
"Apapun yang akan terjadi kedepannya, gue cuma bisa berharap yang terbaik buat loe. Semoga loe selalu bahagia." ucap Saras sebelum ia memasuki boarding lounge.
Kafka tak mengatakan apapun, ia hanya mengangguk dan tersenyum, melambaikan tangannya pada Saras dan juga mendoakan yang terbaik untuk kebahagiaan gadis itu.
Bagaimanapun, Saras pernah menjadi orang yang mengisi hatinya, bagaimanapun gadis itu pernah menjadi pujaan hatinya.
"Hati-hati." hanya itu bisa Kafka katakan. Saras mengangguk. Berjalan bersama sang Mama memasuki boarding lounge tapi sebuah panggilan menghentikan langkahnya.
"Saras, tunggu."
Ia berbalik ke arah suara begitu juga dengan Kafka, mereka mendapati Yasinta yang setengah berlari ke arahnya diikuti oleh Gibran di belakangnya. Tentu saja hal itu membuat Saras terkejut. Ia bertanya-tanya, ada apa gerangan gadis itu ada di Bandara dan menghampirinya?
Napas Yashinta tampak berantakan saat gadis itu sudah berdiri di hadapan Saras, ia merasa senang karena Saras belum menaiki pesawat dan meninggalkan Indonesia. Ia merasa senang karena gadis itu masih ada di sana dan ia dapat menemuinya.
Yashinta turut merasa lega karena kemungkinan ia tidak akan menyesal dalam hidupnya karena belum memaafkan gadis itu.
"Yasinta, loe ngapain ada di sini?" tanya Saras yang masih terkejut dengan kehadiran gadis itu.
"Kenapa Saras tanya kayak gitu?"
"Yas di sini mau ngucapin selamat tinggal sama Saras, Yas di sini buat nganterin Saras." sahut gadis itu yang berhasil membuat senyum di bibir Saras merekah.
Bahkan mata gadis itu tampak berkaca-kaca, terlebih ketika Yasinta menyentuh lengannya. "Loe udah maafin gue Yashinta?" Saras berusaha memberanikan diri untuk bertanya. Yashinta mengganggukan kepalanya, membuat senyum di bibir Saras kian lebar meski air mata jatuh membasahi pipinya.
"Yas sudah maafin Saras, Yas mau berdamai sama semuanya. Yas pengen bahagia, Yas juga pengen Saras bahagia."
"Yas juga minta maaf sama Saras." panjang lebar Yashinta dengan air mata yang turut mengalir.
Bagaimanapun ia tak dapat mengelak, ia pernah berteman dengan Saras dan bersikap baik pada gadis itu tidak akan menjadi penyesalan dalam hidupnya terlepas dari apa yang sudah pernah Saras lakukan padanya.
Pada dasarnya setiap manusia memang tidak sempurna, berbuat salah dan dosa menjadi hal yang manusiawi, Yasinta tentu harus memakluminya.
"Yas udah maafin Saras." ucap Yashinta lagi, membuat Saras berhambur memeluk gadis itu, memeluk Yashinta dengan seerat-eratnya. Tak ia sangka jika hari ini datang pada hidupnya, langkah Saras selanjutnya mungkin akan berjalan tanpa penyesalan.
Saras benar-benar akan memulai kehidupan baru setelah ia mendapat maaf dari Yashinta, ia merasa hidupnya akan berjalan jauh lebih baik.
"Thanks Yasinta." hanya itu yang dapat Saras katakan, selanjutnya Yasinta menghapus jejak air ata di pipi Saras. Sementara Gibran menatap keduanya dengan sudut bibir yang terangkat, sama halnya dengan Kafka meskipun pria itu menyembunyikan senyumnya.
__ADS_1
Setelahnya, Yashinta beralih pada Mama Saras yang memerhatikan mereka, Saras yang menyadari hal itu lantas memperkenalkan Yashinta kepada sang mama.
"Mah, ini Yashinta, yang sering Saras ceritain ke Mama."
Kehidupan barunya yang berhasil keluar dari kekangan sang papa tak lepas dari campur tangan Yashinta, sehingga nama gadis itu sering kali ia sebut-sebut di hadapan sama mama.
"Hai Tante, apa kabar?" Yashinta menyapa dengan sopan. Mama Saras mengangguk, ia tampak terharu melihat Yashinta mengingat bagaimana kebaikan yang gadis itu lakukan kepada putrinya.
"Jadi ternyata kamu yang namanya Yasinta, cantik." Mama Saras menyantuh dagu gadis itu sekilas.
"Terima kasih ya, Sayang." kali ini bahkan Mama Saras meraih tangan Yashinta dan menggenggamnya. "Terima kasih karena kamu sudah banyak menolong Saras."
Yashinta mengangguk, menatap Mama Saras dengan penuh ketulusan. Yasinta berharap yang terbaik untuk apa yang akan Saras mulai di luar sana.
Setelah masalah ini selesai, Yashinta berharap semuanya kembali normal, ia mengungkapkan doa dan harapan terbaiknya untuk Saras yang akan pergi, kemudian hanya melambaikan tangan saat gadis itu benar-benar berlalu dari hadapannya untuk menyambut hidup baru dengan lingkungan baru, tempat baru dan tentunya cerita yang baru dengan orang-orang baru.
