
"Kafka mana?" tanya Aris saat Yashinta kembali masuk ke restoran sendiri. Yashinta melihat meja mereka sudah rapi, lantai di bawah juga sudah bersih.
"Udah duluan, katanya ada pertemuan antar kapten tim basket." ujar gadis itu dengan senyum samar. "Ranti mana?" tanyanya kemudian sebelum duduk.
"Udah kembali ke tugasnya." Sean yang menjawab. Yashinta mengangguk-anggukan kepala dan melihat jika tiramisunya sudah tersedia di atas meja. Yashinta merogoh sesuatu dari saku seragamnya, menaruhnya di atas meja tanpa bicara.
Aris mengerutkan kening melihat gadis itu yang mengeluarkan credit card. "Tadi Kafka ngasih ini." beritahu gadis itu karena memang Kafka yang berjanji untuk mentraktir. Kafka memberikannya padanya sebelum Yashinta turun dari mobil.
"Hebat, si Kafka." decak Aris kemudian. Yashinta hanya diam, mengingat lagi apa yang terjadi di dalam mobil pria itu beberapa menit lalu. Tanpa sadar Yashinta mengigit bibirnya. Ia kira, setelah dengan Kafka, ia akan melupakan apa yang terjadi di antara dirinya dengan Gibran. Tapi ternyata tidak. Justru ingatan pria itu malah kian melekat di kepala Yashinta.
Yashinta melahap tiramisunya tanpa nafsu. Ia menatap Sean yang sudah selesai makan. "Sean udah selesai?" tanyanya. Pria itu mengangguk.
"Kalau gitu kita berangkat sekarang aja, yu." ajaknya, Yashinta tidak ingin berlama-lama. Ia ingin segera menemui Arumi dan pulang. Gadis itu merasa resah dan butuh teman bercerita. Sepertinya ia harus meminta Ranti untuk menginap di rumah dan bercerita dengan gadis itu. Lagi pula, Ranti sudah cukup lama tidak menginap.
"Pada mau kemana?" Aris yang masih makan bertanya. "Ke Rumah Sakit, Aris. Yas mau jenguk mamanya Sean." gadis itu menjawab seraya memakai almamater yang semula ia sandarkan pada sandaran kursi.
"Wah, Yas. Akrab banget kayaknya sama nyokap Sean. Baru tau gue," decak pria itu. Yashinta mengangguk. "Harus akrablah, Aris. Mamanya Sean, 'kan calon Mama Yas."
"HAH?" Aris spontan tampak terkejut, gadis itu sudah dua kali membuat Aris terkejut. Hari ini adalah hari kaget bagi Aris.
Menatap Sean dan Yashinta yang sudah beranjak dari duduk secara bergantian. Dua orang itu hanya mengangguk tanpa berniat menjelaskan apapun pada Aris. Yashinta melambaikan tangan. "Duluan, yah, Aris. Aris lanjutin aja makannya. Ini Yas bayar pake credit card Kafka," sahut gadis itu dan beranjak menuju kasir.
Sementara Aris melongo, meminta kepastian pada Sean namun pria itu hanya menepuk bahu Aris tanpa niat bercerita.
"Udah?" tanya Sean setelah Yashinta kembali. Yashinta mengangguk. Kemudian berjalan dengan Sean menuju pintu keluar restoran dan meninggalkan Aris.
Aris tertawa singkat. "Yashinta sama Sean bakal jadi adek kakak?" kali ini ia tertawa garing.
"Wah, repot nih si Kafka iparan sama Sean." decaknya, menolak percaya.
***
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Yashinta dan Sean hanya saling terdiam. Lalu lintas tampak lancar tanpa kemacetan, membuat mereka tiba dengan cepat di Rumah Sakit.
__ADS_1
Yashinta dan Sean masuk ke ruang rawat Arumi. Arumi ternyata sudah bersiap pulang dan tengah mengemas barang-barangnya dibantu oleh seorang suster dan juga asisten rumah tangga. "Loh, Mama udah mau pulang?" tanya Sean saat melihat brankar sang mama tengah dirapikan.
"Sean," Arumi terkejut putranya datang. Padahal sebelumnya Sean sudah berkata jika akan datang nanti malam karena siangnya dia memiliki urusan. Arumi tampak lebih terkejut lagi saat melihat siapa orang yang datang dengan Sean. Arumi spontan mengukir senyumnya.
Kedatangan Yashinta disambut baik oleh perempuan itu. Yashinta akhirnya mengantarkan Arumi pulang ke rumah, terlebih Arumi yang mengajaknya. Membuat Yashinta tidak dapat menolak. Terutama ada hal penting yang harus ia katakan pada Arumi.
"Tante beneran udah nggak papa?" tanya Yashinta saat mereka sudah berada di dalam mobil. Yashinta duduk dengan Arumi di bangku belakang. Sean menyetir dan asisten rumah tangga mereka berada di samping pria itu.
"Iya, Tante udah nggak papa, Sayang. Lagian Tante bosen di Rumah Sakit terus." ujar Arumi. Ia memang sudah sangat jenuh berada di Rumah Sakit, terlebih tubuhnya sudah terasa lebih baik dan membuatnya yakin untuk pulang.
