Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)

Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)
Sulit Dimengerti


__ADS_3

Yashinta hanya menatap layar ponselnya usai panggilannya dengan Gibran terputus. Ia menatap foto Kafka yang tengah memunggungi matahari terbit. Yashinta sendiri yang mengambil foto tersebut ketika mereka berlibur ke puncak saat ia dan Kafka baru saja berpacaran.


Mata gadis itu beralih menatap topi Gibran yang ia taruh di atas meja rias saat ia akan ke kamar mandi beberapa waktu lalu.


Pandangan gadis itu teralihkan ke ponsel dalam genggamannya saat benda pipih itu berdering. Id Pacar Yashinta menghiasi layar ponsel, membuat senyum gadis itu merekah. Tapi tidak bertahan lama ketika ia mengingat apa yang siang tadi dilihatnya di gedung bioskop.


Kira-kira, Kafka kemana lagi setelah menonton dengan Saras? Pertanyaan itu terus menerus menghantui pikiran Yashinta begitu ia tiba di rumah.


Nada dering panggilan berakhir, tapi tak lama ponsel gadis itu kembali berdering. Yashinta segera menekan ikon send sebelum Kafka mengamuk dan memulai perang dunia ketiga padanya nanti.


"Loe kemana aja, sih?" adalah pertanyaan pertama Kafka begitu Yashinta menempelkan benda pipih itu ke telinganya setelah menggeser ikon hijau.


"Ada, Kafka." gadis itu menyahut dengan nada lembut seperti biasanya.


"Kenapa lama ngangkat telponnya? Tadi juga nomor loe sibuk, loe abis telponan sama siapa?"


Yashinta sempat menghela napas sebelum kemudian menyahut, "ada Kafka. Yas habis cuci muka. Tadi telponan sama kenalan Yas."


"Kenalan loe yang mana?" Kafka sewot.


"Kalau Kafka nelpon Yas cuma mau marah-marah doang Yas tutup aja telponnya, yah."


"Mending Kafka istirahat, 'kan cape pasti habis jalan-jalan sama Saras." ocehnya, tidak tahan.


"Loe nyindir gue?" yang di sana tidak terima.


"Kalau Kafka ngerasa yaudah." pasrahnya, Kafka sudah terlanjur memarahinya, jadi bukan masalah besar jika Yashinta membahas hal ini sekarang.


"Loe kenapa, sih? Loe datang bulan?"


"Enggak, Yas baru aja seminggu yang lalu datang bulan." gadis itu menyahut sesuai fakta. Ia terdiam setelahnya dan Kafka juga terdiam di ujung sana.


"Gue mau nanya." suara Kafka kembali terdengar.


"Mau nanya apa, Kafka?"


"Tadi siang loe kemana aja?" tanya Kafka yang membuat Yashinta terdiam beberapa saat, ia mengingat kembali apa yang terjadi di gedung bioskop siang tadi. Kemungkinan besar, Kafka memang melihatnya, mungkin itulah alasan Kafka menanyakan hal ini padanya guna memastikan apa yang dilihatnya.


"Yas ada," dustanya setelah melakukan pertimbangan.


"Seharian ini Yas di rumah. Ada apa, Kafka?"


"Oh, nggak ada. Cuma nanya aja, bagus kalau gitu."


"Iya Kafka."


Hening kembali terjadi, hingga kemudian Yashinta buka suara. "Kafka gimana acara sama Saras-nya?" tanya gadis itu, terdengar seperti sedang memancing emosi namun ia memang ingin mendengar langsung dari Kafka.


"Maksud loe apaan, sih?"


"Loe masih mikir kalau gue seharian ini sama Saras?"


"Gue nggak ada sama Saras. Gue sama Hafi, di markasnya Alley Youth." dusta pemuda itu yang justru membuat Yashinta menggerutu.


Mengapa Kafka bohong?

__ADS_1


"Kenapa Kafka bohongin, Yas?"


"Kenapa Kafka nggak jujur aja kaya biasanya?"


"Kenapa Kafka? Kafka takut Yas sakit hati?"


"Yas nggak papa kok Kafka. Yas, 'kan udah biasa."


