Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)

Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)
Orang Spesial


__ADS_3

Waktu menunjukan pukul setengah tujuh malam saat Andri memasuki kamar putrinya yang tengah di touch up oleh make up aktris yang sengaja ia undang untuk mendandani putri kesayangannya.


Awalnya Yashinta menolak, tapi pada akhirnya ia hanya pasrah bahkan ketika Andri juga mengundang Ayya Home Service salon kecantikan langganan Yashinta dan membuat Yashinta harus menjalani serangkaian perawatan.


Hal itu memang baik karena Yashinta sudah lama tidak pergi ke salon, namun ia merasa sang papa terlalu berlebihan meski pada akhirnya Yashinta tetap menghargai apa yang sudah Andri siapkan untuknya.


Yashinta yang melihat sang papa melalui pantulan cermin lantas meminta sang make up aktris untuk sejenak menghentikan akfivitas merias wajahnya. Ia beranjak dari meja rias dan menghampiri sang papa di ambang pintu.


"Papa." sapanya pada Andri yang sudah rapi dan tampan dengan stelan jasnya.


"Cantik sekali putri Papa." pujinya dengan tangan yang mengelus satu sisi wajah Yashinta. Gadis itu hanya tersenyum dengan pujian yang sang papa berikan.


"Sudah selesai?" tanya Andri kemudian.


"Sebentar lagi." jawab Yashinta sesaat setelah menatap MUA-nya.


"Vito sudah menghubungi Papa. Papa sudah harus ada di sana." beritahu Andri. "Papa mau berangkat duluan?" Yashinta bertanya. Andri menganggukan kepala.


"Yaudah, Papa duluan aja."


Andri sekali lagi menganggukan kepala. "Biar Papa suruh orang untuk jemput kamu." sahutnya kemudian, Yashinta tersenyum mengiyakan. Memejamkan mata sesaat ketika Andri sekilas mengecup keningnya. Lantas Yashinta melambaikan tangan pada sang papa yang berlalu meninggalkannya dengan senyuman.


Ia kembali lagi pada sang make up aktris yang menunggunya, segera duduk untuk menyelesaikan riasannya.


Setengah jam kemudian, setelah mendapat pesan whatsApp dari Andri yang memberitahukan jika akan ada seseorang yang menjemputnya, Yashinta yang sudah cantik itu menunggu di ruang utama rumah.


Gadis itu menjadikan dress hadiah dari Bunda sebagai pilihan untuk ia kenakan di acara besar sang papa. Rambut sebahu yang digerai rapi dengan hairpiece head berwarna gold menghiasi kepalanya.


Ia memilih ankle strap heels berwarna ping muda sebagai alas kaki, menyesuaikannya dengan dress cantiknya. Jam tangan berwarna ping muda juga menghiasi pergelangan tangannya. Leher cantiknya dihiasi kalung perak dengan liotin bintang yang ia dapatkan dari Andri.


Gadis itu tengah memainkan ponsel, membuka aplikasi kamera dan memotret dirinya dengan senyum terbaiknya kemudikan membuka aplikasi chat dan menuju jendela obrolannya dengan Kafka, mengirimkan fotonya pada pria tersebut.


Hay, Kafka. Yas cantik nggak?


Yashinta tersenyum menunggu balasan ketika mengetahui pria itu tengah online hingga ia melihat pria itu mengetik dan Yashinta menerima balasan.


Pacar Yashinta


Biasa aja.


Yashinta mengerutkan kening, raut wajahnya tampak kesal karena tanggapan Kafka, ia lantas mengetikan balasan.


Dilihat baik-baik dong, Kafka. Ini Yas pangling loh. Cantik nggak?


Bilang cantik aja sudah banget.


Pacar Yashinta


Iya, cantik. Loe cantik, jangan kemana-mana. Takut diambil orang.

__ADS_1


Kafka khawatir sama Yas?


Pacar Yashinta


Bukan. Kasian bokap loe.


Ih, Kafka.


"Non Yas." Yashinta menengadah, melihat Bi Rasti yang menunjuk ke arah pintu. "Jemputannya sudah datang." beritahunya kemudian yang membuat Yashinta segera bangkit dari duduk.


"Yas udah cantik belum Bi?" tanyanya pada sang pengasuh sembari memperlihatkan penampilannya. Bi Rasti tersenyum dengan dua jempol yang ditunjukkan pada Yashinta.


