
Sepulang dari perusahaan, Gibran memutuskan untuk pulang ke rumah karena sang bunda menelponnya dan memintanya datang. Menu makanan favoritnya sudah tersedia di atas meja begitu ia tiba.
"Sudah datang, Mas?" Bunda menyambut putra sulungnya. Gibran mengangguk dengan senyuman, menyalami sang Bunda juga mendaratkan kecupan di pipi Bundanya itu.
"Langsung makan aja, ya." ajak Bunda, Gibran kembali mengangguk dan segera duduk.
"Pasti kamu kangen masakan rumah, yah?" Bunda menyendokan nasi ke piring pria itu. Gibran bangkit sebentar, menggulung lengan kemeja biru muda yang dikenakannya kemuduan mencuci tangannya di wastafel.
"Kangen banget Bun." ia menjawab pertanyaan Bunda sebelumnya.
"Kamu masih mau tinggal di apartement?"
Gibran duduk kembali di tempatnya, Bunda juga sjdah duduk. Sejujurnya, Gibran mengerti alasan sang Bunda yang tiba-tiba saja menyuruhnya pulang bukan hanya sekedar untuk makan malam. Pasti ada sesuatu yang harus dibicarakan. Entah mengenai hal yang berhubungan dengan Kafka, atau bahkan mungkin dirinya sendiri.
"Hmm?" Bunda meminta jawaban karena Gibran yang hanya diam.
"Untuk beberapa waktu Bun." pria itu menyahut singkat dan melahap makanannya. Bunda hanya memerhatikan. "Makan yang banyak." suruhnya kemudian, tidak ingin banyak bertanya. Gibran menurut dan makan, tidak banyak bicara begitu juga dengan Bunda.
"Bunda nggak ke butik hari ini?" tanya Gibran disela-sela.
"Ke butik, tapi cuma sebentar." Bunda menyahut singkat dan membuat Gibran hanya mengangguk-anggukan kepala. Ia mengingat lagi dress yang Yashinta pakai diacara ulang tahun perusahaan papanya. Dress hasil desain sang Bunda–atau mungkin hanya mirip, Gibran belum tahu pasti. Tapi ia yakin jika dress itu milik sang Bunda.
"Kafka belum pulang?" tanya Gibran lagi mengingat jika sang adik tidak ada di sana. Tidak ada tanda-tanda kehadiran pria itu.
"Katanya pulang terlambat, habis kumpulan."
"Habis kumpulan terus pacaran." selorohnya yang membuat Bunda tersenyum. Ketika Gibran sudah menyelesaikan makannya, Bunda menyodorkan segelas air putih. Ia menunggu sang putra menandaskan minumnya.
"Bunda ada yang mau diomongin sama Gibran?" tanyanya yang sedari awal sudah peka atas undangan Bundanya.
Bunda tersenyum, kemudian menganggukan kepala. "Mas sudah ada pacar?" tanyanya yang membuat Gibran sesaat terdiam. Pertanyaan Bundanya terlalu tiba-tiba dan tidak ia sangka.
"Kafka kemarin bilang Mas bawa perempuan ke apartement Mas. Bener begitu?" tanya Bunda lagi, raut wajahnya tampak khawatir.
"Kafka bilang begitu?" Gibran justru bertanya balik.
Bunda mengangguk. "Kalau memang kamu sudah ada pacar, ada calon, kenalin ke Bunda. Bawa ke rumah Bunda. Jangan maen dibawa ke apartement aja, yah."
"Bunda pengen liat calon mantu Bunda." sambung Bunda penuh harap. Sementara Gibran tampak tidak tahu harus bereaksi seperti apa sedangkan gadis yang datang ke apartementnya hanyalah anak SMA, lebih lagi gadis itu bahkan menyuruhnya untuk melupakan apa yang terjadi di antara mereka di apartement.
"Jadi bener apa yang Kafka bilang waktu Mas mau pindah lagi ke apartement, kalau Mas sudah punya pacar."
