
Yashinta tidak tahu alasan mendasar apa yang membuatnya berjalan-jalan sendiri di pusat perbelanjaan ibu kota yang begitu luas, tujuannya hanya Gramed, tapi ia menjadi ingin berjalan-jalan dan berlama-lama di sana.
Awalnya ia ingin mengajak Ranti, namun mengingat jika sahabatnya itu sedang bekerja, Yashinta mengurungkan niatnya dan memilih untuk menikmati waktu sendiri. Setidaknya, ia bukan berada di lingkungan sekolah dan bebas bergerak tanpa takut diperhatikan.
Gadis itu mengenakan pleated mini skirt kotak-kotak berwarna pink putih dengan atasan berupa blouse lengan panjang yang ia gulung hingga sikut, sneakers putih menjadi alas kaki paling diminatinya. Tas slempang yang tampak hanya muat ponsel dan kartu itu tersampir cantik di bahunya.
Yashinta mengedar, melihat orang-orang di sekelilingnya. Hanya ia yang berjalan sendiri di sana, sementara mereka bersama dengan teman, dan juga pasangannya, ataupun dengan keluarga. Gadis itu mendesah, memilih melangkah menuju arena bermain dan melihat anak-anak yang sedang bermain penuh suka cita di sana.
Yashinta hanya mampu menyaksikan mereka dengan satu cup minuman dingin di tangannya.
Ia melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan, ternyata sudah cukup lama dirinya tersenyum tak karuan melihat bagaimana para anak kecil menikmati waktu bermain di usianya.
"Filmnya bagus loh, kita nonton ini aja."
"Setuju, setuju."
Sekelompok anak seusia Yashinta melewatinya dengan heboh, terlihat sangat menyenangkan memiliki banyak teman. Yashinya tersenyum. tapi beberapa detik berikutnya, ia mengingat lagi apa yang mereka katakan. Bagai diberi inspirasi, sepertinya Yashinta memutuskan akan menonton film. Barulah setelah itu ia pergi ke Gramed untuk membeli beberapa buku.
Sekalian sudah berada di sana, setidaknya hanya sekedar nonton film harus ia lakukan. Meski mungkin akan terasa sangat membosankan saat ia sendirian.
***
Mungkin seharusnya Gibran memang tidak perlu bertemu dengan kawan-kawannya. Dua orang itu benar-benar menjerumuskannya pada neraka.
Ketika Gibran dipaksa memilih kandidat pasangannya, ia kebingungan dan membuat Bayu dengan Leon mengusulkan hal gila yang sangat terpaksa Gibran turuti.
Dimana hari ini ia harus berkencan dengan lima kandidat sekaligus. Leon dan Bayu sudah mengatur waktu untuk setiap wanita yang nanti bertemu dengannya.
Gibran mendesah setelah menyelesaikan kencan buatanya dengan wanita ketiga. Ia benar-benar sudah tidak tahan, terlebih mereka semua tampak sama. Sangat membosankan dan membuatnya kian tak berminat.
Pria itu bersandar pada dinding lift, harus mempersiapkan diri untuk bertemu dengan wanita keempat yang membuat janji dengannya di salah satu kafe di dalam pusat perbelanjaan tersebut.
Pria yang hang berbalut kemeja hitam dengan celana hitam itu merogoh ponsel dari saku celananya saat sebuah pesan masuk membuat benda itu bergetar.
Hay, masih di mana?
Gibran mendesah, Bayu dengan Leon benar-benar tidak tanggung-tanggung menjerumuskannya ke neraka. Bahkan mereka memberikan nomor ponsel Gibran yang berharga pada semua kandidat pasangannya.
__ADS_1
Satu pesan masuk dari nomor yang sama membuat Gibran kembali menatap layar ponsel.
Dress merah.
Pria itu menghela napas saat matanya menangkap sosok wanita dengan dress merah yang tengah memegang ponsel. Sepertinya dia adalah kandidat pasangannya sehingga Gibran dengan senyum tipis berjalan ke arahnya.
Rupanya Gibran tidak salah sasaran, karena wanita itu tampak sedang menatap fotonya di layar ponsel.
"Gibran Abiansyah?" wanita itu sempat menatap foto Gibran sekilas sebelum benar-benar menatap pria itu secara nyata. Gibran hanya mengangguk, lantas duduk dan mulai berkenalan dengan wanita itu. Sepertinya neraka Gibran kembali dimulai, wanita di hadapannya lebih parah dari wanita-wanita sebelumnya.
Gibran hanya diam mendengarkan dia bercerita panjang lebar mengenai dirinya dan popularitasnya sebagai seorang model. Gibran berasumsi jika keduanya tidak akan cocok. Bagaimana mungkin akan cocok terutama menuju jalur yang lebih jauh jika obrolan mereka saja tidak nyambung.
"Yah, kamu tahu sendiri, aku model jadwal pemotretanku banyak, aku sibuk dan nggak punya banyak waktu buat diri aku sendiri apalagi cowok. Itu kenapa aku lebih suka sendiri. Tapi kamu tahu, yang antre buat kenalan sama aku banyak." ia berbisik dramatis diakhir kalimatnya
"Apalagi aku terkenal, ya kan." ia menyipitkan mata dengan tampang meyakinkan sedangkan Gibran hanya mampu memperlihatkan tampang kebingungan dengan senyum bodohnya.