Yashinta tersenyum puas, lantas bersiap pergi dengan tas selempang yang ia isi dengan ponselnya. Tapi langkah kakinya berhenti ketika melihat sosok pria tinggi yang berdiri menatapnya.


Yashinta mematung sesaat, sekilas ia sadar jika pria itu adalah orang yang menjemputnya, terlebih dia sendiri yang kemudian memberitahu. "Gue ke sini buat jemput loe."


"Se–Sean?"


"Kenapa Sean yang jemput Yas?" tanya gadis itu dengan raut bingung. Sean tak menyahut, "ayo, acaranya udah mau dimulai." ia justru mengalihkan pembicaraan dan berbalik, melangkah pergi menuju pintu keluar.


Yashinta sesaat masih hanya terdiam menatap punggung Sean. Pria itu terlihat begitu tampan dengan stelan jas formalnya. Spatu Pantofel hitam tampak membuat tampilannya lebih berkharisma dengan rambut hitam legam dimana poni pria itu jatuh dikeningnya.


Selama perjalanan, Yashinta hanya terdiam. Sedangkan pria di sampingnya fokus mengemudi. Sesekali Yashinta menoleh pada Sean karena penasaran alasan mengapa harus pria itu yang menjemputnya?


"Sean kenal Papa Yas, yah?" tanyanya. Sean menoleh, kemudian menganggukan kepala.


"Pantesan." decak gadis itu, Sean hanya menoleh, tak ingin banyak berbicara dan fokus mengemudi. Ia sendiri yang menawarkan diri pada Andri untuk menjemput Yashinta saat Andri menyuruh sopir pribadinya.


Setelahnya, Yashinta juga hanya terdiam. Tepat saat mobil berhenti di trafict light , ponsel Sean yang berada di dashboard mobil berdering, panggilan vidio, sekilas Yashinta melihat nama Aris Tengil di layar ponsel.


Sean tampak menggeser ikon hijau, hendak meletakan ponsel pada holder dashboard bersamaan dsngan trafict light yang menunjukan warna hijau, membuat Sean kemudian melajukan mobil dengan ponsel yang masih di tangannya.


"Calon pengusaha Sukses. Lagi ngapain nieh?" Aris bertanya dengan nada alay yang begitu lebay. Ketika ponsel nyaris terjatuh dari tangan Sean, dengan spontan Yashinta ikut menahan, membuat wajahnya terkena kamera meski Aris tidak dapat melihatnya dengan jelas karena angel dari bawah.


"Sean hati-hati." Yashinta berkata pelan, Sean mengangguuk singkat, lantas benar-benar menaruh ponsel pada holder dahsboard. Sementara Yashinta kembali duduk dengan tenang.


"Wah, sama cewek kayaknya loe. Se. Kenalin lah, punya cewek kok diam-diem bae." Aris mengoceh.


Yashinta menggelengkan kepala ketika Sean menoleh ke arahnya, jangan sampai Sean mengatakan jika Yashinta berada di sana, ia takut kalau-kalau Aris sedang bersama dengan Kafka dan mengetahui dirinya saat ini bersama dengan Sean. Yashinta tidak ingin ribut dengan pria itu.


****


Kafka benar-benar yakin jika gadis yang bersama dengan Sean adalah pacarnya, Yashinta. Meski ia tidak melihat dengan jelas bagaimana wajahnya, namun dress dan kalung yang dikenakannya tampak sama, Kafka sudah menyamakan dengan pap cantik yang beberapa saat lalu Yashinta kirimkan padanya.


Kafka merasa terganggu dengan hal itu, tapi setelah beberapa saat kemudian ia tersadar. Untuk apa juga memikirkan Yashinta, tidak perduli ia sedang apa dan bersama siapa sekarang. Justru bagus jika gadis itu tengah sibuk, dengan begitu Yashinta tidak akan mengganggunya.


"Sean bener-bener sibuk banget kayaknya." decak Aris yang sudah menyelesaikan panggilan vidionya dengan Sean.


Saat ini, mereka tengah berada di toko distro milik Hafi tepat di ruangan yang pria itu jadikan markas ketika teman-temannya datang berkunjung.

