
Beberapa hari kemudian, setelah acara ulang tahun perusahaan dan insiden tidak terduga di apartement Gibran. Yashinta tidak pernah lagi bertemu dengan pria itu. Mereka juga tidak berkirim pesan seperti biasanya. Yashinta ingin tapi merasa ragu dan canggung.
Ia juga tidak bertemu dengan Sean. Beberapa hari ini, pria itu tidak terlihat batang hidungnya di sekolah. Padahal Yashinta ingin bicara secara langsung dengan Sean, karena jika melalui sambungan telepon, rasanya sangat tidak nyaman.
"Aris," Yashinta yang saat itu berpapasan dengan Aris di kantin usai membeli beberapa roti untuk Ranti menegur Aris yang baru tiba. Ia tidak melihat Sean bersama dengan Aris. padahal biasanya dua orang itu seperti perangko, menempel.
"Ada apa Yashinta cantik?" tanya Aris dengan antusias.
"Mau ngajakin ke restoran pas pulang sekolah?" tanyanya, lebih antusias dari sebelumnya.
"Aris ingat aja."
Aris nyengir, kemudian bertanya lagi. "Ada apa, Yas?"
"Yas jarang liat Sean. Sean kemana ya?"
"Oh, dia. Hari ini mau masuk katanya. Tapi kayaknya belum nyampe, deh." ujarnya seraya menerka, kemudian ia tampak heran dan bertanya. "Tumben nanyain Sean?"
"Eh, iya. Ada urusan aja, sedikit." Yashinta memyahut agak panik, takut-takut Aris mengadukannya pada Kafka. "Oh, gitu." decak Aris dengan kepala yang mengangguk-angguk.
"Iya Aris. Yaudah, kalau gitu Yas duluan yah. Makasih infonya."
"Iya Yashinta. Hati-hati." Aris melambaikan tangan ketika Yashinta sudah berlalu dari hadapannya. Ia menatap kepergian gadis itu. "Biasanya juga nanyain Kafka." gumamnya.
Yashinta berjalan menuju kelas dengan plastik hitam berisi roti dan minuman pesanan Ranti. Gadis itu menitip padanya karena sedang menyalin PR dan Yashinta tentu saja tidak menolak. Langkah kaki Yashinta memelan ketika dari arah berlawanan Kafka berjalan ke arahnya, barangkali pria itu akan pergi ke kantin.
Di hari minggu kemarin, Yashinta meminta pria itu bertemu untuk meminta pendapat Kafka mengenai papanya yang mengenalkan calon mama baru padanya dan Sean adalah calon saudara tirinya. Namun Kafka menolak karena memiliki jadwal latihan basket.
Yashinta ingin bercerita melalui panggilan telepon namun lagi-lagi Kafka menolak dan dengan mudahnya berkata. "Loe mau cerita apa, sih, gue sibuk!"
"Nanti aja!" yang pada akhirnya membuat Yashinta pasrah. Menentukan keputusan tanpa meminta pendapat serta pengertian Kafka. Masukan Gibran saja sudah sangat cukup. Yashinta menggelengkan kepala, menepis isi pikirannya.
Yashinta mendesah mengingat kelakuan pacarnya, tapi ia berusaha tersenyum saat ia dengan pria itu sudah saling berhadapan. Kafka tak mengatakan apapun padanya, hanya menatapnya dan memerhatikan plastik di tangan gadis itu.
"Apaan?" tanya Kafka, menunjuk plastik yang Yashinta bawa.
"Ini, titipan Ranti." Yashinta menyahut seperlunya. "Kafka mau ke kantin?" ia bertanya kemudian. Kafka mengangguk. "Bunda apa kabar?" ia bertanya lagi.
"Baik."
"Pulang sekolah nanti–"
"Gue nggak bisa nganterin loe ke tempat les." Kafka menyela dengan cepat karena tau apa yang akan gadis itu katakan, Yashinta sudah mengatakannya semalam saat mereka mengobrol melalui sambungan telepon. Yashinta melipat bibirnya dengan kaki yang membentuk pola abstrak di atas lantai.
"Yaudah kalau gitu." pasrahnya.
"Gue nggak bisa."
"Terserah Kafka, Yas nggak maksa kok. Kafka, 'kan emang selalu sibuk kalau lagi dibutuhin sama Yas." sahutnya seraya menengadah pada Kafka. Kafka hanya mendesah menatap gadis itu.
"Yas ke kelas duluan." pamitnya kemudian berlalu dari hadapan Kafka. Kafka hanya diam, ia berbalik dan memerhatikan langkah gadis itu sampai Yashinta menghentikan langkah ketika melihat Sean yang tengah berjalan menuju lapangan.
"Sean." Yashinta segera memanggil pria itu begitu melihat Sean berjalan menuju lapangan basket dimana anak-anak lain sudah menghasikan keringat di sana.
"Yas mau ngomong sama Sean." sahutnya saat pria itu berdiri dengan raut bertanya namun ia tidak bicara.