"Bukan pacar Bunda."
"Hmm. Lalu?"
"Nanti kapan-kapan Gibran kenalin ke Bunda sama Kafka." Gibran menyahut pasrah pada akhirnya. Bunda mengangguk setuju dan tersenyum.
"Mas nginep di sini apa pulang ke apartement?" tanya Bunda kemudian.
"Pulang aja, Bun." Gibran segera menyahut.
"Enggak nginep aja?" Bunda menyayangkan, padahal waktu sudah malam.
"Meja kerja Gibran di apartement berantakan, Bun. Tadi pagi belum sempet Gibran beresin." ia mencari alasan.
Tapi Gibran tidak berbohong, meja kerjanya bebar-benar berantakan dan ia perlu merapikannya dengan segera sehingga ia tidak bisa menginap di rumah sang bunda.
Bunda hanya terdiam pasrah. Sementara Gibran mengukir senyum terbaiknya. Tak lama setelahnya, ia pamit untuk segera kembali ke apartement.
Gibran keluar dari rumah bersamaan dengan mobil Kafka yang baru saja tiba di pekarangan, Gibran memilih berdiri di teras menunggu sang adik keluar dari mobilnya.
"Nginep?" tanya pria itu segera setelah turun. Gibran hanya menggelengkan kepala. Kafka berjalan ke teras dan duduk pada kursi di sana, meletakan ponselnya di atas meja kaca.
Gibran hanya menatapnya kemudian ikut duduk. Ia memerhatikan tangan kanan Kafka yang tampak berbeda, tampak merah. "Kenapa tangan kamu?" tanyanya.
Kafka mengangkat tangan kanannya. "Oh, ini. Biasalah, anak muda."
"Kena air panas?"
"Praktek apa di sekolah?"
"Dibilangin biasa, anak muda."
Gibran memutar bola matanya kesal. "Anak jaman sekarang kalau main siram-siraman air panas?" decaknya dongkol. Kafka tertawa, "enggak. Ini kecelakaan kecil aja tadi pas di restoran deket perusahaan loe."
__ADS_1
"Restoran Pak Andri?"
Kafka mengangguk, tak lama setelahnya suasana menjadi hening. Kakak beradik itu sama-sama menatap ke depan dengan isi kepala yang berbeda, namun tertuju pada orang yang sama.
Kafka yang terus membayangkan apa yang terjadi antara ia dengan sang pacar di dalam mobilnya siang tadi, juga hubungan Sean dan Yashinta yang tampak dekat.
Saat ia ke rumah gadis itu untuk mengambil credit card miliknya, ia melihat mobil Sean yang baru saja meninggalkan jalanan di depan gerbang rumah Yashinta.
Sementara Gibran merasa terbebani karena Bunda yang ingin dikenalkan dengan wanita yang dibawanya ke apartement. Bunda meminta hal yang sedikit mustahil untuk dapat Gibran wujudkan.
"Kamu bilang apa ke Bunda?" tanya Gibran pada sang adik.
Kafka menoleh panik, "nggak bilang apa-apa." dustanya, menghindar. Gibran menoleh dan melayangkan tatapan tajam. Kafka tersenyum. Menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Gue bilang apa adanya aja." Gibran mengerutkan kening menuntut kejelasan.
" Habisnya Bunda nanyain keadaan loe. Ya gue jawab loe aman di apartement sama calon istri loe."
Gibran berdecak, tidak mengerti dengan pola pikir sang adik sementara Kafka hanya menatapnya dengan wajah tanpa dosa. Sampai tak lama, ponsel pria itu berdering, namun Kafka tampak mengabaikannya karena itu adalah telpon dari salah satu anak Alley Youth yang mengajaknya keluar dan Kafka sudah menolak sehingga ia tidak ingin berbicara lagi–meski hanya melalui sambungan telepon.
