Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)

Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)
Toko Buku


__ADS_3

"Yas—"


"Kafka."


"Kafka ngapain disini?" gadis itu perlahan mendekati Kafka. Kafka melihat plester yang berada di pelipis gadis itu, ia merasa khawatir, apa itu terjadi karena ulahnya?


"Kafka mau ngapain?" pertanyaan gadis itu menyadarkannya. Kafka mengerjap dan menatap Yashinta, lagi.


"Gue—"


"Gue, mau—"


"Mau apa, Kafka?"


"Loe nggak marah sama gue?" akhirnya pertanyaan seperti itu yang keluar dari mulut seorang Kafka.


Yashinta terdiam, kenapa juga Kafka harus membahas hal ini?


"Yas,"


"Kalo kedatangan Kafka cuma mau bahas hal itu mending nggak usah, Kafka. Yas udah lupain, Kafka mending istirahat di rumah." gadis itu berkata lirih. Rasanya sakit mengingat apa yang terjadi beberapa jam lalu.


"Gue minta maaf, Yas. Sorry,"


"Iya, udah Yas maafin, kok, Kafka. Kafka tenang aja,"


Kafka diam, menatap gadis di hadapannya yang tersenyum tipis padanya. Kafka jelas tau Yashinta kecewa, dan itu karena kesalahannya yang keterlaluan memperlakukan gadis itu.


Tapi bagaimana mungkin Yashinta masih mau memperlakukannya dengan baik?


"Loe nggak marah?" Kafka bertanya sekali lagi.


Yashinta menggeleng dengan yakin.


"Yas nggak pernah bisa marah sama Kafka."


"Kenapa?"


"Karena Yas, sayang sama Kafka. Yas nggak mau nyakitin Kafka."


"Yas nggak mau Kafka kepikiran kalo Yas marah," sambungnya dengan tulus.


"Loe terlalu baik buat gue, Yas."


"Karena Yas tulus, Kafka."


Kafka tersenyum hambar. Pantaskah ia terus-terusan menyakiti gadis ini? Tapi apa mau dikata, toh mereka impas dengan Yashinta yang selalu merecoki hidupnya. Begitulah seorang Kafka mempertahankan egonya.


"Tupperware loe!" Kafka menyodorkan barang yang membuatnya harus bergulung dengan sampah itu.


"Makasih!" gadis itu terlihat biasa saja sambil menerima tupperware dari Kafka. Ia memang tidak ingin Kafka beranggapan jika dirinya berlebihan.


"Yas," panggil Kafka setelah beberapa saat.


"Kenapa, Kafka?"


"Seandainya gue mutusin loe, loe juga gak bakal marah?"


"Kenapa Kafka tanya itu?"


"Kafka mau putusin Yas?" tiba-tiba Yashinta merasa emosional.


"Bukan!"


"Terus apa?"


"Jawab aja pertanyaan gue!"

__ADS_1


Yashinta menggigit bibir bawahnya. Ragu-ragu matanya menatap Kafka yang terus saja menatapnya dengan raut tak terbaca.


"Mungkin Yas nggak akan marah, cuma kecewa aja. Tapi Yas nggak mau putus, Kafka."


"Jangan putusin Yas, yah."


"Kafka," ia hendak meraih tangan Kafka. Tapi ia urungkan karena mengingat sang pacar yang bau sampah. Yashinta tidak ingin mandi malam-malam karena Kafka.


"Jangan putusin, Yas. Yas janji, setelah ini nggak bakal ikut campur lagi apapun urusan Kafka."


"Yah, Kafka. Yas mohon,"


Wajah gadis itu terlihat berharap-harap cemas. Sedangkan Kafka masih dengan ekspresi yang sama, namun perlahan dia menganggukan kepala.


"Kafka pulang, yah. Mandi," suruh gadis itu kemudian.


Kafka mengernyit mendapat usiran halus dari gadis itu, ia berdehem karena merasa jika dirinya memang tidak layak bertamu.


