
Waktu menunjukan pukul setengah tiga saat Kafka dan Yashianta selesai menghabiskan makan siangnya di balkon kamar. Yashinta yang sudah rapi dengan stelan rumahannya sedangkan Kafka masih dengan seragam sekolah.
Yashinta menawari pria itu berganti baju namun Kafka menolak. Jelas saja, ukuran tubuhnya dengan Yashinta sangatlah jauh berbeda.
Beberapa waktu lalu saat Yashinta menawari Kafka untuk mandi, pria itu menolak, tetapai hanya mencuci wajahnya agar tidak terlalu deklil setelah menyerang Mr. Rajas dengan penuh amarah.
"Bunda nanti nggak nyariin Kafka kalau jam segini belum pulang?" tanya Yashinta karena Kafka bilang jika pria itu akan pulang begitu Andri tiba di rumah. Sedangkan Andri pulang sore, atau bahkan malam, Yashinta tidak yakin. Ia pun lupa bertanya pada sang papa saat menelponnya tadi.
"Gue udah telpon Bunda."
"Kapan?"
"Pas loe telpon bokap loe."
Yashinta hanya mengangguk-anggukan kepalanya. "Lagian Bunda juga nggak di rumah jam segini." sambungnya usai melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan.
"Di butik yah?"
"Hmm."
Yashinta menoleh pada pria yang fokus menatap ke depan, entahlah apa yang pemuda itu lihat. Tapi yang pasti, Yashinta memikirkan satu hal, selama berpacaran dengan Kafka, Yashinta sangat jarang mempertanyakan bagaimaan perasaan Kafka padanya. Apakah pemuda itu cinta atau tidak, sayang atau tidak.
Karena Yashinta percaya, jika Kafka menyayanginya. Sekalipun pria itu seringkali acuh tak acuh bahkan sangat sering mengabaikannya. Karena kalau tidak, Kafka tidak mungkin bertahan dengannya selama beberapa bulan ini.
Yashinta membulatkan mata saat Kafka menoleh dan balik menatapnya. Kafka memang heran mengapa gadis itu diam, rupanya ada objek yang tengah asik Yashinta pandang.
Kafka menatap Yashinta dan memerhatikan wajah cantik gadis itu. Selama berpacaran dengan Yashinta. Sekali-pun Kafka tidak pernah mengatakan kalimat cinta atau sejenisnya yang dapat menyenangkan perasaan gadis itu.
Berbeda dengan Yashinta yang hampir setiap hari mengatakannya, baik melalui sambungan telpon, pesan, maupun secara langsung seperti beberapa saat waktu tadi. Gadis itu memng bebas mengutatakan isi hatinya tanpa ragu.
"Kafka ngapain liatin Yas kaya gitu?" tanya Yashinta dengan gerakan mata yang tampak gugup.
"Katanga loe mau tidur siang? Sana!"
"Kok Kafka ngusir-ngusir Yas?"
"Gue mau ngeroko, loe, 'kan nggak kuat asap roko! Sana minggir!" sahutnya seraya mengibaskan tangan. Yashinta mendesah, bersamaan dengan itu, ponsel Kafka berbunyi, vidio call dari Aris. Kafka tampak menggeser ikon hijau dengan raut malas.
"Bro, lu di mana?" tanya Aris, seperti biasa selalu heboh seolah ada gosip hangat, Kafka tak menyahut. Mengarahkan ponselnya pada Yashinta, dengan raut setengah bingung gadis itu tersenyum kaku dan melambaikan tangan pada Aris. Membuat Aris di dalam layar ponsel Kafka nyengir.
"Hay, Yas–"
"Loe di rumah Yashinta?" beralih pada Kafka saat layar ponsel kembali menunjukan wajah Kafka. Kafka mengibaskan tangan pada sang pacar, ia tegas ketika menyuruh gadis itu agar masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
Dengan pasrah, Yashinta menuruti Kafka dan masuk ke dalam kamar sekalipun keinginannya untuk tidur siang sudah lenyap setelah mengobrol dengan pemuda itu.
Ia menoleh ke belakang, melihat Kafka di balik pintu kaca balkon yang tengah berbicara dengan Aris. Yashinta penasaran, tapi Kafka akan sangat marah jika ia tetap berada di sana sedangkan Kafka menyuruhnya untuk pergi.
"Ka, loe udah liat berita di forum sekolah?"
"Katanya Mr.Rajas dipecat!" cerocos Aris. Pantas saja, rupanua dia mendapat berita terhangat. Ahh, bahkan masih panas. Hot.
"Secepet itu?" heran Kafka dengan alis bertaut.
"Maksud loe?" Aris bertanya dengan raut yang tampak jauh lebih heran.
"Enggak, yaudah udah dulu yah."
"Ka, gue hubungin loe karena mau–"
Kafka memutus sambungan vidio call sepihak dan melihat forum sekolah dimana berita dikeluarkannya Mr. Rajas dari sekolah sudah menjadi perbincangan anak-anak SMA Firgo.