Gibran hanya menoleh, sampai ponsel berhenti berdering dan ia melihat wallpaper ponsel Kafka. Gibran mengerutkan kening, tampak merasa familiar dengan foto seorang pria yang memunggungi matahari terbit di sebuah bukit.
***
Sementara itu, di rumah Yashinta. Andri yang sudah mendapat kabar dari calon istrinya jika putrinya datang menjenguk Arumi bahkan ikut mengantarkan Arumi pulang dan menghabiskan waktu beberapa jam di rumahnya sangat berterimakasih pada putri kesayangannya itu.
Setelah mengenalkan Yashinta pada Arumi di acara ulang tahun perusahaan dan melihat bagaimana reaksi putrinya. Sekalipun Andri tidak permah membahas hal itu di rumah. ia dengan sabar menunggu putrinya menentukan keputusan. Karena bahagianya ada pada Yashinta.
Sekalipum ia bahagia bersama dengan wanita yang dicintainya, jika Yahsinta tidak bahagia maka lebih baik tidak menikah sama sekali. Ia tidak ingin senyuman di wajah putrinya hilang mesku hanya sesaat waktu.
"Yas juga pengen Papa bahagia. Yas akan bahagia kalau liat Papa bahagia." ucap gadis itu saat Andri mendekapnya dalam pelukan.
Setelah drama tersebut, Yashinta yang tengah menunggu Ranti berseru senang saat gadis itu datang setelah Yashinta menyuruh sopir pribadinya untuk menjempit Ranti.
"Taraaa." Ranti tampak sumringah, menunjukan boks martabak keju kesukaan Yashinta.
"Ranti, kenapa harus repot-repot, sih." ia berdecak meski dalam hati sangat senang. Segera meraih boks martabak dari tangan Ranti.
"Ini buat Om Andri." Ranti mengabaikan gadis itu dan menyerahkan satu boks lagi pada Andri, Andri tersenyum menerimanya. "Teriamaksih Ranti."
"Yaudah, kita ke kamar Yas yu. Di sana aja makan martabaknya." ajak Yashinta tampak tidak sabaran, ia segera menarik Ranti menapaki satu-persatu anak tangga.
"Sayang, jangan lari saat naik tangga." Andri berteriak, Yashinta tidak menyahut. Ia terlalu antusias untuk segera melahap martabaknya dan bercerita ngalor-ngidul dengan Ranti.
Andri hanya menggeleng melihat kelakuan putri kesayangannya itu.
***
Yashinta menyeret Ranti ke kamarnya. Ia dan gadis itu segera duduk di atas tempat tidur dan menikmati martabak keju yang Ranti bawa sebagai buah tangan.
"Gimana kerjaan Ranti?" Yashinta mengawali pembicaraan.
"Hmm, lancar." Ranti menyahut dengan senyum mengembang, mengingat bagaimana ia berbasa-basi singkat dengan Gibran siang tadi, tak Ranti sangka jika pria itu ternyata mengingatnya.
Yashinta memerhatikan raut wajah gadis itu, ia menyipitkan mata. "Seneng banget Ranti mukanya. Ada apa?" ia bertanya antusias ketika Ranti menahan senyum tampak menggodanya agar lebih penasaran.
"Yashinta."
"Hmm?"Yashinta kian berbinar, ia menyuapkan sepotong martabak keju ke mulutnya.
"Tadi siang gue ketemu lagi sama malaikatnya gue, Yashinta." Ranti tampak girang, membuat Yashinta juga ikut senang.
"Terus-terus?"
"Hmm, ya nggak terus-terus. Kita cuma basa-basi aja pas gue nganterin makanan ke mejanya." Ranti sedikit menyayangkan.hal itu. Ia tidak bisa berbasa-basi dan lawan bicaranya juga. Pada dasarnya mereka memang hanyalah orang asing, sangat wajar jika kaku dan canggung ketika harus berbicara.
