
Gibran tau, tidak mudah baginya untuk menanamakan kembali kepercayaan Yashinta padanya setelah apa yang terjadi dengan mereka kemarin. Sehingga ia ingin membuat hubungan mereka lebih erat dengan banyak menghabiskan waktu bersama.
Ia ingin Yashinta merasa bahwa tidak ada yang berubah dari dirinya ataupun hubungan mereka.
Di minggu pagi, Gibran datang menjemput Yashinta. Hal itu seperti kejutan bagi Yashinta karena Gibran tidak memberitahunya lebih dulu jika mereka memiliki agenda.
Gadis itu bersiap dan merapikan diri sedangkan Gibran menunggu di lantai bawah. Andri tidak ada di rumah, pria itu memiliki beberapa urusan di luar.
"Silakan diminum, Pak." Bi Rasti menyuguhkan segelas air putih sesuai request pria itu saat ia menawarkannya minum.
"Makasih, Bi " Gibran meraih gelas berisi air putih dan meminumanya sedikit, membuat Bi Rasti tersrnyum kemudian pamit untuk kembali ke dapur. Gibran yang ditinggalkan sesekali melihat ke arah tangga, melihat lantai dua dimana gadis itu berada.
Sementara di kamarnya, Yashinta tengah merapikan rambutnya setelah merias wajahnya dengan flawless. Ia membuka sebuah kotak perhiasan, kemudian mengambil sebuah benda mungil di salah satu wadah lantas dipasangkannya di jari manisnya.
Begitu melihat penampilannya sempurna, ia lantas keluar dari kamar dan menuruni anak tangga, menemui Gibran yang sudah cukup lama menunggunya. Reaksi pria itu tampak terpana saat melihatnya, reaksi yang sedikit lebay di mata gadis itu namun tak ayal tetap membuatnya tersipu malu di hadapan Gibran.
"Berangkat sekarang?" tanya gadis itu. Gibran menganggukan kepala, mengulurkan tangan pada Yashinta yang langsung diterima oleh gadis itu. Keduanya lantas berjalan menuju pintu keluar dengan tangan yang saling bergenggaman.
"Kita mau kemana?" Yashinta tentu saja penasaran dengan tempat tujuan mereka berpacaran.
"Apartement saya."
"Hah, ngapain?"
"Baca buku, makan siang dan menghabiskan waktu bersama." Gibran memyahut singkat dan padat, terdengar sangat klasik, namun Yashinta tampaknya begitu tertarik dengan apa yang sang pacar rencanakan.
Sepertinya akan menyenangkan menghabiskan waktu seharian dengan Gibran.
Sehingga ia tampak santai-santai saja ketika Gibran menggenggam tangannya dan membawanya berlalu meninggalkan rumah.
***
Gibran tidak bohong saat ia mengatakan pada Yashinta jika agenda mereka memang hanya bersantai di apartement. Keduanya benar-benar membaca buku dan hal itu berlangsung cukup lama hingga membuat Yashinta merasa bosan.
Gadis itu sudah berkali-kali merubah posisi, menyandarkan kepala di paha Gibran, menumpukan kaki di atas paha pria itu, berbaring di atas dada dan bahkan bersandar di punggung Gibran, pria itu menurut saja saat Yashinta meminta.
Hingga pada akhirnya Yashinta menyerah dan menjatuhkan bukunya, membuat Gibran yang asik membaca menatapnya sekilas kemudian lanjut membaca buku. Sedangkan Yashinta yang saat ini duduk di sofa lain dan memeluk bantal sofa hanya menatap sang kekasih dengan wajah memelas.
"Ada apa?" akhirnya Gibran bertanya dan menyimpan bukunya.
"Laper." keluh gadis itu, membuat Gibran bangkit dari duduk lantas berjalan ke arah dapur setelah melihat arloji di pergelangan tangan, pukul sebelas siang. Yashinta mengekor di belakangnya seraya memegangi ujung kaos yang pria itu kenakan.
"Kamu mau makan apa?" Gibran bertanya setelah berbalik dan berhadapan dengan gadis itu.
"Mas Gibran bisa masak apa aja?"
"Hmm, sesuai apa yang kamu inginkan, saya. bisa bikin."
Gadis itu tampak berpikir, membuat Gibran melipat tangan di dada karena tampaknya gadis itu akan menghabiskan waktu cukup lama.
"Nasi goreng aja."
"Okey."