Dari sekian banyak orang yang berada di bandara siang itu, tiga orang di sana tampak hanya mematung begitu Saras pergi. Mendadak suasana menjadi canggung, terlebih Yashinta yang tidak tahu harus bersikap seperti apa saat ada Kafka di antara ia dan Gibran.
"Mau makan siang dulu?" Gibran yang lebih santai berusaha mencairkan suasana, sepertinya menawarkan makan siang bukanlah hal yang buruk mengingat ia belum makan siang dan saat ini adalah waktu yang tepat untuk hal tersebut.
"Ayo, Mas tau restoran yang enak di sini." Gibran melangkah lebih dulu, Yashinta dan Kafka mengekor di belakangnya.
Mereka keluar dari bandara dan masuk mobil masing-masing, sekitar 15 menit setelahnya, mobil Kafka yang mengikuti Gibran berhenti ketika mereka tiba di sebuah restoran.
Keadaan cukup canggung saat tiga orang itu duduk di meja uang sama. Yashinta yang semula adalah yang paling cerewet dan mudah mencairkan suasana tampak hanya membeku di tempatnya.
Sementara Gibran tampak memainkan ponselnya, ia mendapat pesan dari Intan yang memberitahunya jika klien mereka menunda untuk menandatangani perpanjangan kontrak kerja sama karena Gibran tidak turut hadir di sana.
Setelahnya, Gibran menaruh ponsel dan memerhatikan dua orang yang duduk dengannya. Gibran mengerti, suasana memang tidak memungkinkan untuk larut dalam pembicaraan.
"Yashinta, setelah ini mau saya antar pulang atau kembali lagi ke sekolah?" tanya Gibran, membuat gadis itu mengarahkan pandangan padanya.
Yashinta sempat melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Rasanya tidak mungkin untuk kembali lagi ke sekolah karena sebentar lagi sekolah juga akan bubar.
"Eu, pulang aja, Mas."
Gibran mengangguk, tak lama setelahnya makanan pesanan mereka muncul bersama beberapa para waitress.
__ADS_1
Sebenarnya Gibran yang memesan semua makanan karena dua orang itu menolak memilih, sehingga Gibran memesan apa yang ingin di pesannya juga menebak apa yang sekiranya Kafka dan Yashinta inginkan. Membuat meja mereka penuh dengan berbagai makanan.
"Loe pesen banyak bamget." komentar Kafka.
"Kalian nggak jelas mau apa, jadi Mas pesan banyak." pria itu menyahut acuh, kemudian mengambil menu kafiar dan menatap Yashinta.
"Kamu mau makan apa?"
"Yas mau–" gadis itu tampak berpikir.
"Dimsum aja." jawaban Yashinta bersamaan dengan Kafka yang lebih dulu mengambil dimsum, membuat tiga orang di meja tersebut mematung seketika.
Kafka tidak benar-benar sengaja mengambil apa yang diinginkan Yashinta. Ia hanya merasa tidak perlu memerhatikan interaksi Gibran dan Yashinta sehingga lebih dulu mengambil makanan, ia tidak tahu jika Yashinta akan menginginkan dimsum.
Perlahan, Kafka mengangkat tangannya dari piring namun Yashinta segera berbicara. "Yas mau tiramisu aja." sahut gadis itu, tak ingin mengganggu Kafka.
Gibran tersenyum dan mengangguk, kemudian mengambilkan tiramisu yang dimaksud Yashinta. "Perlu saya pesenin lagi dimsumnya?" tanya Gibran, tapi Yashinta menggelengkan kepalanya.
"Enggak, enggak. Yas mau ini aja." gadis itu tampak tak keberatan. Sejujurnya Yashinta tidak begitu lapar meski ia belum menikmati makan siangnya karena gagal ke kantin, tirmasu saja rasanya cukup untuknya.
Sementara Kafka yang berniat berbaik hati menyerahkan dimsumnya dan mendapat penolakan dari Yashinta tak berganti menu. Ia tetap mengambil dimsum sehingga Gibran yang melihat hal itu menyerahkan garpu pada Kafka.
Namun sayangnya, reflek Yashinta juga melakukan hal yang sama sehingga keheningan kembali terjadi di antara mereka. Kafka menatap Gibran dan Yashinta bergantian.
Ketiganya mematung, sementara Yashinta dan Gibran bertukar pandang. Yashinta merasa ceroboh karena sudah melakukan hal itu, Gibran pasti merasa tersinggung atas sikap Yashinta pada Kafka.
"Ka–Kafka nggak bisa pake sumpit." sahut Yashinta, adalah kalimat bodoh yang ia katakan pada sang pacar dan berhasil membuatnya mengutuki diri sendiri.
"Saya tahu." Gibran menyahut dengan senyuman, tampak sama sekali tidak keberatan akan apa yang Yashinta lakukan. Ia kemudian menaruh garpu yang hendak diberikannya pada Kafka, begitu juga Yashinta yang melakukan hal yang sama.
Sementara Kafka tersenyum malas melihat tingkah dua orang itu. Ia mengambil garpu dengan tangannya sendiri disusul cicitan.
"Lebay banget." pria itu berbicara pelan. Namun Yashinta dan Kafka masih dapat mendengarnya.
Mungkin seharusnya saat Gibran menghentikan mobilnya tadi, Kafka terus saja melaju dan tak perlu mengikuti untuk ikut berhenti. Kafka merasa terjebak di sana.
TBC
__ADS_1