Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)

Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)
Insiden Penculikan (1)


__ADS_3

Nuansa ruang kerja Gibran masihlah sama. Terasa sangat membosankan bagi pria itu saat suasana hatinya sedang tidak bisa bekerja sama dengannya. Pria itu membaca sebuah dokumen yang skretarisnya bawakan, sesekali menggaruk pelipisnya yang sejujurnya tidak gatal.


Ketika sebuah niotfikasi pesan masuk membuat ponselnya berdenting, Gibran meraih ponsel dengan mata yang masih memaku pada dokumen di hadapannya. Setelah beberapa saat ia menutup dukomen dan melihat ponsel.


Sebuah pesan dari Leon yang lagi-lagi mengingatkannya untuk datang ke acara pertunangannya nanti malam. Padahal Gibran tidak pikun.


Gibran baru akan meletakan ponsel saat kawannya itu kembali mengirimkannya pesan.


Leon


Jangan sampe nggak dateng, Bran. Di sini banyak cewek cakep. Loe tenang aja, gue bakal kenalin.


Sederet kalimat menggelikan itu membuat Gibran berdecih. Pria itu menyandarkan punggungnya ke belakang. Bukan mereka tidak ingin pada Gibran, tapi Gibran yang tidak ingin pada mereka. Hatinya terjebak pada seorang gadis SMA yang sampai saat ini belum dihubunginya.


Gibran mendesah, sedang apa gadis itu sekarang?


Ranti mengatakan pada Yashinta jika ia harus ke perpustakaan untuk meminjam beberapa buku, membuat Yashinta yang enggan ikut dengannya memutuskan untuk kembali ke kelas.


Di tangga menuju lantai dua, gadis itu berpapasan dengan Kafka yang sedang berjalan bersama beberapa kawan basketnya. Pria itu bahkan membawa bola basket di tangannya, mereka pasti menuju lapangan mengingat Kafka memiliki olahraga untuk mata pelajaran pertama.


"Hay, Yas." mereka menyapa Yashinta, Yashinta hanya tersenyum sampai kemudian Kafka berdiri tepat di hadapannya, kemudian berbalik badan memunggunginya, menghalangi Yashinta dari pandangan kawan-kawannya.


"Kalian duluan aja, nanti gue nyusul." suruhnya, mereka mengangguk dan berlalu setelah Kafka menyerahkan bola basket. Pria itu berbalik, menghadap pada Yashinta dan mundur satu langkah untuk mengambil jarak.


"Kafka udah sarapan?" tanya gadis itu beberapa saat kemudian. Kafka mengangguk, membuat Yashinta terdiam setelahnya karena tak tahu harus berbicara apa. "Loe udah?" Kafka balik bertanya setelah beberapa saat berlalu.


"Iya, udah."


"Yaudah bagus. Gue mau ke lapangan." pamit Kafka, tapi sebelumnya Yashinta sempat menahan pergelangan tangan pria itu.


"Yas mau tanya." ujarnya yang membuat alis Kafka terangkat. Sementara Yashinta mengingat lagi alasan kenapa pria itu pergi ti tiba-tba dan berbohong padanya di restoran kemarin.


"Kafka kemaren beneran latihan basket?" tanyanya tanpa basa-basi. Kafka tak langsung menyahut. Ia menatap sang pacar dan menyipitkan mata.


"Loe nggak percaya sama gue?"


"Kafka bisa nggak, sih, langsung jawab aja. Enggak perlu nanya balik?"


"Enggak." dengan mudahnya Kafka menyahut.


Yashinta mendesah, lantas bicara. "Kemaren Sean ke rumah, Yas tanya kenapa dia nggak latihan dia bilang kemarin emang nggak ada jadwal latihan."


"Ada. Tapi tiba-tiba batal pas gue di perjalanan." dusta Kafka dengan raut wajah tanpa dosa.


"Kenapa nggak ngabarin Yas?"


Kafka berdecak, melepas cekalan tangan Yashinta dengan cara menghentaknya. "Harus banget, gue lapor sama loe?" tanya Kafka, sarkas. Yashinta menundukan pandangan.

__ADS_1


"Seenggaknya Kafka bilang biar Yas nggak salah paham." ujarnya pelan. Kafka tak bicara, hanya menatap gadis itu kemudian berlalu tanpa mengatakan apa-apa.


Yashinta hanya menatap punggung Kafka yang kian menjauh. Hembusan napasnya terdengar berat dengan bahu yang merosot. langkahnya gontai menapakai anak tangga.


Ranti benar, Yashinta memang menderita syndrome stockholm. Tetap mencintai meskipun disakiti.


***


"Yashinta,"


Gadis yang baru saja keluar dari kelasnya itu menoleh. Mendapati Saras yang juga baru keluar dari kelas dan berjalan mendekat padanya. "Ada apa, Saras?"


"Deril ngajakin gue nonton geladi anak teater buat pertunjukan lusa. Kayaknya gue pulang telat," beritahu Saras. Dia memang mantan anggota klub teater saat kelas sebelas dan mengundurkan diri untuk sebuah alasan setelah beberapa bulan.


"Oh, gitu, Saras. Kalo begitu nggak papa, Yas tungguin."


"Lama. Pulangnya pasti sore. Loe nggak papa?"


"Enggak papa, lagian Yas juga nggak ada acara apa apa kok di rumah. Jadi nggak masalah." Yashinta tersenyum setelahnya.


"Oke, deh. Loe mau nunggu di halte atau di ruang teater sekalian nonton?"


"Gimana nanti aja, yah."


"Oh, okay. Gue duluan, yah." Saras berlalu setelah Yashinta menganggukan kepala. Ranti yang sejak tadi hanya berdiri di ambang pintu dan memerhatikan keduanya melangkah mendekat pada Yashinta setelah Saras pergi.