Pria itu dengan mudah mengiyakan dan segera mengumpulkan alat tempurnya. Yashinta hanya memerhatikan dan sesekali merecoki Gibran.
Sedangkan pria itu tampak tidak merasa terganggu dan membiarkan saja Yashinta berbuat sesukanya, seperti tiba-tiba merapikan rambut Gibran, banyak bertanya mengenai bumbu dapur hingga gadis itu berakhir pada pertanyaan yang membuat suasana menjadi sangat berbeda bagi Gibran.
"Mas Gibran pacaran sama cewek itu berapa lama?"
Gibran yang saat itu sedang memotong beberapa sayuran terdiam, aktivitas tangannya bahkan terjeda sedangkan Yashinta yang memegangi wortel di tangannya hanya menatap wortel tersebut, Gibran menatapnya.
__ADS_1
"Jangan liat Yas, jawab aja apa yang Yas tanyain." ujar gadis itu, sadar jika saat ini Gibran tengah menatapnya. Ia tidak ingin tampak menyedihkam di mata Gibran. Meski begitu, ia tidak bisa untuk tidak bertanya.
Sejak tau Gibran pernah memiliki kekasih perasaan Yashinta tidak tenang, ia merasa terus terganggu setiap kali mengingat bagaimana Gibran dulu berpacaran dengan mantannya.
"Kalian pacaran sejak SMA?" tanya gadis itu lagi.
"Hmm."
Yashinta tampak menghela napas, jawaban Gibran membuatnya sesak sekalipun hal itu memang atas dasar dirinya sendiri yang ingin tau masa lalu sang kekasih.
"Berapa tahun?"
"Apa?"
"Pacarannya. Berapa tahun?"
"Sekitar empat tahun." Gibran menyahut jujur.
Yashinta diam-diam mengeratkan pegangannya pada wortel di tangannya. Tapi hatinya masih kuat untuk tahu lebih jauh mengenai mantan kekasih Gibran.
"Dia pernah datang ke apartement Mas Gibran?"
"Waktu itu saya belum punya apartement."
"Tapi pernah dibawa ke rumah Bunda?"
Gibran diam beberapa saat, kemudian mengangguk.
"Berapa kali?"
"Nggak pernah saya hitung."
"Berarti sering?"
"Hmm."
Kali ini Gibran menatap gadis itu dan Yashinta pun melakukan hal yang sama sehingga pandangan keduanya bertemu. Gibran mendesah, "kenapa perempuan suka banget nyari penyakit?" tanya pria itu.
Bagaimanapun, di masa lalu Gibran sangat mencintai Kanza, adalah hal yang wajar jika ia pernah memimpikan sebuah masa depan dengan wanita itu.
"Maksudnya?" dahi gadis itu membentuk beberapa lipatan.
"Kamu tau akan sakit hati denger semua jawaban saya tapi kamu masih bersikeras buat nanya."
"Ya, karena Yas pengen tau sejauh apa hubungan Mas Gibran sama cewek itu."
"Sejauh apapun perjalanan kami, enggak ada tempat yang kami tuju, Yashinta."
"Bohong!"
"Sekalipun ada kami nggak sampai." jawab Gibran pada akhirnya yang membuat gadis itu mendesah pasrah. Artinya bagaimanapun, Gibran pernah memiliki tujuan menikah dengan Kanza.
Lama Gibran menatapnya saat Yashinta hanya terdiam setelahnya. "Saya udah bilang kalau sekarang saya cuma punya kamu, Yashinta. Jangan khawatir tentang apapun." ujar Gibran kemudian.
"Saya harap kamu bisa nerima masa lalu saya."
"Saya emang jatuh cinta sama perempuan lain, tapi itu dulu sebelum saya ketemu sama kamu."
"Kita nggak hidup di masa lalu sekarang."
"Lagi pula itu salah kamu." sambung Gibran, pria itu tampak menunjukan raut wajah kesal meski terlihat dibuat-buat. Tentu saja membuat Yashinta heran dan tidak terima.
__ADS_1
"Kok Yas yang salah?"
"Kenapa nggak datang lebih awal di hidup saya?" kali ini Gibran menunjukan senyumnya, Yashinta menyeka air matanya lantas memunggungi pria itu.
"Waktu itu Yas masih SD, mana boleh deket-deketan sama cowok." ujarnya, Gibran hanya tersenyum, tampaknya suasana sudah mulai mencair dan gadis itu terlihat lebih baik dari sebelumnya.