"Ini foto mantanku, kami putus satu tahun lalu. Tapi kemarin-kemarin dia minta balikan."
"Menurut kamu kenapa?" Gibran yang sedang menyesap minumannya menunjuk dirinya sendiri, sejak tadi ia hanya mendengarkan tanpa minat sehingga tidak mengerti dengan apa yang tengah jadi pertanyaan wanita di hadapannya. Gibran memilih menggelengkan kepala.
"Menurutku, sih, karena aku sekarang udah terkenal–"
Dress motif bunga-bunga. Pita warna merah.
"Mirna,"
Wanita di hadapan Gibran menoleh ke sumber suara dimana tiga wanita yang membuat Gibran terkejut tengah melihat ke arah mereka. Disusul kemunculan seorang wanita dengan dress bunga-bunga dan ..., Gibran mengecek ponselnya.
Pita berwarna merah.
"Celaka!" decaknya yang kemudian bangkit dari duduk saat empat orang wanita itu menghampiri mejanya.
"Itu Gibran Abiansyah, 'kan?" tanya salah satu dari mereka saat tiba di meja wanita yang dipanggil Mirna, wanita itu mengangguk dengan raut bingung karena Gibran berlalu begitu saja tanpa permisi.
Sementara wanita dengan dress bunga-bunga yang notabenenya adalah kandidat pasangan kelima kencan buta Gibran dan belum sempat bertemu dengan pria itu hanya menatap layar ponsel dimana pesan yang ia kirimkan pada Gibran sudah pria itu baca namun tak kunjung ada balasan.
"Iya, itu Gibran Abiansyah." Mirna menyahut setelah beberapa saat dengan raut bingung.
__ADS_1
"Kalian kenal dia?" wanita dengan dress bunga-bunga memilih bertanya karena tidak mengerti dengan situasi yang tengah terjadi. Keempat temannya itu mengangguk, barulah ia sadar jika pasangan kencan buta mereka adalah satu pria yang sama.
"Gilak!"
"What?"
"Kurang ajar! Dia kira kita ini cewek apaan!" Mirna bangkit penuh emosi, keempat temannya mengangguk membenarkan karena merasa diremehkan.
"Kemana dia?"
"Ke sana!"
"Kita kejar!"
Gibran yang semula hanya berjalan cepat memilih berlari ketika melihat para wanita yang sudah dikencaninya bergerak mengejarnya.
Demi apapun Gibran tengah diterpa kesialan dan yang membuat ia terjerumus dalam situasi tersebut adalah Bayu dengan Leon. Mereka berdua benar-benar menjerumuskan Gibran ke neraka.
Bagaimana mungkin dua orang itu mencarikannya pasangan beberapa wanita yang terbentuk dalan satu geng? Benar-benar penyiksaan berencana. Sepertinya Bayu dengan Leon sengaja menjahili Gibran, setidaknya, hanya hal itu yang terlintas di kepala Gibran.
Ia terus berlari, sesekali menabrak orang yang menghalangi jalannya. Dengan cepat, Gibran mengambil sebuah topi berwarna hitam dan mengenakannya, terus berlari ketika para wanita itu mengejarnya tanpa henti.
Gibran dapat melihat tekad mereka yang mungkin akan menghabisinya seandainya ia tertangkap, jadi Gibran tidak bisa membiarkannya. Ia harus lolos, ia tidak boleh tertangkap.
Sesekali pria itu melihat ke belakang tanpa memedulikan jalan hingga menabrak seorang gadis yang tengah mengantre untuk membeli tiket film. Orang-orang di sana berteriak, sedangkan gadis yang tertabrak itu menghela napas. Ia tahu dirinya tidak bisa marah-marah sembarangan.
"Sorry, sorry." Gibran meminta maaf dengan mata yang masih melihat ke arah belakang. Takut-takut para wanita itu masih mengejarnya.
"Mas Gibran." ketika ada orang yang memanggil namanya, barulah pria itu menoleh. Ia mengernyit mendapati Yashinta.
"Masha." decaknya.
"Masha?" Yashinta mengerutkan kening, sementara Gibran tidak ada waktu untuk itu. Ia mengambil dua tiket yang disodorkan petugas, membuat pasangan di sampingnya yang akan menerima tiket tampak keheranan. Tapi Gibran tidak perduli, ia dengan cepat membayar dan tak memedulikan uang kembalian, menarik Yashinta dengan begitu saja memasuki gedung bioskop.
Sementara gadis itu terpaksa mengikuti karena Gibran menarik tangannya. Pria itu membawanya duduk di bangku kosong di antara para penonton yang sudah memenuhi tempat.
Begitu duduk, pria itu tampak mendesah setelah melepaskan tangan Yashinta. Gadis itu menatap Gibran dengan tatapan tak mengerti. Gibran tidak sadar, ia sibuk mengatur napasnya yang berantakan hingga begitu ia menoleh, ia mendapati gadis mungil di sampingnya tengah memerhatikannya.
__ADS_1
Gibran baru tersadar. Untuk apa juga ia menyeret gadis itu bersamanya? Bukankah seharusnya Gibran menghindar? Yah, karena gadis itu berisik, dan akan mengganggunya.
TBC