Gadis itu mendesah, faktanya semua emosi itu tertahan di dadanya, ia tak bisa meluapkannya.


"Yaudah, gue tutup telponnya kalau gitu." Kafka kembali berbicara.


"Hmm." panggilan terputus.


Yashinta menaruh ponsel di dadanya. Ia memejamkan mata. Semua terasa melelahkan andai ia tidak mencintai Kafka.


***


Bunda yang saat itu tengah melanjutkan desain gambarnya menoleh begitu Gibran menaruh dagu di pundaknya. Ia tersenyum menyambut putranya itu yang akan pergi bekerja.


"Selamat pagi Bunda."


"Pagi Sayang."


Gibran melihat hasil gambar sang bunda. Rupanya ia masih melanjutkan dress yang beberapa hari lalu didesainnya untuk orang katanya spesial.


"Mas, menurut kamu. Warna yang cocok untuk dress ini warna apa, yah?" Bunda meminta pendapat putranya. Gibran menilik desain hasil tangan sang bunda berupa dress cantik itu, ia tampak berpikir. "Gimana sama warna fuscia?"


Bunda tampak mempertimbangkan. "Dia bakal suka nggak, yah?"


"Iya."


"Kalau gitu, berapa kira-kira usianya? Kita sesuain warnanya sama usia dia."


"Mm," Bunda tampak berpikir. Hingga kemudian ia mengingat putra bungsunya. "Seusia Kafka."


"Berarti sekitar delapan belas tahun." tebak Gibran. Bunda mengangguk. Membuat Gibran kembali melihat sketsa sang Bunda. "Kalau begitu, warna bubblegum akan cocok. Anak seusia itu cenderung suka warna cerah." usulnya, membuat Bunda mengangguk-anggukan kepala, setuju dengan usulan Gibran.


"Bunda tinggal pesan kainnya nanti." sahut Bunda seraya menutup buku sketsa miliknya. Gibran hanya tersenyum memerhatikan. Lantas meraih tangan Bunda. "Beberapa hari ke depan Gibran nggak pulang ke rumah." sahutnya, memberi tahu sang Bunda.


"Kenapa? Kamu mau tinggal di apartement lagi?"


Gibran mengangguk. "Tiba-tiba banget. Mau ngapain, sih, Mas. Udah bagus tinggal di sini aja sama Bunda." Bunda merasa keberatan dengan keinginan sang putra.


"Kan biar bebas Bun bawa pacarnya ke apartement." Kafka yang muncul dari anak tangga menyambar begitu saja. Bunda mengerutkan kening, menatap Kafka penuh tanda tanya.


"Mas Gibran sekarang udah punya pacar Bun." Gibran hanya berdecak mendengar celotehan sang adik.


"Jangan dengerin Kafka, Bunda." sahutnya, sementata Kafka tertawa. Ia memilih menyalami sang Bunda untuk segera berangkat sekolah. Tak lupa ia juga mendaratkan kecupan di pipi bundanya, lantas beralih menyalami Gibran dengan tatapan iseng pada kakaknya itu.


"Makannya suruh Mas Gibran nikah, Bun. Biar nanti Bunda ada yang nemenin!" pemuda itu mengompori. Gibran berdecak, "udah, sana pergi!"


"Bunda–"


"Mas tahan kartu kredit kamu, yah." Gibran yakin ancaman itu akan berhasil pada Kafka. Terbukti jika pemuda itu mengangkat kedua tangan ke udara tanda menyerah, lantas berlalu menuju pintu keluar.

__ADS_1


Setelah kepergian pemuda itu. Tinggalah hanya Bunda dengan Gibran kembali berdua di ruang utama rumah.


"Kerjaan kamu lagi banyak, makannya kamu mau tinggal di apartement dulu?" tanya Bunda. Sorot matanya tampak memaklumi pilihan putra sulungnya.


"Iya."


Bunda mendesah mendengar jawaban singkat itu, ia mengusap lengan Gibran dan menganggukan kepala. "Yaudah kalau gitu. Tapi sering-sering datang ke sini." pesannya yang segera mendapat anggukan kepala dari Gibran.


