
Holla, mohon maaf baru up lagi😭
Banyak gangguan buat ngetik cerita ditambah serangan rasa malas yang membabi buta😭
Semoga setelah hari ini bisa up tiap hari🤗🤗❤❤ Mohon dukungannya❤
****
Yashinta masuk ke kamarnya dengan isakan pilu yang tidak bisa ia tahan. Hati gadis itu rapuh, bahkan saat dirinya berusaha menguatkan diri sendiri, ia tak mampu.
Setelah berusaha menganggap jika Saras adalah teman yang layak dan mengasihani nasib gadis itu yang memprihatinkan, justru Yashinta dikhianati, ditusuk dari belakang dengan belati.
Yashinta merasa sakit hati, sakit itu menjalar ke seluruh tubuhnya tatkala mengingat bagaimana kedekatan Saras dengan Kafka dan bagaimana mereka bermain gila di belakangnya. Sesak itu kian menjadi saat Yashinta mengingat bagaimana Kafka sangat memprioritaskan Saras daripada dirinya dalam berbagai hal.
Yashinta selalu menjadi nomor sekian setelah Saras.
"Kenapa Kafka sama Saras jahat?"
"Kenapa kalian jahat sama, Yas?"
Gadis itu berucap lirih sembari meremas dadanya. Setidaknya untuk hari ini saja ia harus meluapkan amarahnya.
Sementara itu, Saras yang pulang dengan tangan kosong, tanpa maaf dari Yashinta melangkah gontai memasuki rumah sang mama yang tampak begitu sepi. Seolah tidak ada kehidupan di dalamnya.
Gadis itu melangkah malas menapaki anak tangga, memasuki kamarnya dan menghela napas sebelum kemudian menelungkupkan diri di tempat tidur. Ia hanya memejamkan mata dan menyembunyikan isakannya. Memukuli bantal dan pada akhirnya menangis dengan begitu keras.
Saras sama sekali tidak tahu dosa apa yang sudah diperbuatnya atau kutukan jenis apa yang Tuhan berikan padanya sehingga hidupnya begitu pedih dan perih.
Saras banyak melihat orang-orang di luar sana hidup bahagia tanpa sedikitpun beban, sangat jauh berbeda dengan dirinya yang memikul beban berat. Seorang broken home dan memiliki ayah tempramen yang suka main kekerasan, main judi dan main wanita hingga dijebloskan ke penjara dan membuatnya dicap sebagai anak narapidana.
Sekarang, ia harus memulai hidup dengan sang mama dan menyembuhkan luka mental yang diderita mamanya. Saras bahkan harus terlibat urusan asmara yang memecahkan kepala. Ia mengkhianati Yashinta, orang yang jelas-jelas sudah menolongnya.
Ia membuat Kafka terluka setelah sekian lama berjuang untuk mendapatkan cintanya. Bukan Saras tidak ikut terluka dengan hal itu, namun dilihat dari segimanapun, dia adalah yang paling disalahkan atas kejadian tersebut.
"Saras,"
Saras memaku sesaat ketika mendengar suara sang mama. Ia lantas bangkit dan menyeka air mata di wajahnya. Merapikan rambut dan pakian yang berantakan. Kemudian mencoba mengukir senyum.
"Mama buka pintunya, yah." suara sang mama kembali terdengar dikuti pintu kamar Saras yang terbuka karena memang tidak dikunci. Sang mama dengan senyumnya berjalan perlahan menghampiri Saras yang duduk di atas tempat tidurnya.
Mama Saras duduk, meraih kepala Saras dan mengusap belakangnya, menatap putri semata wayangnya dengan tatapan penuh cinta.
"Kamu kenapa Sayang?" tanyanya setelah Saras menepis tatapan mereka dan menjatuhkan kepalanya di paha sang mama. Hening terjadi di sana saat Mama Saras memilih diam dan Saras tak memberikan jawaban.
__ADS_1
"Mah, kenapa hidup ini nggak adil sama Saras?" gadis itu bertanya dengan berusaha menahan isakannya. Sang mama tak langsung bersuara, tapi lebih dulu mengusapi rambut putrinya dan juga lengan gadis itu.
"Hidup nggak selalu adil buat semua orang, Sayang."
"Kenapa Saras ngerasa kalau cuma hidup Saras yang kacau, keluarga Saras kacau, Papa Saras kacau. Cuma Saras yang ngalamin ini, Ma." gadis itu protes entah pada siapa seolah tidak teeima dengan hidupnya.
"Itu karena kamu tidak melihat dunia ini dengan luas." hibur sang mama dengan tangan yang terus menerus mengusap rambut putrinya.
Pada dasaranya, andai kita melihat dunia ini lebih luas lagi, maka kita akan banyak menemukan kehidupan dengan berbagai masalah yang beragam.
Beberapa di antaranya mampu melaluinya dan tersenyum, sedangkan beberapa lagi berusaha tersenyum untuk melaluinya.
Setiap orang memiliki masalah, setiap manusia punya beban hidup.
"Maaf karena Mama sudah melahirkan kamu." ucap Mama Saras dengan isakan tertahan namun air mata berhasil lolos membasahi pipinya.
"Maaf karena Mama ngasih kehidupan yang seperti ini kepada kamu. Maaf karena Mama nggak bisa bahagiain kamu." sambungnya yang membuat air mata Saras jatuh deras, gadis itu berusaha meraih tangan sang mama dan menggenggamnya dengan kepala yang menggeleng kuat, tidak ingin mamanya merasa bersalah atas apa yang baru ia sampaikan atas perasaannya.