"Tapi Yas mau nganterin ini dulu ke Ranti." Yashinta menenteng plastiknya, Sean hanya mengangguk dan memerhatikan Yashinta yang setengah berlari menapaki anak tangga menuju lantai dua dimana kelasnya berada.
__ADS_1
Sedangkan dari jarak beberapa meter. Kafka yang memerhatikan dua orang itu memilih acuh saat Yashinta meninggalkan Sean. Ia melanjutkan langkah menuju kantin untuk menyusul Aris yang sudah lebih dulu berada di sana setelah mereka berpisah di parkiran tadi.
***
Yashinta sudah bersama dengan Sean di taman belakang sekolah, waktu masuk tinggal beberapa menit lagi dan Yashinta ingin segera berbicara dengan Sean. Ia tidak ingin lagi menunda-nunda setelah banyak jeda selama beberapa hari ini.
"Waktu itu, Yas belum sempet ngomong apa-apa sama Sean." gadis itu memulai pembicaraan.
"Sebelumnya Yas mau minta maaf kalau Sean tersinggung sama sikap Yas. Yas cuma bingung, rasanya terlalu tiba-tiba." sesalnya dengan raut sendu.
"Mungkin Yas kurang peka dan kurang perhatian sama Papa. Sampe-sampe Yas nggak tahu kalau Papa udah punya calon istri." gadis itu menjeda kalimatnya sesaat dan menatap Sean yang sejak tadi hanya mendengarkan.
"Terus?" tanya Sean saat jeda yang Yashinta ciptakan cukup panjang.
"Yas udah pikirin semuanya mateng-mateng. Sama kaya Sean yang pengen Tante Arumi bahagia. Yas juga pengen Papa bahagia. Kalau sumber bahagia papa itu mamanya Sean. Yas dukung." panjang lebarnya yang membuat Sean mengangguk mengerti.
Tak lama, pria itu tersenyum. Ia cukup yakin jika Yashinta akan berpikir bijak mengenai hal ini. Sean dapat tahu selembut apa hati Yashinta, sehingga ia tidak akan tega untuk tidak memberikan restunya pada orang tua mereka.
"Sean kemana beberapa hari ini? Yas nggak liat di sekolah." gadis itu bertanya kemudian begitu mengingat jika beberapa hari ini ia tidak melihat batang hidung Sean muncul di seantero SMA Firgo.
"Gue di Rumah Sakit, nyokap sakit." sahutnya, Yashinta tampak terkejut. "Sakit apa, Sean?"
"Enggak parah. Cuma kecapean aja, paling besok juga udah bisa pulang." Sean menyahut dengan tenang.
Yashinta mengangguk samar. "Semoga Tante Arumi bisa cepet sembuh."
"Iya. Semoga."
"Yas boleh jenguk nggak?" pintanya. Sepertinya ia juga harus bertemu dengan Arumi, mengatakan kesetujuan juga meminta maaf secara langsung atas sikapnya tempo hari.
"Boleh. Kapan?" Sean bertanya antusias.
"Habis dari mana, sih?" tanya Ranti yang menunggunya di depan pintu kelas, gadis itu sempat menatap Sean sekilas kemudian buru-buru menepisnya.
"Loe abis sama Sean?" tanyanya lagi.
"Iya."
"Ngapain?" Ranti mengerutkan kening, sedikit terkejut.
"Ada, deh. Nanti Yas cerita pas istirahat, yah." gadis itu segera menggandeng Ranti untuk masuk ke dalam kelas dan mengabikan Sean yang masih berdiri di depan pintu kelasnya. Hingga tepukan dari Aris yang mendarat di pundaknya membuat pria itu menoleh.
"Masuk, jangan ngelamun lu!" ujarnya yang kemudian bergegas masuk melewati Sean. Sedangkan Kafka hanya berdiri di pintu masuk dan menghalangi jalan Sean. Kafka melihat bagaimana Yashinta dan Sean muncul secara bersamaan dari gedung belakang sekolah. Bahkan mereka mengobrol akrab dan membuat Kafka sakit mata melihatnya.
Padahal kali terakhir, Kafka sudah menyuruh Yashinta agar menjauh dari Sean dan Yashinta mengiyakannya.
"Loe habis dari mana sama Yashinta?" tanyanya tanpa basa-basi.
"Dari taman belakang. Kenapa?"
"Loe suka, 'kan sama Yqshinta?" tanya Kafka bagai tidak terima, tatapan matanya nyalang menatap Sean penuh intimidasi.
"Urusannya sama loe? Bukannya selama ini loe nggak perduli samq dia?" ujar Sean yang membuat Kafka bungkam.
"Lagian kalo gue suka sama Yashinta juga nggak akan ada gunanya." sambung Sean yang kemudian melangkah masuk ke dalam kelas setelah menabrak bahu Kafka yang menghalangi jalannya.
Kafka menyeringai. Rupanya dugaannya selama ini benar, jika diam-diam Sean memang menyukai pacarnya. Pria itu menyukai Yashinta.