__ADS_1


"Yaudahlah, galau banget kayaknya karena nggak ada Sean." Hafi menyahut setelah mengepulkan asap rokonya, mematikan rokok dan menyimpannya pada asbak roko, ia menepuk punggung Kafka yang tengah melamun.


Pria itu spontan menoleh setelah membalikan ponsel sekalipun sekilas Hafi sudah melihat jika pria itu sedang menatap foto sang pacar.


"Ka, gue punya desain kaos baru. Loe harus punya duluan." tawarnya. "Loe bisa request nama ke gue." sambung Hafi sambil berlalu keluar dari ruangan tersebut. "Yashinta aja, ya, gue kira loe bucin banget, tuh, sama pacar loe." sambungnya setengah berteriak.


"Terserah!" Kafka menyahut berteriak pula.


***


Yashinta yang sudah berada di dalam lift bersama Sean menuju atap gedung perusahaan tempat diadakannya pesta hanya saling terdiam. Jujur Yashinta sangat merasa tidak nyaman, ia tidak terbiasa diam, terlebih dirinya dengan Sean saling mengenal, rasanya sangat canggung bersikap kaku seperti saat ini.


"Sean," panggilnya, pria yang memasukan kedua tangannya pada saku celana itu menoleh.


"Kafka sama Aris pada nongkrong di mana?" tanyanya mengingat Aris yang melakukan panggilan vidio pada Sean saat di perjalanan.


"Toko distro Hafi kayaknya." Sean juga sering nongkrong di sana dan ia hapal tempatnya.


"Toko distro?" tanya Yashinta.


"Iya. Hafi punya toko distro." jawab Sean seperlunya, Yashinta hanya menganggukan kepala, sedikit merasa lega karena bukan club malam yang disambangi Kafka. Tak lama setelahnya, lift berhenti, tepat ketika pintu lift terbuka, Vito–sekretaris Andri sudah berada di sana.


"Mari Non Yashinta, Tuan Muda Sean." pria berusia empat puluhan itu menuntun keduanya. Yashinta dan Sean mengikuti langkahnya.


Yashinta sesekali melihat sekitarnya dimana pesta mewah tengah digelar di puncak gedung perusahaan milik sang papa. Para tamu undangan tampak menikmati jamuan dan sibuk berbincang, kemeriahan kian terasa saat para karyawan perusahaan tampak menggelar doorprize dengan beberapa tamu undangan sebelum acara dimulai.


Sementara yang lain juga tampak sibuk dengan dunianya masing-masing. Yashinta yang asik melihat hal itu nyaris terjatuh karena tak memerhatikan langkah kakinya, beruntung Sean dengan sigap meraih tangan gadis itu.


"Non Yas," Vito segera berbalik namun mematung melihat Yashinta sudah mendapat pertolongan Sean.


"Hati-hati." ucap Sean setelah keduanya melakukan eye contact beberapa detik. Yashinta hanya mengangguk, tanpa bisa mengucapkan terimakasih dan segera melanjutkan langkah mereka hingga bertemu dengan Andri yang tengah berbincang dengan seorang perempuan yang tampak beberapa tahun lebih muda darinya.


Perempuan itu terlihat cantik dengan gaun anggun berwarna hitam yang dikenakannya. Ia tersenyum menyambut Yashinta, sementara Sean segera menghampirinya, perempuan itu tampak mengusap satu sisi wajah Sean sebelum kemudian Sean berdiri di sampingnya dengan tangan yang saling bergenggaman.


Yashinta hanya tersenyum tipis dengan perasaan tak menentu. Ia berdiri di hadapan Andri. "Sayang, kamu sudah tiba?" Andri meraih tangan Yashinta.


"Iya, Pah."


"Hay Yashinta, kamu cantik sekali." perempuan itu menyapanya, dari senyumnya, dia terlihat begitu tulus, Yashinta tersenyum canggung kali ini, terlebih saat melihat tatapan sang papa pada perempuan itu, perasaannya mendadak tidak enak.


"Sayang, perkenalkan ini Tante Arumi, Mamanya Sean."


Yashinta baru akan menyapa sebelum kemudian Andri melanjutkan kalimatnya.


"Calon Mama kamu."


TBC


Oh, itu orang yang dimaksud Papa Andri? Baiklah.

__ADS_1


__ADS_2