
Sekolah pagi ini sama seperti hari-hari biasanya. Selepas upacara bendera yang rutin dilaksanakan setiap hari senin guna mengenang jasa para pahlawan. Semua siswa SMA Firgo menyerang kantin sekolah untuk mendapatkan minum dan juga makanan.
Begitu juga Yashinta yang akan pergi ke kantin sendiri. Ranti tengah ke kantor guru untuk memenuhi panggilan Pak Harto yang memiliki kepentingan dengannya.
"Yas," sampai langkah kaki Yashinta tertahan begitu suara orang yang sangat dikenalinya memanggil.
Kafka berdiri dengan napas berantakan. Keringat memenuhi wajah, rambut depannya tampak lepek karena berkeringat, kancing bagian atas terbuka dan memperlihatkan T shirt putih yang ia kenakan.
Satu kata, Kafka tampak kacau dan tampan dalam waktu bersamaan.
Perlu diketahui, pemuda itu datang terlambat dengan beberapa siswa lain dan berdiri di tengah lapangan sampai upacara selesai. Biasanya, di hari senin Kafka datang pagi atau sekalian terlambat dia akan datang begitu bubar upacara.
Tapi entah ada angin apa, hari ini dia berani memampang wajah tampannya di hadapan semua penghuni SMA Firgo sebagai anak badung yang terlambat karena tidak disiplin waktu.
"Ada apa Kafka?"
"Minjem duit."
"Buat?"
"Pokoknya minjem, gue kesiangan dan lupa bawa duit," sahut Kafka, kali ini napasnya terdengar lebih teratur.
"Masalahnya Yas juga lupa bawa uang. Pas sarapan tadi uangnya di taro di meja makan, abis itu Yas pergi gitu aja karena buru-buru. Jadinya cuma bawa segini," Yashinta mengeluarkan uang lima puluh ribu yang ia bawa, Kafka mengangguk dan langsung mengambilnya.
"Gue ambil yah," Kafka beranjak, tapi Yashinta menahannya dengan wajah memelas.
"Yas laper Kafka, istirahat nanti Kafka beliin Yas makan, ya."
"Kalo nanti Yas pingsan gimana? Yas nggak mau buat Papa khawatir."
Kafka berdecak. "Guru-guru di sekolah ini gak bakal geger cuma karna loe gak jajan sehari, nanti loe minta Ranti aja."
Kafka berlalu setelahnya, meninggalkan Yashinta yang mematung di tempat. Padahal kemarin, ia merasa Kafka berbeda setelah tampak menyesal karena sudah membuatnya kecewa.
Tapi seperti apa yang sudah sering Yashinta katakan. Jika Kafka tetaplah Kafka.
Langkah kaki Yashinta selanjutnya adalah kelas, ia tidak mungkin ke kantin dengan tidak membawa uang.
Sementara itu, Aris dengan Sean yang berada di depan kelasnya tengah duduk pada tembok pembatas kelas di lantai dua. Kafka tidak terlihat batang hidungnya, mereka hanya melihat Yashinta yang berjalan gontai di lantai bawah. Menuju tangga untuk ke lantai dua.
"Si Kafka udah minta maaf sama Yashinta?" tanya Aris, mengingat kejadian tempo hari yang membuat kepalanya mendidih mendengar Kafka memperlakukan Yashinta dengan tak berperasaan.
Yang ditanyai hanya mengangkat bahu acuh. Tak lama ia bersuara. "Minta maaf atau enggak, Kafka tetep bakal jadi Kafka." Aris menoleh kesal pada Sean, pemuda itu tak jauh dengan Kafka saat berbicara. Meski apa yang Sean katakan tadi, Aris turut membenarkannya. Jika Kafka adalah Kafka, yang tidak mungkin berubah menjadi Romeo apalagi menjadi Majnun.
"Lagian gue gak ngerti sama jalan pikiran Kafka, dia kerasukan apaan, sih, sampe tega nurunin Yashinta di jalanan?"
"Udah buang tupperware kesayangannya, seenaknya ninggalin Yashinta di pinggir jalan. Dia gak bisa ngebayangin yah, seandainya Ranti sampe tau, dia pasti–"
"Pasti apa?!"
"Huwaaa,"
Aris hampir saja terjungkal ke bawah jika saja kaki Sean tidak menahannya, membuat Aris memilih menjatuhkan diri ke lantai tepat di depan kaki Ranti. Ia bangkit dan mengelus dada, untunglah tidak akan ada insiden tewasnya seorang siswa dari lantai dua karena terkejut.