__ADS_1
***
"Beneran?" Ranti membulatkan mata usai Yashinta bercerita mengenai kejadian sabtu kemarin saat Andri mengenalkan Arumi yang tak lain adalah mama Sean sebagai calon mama tiri Yashinta.
Gadis itu tampak tidak percaya, rasanya sangat klise jika Yashinta dan Sean akan jadi adik-kakak.
"Hmm." Yashinta hanya bergumam, dua gadis itu berada di ujung kelas Yashinta menumpukan tangan pada pembatas kelas sembari menikmati angin yang sesekali berembus lembut menyapanya.
"Kalo gitu ceritanya loe sama Sean bakalan jadi adek kakak dong?" tanya Ranti mengingat jika Yashinta sudah mengatakan bahwasannya gadis itu akan merestui hubungan sang papa dengan mama Sean.
"Iya. Yas jadi canggung."
Ranti diam, ikut menumpu tangannya pada pembatas kelas dan menatap langit biru yang begitu cerah siang itu. Beberapa hari ini memang tidak turun hujan. Ia mengingat lagi pertemuannya dengan Sean di restoran tempatnya bekerja di mana Sean adalah keponakan manajer restoran di sana.
Tak lama setelahnya, Ranti mengusap punggung Yashinta dan menggandengnya. "Loe bakal punya mama baru." ujarnya, menghibur.
"Gue liat Sean baik, yaa ..., meski rada ngeselin. Nyokapnya pasti baik juga." sambung Ranti menenangkan, Yashinta hanya mampu menoleh dengan senyuman.
Setelahnya dua gadis itu hanya saling terdiam dengan pandangan lurus ke depan, ke lapangan basket. Yashinta menyangga dagu saat mendapati sang pacar tengah bermain basket di lapangan. Pria itu tampak tampan dengan rambut berantakan dan lepek karena keringat.
Sekilas kejadian beberapa hari lalu di apartement Gibran melintasi pikiran gadis itu. Buru-buru Yashinta menepisnya dengan menggelengkan kepala dan wajah yang meringis. Ia dengan Gibran sudah sepakat untuk menganggap jika hal tersebut tidak pernah terjadi.
"Yashinta." spontan baik Yashinta maupun Ranti menoleh ke sumber suara. "Aris, ada apa?"
Sebelum menjawab, Aris menatap Ranti lebih dulu, memastikan jika Ranti dalam suasana hati yang baik dan tidak akan mengamuk dengan tiba-tiba hanya karena ia menemui Yashinta dengan membawa pesan dari Kafka.
"Aris?" Yashinta menyadarkan pria itu.
"Oh, ini, Yas." pria itu tersadar.
"Kata Kafka, ayo nanti siang sepulang sekolah ke restoran. Kafka yang traktir." beritahunya dengan napas ngos-ngosan karena baru saja berlari dari lapangan dan mencari Yashinta.
Yashinta tampak heran di tempatnya. "Tiba-tiba? Tumben banget." padahal sebelumnya Kafka bahkan tidak bisa mengantarkannya ke tenpat les karena memiliki urusan.
"Iya. Nggak tahu deh, tuh, anak. Ini restorannya." Aris menunjukan foto sebuah restoran, Ranti mengintip dan mengerutkan kening ketika Yashinta menatapnya. Ranti hanya mengangkat bahu acuh-tak acuh.
"Tempatnya hasil rekomendasi Sean."
"Gimana, Yas?" tanya Aris neminta kepastian. Yashinta menatap Ranti sebentar kemudian menganggukan kepala.
"Yaudah kalau gitu, nanti pulang sekolah kita gass." sahut Aris bersemangat.
"Apa yang di 'gas', Aris?" Yashinta bertanya dengan kerutan di dahinya. Aris mengontrol ekspresinya kemudian tersenyum hambar.
"Enggak, Yas. Bukan apa-apa. Yaudah kalau gitu, gue duluan yah." pamitnya kemudian berlalu, terlihat Aris menggandeng seorang siswi dan berjalan lurus. Sementara Yashinta hanya menatapnya.
Usau kepergian Aris, ia menoleh pada Ranti. "Itu restoran tempat Ranti kerja, 'kan?" tanyanya. Ranti mengangguk.
"Nggak papa kalau Yas sama Kafka nanti ke sana?" tanya Yashinta lagi. Ia khwatir jika Ranti ingin menyembunyikan hal itu dari anak-anak SMA Firgo terlebih dari Kafka.
"Enggak masalah. Lagian kalian cuma makan doang, 'kan?" Ranti menyahut santai. Bukan hal memalukan seandainya anak-anak tahu ia bekerja di sana.
"Ranti nggak papa?"
"Gue baik-baik aja, Yashinta, nggak masalah. Enggak papa." Ranti meyakinkan sambil menaik turunkan alisnya.
"Kalau gitu mending Ranti gabung aja sama Yas nanti. Nggak perlu kerja hari ini, yah." usulnya, brilian.
__ADS_1
"Enggak usah repot-repot." Ranti segera menolak. Yashinta hanya mencebikan bibir dan membuat Saras tertawa kemudian menggandeng gadis itu.
TBC