Tapi Kafka mengerutkan kening saat tidak disertakan alasan pemecatan Mr. Rajas. Hal itu dirahasiakan dari anak-anak. Baguslah, jadi Kafka tidak perlu khawatir Yashinta akan merasa malu bersekolah nanti karena anak-anak akan membicarakannya.
Sepertinya Andri sudah bergerak dengan cepat saat mendapat laporan mengenai putrinya.
Kafka diam sebentar. ia mendial nomor seseorang lantas menempelkan benda pipih itu saat panggilan sudah terhubung.
"Sebentar aja Mas."
"Iya, apa? Cepetan bilang, Mas ada rapat sebentar lagi, nih."
"Gue mau nanya, loe tahu cara marger sama akuisisi perusahaan, 'kan?" tanyanya. Sang kakak di ujung sana jelas saja heran. Selama ini, Kafka tidak pernah perduli sedikitpun pada perusahaan mereka, namun tiba-tiba pemuda itu bertanya mengenai hal besar.
"Kenapa kamu tiba-tiba tanya itu?"
Kafka tak menyahut. Benar juga, untuk apa ia menanyakan hal itu? Untuk menghancurkan Rajas? Agar setelah berhenti mengajar pria itu tidak bisa menjalankan perusahaannya?
Untuk Yashinta? Kafka menggelengkan kepalanya.
Yashinta memiliki Andri yang bisa melakukan apa saja.
"Yasudah, kita bahas itu di rumah. Mas harus segera rapat."
"Oke Mas. Thanks, ya."
***
__ADS_1
"Jadi Papa pecat guru itu?" tanya Yashinta saat Andri pulang, menanyakan keberadaannya dan mengatakan pada Yashinta jika sang papa sudah membereskan masalahnya.
"Dia tidak akan bisa mengajar dimanapun lagi." sahut Andri, Yashinta menatap Andri dengan tatapan sendu.
"Kalau perlu, Papa akan akuisisi perusahaannya biar dia tidak perlu menjalankan perusahaaannya!"
Yashinta memeluk Andri, dari matanya Yashinta bisa membaca jika Andri sangat kecewa, Andri tampak sangat sedih. Jelas saja, dia kecewa karena tidak bisa menjaga putrinya. Ia kecewa karena putrinya hampir saja dilecehkan.
"Pah, apa kita perlu sejahat itu?"
"Papa akan lakuin apapun buat kamu Yashinta. Cuma kamu satu-satunya yang Papa punya." sahut Andri, mengusap puncak kepala putrinya. Kafka yang berdiri di anak tangga hanya menatap dua orang itu dengan senyum tipis di bibirnya. Bahkan senyuman itu terlalu tipis untuk disadari siapa saja yang melihatnya.
Usai menghabiskan sebatang roko, Kafka berniat turun ke lantai bawah. Kemudian, saat tidak mendapati Yashinta berada di tempat tidur, ia kian yakin untuk segera turun.
"Yas udah nggak apa-apa, Papa. Kafka nolongin Yas. Yas nggak diapa-apain, Kafka juga udah hajar Mr.Rajas."
"Papa nggak perlu ngelakuin apapun lagi, yah." bujuk Yashinta. Tidak ingin membiarkan Andri bertindak terlalu jauh. Bukan berarti Yashinta memaklumi perbuatan gurunya, hanya saja mereka tidak akan menjadi berbeda saat Andri harus melalukan hal yang sama pada Mr. Rajas.
Andri mengurai pelukannya saat melihat Kafka yang berdiri di anak tangga. "Kafka," hal itu membuat Yashinta menoleh dan melihat Kafka yang perlahan turun menapaki satu persatu anak tangga.
"Selamat sore Om." Kafka tersenyum seraya menundukam pandangan dengan sopan. Andri balas tersenyum.
"Terimakasih Kafka, karena sudah menyelamatkan Yashinta hari ini." Andri menepuk bahu Kafka, pemuda itu hanya mampu tersenyum membalas ucapan terimakasih Andri.
"Pacar Yas hebat, 'kan Pah?" Yashinta memeluk Andri dari samping, memamerkan Kafka dengan bangga.
"Hebat sekali, Yashinta."
Kafka terpaksa terkekeh karena anak dan ayah itu membuatnya tersanjung, membuatnya tidak tahu harus berbuat apa kecuali tertawa.
"Saya nggak bisa lama-lama, Om. Saya harus segera pulang," pamit Kafka, sesuai janjinya pada sang pacar jika ia akan pulang begitu Andri tiba di rumah.
"Buru-buru sekali."
"Kafka udah dari tadi siang Pah." Yashinta menyahut.
"Katanya mau pulang kalau Papa udah di rumah. Lagian Kafka juga harus mandi, harus ganti baju. Bau." sambungnya, membuat Kafka menatapnya sinis karena gadis itu tidak menahannya dan justru terdengar mengolok-olok dirinya.
"Apa Kafka?" tanya Yashinta melihat tatapan pria itu. Membuat Andri mengernyit dan menatap Kafka sedangkan Kafka hanya mengukir senyum ketika pandangan Andri mengarah padanya.
Oh Yashinta.
TBC
__ADS_1