"Loe—"


"Bukan gitu, tapi— Yas pengap, Kafka bau!" gadis itu berekspresi tidak enak setelah lama menahannya.


"Yaudah, gue balik!"


"Hati-hati!" Yashinta melambaikan tangan ketika Kafka berjalan meninggalkan teras rumah.


Kafka berlalu. Yashinta hanya menatap kepergiannya dengan tersenyum. Kafkanya yang cuek, berjuang datang ke rumahnya setelah menemukan tupperware miliknya. Bagaimana mungkin Yashinta tidak sayang padanya?


Sepuluh kesalahan yang dilakukan Kafka akan pupus hanya dengan satu kebaikannya. Karena bagi Yashinta, Kafka tidak pernah benar-benar menyakitinya. Pemuda itu hanya khilaf, dan Yashinta memakluminya.


"Yas, Sayang Kafka."


Baru Yas akan mencium tupperwarenya, ia mengernyit saat bau menyerang hidungnya. Buru-buru ia masuk ke dalam untuk segera mencuci tupperware itu dan nanti memeluknya.


**


Tapi karena rasa simpatinya, ia justru nekad karena dirinya pun merasa ada di posisi yang sama dengan Yashinta. Sama-sama kehilangan orang tersayangnya dan sama-sama diberi barang berharga oleh orang tersayangnya.


Ketika Kafka berjalan melewati ruang tamu. Seorang pria dengan piamanya tampak menutup hidung dengan ekpresi heran. Ia yang semula sibuk berkutat dengan laptop kini mulai mengedarkan pandangannya ke sekitar.


Dan ia menemukan muka asem sang adik dengan pakaian sedikit kotor. Gibran bangkit, ia yakin jika sumber bau berasal dari tubuh Kafka.


Kafka yang merasa diperhatikan lantas menghentikan langkahnya. "Kenapa?" sinisnya, tidak terima dengan ekspresi yang diperlihatkan sang kakak.


"Tumben loe ada di rumah."


Gibran tak menggubris sindiran sang adik. Ia berjalan mendekat pada Kafka dengan leher piama yang ia angkat untuk menutupi hidungnya.


"Kamu habis dari mana?"


"Main!"


"Main sampah?"


"Kok bau banget!"


Kafka hanya memutar bola matanya, jengah meladeni sang kakak dan enggan memberi komentar apapun.


"Mas, ini bau apa, sih?" Bunda muncul dari arah dapur, menjepit hidungnya karena bau yang dibawa oleh anak bungsunya. Dahinya mengernyit mendapati pakaian Kafka yang tampak lusuh dan kotor.


"Ka, habis ngapain sih, kamu?"


"Habis berjuang Bun. Kafka mau mandi," ungkapnya yang kemudian berlalu ke arah tangga menuju kamarnya. Bunda menggeleng, sedangkan Gibran menggesek hidungnya dan berdecak mengutuki sang adik.


"Habis berjuang katanya, berjuang apaan?" Bunda menggeleng tidak mengerti pada anak bungsunya itu, duduk di sofa diikuti oleh Gibran yang kembali berkutat dengan pekerjaannya.


"Kerjaan kamu gimana?" Bunda beralih pada anak sulungnya. Gibran menimang sebentar kemudian berkomentar, "sama seperti biasa. Pekerjaan Gibran setiap hari membosankan."

__ADS_1


Bunda tersenyum, menyentuh bahu Gibran dengan kelembutan. "Kamu, 'kan anak sulung. Selain itu, kamu juga dewasa, mmm mungkin sebentar lagi akan berumah tangga." Bunda setengah menggoda, membuat Gibran berdecak tidak terima. Ia sangat tidak suka jika disinggung mengenai perkara rumah tangga.


"Harus kuat, yah!" Bunda tersenyum lebar menyemangati putranya.


"Gibran bahkan belum pernah ngenalin perempuan ke Bunda."


"Iya. Kalah sama Kafka,"


"Kafka, 'kan playboy, Bund. Tiap bulan ganti pacar, Gibran beda."


