Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)

Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)
Butter Cake


__ADS_3

Yashinta tidak bisa memilih salah satu dari tiga dress dan satu gaun yang sudah dicobanya sehingga ia memutuskan untuk membeli saja ketiganya. Ia tidak ingin menyesal karena kehilangan salah satu di antaranya.


"TARAA! Yas dikasih ini sama Papa." sahutnya saat akan melakukan transaksi pembayaran, ia menunjukan sebuah black card pada Kafka.


Kafka berdecak, memberi gadis itu tepuk tangan lantas mengambil black card dari tangan Yashinta. "Gue yang jaga kasir hari ini." sahutnya, kemudian berlalu dari hadapan Yashinta begitu gadis itu menganggukan kepala.


"Yashinta." Yashinta menoleh pada Bunda, ia menaikan alis, gestur bertanya. "Ada apa Bunda?"


"Kemari." Bunda berjalan menuju ruang ganti, Yashinta mengikuti dan masuk kembali ke ruang ganti dimana salah seorang karyawan Bunda berada di sana dengan sebuah dress berwarna bubblegum yang mencuri perhatian Yashinta. Ia terpesona.


"Bunda." decaknya dengan mulut menganga.


"Sesustu yang ingin Bunda tunjukin sama kamu." sahut Bunda.


"Buat Yas?" tanyanya, Bunda mengangguk, membuat Yashinta memeluk Bunda ketika wanita paruh baya yang tampak modis itu merentangkan tangan. "Makasih Bunda."


"Sama-sama Sayang."


***


Kafka mengantarkan Yashinta pulang ketika langit jingga sudah menghiasi cakrawala. Gadis itu tampak terlihat begitu senang setelah setengah hari ini menghabiskan waktu dengan Bunda.


Kafka yang tengah menyetir sesekali menoleh pada Yashinta yang sejak tadi terus tersenyum, tanpa sadar membuat Kafka juga mengukir senyum. Entahlah, Kafka-pun merasa ada yang berbeda dengan dirinya hari ini. Atau mungkin ia merasa bersalah pada gadis itu karena beberapa hari ini menghilang.


"Kafka,"


Kafka kembali menoleh dengan alis bertaut. "Makasih, yah."


"Sama-sama."


"Yas bahagia banget."


"Bagus kalo kaya gitu."


"Kita berenti di toko cake, yah, Kafka."


Kafka menganggukan kepala. Tanpa sedikitpun penolakan ataupun protes dan membuat Yashinta merasa jika Kafka-nya sangat manis hari ini. Membuat Yashinta menjadi bingung, apakah ia harus tetap membeli cake meski memiliki Kafka yang semanis ini?


Tak berapa lama, ponsel pemuda itu yang ditaruhnya di dashboard mobil berdering. Kafka yang fokus menyetir meraihnya dan menggeser ikon hijau dengan cepat tanpa membaca siapa nama sang penelpon, mengaktifkan pengeras suara dengan begitu saja karena earphone jauh dari jangkauannya. Yashinta hanya diam di tempat tanpa bersuara.


"Hallo."


"Ka, loe dimana? Di rumah nggak? Gue baru sadar kalo atm gue kayaknya ketinggalan di rumah loe, deh. Atau mungkin di kamar loe." Kafka spontan membulatkan mata, begitu juga Yashinta yang menatap Kafka penuh tanda tanya.


Kafka mengabaikan tatapan gadis itu, ia memelankan laju mobilnya dan buru-buru meraih earphone, mungkin seharusnya Kafka melakukannya sejak tadi.


"Gimana?"

__ADS_1


"Atm loe?"


"Iya, gue baru sadar. Saat itu gue gak ada uang cash dan keluar rumah bawa atm. Hari ini gue cari-cari nggak ada, mungkin ketinggalan di rumah loe." panjang lebar Saras di ujung sana.


Beberapa ini, sang papa memberinya uang cash yang cukup banyak sehingga ia tidak membutuhkan atmnya. Tapi hari ini, ia sedang berada di luar dan tidak memegang uang cash, jadi dia sangat membutuhkan atmnya dan baru menyadari jika barang itu hilang.


"Okay, tapi gue lagi ada di luar. Nanti begitu pulang gue langsung cari."


"Buruan, ya, gue bener-bener lagi butuh."


"Hmm, nanti gue anterin. Loe di mana?" kali ini Kafka memelankan suaranya, berharap Yashinta tidak mendengar. Setelah Saras memberitahukan di mana keberadaannya, Kafka memutus sambungan telepon. Sementara Yashinta hanya meremas ujung rok yang ia kenakan.


Adalah hal yang sangat wajar jika Yashinta merasakan sakit di dadanya mendengar hal itu. Air matanya nyaris tumpah karena sesak di dada yang ia rasa. Begitu Kafka menyelesaikan panggilannya, ia menatap pria itu bersamaan dengan mobil yang berhenti di toko kue langganan Yashinta dimana Kafka pernah beberapa kali mengantarnya ke sana.


"Saras ke rumah Kafka, kapan?"


"Ke kamar Kafka juga, ngapain?" tanya gadis itu tidak sabaran dan selalu berhasil menguji kesabaran yang sedikit Kafka miliki.


"Ceritanya panjang."


"Ceritain sekarang! Yas mau denger."


"Gue buru-buru Yashinta."


"Pokoknya sekarang, Kafka." gadis itu merengek, membuat Kafka menghela napas panjang dengan mata terpejam kemudian menatap gadis itu. Sementara Yashinta sudah bersiap mendengarkan apa yang akan Kafka katakan sekalipun nanti akan melukai perasaannya.


"Kenapa loe selalu mau tahu urusan gue, sih?"