"Harus banget, yah, loe sama dia seakrab itu?" Ranti terlihat kesal. Yashinta hanya tersenyum menanggapinya kemudian menggerayangai tangan Ranti. "Ranti cemburu, yah?"


"Tapi cemburu ngeliat Yas deket sama Saras." godanya. "Gue cuma khawatir, Yashinta. Loe berharga buat gue. Jangan sampe kenapa-napa."


Yashinta tersenyum mendengar hal itu, memeluk Ranti penuh drama. Ranti berusaha menghindar dan Yashinta tetap memaksa, sampai tak sengaja Ranti menarik pergelangan tangan Yashinta dan membuat jam tangan gadis itu jatuh ke lantai dan pecah.


"Yashinta." Ranti tampak terkejut, menutup mulutnya tak percaya.


"Sorry, Yas. nggak sengaja." ucapnya penuh sesal. Yashinta hanya tersenyum, memungut jam tangannya yang pecah dan menggelengkan kepala.


"Enggak papa Ranti. Jam tangan Yas banyak."


"Tapi ini berharga banget, kalo bokap loe marah gimana?" Ranti khawatir. Pasalnya, semua jam tangan Yashinta dipasang GPS oleh Andri untuk berjaga-jaga. Bagaimanapun, Yashinta adalah milik Andri yang paling berharga.


"Udah, nggak apa-apa. Papa juga nggak akan marah. Santai aja." Yashinta tampak tak mempermasalahkannya.


"Tapi alat pelacaknya masih berfungsi, 'kan?"


"Enggak tahu. Yas nggak ngerti." Yashinta meniliknya dan kemudian menggelengkan kepala karena tidak mengerti, lantas memasukannya ke saku almamaternya. Ranti di hadapannya kembali memasang raut wajah bersalah, membuat Yashinta berdecak dan menggandengnya.


"Sorry, Yaa."

__ADS_1


"Udah, nggak papa. Jangan bilang sorry terus."


****


Yashinta memilih untuk menunggu Saras di perpustakaan sembari membaca. Karena jika ia ikut ke panggung teater dan duduk di tribun, ia takut Kafka akan marah padanya karena hal itu berhubungan dengan Deril.


Sehingga perpustakaan menjadi pilihan baginya. Beberapa anak yang juga masih belajar atau menunggu pacar maupun temannya juga masih ada di sana, Yashinta tidak sendirian. Itu sebabnya dia tidak takut.


Waktu menunjukan pukul setengah lima sore ketika Saras muncul dan menyadarkan Yashinta yang masih asik membaca buku.


"Saras, udah?" tanyanya, ia menguap. Dirinya sudah terlalu lama membaca dan matanya sangat mengantuk.


"Udah, sorry yah, lama."


"Oh, nggak papa." Yashinta bangkit dari duduknya dan mengambil tas sementara Saras merapikan buku-buku yang berantakan di hadapan Yashinta.


Saras merasa sedikit bersalah karena membiarkan gadis itu menunggu begitu lama. Bahkan Yashinta sudah membaca begitu banyak buku.


"Mm kita langsung makan apa ya di rumah nanti?" Yashinta berpikir keras ketika keduanya berjalan keluar dari gerbang sekolah, Saras hanya menoleh, mereka memang melewatkan makan siang.


"Udah telpon sopir?" tanya Saras. Yashinta menganggukan kepala. "Kita nunggu di halte aja." sahut Yashinta yang mendapat anggukan dari Saras. Gadis itu berjalan lebih dulu, sementara Yashinta menatap kakinya, ia berjongkok untuk membenarkan tali sepatunya yang terlepas.


Waktu sudah kian sore ketika ia bangkit dari posisinya dan melihat sebuah mobil hitam berhenti di depan gerbang. Dua orang pria dengan pakaian serba hitam turun. Saras yang melihat mereka mendekat membulatkan mata, merasa curiga dan perasaannya mendadak tidak enak.


Ia mengambil langkah mundur ketika mereka kian mendekat, lantas Saras dengan cepat berbalik dan berlari ke arah Yashinta setelah menyadari jika mereka adalah anak buah papanya.


"Yashinta, lari!" intruksinya pada Yashinta. Gadis itu baru saja akan kembali memasuki gerbang saat salah satu di antara mereka berhasil meraih pergelangan tangannya.


"Yashinta lari!"


"Gue nggak mau loe kenapa-napa!" Saras berteriak, sementara Yashinta masih hanya mematung dengan tangan yang perlahan meraih ponsel dari saku seragamnya. Sadar jika sesuatu hal yang buruk tengah terjadi.


Dengan cepat ia dapat menemukan kontak Gibran yang sudah ia save setelah pertimbangan yang cukup matang semalam. Ia segera menekan ikon telepon, matanya fokus pada Saras yang diseret menuju mobil.


"Saras!"


Napas Yashinta memburu, ia tampak bingung antara menolong gadis itu atau membiarkannya. Karena kedua resikonya sangat besar bagi mereka. Jika dibiarkan, maka Saras dalam bahaya, tapi jika ia bertindak maka mereka berdua yang akan berada dalam bahaya.


Tanpa berpikir lagi Yashinta segera berlari ke arah Saras, ia sempat mengambil parfum dari tasnya sebagai senjata. Namun sayang, sepertinya hari itu keberuntungan sedang tidak berpihak pada Yashinta.


Ponsel gadis itu jatuh bersamaan dengan panggilannya dan Gibran yang sudah terhubung.


"Hallo?"


"Yashinta,"


"Hallo."

__ADS_1


Hanya kepulan debu yang terlihat meninggalkan jejak. Yashinta dan Saras berada dalam bahaya.


TBC


__ADS_2