***


Mobil yang membawa Yashinta berhenti di depan gerbang sekolah seperti biasa. Ia turun ketika sopir sudah membukakannya pintu. Langkah kaki Yashinta yang memasuki gerbang terhenti saat mobil Kafka memasuki gerbang, membuatnya harus memberi jalan di antara anak-anak yang berjalan kaki sepertinya. Pemuda itu tampak sendiri di dalam mobilnya–tidak bersama Saras.


"Yashinta." gadis itu mengalihkan perhatiannya dari mobil Kafka dan melihat Ranti yang setengah berlari menghampirinya. "Ranti jalan kaki?" tanyanya, berjalan dengan Ranti yang menggandeng lengannya dan menyeretnya pergi.


"Naik angkot. Gue hampir aja kesiangan." napas gadis itu terdengar berantakan.


"Ranti kerja malem juga, yah?" tanya Yashinta dengan raut sendu. Ranti menatap gadis itu dan tersenyum dengan raut tanpa beban.


"Ranti, jangan gitu dong. Ranti, 'kan juga harus istirahat," sahutnya khawatir.


"Gue istirahat cukup kok, Yas. Lagian juga, 'kan gue harus kerja keras." gadis itu menyahut dengan senyuman.


"Yas berapa kali, sih, nawarin sama Ranti biar Ranti nggak perlu kerja. Nanti kalau Ranti udah lulus sekolahnya baru boleh, buat sekarang Ranti cukup punya Yas aja–"


"Enggak!" Ranti menyela dengan cepat.


"Loe udah terlalu banyak bantuin gue, Yashinta. Gue nggak mau bergantung sama loe." tolaknya tanpa berpikir panjang.


"Gue nggak enak, kalau aja bukan bokap loe yang punya sekolah, gue mungkin nggak akan bisa sekolah. Apalagi di sekolah elit kaya gini."


"Ih. Ranti kok ngomongnya, gitu, sih. Yas nggak suka, ah." Yashinta mengerucutkan bibir.


"Pokoknya terserah, gue nggak mau terlalu ngandelin loe sama Om Andri. Kalian udah terlalu baik sama keluarga gue." sahut Ranti, tidak bisa dibantah.


Yashinta diam beberapa saat, tapi kemudian ia kembali berbicara. "Lagian Ranti, kan Ayah-nya Ranti kerja. Kenapa Ranti harus kerja juga, sih?"


"Bantu-bantu, Yas. Loe tau sendiri, bokap gue punya dua anak. Biar bokap gue cukup biayain nyokap sama adek gue aja. Gue urus diri gue sendiri." ujar Ranti dengan enteng. Ia menggandeng Yashinta lantas membawa gadis itu setengah berlari menuju kelas ketika keduanya sudah ada di lorong.


"Ranti, jangan gini dong– nanti Yas jatuh."


Seperti itulah seorang Ranti. Dia tidak seberuntung Yashinta yang lahir dari keluarga kaya. Justru Tuhan menganugerahinya pundak yang kokoh untuk berjuang sendiri di atas dunia yang kejam.


Andri, papa Yashinta membebaskannya dari uang bulanan sekolah sehingga Ranti tidak perlu memikirkan hal itu. Selain karena Ranti memang dari keluarga tidak mampu, ia juga memiliki privilage karena dia merupakan sahabat Yashinta.


Mayoritas siswa SMA Firgo adalah anak-anak dari kalangan atas. Tapi sekalipun Ranti tidak pernah merasa minder dengan mereka. Niatnya bersekolah adalah untuk belajar. Selebihnya, adalah untuk menjadi teman Yashinta.


Jika Ranti ditanya alasan ia berteman dengan Yashinta apakah karena gadis itu kaya dan sering membantu keluarganya atau bukan, maka Ranti tidak akan mengelak mengenai hal itu. Namun selebihnya, ia tulus berteman dengan Yashinta karena gadis itu baik, berhati lembut, seperti malaikat.


Gadis polos dengan hati selembut kapas. Tak masalah sekalipun kadang menjengkelkan. Ranti menyukai dan menyayanginya.


Di matanya, Yashinta seperti malaikat.


Begitulah Yashinta di mata Ranti


TBC

__ADS_1


__ADS_2