Tatapan Ranti sudah nyalang kepadanya dan Sean, sementara Sean turun dari tembok pembatas kelas dengan raut santai.
"Maksud loe tadi apaan Yashinta diturunin di jalan?" tanya Ranti, tampak emosi.
"Kafka nyari ribut sama gue?"
Mata Aris membulat, kepalanya menggeleng ke kiri ke kanan beberapa kali dengan tangan yang terangkat ke depan Ranti.
"Bukan gitu Ran, loe tenang dong. Serem amat." nada suaranya bergetar. Ranti kalau sudah marah, aura di belakangnya menjadi hitam. Seperti banyak makhluk tak kasat mata yang menghasutnya untuk menjalankan misi jahat dan mengancam keselamatan dunia. Sangat berbahaya.
__ADS_1
"Gue udah denger semuanya!" Ranti marah, sedangkan Sean tampak pasrah, berbeda dengan Aris yang kalang kabut. Jika sampai Ranti mengajak Kafka ribut karena hal ini, maka nyawa Aris berada dalam bahaya. Mengingat ia yang sudah membocorkan masalah ini di depan Ranti.
Ah, tidak. Dia tidak tau jika ada Ranti yang melewati kelasnya dan mendengar apa yang ia katakan. Jadi, dia tidak bersalah.
"Kafka buang tupperware Yashinta dan nurunin dia di jalan, gitu?"
"Loe gak perlu ikut campur dan berlebihan gitu juga kali," Sean angkat bicara.
"Gak perlu loe bilang? Loe pikir gue bakal diem aja Kafka terus-terusan nyakitin Yashinta?"
Sean diam, ia tau jika memang Ranti selalu berdiri paling depan untuk apapun yang mengganggu Yashinta, terutama Kafka.
"Liat aja!" kesal Ranti dengan tatapan penuh ancaman. Membuat mental Aris menciut dibuatnya.
Bersamaan dengan itu, bel masuk berbunyi. Membuat para siswa SMA Firgo berhamburan masuk ke kelas sebelum guru piket meneriaki mereka. Aris adalah orang yang bernapas lega setelahnya karena lolos dari Ranti. Ia menyentuh lengan Ranti dengan jari telunjuknya, pelan.
"Ke kelas, gih, udah bel masuk. Nanti loe di marahin guru." tersenyum memamerkan deretan giginya yang putih dan segera masuk ke kelas, menarik Sean untuk menjauh dari Ranti.
Ranti memutar bola matanya, berbalik dan juga berjalan ke arah kelasnya yang berjarak dua ruang kelas dengan kelas Kafka. Sampai langkah kakinya membawa ia bertemu dengan pemuda itu yang akan ke kelasnya.
Ranti menatap nyalang, kalau saja bel masuk belum dibunyikan, bisa dipastikan jika ia akan menerkam Kafka saat ini juga.
"Ranti,"
Ranti diam-diam mengembuskan napas melalui mulut mendengar panggilan tersebut. Sepertinya Yashinta memanglah penyelamat bagi Kafka, saat seperti ini pun, Yashinta tampak melindungi Kafka dari amukannya. Ranti melangkah menghampiri Yashinta yang mengajaknya untuk segera ke kelas.
Sedangkan Kafka yang ditinggalkan berbalik menatap kepergian gadis itu yang memang selalu melayangkan tatapan tidak suka padanya. Melihatnya yang menghampiri Yashinta dan keduanya masuk ke dalam kelas.
Kafka memilih acuh tak acuh, melangkah menuju kelasnya begitu seorang guru dengan beberapa buku di tangannya berjalan ke arah kelas, sudah siap untuk memberikan materi.
Dan ia mendapati Aris yang duduk di tempatnya dengan raut kaku.
Kafka duduk sendiri di bangku deretan ke tiga, baris ke empat dari kanan. Sementara Aris duduk dengan Sean di belakangnya.
"Palingan nabok!" Sean menyahut sekenanya seraya membuka buku paket.
"Terus nasib kita gimana nih?"
"Kita? Yang buat ini jadi bocor ke Ranti, 'kan loe! Gue, sih, gak ngomong apa-apa "
"Nggak solid banget, sih, Se."
"Kenyataanya gitu!"
Aris mendesah, tapi beberapa detik kemudian ... "Yaudah, bilang aja ke Kafka kalau Yashinta ngadu ke Ranti."
"Gue denger kalian ngomong apa!"