"Ranti hoki bangert. Jangan-jangan kalian jodoh, lagi. Iih, harusnya Ranti minta nomor teleponnya" ujar Yashinta yang membuat Ranti salah tingkah tiba-tiba, gadis itu tertawa-tawa tanpa ada sesuatu hal yang lucu. Persis, orang kasmaran memang seperti itu.
"Aaa Ranti-nya Yas jatuh cinta." Yashinta memeluk tubuh Ranti, Ranti memeluk balik. Moment seperti itu sudah lama tidak terjadi di antara mereka sejak Ranti harus bekerja paruh waktu di malam hari. Sehingga Ranti jarang ke rumahnya untuk menginap.
"Gimana pertemuan loe sama nyokapnya Sean?" tanya Ranti kemudian mengingat jika sebelum Aris datang dan memberitahukan undangan Kafka, Yashinta sempat bercerita jika ia akan ke Rumah Sakit untuk menjenguk Mama Sean.
"Hmm," Yashinta mengangguk-anggukan kepala dengan senyum yang membuat Ranti sudah dapat menyimpulkan jika itu sebuah kabar baik.
"Nanti rumah loe jadi rame dong." decaknya, Yashinta hanya tersenyum menanggapinya.
__ADS_1
Yashinta menatap Ranti, ia mengigit bibir bawahnya. Sejujurnya ada hal penting yang perlu ia bagi dengan Ranti. Mengenai ciumannya dengan Gibran tempo hari di apartement pria itu, tapi ..., Yashinta merasa ragu.
Ia hanya kembali melahap martabak kejunya tanpa minat, sementara Ranti tampak tersenyum-senyum sendiri. Sampai suara ponsel yang berdering membuat Yashinta menoleh pada ponselnya yang ia simpan di meja samping tempat tidur, sementara Ranti asik sendiri berimajinasi.
Yashinta meraih ponsel, Id malaikat menghiasi layar ponselnya. Mata gadis itu membulat, hal itu tertangkap perhatian Ranti dan membuat gadis itu mengernyit. "Ada apa?" tanya Ranti, penasaran.
Yashinta menaruh telunjuknya di bibir. Kemudian menggeser ikon hijau dan menempelkan benda pipih itu di telinganya. Ranti ikut menempel guna mendengar suara sang penelpon.
"Hallo." Yashinta menyapa setengah ragu.
"Saya ada di bawah."
Yashinta membulatkan mata, ia bahkan tampak terkejut dan menutup mulutnya. Segera turun dari tempat tidur dan berjalan menuju balkon. Gadis itu menggeleng tidak percaya saat mendapati jika Gibran benar-benar ada di sana. Ranti yang ditinggalkan hanya memerhatikan tanpa beranjak dari posisinya.
"Ngapain Mas?" tanya Yashinta, heran.
Di bawah sana, Gibran tampak menggaruk belakang kepalanya. Ia nekad datang ke rumah Yashinta hanya karena putus komunikasi dengan gadis itu selama beberapa hari tanpa memikirkan alasan apapun untuk pertanyaan dari Yashinta yang sudah ia prediksikan.
"Euu, saya."
"Saya cuma lewat dan kebetulan inget kamu." pria itu menyahut ambigu, setelahnya ia mengutuki dirinya sendiri. Mungkin seharusnya ia membawa nasi goreng spesial dari warung tenda biru untuk berbasa-basi.
Tak lama setelahnya, Gibran mendehem guna meredakan rasa canggung.
"Mas Gibran mau ngambil baju yang Yas, pinjem?" tanya Yashinta pada akhirmya.
"Nah, iya, itu. Saya ke sini buat ngambil pakaian saya." ujarnya dengan wajah meringis. Pada akhirnya Gibran harus memakai alasan memalukan itu untuk dapat bertemu dengan Yashinta.
