinta.


Sesekali Yashinta menyeka air matanya yang terus melelah. Mata gadis itu sudah memerah dan bengkak, bahkan hidungnyapun merah seperti badut. Yashinta sudah mempersiapkan diri untuk tidak bertemu Andri di rumah atau semuanya akan menjadi rumit nanti.


"Yashinta,"


"Saya sama Kanza sudah lama putus." Gibran mulai bersuara.


"Dia menetap di Australia. Tapi pulang dua bulan yang lalu dan saat ini sedang menjalankan perusahaan keluarganya." sejujurnya Gibran sudah mengetahui kepulangan Kanza sejak lama–jauh sebelum jadwal pertemuan mereka ditetapkan untuk penandatanganan perpanjangan kontrak kerjasama.


Bagaimana hal itu terjadi? Itu karena Gibran masih bergabung dengan Grup Chat Alumni SMA-nya, sehingga ia tau hal tersebut saat kawan-kawan seangkatannya heboh membicarakan kepulangan primadona angkatan mereka kembali ke tanah air.

__ADS_1


Meski begitu, Gibran tidak perduli. Kanza sudah bukan siapa-siapanya lagi.


"Perusahaan kami bekerja sama selama bertahun tahun. Kemarin kami menandatangani perpanjangan kontrak kerja sama." sambung Gibran yang faktanya hanya membuat perasaan Yashinta kian sesak.


Kesimpulannya hanya satu. Gibran sudah bertemu dengan Kanza. Setidaknya hal itu yang mengganggu pikiran Yashinta. Ke depannya, mereka pasti akan sering menghabiskan waktu bersama dan fakta tersebut benar-benar membuat Yashinfa merasa marah dan kesal.


"Dia hanya masa lalu saya Yashinta." ujar Gibran, pria itu menatap lekat gadis yang hanya memfokuskan pandangan lurus ke depan, sama sekali tidak mau menatap Gibran.


"Saya cuma punya kamu." sambungnya.


"Saya dan Kanza udah berakhir sejak lama."


"Gimana kalau masa lalu yang jadi pemenang?" Yashinta buka suara, Gibran menggelengkan kepala.


"Saya nggak suka mengulang sesuatu yang udah pernah terjadi. Itu nggak mungkin Yashinta."


Yashinta tak merespond, Gibran berusaha meraih tangan gadis itu dan membuat Yashinta menatapnya. Pandangan keduanya saling bertemu, tangan Gibran terulur menghapus jejak air mata di pipi Yashinta, tatapan pria itu kian melembut menatap gadisnya.


"Saya cuma milik kamu, apa yang kamu khawatirkan nggak akan terjadi. Saya janji." Gibran meyakinkan. Gadis itu tidak merespond apapun, ia hanya menatap Gibran dengan air yang menggenang di pelupuk matanya.


"Yashinta." tatapan Gibran tampak begitu memohon. Sedangkan gadis itu hanya menatapnya dan terus diam.


Fakta bahwa ia bukan wanita pertama di hidup Gibran membuatnya merasa kecewa. Seharusnya ia tidak mudah memercayai apa yang Gibran katakan, seharuanya ia sadar jika pria setampan Gibran tak mungkin tidak melibatkan wanita dalam hidupnya.


"Yas bukan kaya Mas Gibran yang cemburunya tenang dan cuma diem aja."


"Yas nggak bisa."


"Yas nggak bisa buat nggak nangis dan tetep baik-baik aja. Yas nggak bisa Mas Gibran."


Cukup dengan Kafka Yashinta banyak menahan perasaannya. Dengan Gibran, ia ingin lebih bebas dan terbuka dengan apapun yang dirasakannya. Dan Gibran memberikan ruang tersebut untuknya.


Gibran mengangguk mengerti, meraih gadis itu dalam pelukannya dan mengusap punggung Yashinta dengan lembut seraya menghujani puncak kepala Yashinta dengan kecupan.


Sementara gadis itu memejamkan matanya dalam dekapan Gibran, menikmati semua kehangatan yang pria itu miliki. Yashinta bahkan tidak sadar, jika ia sudah jatuh cinta pada Gibran sedalam ini.


Sangat dalam.


****


Gibran hanya menatap Yashinta yang berjalan dengan langkah pelan memasuki gerbang, namun begitu gadis itu masih sempat berbalik pada Gibran dan melambaikan tangannya serta tersenyum.

__ADS_1


Setelah gadis itu benar-benar memasuki rumah, Gibran mulai menghidupkan mesin mobil dan melajukan mobilnya, kembali ke rumah Bunda.


Ketika tiba, Gibran mendapati wanita itu tengah duduk menonton televisi tapi ia tampak melamun. Perlahan, Gibran melangkahkan kakinya dan duduk di samping sang Bunda.


Bunda tidak bereaksi, hingga kemudian Gibran menggenggam tangan wanita itu barulah Bunda mengarahkan tatapannya pada Gibran.


"Yashinta sudah pulang?"


Gibran menganggukan kepala. Kemudian hening terjadi cukup lama di antara keduanya.


"Bunda,"


"Gibran sama Kafka sayang sekali sama Bunda. Tapi banyak hal-hal di dunia ini yang berjalan nggak sesuai sama apa yang kita mau."


Gibran diam beberapa saat, kemudian ia kembali bicara saat Bunda lekat menatapnya. "Bunda, sekarang Yashinta milik Gibran." beritahu pria itu, membuat Bunda memperlihatkan ekpresi terkejutnya.


"Waktu itu Bunda pernah bilang jika Bunda mendukung Yashinta dengan siapapun asal Yashinta menjadi menantu Bunda." Gibran mengingat hal tersebut.


"Tapi Mas, apa Kafka baik-baik aja?" Bunda merasa khawatir dengan putra bungsunya. Sepertinya sekarang Bunda sadar alasan apa yang mendasari Kafka jarang pulang ke rumah akhir-akhir ini.


"Gibran nggak mungkin ambil sesuatu hal yang berharga bagi Kafka."


Jika Gibran ambil, maka Kafka sudah tidak membutuhkannya.


Bunda diam, balas menggenggam tangan Gibran dan mengusapnya. "Kenapa kalian harus menyukai perempuan yang sama?"


Gibran menghela napas, kemudian mengembuskannya pelan. "Bunda punya Yashinta sekalipun nggak bisa milikin Kanza." Gibran mengalihkan topik, perlahan ingin membuat sang Bunda sadar jika hatinya sudah bukan milik Kanza lagi.


Bunda menatap pria itu dengan tatapan sendu. "Maaf karrna Bunda sudah menyebut-nyebut nama wanita itu di rumah ini." sesal Bunda.


Jujur ia hanya ingin melihat reaksi Yashinta saat itu setelah memergoki gadis itu dan putra sulungnya melakukan inteaksi yang tidak biasa. Dari sana, Bunda sudah dapat menebak jika memang ada sesuatu hal, rupanya semua terbukti saat sekarang Gibran mengatakan langsung padanya jika mereka memang memiliki hubungan.


"Maafin Bunda."


Gibran mengangguk dengan senyum. kemudian memeluk Bunda. "Maaf karena Gibran terlambat ngasih tau Bunda." sesal pria itu.


Bunda tak menyahut, hanya mengusap punggung Gibran, sementara Kafka yang sejak tadi berdiri di anak tangga hanya mematung menatap Bunda dan sang kakak.


Ia mendengar semuanya.


Rupanya Gibran dengan cepat mendapat lampu hijau dari Bunda. Hal itu cukup melukai perasaan Kafka.

__ADS_1


TBC


__ADS_2