Aris membulatkan mata, mendadak ia menciut begitu melihat tatapan Kafka ketika perlahan pemuda itu berbalik dengan tatapan siap menerkam.
**
Kafka sedang berada di lapangan futsal yang letaknya berada di belakang gedung sekolah saat seorang siswa memberitahunya jika Yashinta pingsan saat pelajaran olahraga.
Membuatnya segera ke ruang kesehatan untuk memastikan keadaan gadis itu.
"Kenapa loe gak bilang kalo lemes? Harusnya, 'kan nggak usah ikut pelajaran olahraga, Yas." Ranti merasa kesal sekaligus cemas pada sahabatnya.
"Maafin, Yas, Ranti. Yas kira Yas bakalan kuat, 'kan cuma sebentar." terlihat raut wajah gadis itu tampak menyesal.
"Tapi tetep aja, loe pingsan dan bikin kita semua panik. Loe gak sarapan tadi pagi?"
"Sarapan, tapi sedikit karna kesiangan."
__ADS_1
Ranti menghela napas, siap mengomeli Yashinta. "Tadi ada siswa yang bilang ke gue loe dipalak Kafka, beneran?"
"Bukan dipalak kok–"
"Itu alesan loe nggak jajan ke kantin sampe dehidrasi gini, iya?"
"Ranti kok malah marah-marahin Yas?"
Lagi. Ranti menghela napas, ia lupa jika seharusnya tidak perlu terlalu keras saat berhadapan dengan Yashinta. Duduk di tepi brankar yang ditiduri Yashinta, memegang tangan gadis itu. Ranti sempat menghela napas sebelum kemudian berbicara.
"Sorry, gue cuma khawatir sama loe, dan itu si Kafka–"
"Jangan salahin, Kafka, Ranti." Yashinta menyela dengan cepat, memohon pada Ranti dengan raut memelas.
"Tadi guru piket nelpon Om Andri,"
"Papa bakal ke sini, yah?"
Ranti mengangguk, bersamaan dengan itu pintu ruangan terdengar terbuka dan Kafka muncul setelah menyingkap tirai pembatas brankar.
"Loe nggak papa?" tanyanya panik, menghampiri Yashinta dan membuat Ranti mundur beberapa langkah. Ia harus memberi kesempatan Kafka untuk memulai perannya.
"Yas udah nggak papa, Kafka."
Kafka terlihat menghela napas lega, sampai suara Ranti menginterupsinya. "Loe pikir siapa yang bikin Yashinta kaya gini?"
Kafka menoleh, menatap Ranti yang menatap nyalang padanya seolah menyalahkan. "Loe nyalahin gue?"
"Menurut loe?" Ranti menyahut retoris.
"Pagi tadi loe malak Yashinta, 'kan?"
Kafka tak menyahut, mungkin ia salah karena tak memperdulikan kondisi Yashinta saat itu. Sampai membuat gadis ini berada di UKS sekarang.
"Kemaren loe juga buang tupperware Yashinta dan nurunin dia di jalanan, kan?" Ranti emosi. Sedangkan Yashinta tampak terkejut mendengar Ranti mengetahui hal tersebut. Padahal ia tidak mengatakan pada Ranti karena tidak ingin sahabatnya itu bertengkar dengan sang pacar.
Atau lebih tepatnya tidak ingin Ranti memarahi pacarnya.
"Mau loe apa, sih, Ka?"
"Kalo loe emang gak sayang sama Yashinta, yaudah. Bubar!"
"Ranti," Yashinta menggapai tangan Ranti guna menghentikan sahabatnya tersebut.
"Hak loe apa nyuruh-nyuruh gue putus sama Yashinta?"
"Ya loe sadar aja, loe pantes nggak buat Yashinta?"
"Selalu nyakitin Yashinta, loe pikir loe pantes buat dia? Huh?"
"Gue gak ngerti sama pola pikir loe, Ka!"
"Gue gak habis pikir!"
"Pas baru pacaran sama Yashinta dan loe ngajak dia ke puncak bareng temen-temen loe, loe pikir gue gak tau semuanya?"
"Loe cuekin Yashinta, sedangkan dia traktir kalian, dari bensin sampe makan dia yang bayar! Gitu cara loe merhatiin Yashinta?"
"Apa salahnya? Duit Yashinta nggak bakal abis cuma karena hal itu."
"Iya. Tapi harga diri loe sebagai pacaranya abis di depan cewek loe sendiri!"
TBC
__ADS_1