"Karena Kafka pacarnya, Yas. Yas berhak tahu." sahutnya, Kafka tidak merespond.


"Kafka,"


"Hmm?" menyahut setengah kesal.


"Kalau kejadian kaya gitu ke ulang lagi. Bawa Saras ke rumah, Yas. Jangan ke rumah Kafka."


"Kalau apa yang Kafka bilang itu bener, artinya Saras dalam bahaya dan kita harus bantu."


"Tapi jangan bawa Saras ke rumah Kafka, yah, Kafka." pintanya dengan sangat memohon. "Yah, Kafka." kali ini meraih tangan Kafka. Kafka menepis lembut. "Loe mau beli apa?" tanya Kafka mengalihkan topik.


Yashinta tampak murung, kemudian menyahut lemas. "Butter cake."


"Loe tunggu di sini." intruksi Kafka, pemuda itu turun dari mobil, meninggalkan Yashinta yang kemudian juga memilih untuk menunggu di luar mobil, sementara Kafka memasuki toko.


Kafka berjalan masuk dengan tangan yang memegang ponsel, dengan cepat mengetikan pesan pada Saras jika kemungkinan ia akan cukup lama, pria itu tidak sadar saat seseorang melewatinya sembari berbicara dengan seseorang melalui sambungan telpon, begitu juga orang tersebut yang tidak menyadari kehadiran Kafka.


Sedangkan Yashinta sendiri hanya bersandar pada body mobil dengan muka masam. Sungguh, ia sangat kesal membayangkan Saras mengunjungi rumah Kafka, barangkali juga bertemu dengan Bunda dan bahkan menginjakan kaki di kamar Kafka.

__ADS_1


Yashinta sangat marah, ia sudah sering mengatakan pada dirinya sendiri jika Kafka adalah miliknya, dan ia sangat tidak rela ada wanita lain di samping pria itu.


"Masha."


Gadis itu meluruskan pandangan, ia tampak terkejut melihat kehadiran Gibran di sana. Tapi tak ayal, ia tersenyum juga dengan sorot pasrah.


"Mas Gibran."


Gibran tersenyum, ia baru saja memutus sambungan telepon dengan rekan kerjanya dan melihat Yashinta. Ia kira salah lihat namun ternyata tidak. Gadis itu benar-benar Yashinta.


"Sekarang mau apain Yas?" tanya gadis yang membuat Gibran mengerutkan kening tak mengerti, cukup terkejut dengan pertanyan tiba-tiba yang gadis itu ajukan.


"Katanya waktu ngancem mau apa-apain Yas kalo kita ketemu." gadis itu menjelaskan ketika melihat keheranan di wajah Gibran. Gibran tertawa, mengingat kembali obrolan mereka melalui pesan teks saat gadis itu mengatainya tua. Ia tidak menyangka jika Yahinta akan menganggap serius perkara tersebut.


"Saya cuma bercanda. Kamu anggap serius?"


Gadis itu mengangguk, membuat Gibran kembali tertawa dan mungkin pria itu akan bertanya-tanya beberapa saat kemudian alasan kenapa ia harus tertawa atas kepolosan gadis di hadapannya.


Gadis itu mengabaikan Gibran yang menertawakannya kemudian bertanya. "Mas Gibran habis ngapain?" tanyanya. Basa-basi yang sangat basi karena ia sudah melihat sendiri Gibran keluar dari toko kue.


"Menurut kamu?" Gibran justru balik bertanya. Yashinta nyengir, mendadak moodnya membaik setelah berbicara dengan Gibran.


"Habis beli cake, sih." gadis itu menyahut sembari cengangas-cengenges. Gibran mengangguk. "Kamu sendiri, ngapain berdiri di sini?"


"Lagi nunggu seseorang."


Gibran tak banyak bertanya, ia justru menyerahkan satu buah paper bag di tangannya pada Yashinta. "Saya kebetulan beli dua dan kebetulan juga bertemu dengan kamu." sahut pria itu. "Jadi?" Yashinta bertanya seraya menerima paper bag yang Gibran serahkan.


"Jadi, ini buat kamu." pria itu menyahut ketika paper bag sudah berada di tangan Yashinta.


"Itu butter sweet."


"Saya duluan, yah." pamitnya kemudian, Yashinta mengangguk-anggukan kepala.


"Makasih Mas Gibran, hati-hati di jalan pulang." ia melambaikan tangan pada Gibran yang berlalu pergi setelah menganggukan kepala atas pesan yang sudah disampaikannya.


Mobil pria itu berlalu membelah jalanan ibu kota dia waktu senja, Yashinta menatap paper bag di tangannya dengan senyuman. "Dari siapa?" ia dikejutkan oleh kedatangan Kafka yang tiba-tiba.


"Oh, ini, dari kenalan Yas tadi."


"Kenalan loe?" Kafka bertanya seraya memutari mobil dan masuk begitu menaruh paper bag berisi cake pesanan Yashinta di bangku belakang. Yashinta juga menyerahkan paper bag miliknya pemberian Gibran pada sang pacar agar Kafka menyimpannya.


Dengan sorot mata jengah, Kafka tetap menerima dan menyimpannya sekalipun Yashinta bisa melakukannya sendiri.


"Iya, yang waktu itu Yas ceritain." gadis itu mengingatkan. Kafka hanya diam sesaat, kemudian mengangguk mengingat hal itu dan ia tidak begitu perduli


"Makasih Kafka." ucapan gadis itu kemudian seraya memakai seatblet. Kafka tak merespond, ia juga mengenakan seatbletnya dan mulai melajukan mobil.

__ADS_1


TBC


__ADS_2