"Ma, sekalipun Saras nggak pernah nyesel lahir dari rahim Mama." ungkapnya yang kemudian bangkit dari posisi berbaringnya lantas memeluk sang mama dengan erat.
Saras mengingat lagi bagaimana ia hidup dan kehidupan seperti apa yang ia jalani. Pada akhirnya, ia tidak bisa menyalahkan siapapun, sang papa atau bahkan dirinya sendiri.
***
Saras lupa apa yang membawanya datang mengunjungi sang papa, kemudian ia ingat jika ia akan mengucapkan selamat tinggal.
Sementara itu, Johan sendiri hanya diam. Banyak yang ingin ia sampaikan pada putri tunggalnya itu namun semua kalimat yang dimilikinya tertahan dikerongkongan.
Ia merasa malu bahkan untuk bertemu dengan Saras, ia merasa tidak pantas untuk dijenguk oleh putrinya tersebut.
"Enggak ada yang mau kamu bilang ke Papa?" pada akhirnya Johan merasa sayang untuk membuang buang waktu singkat mereka dengan hanya saling terdiam. Saras yang semula tertunduk mengangkat pandangannya, sebelum bicara ia menatap sang papa lekat-lekat dengan mata berkaca-kaca.
"Kalau nggak ada, biar Papa kembali." Johan bangkit dari duduknya, spontan membuat Saras juga bangkit.
"Pah." panggilan itu menghentikan pergerakan Johan. Membuat pria dengan kaos tahanan itu terdiam menatap putrinya. Rasanya, panggilan itu mendebarkan hatinya. Sekejap membuat perasaannya menghangat, dan matanya memanas.
Terutama saat melihat sorot mata putrinya. Rasanya perasaan Johan hancur berantakan. Tak beraturan dan membuatnya merasa tidak berdaya di hadapan Saras.
"Maafin Saras, Pah." ungkap Saras yang berhasil membuat air mata Johan lolos setelah berusaha keras ia tahan.
"Maaf karena Saras udah nyakitin perasaan Papa saat terakhir kali kita ketemu." sambungnya dengan isakan yang kian menjadi.
"Saras nggak mau ketemu lagi sama Papa."
__ADS_1
"Saras nggak mau ngeliat Papa lagi."
"Kenapa Saras barus punya Papa yang seperti ini?"
"Kenapa Saras harus jadi anak Papa?"
Kalimat-kalimat menyakitkan yang ia katakan pada Johan beberapa hari yang lalu pasti sangat melukai perasaan pria itu. Saras merasa bersalah sudah menyakiti hati papanya.
Bagaimanapun ia tidak bisa memungkiri fakta jika Johan tetaplah ayahnya dan takdir seperti ini sudah jadi kehendak Tuhan untuk kehidupannya. Bukan semata-mata hanya karena kesalahan yang dibuat papanya.
"Saras sama Mama bakal pindah ke luar negri."
Enggak akan ada lagi yang jengukin Papa setelah kami pergi. Setidaknya hal itulah maksud dari kalimat Saras.
Johan tak bereaksi, tapi setelah beberapa saat, pria itu mengukir senyum samar dengan mata berkaca-kaca kemudian menganggukan kepala dengan sorot mata yang berkata seolah menyuruh Saras dan mamanya bahagia.
"Saras sama Mama kemungkinan nggak akan kembali." sambungnya, Johan kembali menganggukan kepala. Karena hanya itu yang dapat dilakukannya.
Saras tampak berusaha keras menahan isakannya agar tak menghambat kalimat yang akan ia katakan selanjutnya. "Papa jaga diri baik-baik." ucapnya lagi. Johan mengangguk.
Setelahnya, hanyalah hening, hingga satu kata yang selama ini mengendap di dasar hati gadis itu mampu lolos melalui bibirnya. "Saras sayang Papa. Saras sayang sama Papa." ujarnya yang kemudian membawa langkah kakinya menghampiri sang papa, buru-buru mendekap tubuh tegap cinta pertamanya itu sebelum jam besuk yang dimilikinya habis.
Pada akhirnya, Johan tak dapat lagi membendung air matanya. Ia menangis tersedu sedangkan dirinya tak dapat membalas pelukan putri tersayangnya itu.
Saras mendekap tubuh sang papa, kesedihannya kian menjadi melihat borgol yang membuat Johan tak dapat memeluknya, membuatnya tak dapat merasakan pelukan sang papa.
"Maafin Papa Saras, maafin Papa."
"Papa sangat menyayangi kamu." adalah kalimat terakhir yang mampu Johan katakan pada Saras begitu jam besuk habis dan petugas membawanya kembali. Membuat pelukannya dan sang putri terlepas sedikit penuh paksaan, menciptakan adegan pilu yang menyedihkan.
Saras hanya mampu melihat kepergian sang papa dengan raut sendu. Setelahnya, ia pun perlahan berlalu.
****
Saras berjalan tak tentu arah, wajahnya terlihat pucat dan langkahnya tampak gontai, hingga ia nyaris terjatuh andai tidak ada yang menyangga tubuhnya.
Dalam ketidakberdayaannya, Saras susah payah membuka mata ketika orang yang menyangga tubuhnya itu kemudian mengangkat tubuhnya dan membawanya pergi.
Sekilas, Saras melihat wajah orang yang menolongnya, Gibran. Dia adalah Gibran.
"Mas Gibran?"
TBC
__ADS_1