Yashinta yang mendengar jawaban Gibran tampak melipat bibirnya, ia berbalik dan melihat sebuah paper bag berisi pakaian Gibran yang kemarin ia pinjam. Sejujurnya ia sudah ingin mengembalikan, tapi masih merasa ragu untuk menemui pria itu. Terlebih Gibran tidak pernah menghubunginya sama sekali setelah insiden yang terjadi di antara mereka.
Ranti hanya menyangga dagu pada pembatas balkon di kamar Yashinta. Menatap gadis itu yang tengah menemui malaikatnya setelah tadi berpamitan akan turun ke bawah.
"Loe harus jasin ke gue!" ujar Ranti dengan mata penuh ancaman ketika melihat barang yang akan Yashinta kembalikan pada malaikatnya.
"Okay, Ranti. Nanti Yas cerita. Biar sekarang Yas turun ke bawah dulu."
Yashinta sempat menghela napas sebelum kemudian memantapkan diri dan melangkahkan kakinya keluar dari gerbang.
Di samping mobilnya, Gibran tampak menatap gadis itu yang baru saja tiba dengan paper bag di tangannya.
"Mas Gibran sengaja datang ke sini?" tanyanya guna mengusir rasa canggung.
"Kebetulan saya dari rumah orang tua saya. Terus inget kalau pakaian saya ada di kamu. Saya sengaja datang marena saya pikir kamu nggak akan ngembaliin." panjang lebar pria itu.
"Kata siapa?" gadis itu tidak terima.
"Buktinya kamu enggak pernah lagi ngehubungin saya setelah pinjem baju saya." Gibran menjawab telak dan membuat Yashinta berdecih.
Tapi beberapa deti kemudian, gadis itu hanya menatap ke bawah dengan kaki yang membentuk pola abstrak di bawah sana. Gibran hanya menatapnya dan tersenyum.
Mendadak, perasaannya jauh lebih baik setelah bertemu dengan gadis itu. "Ini–" Yashinta menyodorkan paper bag berisi pakaian Gibran pada sang pemilik. "Makasih, yah, Mas Gibran." sahutnya dengan senyum manis.
Gibran mengangguk dengan senyum tak kalah manis dan menerima paper bag yang gadis itu sodorkan.
Setelahnya, dua orang itu hanya saling terdiam sementara mata keduanya saling bertatapan. Di balkon kamar Yashinta, Ranti berusaha melihat kenalan Yashinta. Tidak dapat ia lihat dengan jelas wajahnya karena jarak yang lumayan jauh. Belum lagi, pohon cemara yang tumbuh di kebun papa Yashinta menghalangi penglihatannya.
"Apa?" tanya Yashinta saat pria itu hanya menatapnya tanpa mengatakan sepatah katapun. Gibran menggeleng dengan senyuman.
"Enggak, apa menurut kamu alasan saya terlalu malu-maluin?" tanyanya. Yashinta hanya mengerutkan kening.
"Hmm, ini cuma alasan." sambungnya sambil mengangat paper bag di tangannya.
"Harusnya saya terus terang aja kalau sebenernya saya pengen ketemu sama kamu." jujurnya tanpa ragu.
"Kenapa pengen ketemu Yas?"
"Kamu bilang kita harus anggap insiden itu enggak terjadi, tapi kamu justru keliatan malah ngehindarin saya. Itu kenapa saya datang, saya ingin liat kamu langsung." panjang lebarnya yang membuat Yashinta diam dan hanya menatapnya tanpa berkata apa-apa.
"Yas nggak ngehindarin Mas Gibran."
Gibran tersenyum mengerti. "Kalau begitu, mulai nanti malam, kita bisa chatan lagi?" tanya Gibran, tangannya terulur mengusap puncak kepala Yashinta. Membuat gadis itu sesaat mematung di tempatnya.
Bagai terkena hipnotis. Yashinta menganggukan kepala. "Iya, boleh." sementara perutnya bagai dipenuhi kupu-kupu. Ada perasaan yang tidak bisa gadis itu jelaskan ketika Gibran tersenyum tepat di hadapannya.
TBC
__ADS_1