Setidaknya hal itu membuat Gibran sedikit lebih tenang, ia menarik tangan Yashinta kemudian memeluknya. Mendekap Yashinta dengan erat. Entah bagaimana Gibran harus mengatakan pada gadis itu jika hanya dia yang saat ini sangat dicintainya.
****
Setelah drama singkat mengenai masa lalu Gibran bersama perempuan lain dan membuat Yashinta merajuk hingga memperlambat proses memasak Gibran, pada akhirnya nasi goreng buatan pria itu siap disantap.
Yashinta sudah duduk di salah satu dari empat kursi di meja makan dapur Gibran, pria itu menyusul dengan membawa dua piring berisi nasi goreng.
"Wanginya enak banget." Yashinta berseru saat Gibran meletakan satu piring di hadapannya. Kemudian Gibran menaruh satu lagi di bagian lain.
Gadis itu menengadah saat Gibran tak kunjung duduk. "Mau makan sekarang nggak? Kok nggak duduk?" tanyanya.
Gibran tampak memerhatikan gadis itu, kemudian tanpa aba-aba ia menjatuhkan bibirnya di atas bibir Yashinta dan berhasil membuat gadis itu membulatkan mata, terkejut atas serangan yang tiba-tiba.
Kemudian setelah itu, saat Gibran menyudahi, gadis itu hanya mematung di tempat.
"Appetizer." sahut Gibran dengan raut kalem yang setelahnya duduk di kursi lain.
"Silakan dimakan." sambungnya pada gadis yang masih membeku tersebut. Yashinta hanya mengangguk kaku, nasi goreng di hadapannya yang semula menggiurkan kini terasa hambar, dengan dadanya yang terus saja berdebar.
****
Sekitar pukul tiga sore, ketika cuaca di luar sana tampak sedikit gelap dengan awan yang mulai menghitam, Gibran justru mengajak Yashinta untuk pergi keluar.
Dan kejutan bagi Yashinta saat Gibran tidak bersama dengan mobilnya.
"Kita jalan kaki?" tanya Yashinta, ia mengayun-ayunkan tangannya dalam genggaman Gibran dan menatap pria itu.
Gibran mengangkat bahu, kemudian membawa gadis itu berjalan sedikit memutari mobil hingga mendapati sebuah sepeda motor di belakang.
"Kita naik motor?" membayangkannya saja membuat gadis itu bahagia. Duduk di atas motor dengan orang yang dicintainya dalah salah satu keinginan Yashinta.
Gibran mengangguk. Kemudian berjalan ke arah motornya dengan Yashinta yang masih menampilkan tatapan terpana. "Ini motor kesayangan Ayah."
"Saya yang rawat setelah Ayah nggak ada." ujar Gibran, sekilas ia mengingat kenangannya bersama sang ayah di atas harley davidsion tahun 2000-an itu.
"Mau jalan-jalan sama saya?" tanya pria itu kemudian, Yashinta hanya menoleh.
"Kamu akan jadi perempuan pertama yang saya bonceng di atas motor ini. Mau?" dengan cepat gadis itu menganggukan kepala.
Sore itu, Yashinta dan Gibran berjalan-jalan dengan motor mendiang ayah Gibran. Langit kian mendung dan hawa dingin mulai terasa, membuat Yashinta kian mengeratkan pelukannya di pinggang Gibran mengarungi jalanan Jakarta. Membuat pria itu tersenyum di balik helm yang dikenakannya.
"Mas Gibran, kalau hujan kita neduh di mana?" gadis itu mulai bertanya.
"Liat deh, langitnya gelap banget. Yas takut, tapi nggak papa karena sekarang lagi sama Mas Gibran."
"Kalau ada warung bakso mampir, yah."
"Kayaknya belum lama deh abis makan nasi goreng, kok udah laper yah."
"Nasi gorengnya tadi hambar, gara-gara Mas Gibran nggak ngasih aba-aba dulu pas cium Yas. Yas, 'kan jadi kaget."
"Curang!"
Gadis itu banyak mengoceh sedangkan Gibran hanya mendengarkan, menggenggam tangan Yashinta di pingganya dan mengusapnya lembut, membuat gadis itu kian mengeratkan pelukan dan menyandarkan kepalanya dipunggung Gibran.
__ADS_1
TBC
Appetizer : Hidangan pembuka.