Sangkalnya. Bunda diam, membiarkan putranya menang. Gibran tersenyum, tiba-tiba saja ia mengingat gadis yang ditemuinya tadi di jalan pulang. Yashinta.


Sedang apa gadis itu sekarang?


**


Kafka berjalan pelan menuju tempat tidur. Ia mengenakan t-shrit hitam dengan celana pendek berbahan katun, duduk di tepi tempat tidur sambil menggosok rambutnya yang basah dengan handuk kecil.


Terdiam membayangkan bagaimana perjuangannya hari ini. Bertempur dengan sampah demi Yashinta. Kafka tak memahami perasaannya, alasannya mau melakukan hal tersebut.


Entah karena ia menghargai barang berharga milik Yashinta dari ibunya. Atau, mungkin ada perasaan lain di hati Kafka untuk gadis yang empat bulan ini di pacarinya?


"Enggak mungkin! Enggak mungkin!" Kafka menggeleng, menepis pikiran itu dari kepalanya. Jelas-jelas ia akan memutuskan gadis itu nanti.


Tak ingin ambil pusing. Kafka memilih membaringkan tubuh. Menutup wajahnya dengan bantal. Guna mengusir bayang-bayang Yashinta di matanya.


***


Hari ini adalah hari libur, Yashinta berencana akan pergi ke toko buku. Membeli beberapa bahan belajar, dan menambah koleksi novelnya.


Raut wajahnya ceria, kejadian kemarin seolah bukan apa-apa baginya. Berlalu begitu saja tanpa merusak suasana hatinya. Terlebih, cuaca juga sangat cerah. Ia mengambil ponsel dari tas selempang yang di kenakannya.


Mengetikan sebuah pesan pada sang pacar.


To : Pacar Yashinta❤


Kafka udah bangun?


Yas mau ke toko buku. Mau nyusulin nggak?


Setelah menekan ikon send, Yashinta mengalihkan perhatiannya dari layar ponsel. Ia melihat keluar jendela, tersenyum menatap orang-orang yang sedang melakukan aktivitas hari liburnya.


Biasanya, Yashinta akan mengajak Ranti ke toko buku, tapi temannya itu bilang ia ada urusan negara yang tidak bisa ditinggalkan. Ada-ada saja.


Yashinta mengambil sebuah buku novel, memilih untuk duduk di kursi yang tersedia di sana, ia akan membaca untuk mengabiskan waktu luangnya.


Kafka juga tak membalas pesan darinya. Membuat Yashinta diam-diam sadar, jika Kafka, adalah Kafka. Dia tetap sama.


Lama Yashinta berada di sana, setengah novel sudah habis ia baca. Sampai seseorang yang ia kenal tengah berjalan masuk ke toko buku mengalihkan perhatiannya. Yashinta bangkit, menatap orang itu sampai ia mendapatkan tempat duduk. Usil, gadis itu mendekat dan duduk di hadapannya. Novel yang tak lepas dari tangannya ia jadikan tameng agar Girban tidak menyadari kehadirannya.


Sampai tiba-tiba saja seorang pria dari arah belakang tak sengaja menyenggol kursi yang di duduki Yashinta, membuat Yashinta terpekik kaget dan menjatuhkan bukunya.


"Maaf Mbak, maaf. Saya nggak sengaja,"


"Enggak papa, Mas."


Dan kejadian itu menarik perhatian beberapa orang. Termasuk Gibran yang menatap Yashinta dengan heran. Gadis itu tidak sadar, sampai setelah ia mengambil bukunya yang terjatuh, mata keduanya bertemu.


Spontan Yashinta tersenyum kikuk.


"Hay, Mas Gibran."


TBC


Note : Cerita ini akan sedikit menjengkelkan karena kebucinan Yashinta yang selalu memaklumi tindakan kasar Kafka. Mohon dimaklum guys, karena Yashinta hanyalah gadis polos yang sedang dimabuk asmara.


Thor, buat Kafka nyesel dong! Sans guys, ini baru permulaan.

__ADS_1


Thankyouu


__ADS_2