"Papa udah sempet jenguk?" tanya Yashinta kemudian. Arumi sesaat tersenyum, tak lama setelahnya ia menganggukan kepala. "Sudah, kemarin."
"Papa nggak ngasih tahu Yas kalau Tante Arumi Sakit." gadis itu mencebikan bibir. Arumi hanya menanggapinya dengan senyuman dan mengusap rambut gadis itu. Sean yang melihat keduanya melalui rear vision mirror hanya tersenyum, kembali fokus ke jalanan dan setir kemudi.
Seperti yang sudah Yashinta katakan pada Sean sebelumnya. Ia pun mengatakan hal yang sama pada Arumi ketika mereka sudah tiba di rumah, ia ingin Andri bahagia dan akan merestui hubungan Arumi dan Andri karena hal itulah yang akan membuat Andri bahagia nanti.
Arumi yang mendengarnya tentu saja senang. Awalnya ia sempat khawatir dengan sikap Yashinta meski Sean sudah menenangkannya. Tapi sekarang, Yashinta sudah memberikan lampu hijau, memberinya jalan.
"Terimakasih Sayang." ucap perempuan itu, tampak bahagia dan tenang. Yashinta hanya menganggukan kepala.
"Tante Arumi hangat, kaya Mama." sahutnya dengan suara pelan. Arumi tidak begitu mendengar, namun ia hanya mendaratkan kecupan di puncak kepala Yashinta. Membuat Yashinta memeluknya kian erat.
Yashinta tersenyum mengingat apa yang Gibran katakan. Pria itu benar, Arumi adalah orang yang baik. Sosok yang hangat untuk dirinya yang rindu dengan sosok mama.
***
Sementara itu, di restoran tempat Ranti bekerja. Saat ia baru saja akan beranjak setelah membersihkan salah satu meja, gadis itu memaku dengan mata yang perlahan membulat saat suara lonceng yang berbunyi menandakan ada pelanggan masuk membuatnya menangkap sosok yang beberapa hari ini ia rindukan dan cari-cari keberadaannya.
Seorang pria dengan balutan pakaian formal berjalan masuk dan duduk di meja dekat dinding kaca. Ranti menatapnya penuh kagum, berterimakasih pada Tuhan karena sudah memberikan hari baik padanya dengan sudah mempertemukannya dengan malaikatnya tersebut.
Ranti hanya terus tersenyum saat Gibran di sana tampak membaca buku menu kemudian memesan makanan pada seorang waitress.
"Ranti?" gadis itu tersadar saat waitress yang beberapa saat lalu berada di meja Gibran sudah berada di hadapannya. "Eh. iya Mbak?"
__ADS_1
"Saya boleh minta tolong, anterin pesenen ke meja yang di sana, yah." waitress itu menunjuk meja yang ditempati Gibran. Dengan sangat antusias, Ranti mengangguk. Rupanya Tuhan tidak hanya sedikit memberinya kesempatan hari ini.
***
"Yashinta." panggil Sean saat Yashinta baru saja akan keluar dari mobilnya ketika mereka tiba di depan gerbang rumah Yashinta.
"Ada apa Sean?" gadis itu bertanya dan melepas tangannya dari handle pintu mobil.
"Loe mau sampai kapan pacaran sama Kafka?" tanya Sean, sejujurnya ia ragu dan tidak ingin ikut campur. Tetapi ia tidak tahan untuk tidak buka suara.
"Maksud Sean?" gadis itu tampak tidak mengerti.
Sean sempat mendesah, sebelum kemudian berbicara. "Sebenernya selama ini loe peka ngga, Yas? Gimana perlakuan Kafka sama loe, sikapnya ke loe?"
"Yang pasti gue tahu dia cuma mainin loe doang."
"Loe nggak perlu lanjutin hubungan loe sama dia." ujarnya memohon pengertian. Namun Yashinta hanya diam dengan tatapan tak terbaca.
"Gue bilang gini bukan mentang-mentang gue calon saudara tiri loe. Gue cuma nggak mau loe sakit hati. Itu aja." kali ini nada bicara Sean terdengar melemah.
"Sean, apapun yang Sean bilang. Enggak akan ada yang berubah sama perasaan Yas buat Kafka."
Sean tersenyum hambar. "Secinta itu loe sama Kafka?" tanyanya, Yashinta mengangguk tanpa berpikir panjang.
"Apa, sih, yang ngebuat loe jatuh cinta sama Kafka?" tanya Sean lagi. Tidak habis pikir. Ia bukan menjelekan Kafka sebagai kawannya. Hanya saja untuk yang satu ini dari dulu Sean tidak pernah setuju, ia selalu menentang.
Sean selalu marah jika Kafka mempermainkan hati para wanita. Kafka sudah banyak memakan korban. Sean tidak terima. Meski jika bukan Yashinta, mungkin Sean tidak akan bertindak sejauh ini.
"Apa, sih, yang ngebuat loe sayang banget sama dia?"
Dengan polosnya, Yashinta menggelengkan kepala. "Enggak ngerti, Yas suka sama Kafka udah dari lama. Yas udah lupa gimana Yas bisa jatuh cinta sama Kafka. Tapi yang pasti, dari dulu sampai hari ini. Perasaan Yas buat Kafka nggak pernah berubah, sedikitpun."
"Enggak pernah, Sean."
__ADS_1
TBC